Nabi Terakhir Bukan Berarti Tidak Akan Ada Nabi Lagi
                                               
Memang dalam dunia Islam segalanya selalu harus dipaksakan standarisasinya 
meskipun kenyataannya salah.

Islam terlalu banyak kesalahan2 fatalnya, karena ajaran2nya berasal dari 
sumber2 yang berupa "Tafsir".  Padahal dalam bahasa Indonesia, tafsir = 
tebak2an.

Bisa dibayangin ajaran agama yang sumbernya dari tebak2an tentu menimbulkan 
kontroversi antara umatnya sendiri yang berbeda menafsirkannya atau berbeda 
dalam menebaknya.

Demikianlah, menafsirkan kalimat bahwa "Nabi Muhammad adalah nabi terakhir" 
yang artinya tidak ada lagi nabi setelahnya sudah jelas salah.

Karena kalo kita berada ditahun 2010 ini mengatakan bahwa "Toyota Corolla ini 
yang paling terakhir", maka bukan artinya tidak ada lagi Toyota Corolla ditahun 
mendatang.  Melainkan artinya adalah Toyota Corolla ini yang paling terakhir 
artinya tahun terakhir yaitu 2010.

Akibat tebak2an kata "terakhir" memang fatal, terjadi pembunuhan umat Ahmadiah 
di Pakistant, di Indonesia, di Arab, di Yaman, dan di banyak negara2 Islam 
lainnya.

Padahal kontroversinya hanyalah dalam tebak2an kata "terakhir".  Sial memang 
umat yang menjadi korbannya, tapi dilain konteks, juga umat Islam aliran 
lainnya juga jadi korban akibat tebak2an lainnya, seperti umat Islam Syiah jadi 
korban pembantaian di Pakistant, Irak, dan juga di Mesir.

Jadi tebak2an fatal dalam Islam banyak sekali menimbulkan korban, sebagai 
akibat memaksakan untuk standarisasi jawabn dari tebak2an yang tidak ada 
jawabannya dari Allah.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke