Terlalu stereotype negative.

Positivenya mereka yang atheis tak perlu melakukan kurban manusia lain demi 
theisnya. Akan berusaha lebih keras atas usaha sendiri karena tak mengandalkan 
bantuan theis.
Umumnya orang-orang terbaik atheis lebih humanis dibandingkan orang-orang 
terbaik theis.

Akibat tak percaya pada paska kematian, banyak yang atheis lebih menghargai 
kehidupan daripada yang theis dan pasti tak akan ada orang atheis yang begitu 
bodoh rela membawa bom bunuh diri untuk mencelakakan orang lain karena 
mengharap bidadari akan mendampingi paska kematian.

Dan kaum atheis pun cenderung memberikan yang terbaik pada diri mereka dalam 
kehidupan ini, karena mereka tidak percaya akan ada kehidupan yang lebih baik 
selain daripada kehidupan mereka saat ini. Jadi tak perlu harapan kehidupan 
yang lebih baik setelah kematian. Bila seseorang tak bisa memberikan hal yang 
terbaik dari dirinya ketika hidup sekarang. Ia adalah orang yang menyia-nyiakan 
hidupnya untuk angan-angan kosong akan kehidupan yang lebih baik setelah mati.

Salah satu contoh atheis yang terbaik adalah Siddharta Gautama.

Teori Darwin tak memerlukan missing link untuk membuktikan hipotetisnya. 
Kecenderungan mahluk hidup untuk melakukan adaptasi untuk terus hidup merupakan 
inti Darwinisme. Adaptasi itu bisa bersifat fisik tapi juga genetik yang 
berlangsung lambat. Jadi kekerabatan manusia dari primata lain tak memerlukan 
missing link akan tetapi cukup dilihat dari sedikit banyaknya gen yang identik 
antara satu spesies dan spesies lain. Perbedaan satu spesies dengan spesies 
lain tergantung penyesuaian genetika terhadap tantangan survival akibat 
perbedaan tantangan yang dihadapi dari lingkungan.

Theis atau atheis bukan masalah selama seseorang dapat menggunakan keyakinannya 
untuk membuat dirinya dan lingkungannya menjadi lebih baik.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: rizal lingga <nyomet...@yahoo.com>
Date: Sat, 2 Jan 2010 07:38:10 
To: <indonesian_athe...@yahoogroups.com>; <boiran2...@yahoo.co.uk>; 
<grek_2...@yahoo.com>; <zamanku@yahoogroups.com>; 
<murtadin_kafi...@yahoogroups.com>; <gkran...@yahoo.com>; 
<irawan...@gmail.com>; <iwankrnwn...@gmail.com>; <aslim...@yahoo.com>; 
<rudi_jam...@yahoo.com>; <nyomet...@yahoo.com>; <dakwah_u...@yahoo.com>; 
<auwlohbar...@yahoo.com>; <kefassi...@yahoo.com>; <edi_a...@yahoo.com>; 
<muskitaw...@yahoo.com>; <zebaoth.jeh...@yahoo.com>; <yogi...@yahoo.com>; 
<leonardo_ri...@yahoo.com>; <budima...@gmail.com>; 
<tionghoa.indone...@gmail.com>; <am...@tele2.se>; <utusan.al...@yahoo.co.uk>; 
<jere...@gmail.com>; <wirajh...@yahoo.com>; <leo_ima...@yahoo.co.uk>; 
<pdskorea1...@yahoo.com>; <pejantan_ma...@yahoo.com>; <postmom...@yahoo.com>; 
<sekert...@yabina.org>; <great.pretender2...@gmail.com>; 
<hakekat_sat...@yahoo.co.id>; <siapmur...@gmail.com>; <arianakme...@gmail.com>; 
<ampangme...@yahoo.com>; <fullgospel_indone...@yahoo.com>
Subject: [zamanku] Perbedaan Ateis dan Teis

Saudara/i kaum Ateis.
Saudara/i tidak dilahirkan dan dibesarkan dengan ateisme, anda dilahirkan oleh 
orang tua yang beragama. Anda menjadi seperti sekarang itu sepenuhnya adalah 
pilihan dan pemikiran anda sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan siapapun kalau 
anda menjadi ateis. Yang jelas pilihan anda menjadi ateis diambil karena 
kekecewaan dan kepahitan hati. Anda samasekali tidak bahagia ketika memutuskan, 
namun anda merasa harus memutuskan untuk memilih pilihan ini.. Yaitu pilihan 
dari orang-orang yang sakit hati. Sakit hati kepada siapa? Pastinya kepada 
Tuhan. Alasannya apa? Ada banyak alasan, dan saya tidak perlu tahu itu, yang 
saya tahu anda sudah ateis. 
Anda sepenuhnya sadar tidak bisa melenyapkan Tuhan, maka yang anda lakukan 
adalah melenyapkan Tuhan dari ingatan anda, artinya, anda menganggap Tuhan 
tidak ada. Dengan perkataan lain, ketidak-adaan Tuhan itu sepenuhnya 100% hanya 
ada dalam pikiran anda sendiri. Itulah faktanya.  
Yang jelas dan pasti, ada atau tidak adanya Tuhan itu sepenuhnya merupakan 
kepercayaan, dan tidak bisa dibuktikan. Kaum ateis juga tidak bisa membuktikan 
bahwa Tuhan itu tidak ada, kalian hanya percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, sama 
identik dengan kami yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Adalah sia-sia untuk 
membuktikan bahwa Tuhan ada, sama seperti usaha untuk membuktikan bahwa Tuhan 
itu tidak ada, juga sia-sia.
Jadi dalam soal kepercayaan, kita sama. Murni kepercayaan. Tanpa dalil tanpa 
pembuktian.
Tapi yang pasti, kita berbeda dalam soal pengharapan dan tujuan hidup. Kalian 
tidak punya pengharapan dan kalian tidak punya makna dan tujuan hidup ini, tapi 
kami punya pengharapan dan kami mengetahui makna tujuan hidup. Itulah bedanya 
kita.
Perbedaan itu yang membuat kaum ateis takut mati dan kaum teis tidak takut mati.
Bagi kami, sesudah mati masih ada kepercayaan akan kehidupan lain yang lebih 
baik. Bagi kaum ateis, sesudah mati yang ada hanyalah kegelapan. Hanya kuburan 
dan tanah membisu, hanya itu dan tidak ada yang lain.
Jadi, kalian boleh-boleh saja mencela dan mencaci-maki kami. Namun perbedaan 
dalam soal pengharapan itu terlalu jauh dan terlalu besar, hal itulah yang tak 
bisa kalian ambil dari kami. Didalam hati kami masih ada sesuatu yang berarti, 
didalam hati kalian hanya kosong melompong, hampa dan kesepian.
Kalian punya seribu argumentasi untuk mencela dan mengejek apa yang kami 
percayai, namun kalian mustahil memiliki pengharapan yang ada dalam hati kami.. 
Hati kalian kosong, apa yang kalian bisa berikan kepada kami? Tidak ada. Tapi 
didalam hati kami ada sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu, kalau saja kamu 
mau percaya.
Sadarkah kalian bahwa teori Evolusi itu sudah menjadi agama Darwinisme? Artinya 
hal-hal yang kalian percayai sepenuhnya sekalipun tanpa pembuktian ilmiah. 
Karena the missing link dalam rantai evolusi itu tak pernah diketemukan dan tak 
pernah ada, tapi dianggap ada. Apakah menganggap ada ini ilmiah? Bukankah hanya 
kepercayaan? Jika berupa kepercayaan, bukankah itu sudah menjadi agama? yaitu 
agama Darwinisme? Dan kalian begitu fanatik dengan Darwinisme, bahkan melebihi 
kefanatikan para pengikut Al Qaida dan Taliban dengan Islamisme versi mereka.
Jadi, bicara soal fanatik, kalian kaum ateis jauh lebih fanatik dengan 
kepercayaan kalian daripada kaum fundamentalisme Islam ini. Itulah faktanya.


      

Kirim email ke