Saudara/i kaum Ateis.
Saudara/i tidak dilahirkan dan dibesarkan dengan ateisme, anda dilahirkan oleh 
orang tua yang beragama. Anda menjadi seperti sekarang itu sepenuhnya adalah 
pilihan dan pemikiran anda sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan siapapun kalau 
anda menjadi ateis. Yang jelas pilihan anda menjadi ateis diambil karena 
kekecewaan dan kepahitan hati. Anda samasekali tidak bahagia ketika memutuskan, 
namun anda merasa harus memutuskan untuk memilih pilihan ini.. Yaitu pilihan 
dari orang-orang yang sakit hati. Sakit hati kepada siapa? Pastinya kepada 
Tuhan. Alasannya apa? Ada banyak alasan, dan saya tidak perlu tahu itu, yang 
saya tahu anda sudah ateis. 
Anda sepenuhnya sadar tidak bisa melenyapkan Tuhan, maka yang anda lakukan 
adalah melenyapkan Tuhan dari ingatan anda, artinya, anda menganggap Tuhan 
tidak ada. Dengan perkataan lain, ketidak-adaan Tuhan itu sepenuhnya 100% hanya 
ada dalam pikiran anda sendiri. Itulah faktanya.  
Yang jelas dan pasti, ada atau tidak adanya Tuhan itu sepenuhnya merupakan 
kepercayaan, dan tidak bisa dibuktikan. Kaum ateis juga tidak bisa membuktikan 
bahwa Tuhan itu tidak ada, kalian hanya percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, sama 
identik dengan kami yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Adalah sia-sia untuk 
membuktikan bahwa Tuhan ada, sama seperti usaha untuk membuktikan bahwa Tuhan 
itu tidak ada, juga sia-sia.
Jadi dalam soal kepercayaan, kita sama. Murni kepercayaan. Tanpa dalil tanpa 
pembuktian.
Tapi yang pasti, kita berbeda dalam soal pengharapan dan tujuan hidup. Kalian 
tidak punya pengharapan dan kalian tidak punya makna dan tujuan hidup ini, tapi 
kami punya pengharapan dan kami mengetahui makna tujuan hidup. Itulah bedanya 
kita.
Perbedaan itu yang membuat kaum ateis takut mati dan kaum teis tidak takut mati.
Bagi kami, sesudah mati masih ada kepercayaan akan kehidupan lain yang lebih 
baik. Bagi kaum ateis, sesudah mati yang ada hanyalah kegelapan. Hanya kuburan 
dan tanah membisu, hanya itu dan tidak ada yang lain.
Jadi, kalian boleh-boleh saja mencela dan mencaci-maki kami. Namun perbedaan 
dalam soal pengharapan itu terlalu jauh dan terlalu besar, hal itulah yang tak 
bisa kalian ambil dari kami. Didalam hati kami masih ada sesuatu yang berarti, 
didalam hati kalian hanya kosong melompong, hampa dan kesepian.
Kalian punya seribu argumentasi untuk mencela dan mengejek apa yang kami 
percayai, namun kalian mustahil memiliki pengharapan yang ada dalam hati kami.. 
Hati kalian kosong, apa yang kalian bisa berikan kepada kami? Tidak ada. Tapi 
didalam hati kami ada sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu, kalau saja kamu 
mau percaya.
Sadarkah kalian bahwa teori Evolusi itu sudah menjadi agama Darwinisme? Artinya 
hal-hal yang kalian percayai sepenuhnya sekalipun tanpa pembuktian ilmiah. 
Karena the missing link dalam rantai evolusi itu tak pernah diketemukan dan tak 
pernah ada, tapi dianggap ada. Apakah menganggap ada ini ilmiah? Bukankah hanya 
kepercayaan? Jika berupa kepercayaan, bukankah itu sudah menjadi agama? yaitu 
agama Darwinisme? Dan kalian begitu fanatik dengan Darwinisme, bahkan melebihi 
kefanatikan para pengikut Al Qaida dan Taliban dengan Islamisme versi mereka.
Jadi, bicara soal fanatik, kalian kaum ateis jauh lebih fanatik dengan 
kepercayaan kalian daripada kaum fundamentalisme Islam ini. Itulah faktanya.


      

Kirim email ke