Demokrasi dan HAM Harusnya Menjiwai Islam Bukan Sebaliknya
Ibadah dan kewajiban agama Islam bisa dijalankan dibawah naungan demokrasi dan
nilai2 HAM. Sebaliknya, dibawah Syariah Islam demokrasi tidak bisa berkembang
malah dikemplang dan HAM juga dilanggar.
Kalo agama lain bisa dijalankan dibawah system demokrasi dan tegaknya HAM,
tidak berbeda dengan Islam yang seharusnya bisa dipraktekan dibawah system
demokrasi disertai tegaknya HAM.
Kenapa tidak bisa??? Semua itu cuma vested interest para ulama dan penguasa
dari negara atau kerajaan2 Islam itu sendiri yang ingin mempertahankan
feodalisme kekuasaannya turun temurun.
> Andri Kusmayadi wrote:
> Kalau saya pilih demokrasi Islam
> gimana Ny. Muslim binti Mustikawati?
> Bee Jay <bee.ogra...@...> wrote:
> Islam ya Islam, demokrasi ya demokrasi,
> keduanya tidak bisa digabungkan,
> setidaknya sulit.
Kita harus ingat, bahwa agama Islam itu dasarnya "TAFSIR", dan tafsir itu
hanyalah kira2 dan sifatnya sangat spekulatif. Oleh karena itu setiap anda
menyebutkan nama kitab suci Al-Quran, otomatis harus disertai Hadist-nya karena
Hadistnya inilah yang menafsirkan isi Quran yang anda anut itu.
Setiap aliran Islam berbeda Hadistnya meskipun bisa jadi sama isi Quran-nya.
Tapi juga ada aliran Islam yang berbeda isi Quran-nya, otomatis juga berbeda
Hadist-nya.
Perbedaan aliran2 Islam ini merupakan permusuhan, saling memurtadkan, saling
membenci, dan saling membunuh. Memang ada juga aliran Islam yang melarang
pembunuhan ini, tapi kalo sudah dibunuh duluan akhirnya juga membalasnya dengan
membunuh juga.
Jadi, bagaimanapun perbedaan isi AlQuran-nya, tapi sifat2 aggressive teror
jihad dalam kewajiban menegakkan Syariah Islamnya itu tetap sama. Atas dasar
injilah, Islam menolak demokrasi dan anti-demokrasi.
Tapi kita jangan tersesat, ternyata bukan cuma Islam aja yang anti-demokrasi,
bahkan semua agama dari Timur Tengah sama2 anti-demokrasi seperti Nasrani
maupun Yahudi. Bahkan, agama2 lain seperti Hindu, Buddha dll. juga
anti-demokrasi. Semua kerajaan juga anti-demokrasi karena rajanya atau
caliphnya bukan dipilih, tapi diangkat oleh bapaknya, engkongnya, eyang
buyutnya.
Itulah sebabnya dizaman dulu perang itu tidak pernah ada berhentinya, hingga
akhirnya lahir United Nation.
Dengan adanya United Nation inilah ditetapkan bahwa demokrasi harus ditegakkan
hingga dengan adanya demokrasi ini maka system negara kerajaan secara bertahap
musnah. Kalo anda bandingkan dizaman dulu semua negara bentuknya kerajaan,
sebaliknya sekarang, kerajaan sekalipun mengadopsi system demokrasi sehingga
kekuasaan raja hilang diganti sebagai symbol negaranya saja sebagai budaya
bangsa.
Banyak orang yang enggak paham, bahwa Amerika ini adalah pelopor demokrasi
meskipun ide demokrasi itu sendiri mungkin beraal dari Perancis atau Jerman.
Amerika adalah negara pertama didunia yang bukan kerajaan.
System negara kerajaan itu banyak kelemahannya, negara itu tidak bisa maju
karena cuma bertahan satu atau beberapa generasi saja untuk kemudian diganti
dari keturunan lainnya. Raja tidak bisa diganti, untuk menggantinya harus
revolusi membunuh rajanya dan pemenangnya jadi raja baru. Demikianlah
sepanjang sejarah antar kerajaan selalu saling curiga karena semua kerajaan
harus berekspansi menjadi imperialisme dan kolonialisme. Kita khan udah tahu,
bahwa raja itu banyak isterinya dan banyak anak2nya. Sewaktu sang raja mau
membagi warisan kepada anak mantunya dan isteri2nya, harus menyerang dulu
negara lain untuk dirampok tanah dan kekayaan raja2 yang dikalahkannya.
Perasaan tidak aman oleh raja2 itulah yang kemudian dipelajari oleh para
pemimpin Amerika waktu itu sebagai "the founding father" negara ini. Amerika
kemudian lahir sebagai negara baru dengan pemimpinnya yang disebut "Presiden"
dan jabatannya dibatasi waktu dan harus dipilih oleh rakyatnya. Presiden
George Washington bukan cuma presiden pertama Amerika seperti kebanyakan orang
memahaminya. Tetapi juga adalah presiden pertama didunia ini.
Barulah dirasakan, system pemerintahan Amerika ini tidak mendorong untuk
berperang atau berekspansi karena presiden yang masa jabatannya terbatas ini
tidak punya vested interest untuk memerangi negara lain tapi hanya sibuk
memikirkan bagaimana mensejahterakan rakyatnya yang telah memilih dirinya. Hal
inilah yang merupakan keunggulan Amerika dari Inggris, Perancis, Jerman dan
Russia yang waktu itu masih berbentuk kerajaan2 yang saling memerangi.
Begitulah sejarahnya, selanjutnya kita tahu dari sejarah, Amerika menghindar
tidak mau dilibatkan dalam perang dunia kesatu dan kedua dimana semua kerajaan2
didunia ini saling memerangi.
Akhirnya memang Amerika dipaksa berperang untuk mempertahankan negaranya akibat
secara mendadak dan secara curang diserang Jepang yang berkolaborasi dengan
Jerman. Amerika terjun kedalam kancah perang dunia kedua setelah semua
kerajaan2 yang saling berperang itu babak belur. Padahal berperang dalam
begitu banyaknya front sebenarnya tidak memungkinkan, tidak akan sanggup
pasukan Amerika untuk berperang secara simultan dibanyak front diseluruh dunia.
Untuk itulah, Amerika merekrut tentara dari negara2 yang sudah babak belur itu
untuk dihadapkan kepada Jerman dan Jepang. Hasilnya mencengangkan Amerika
berhasil keluar sebagai pemenangnya.
Dalam kondisi dunia yang vakuum kekuasaan dari kerajaan2 inilah Amerika
mengisinya dengan mengajak semua kerajaan2 itu membentuk liga bangsa2 untuk
perdamaian. Inggris adalah satu2nya kerajaan didunia waktu itu yang paling
banyak memiliki jajahan2nya. Dalam keadaan babak belur inilah Inggris yang
sombong itu dinegosiasi oleh Amerika dengan memberikan hak veto di UN dengan
persyaratan memberi kemerdekaan semua jajahan2nya dan negara2 baru itupun
kemudian meminta perlindungan UN agar tidak diserang negara lainnya. Berhasil
membujuk Inggris, kemudian Amerika juga melakukan hal yang sama kepada Russia
dan Perancis.
Semua negara yang minta diakui kemerdekaannya oleh negara lain bertujuan agar
jangan digulingkan seperti yang terjadi sepanjang sejarah itu. Untuk
mendapatkan pengakutan itulah negara2 baru ini harus mendaftarkan diri menjadi
anggauta UN.
Karena pendiri UN itu adalah Amerika, maka persyaratan menjadi anggauta UN
itupun sudah dirancang Amerika, yang pada intinya bertujuan mengakhiri semua
kekuasaan raja2 diseluruh dunia dengan membangun negara demokrasi.
Jadi setiap negara wajib menandatangani dasar negaranya sebagai bentuk
demokrasi dan menegakkan HAM. Dengan cara2 inilah dunia jadi berubah 180
derajat. Kalo dulu2 rakyatnya berkewajiban membayar pajak untuk kesejahteraan
rajanya, maka sekarang terbalik hanya rakyatnya yang mampu saja yang wajib
membayar pajak kepada negara bukan kepada presidennya, dan uang pajak itu bukan
untuk kesejahteraan presidennya tapi untuk mensejahterakan rakyatnya. Dari
uang pajak inilah kemudian orang2 miskin dijamin negara, padahal mana pernah
ada raja menjamin hidupnya orang miskin??? Memang rajanya bisa menyumbang
kepada orang miskin hanya untuk propaganda kerajaan saja agar rakyat bersimpati
jangan membenci sehingga melindungi raja dari pemberontak2. Dan sumbangan raja
inipun bukan kewajiban, sekedar mengikuti perasaan rajanya saja. Artinya kalo
sang raja sudah merasa aman tidak ada lagi ancaman pemberontakan yang mau
membunuh atau menggulingkan rajanya, maka raja itu tak perlu lagi memberi
sumbangan kepada orang miskin malah menindas se-wenang2nya.
Pengaruh agama memang sejak zaman dulu mendominasi semua kerajaan2 didunia ini.
Tapi setelah lahirnya UN, semua pemimpin agama bersedia menerima Demokrasi dan
HAM. Bahkan kerajaan2 Islam juga ikut menerimanya.
Tapi, dari semua agama yang ada didunia ini, hanya agama Islam saja yang
umatnya tetap menolak Demokrasi dan HAM ini karena permainan sulap dari raja2
Islam itu sendiri, yaitu di UN mengharapkan dukungan, tetapi kedalam
kerajaannya dia berusaha mendominawsi kekuawsaannya dengan meng-injak2
Demokrasi dan Ham dengan alasan ajaran agamanya menyebabkan rakyat menolaknya.
Jadi, sebenarnya semua ajaran agama juga sama menolak demokrasi dan Ham, tetapi
sekali pemimpin agamanya sudah menyatakan setuju untuk menerimanya, maka para
pemimpin agamanya ini mau membimbing umatnya juga menerima Demokrasi dan Ham.
Hanya raja2 Islam dan para ulamanya sajalah yang bermain sandiwara, dimuka
dewan UN mengakui akan menegakkan HAM dan Demokrasi tetapi sebenarnya malah
mempertahankan system otokrasi kekuasaan dengan menggunakan cara2 lama agamanya
untuk mempertahankan kekuasaannya.
Semua raja juga takut dicopot tidak lagi jadi raja, tapi Amerika memahami
kekuatiran tsb. Itulah sebabnya, raja2 itu dinyatakan hanya sebagai simbol
negara dan pemerintahannya bisa dijalankan secara demokratis. Dan hal ini
ternyata bisa diterima semua raja2 didunia dimulai tentunya dari Inggris dan
Jepang.
Kemunduran dan tertinggalnya Islam ini disebabkan raja2nya itu yang mungkin
kurang paham sehingga selalu curiga dan ketakutan sehingga mereka tidak mau
cuma jadi symbol tetapi tetap jadi penguasa yang sebenarnya.
Batu sandungan terhadap demokrasi dan HAM ini bukan cuma dilakukan oleh raja2,
celakanya ada presiden yang sudah diangkat malah mau menjadikan dirinya jadi
raja. Padahal Amerika berusaha menghapuskan kerajaan2 itu, dimanfaatkan
presiden yang baru diangkat malah ingin menjadikan dirinya raja agar bisa
berkuasa turun temurun.
Itulah sebabnya, muslimin radikal yang fanatik selalu menyatakan bahwa belum
ada negara Islam yang betul2 murni menegakkan Syariah Islam dan mereka menunggu
kedatangan Caliphah Islam kedunia ini yang diyakininya akan datang pada suatu
saat.
Semua pemerintahan dari negara2 Islam tetap memperjuangkan demokrasi dan HAM
meskipun banyak pertentangan. Tapi kita tidak bisa tutup mata, bahwa
meningkatnya gerakan rakyat di-negara2 Islam boleh dikatakan sudah mendominasi
menuntut dijalankannya demokrasi dan tegaknya HAM.
Kesimpulannya, kalo anda mau menggunakan istilah "demokrasi Islam" untuk
tegaknya demokrasi di-negara2 Islam boleh2 saja. Namun sebenarnya bukan
gabungan antara demokrasi dengan Islam, tapi lebih tepat dikatakan bahwa
praktek ibadah agama Islam dijalankan berdaarkan landasan demokrasi dan
tegaknya HAM. Artinya berbagai ayat2 Quran yang anti-demokrasi dan melanggar
HAM harus diubah tafsirnya, dan ini bukan hal yang susah karena Islam itu agama
yang berdasarkan "tafsir".
Meskipun seharusnya tidak susah bagi dunia Islam untuk berbeda cara menafsirkan
ayat2 AlQuran-nya, tapi vested interest penguasa dan ulama2-nya inilah yang
kerap kali menjadi sandungan karena mereka merasa hal ini akan merusak sumber
hidup mereka.
Ny. Muslim biti Muskitawati.