gw sih cuma butuh signal dan GPRS .. ga butuh BB.. hahahhaa

2011/1/17 Zigo AlCapone <[email protected]>

> iya Bun,,
> tapi sebagian besar di indonesia untuk meningkatkan status social aja,,
> dah banyak dari contoh yang ada di sekitar gw,,
> dari temen gw 5 pengguna BB,, hanya 1 yang beralasan biar gampang akses
> email dimana aja kapan aja,,
> sisanya karena biar dianggap gaul,, karena malu kalo ada yang nanyain 'pin
> BB lo berapa?' kesannya kok norak banget hari gini ga punya BB,,
>
> kalo gw sih selama HP gw masih bisa memberikan kebutuhan gw (akses email n
> internet kapan aja n dimana aja) gw rasa kaga perlu pake BB,, :)
>
> *Warm Regards,
>
>
> Zigo AlCapone
> *
>
>
> 2011/1/17 Morningmoon <[email protected]>
>
> Mungkin lebih ke faktor bbm-nya yah imho, soalnya waktu gw lom punya bb gw
>> diminta temen buat punya bb biar gampang komunikasi n lbh murah dibanding
>> sms..... Jadi gw mgk condong ke fitur bbm knp bb booming disini, n grup
>> bbm-nya :-P
>>
>> On 17 Jan 2011 09:27, "Zigo AlCapone" <[email protected]> wrote:
>>
>> Blackberry: Antara Kebutuhan dan Status Sosial
>> ------------------------------
>>
>> Saya tahu bahwa tulisan saya kali ini akan menuai pro – kontra karena saya
>> tahu bahwa sebagian orang banyak yang menggunakan BB. Oke saya informasikan
>> bahwa tulisan ini hanya contoh dari fenomena sosial, so baca sampai selesai
>> ya sebelum komentar atau berpikir sesuatu terhadap tulisan ini :) (malu *
>> dong* kalau salah tanggapan)
>>
>> Pada awalnya, pada tahun 1996 perusahaan Kanada yang bernama *Research in
>> Motion* atau mungkin banyak dari kita yang hanya mengetahuinya dengan
>> nama RIM menciptakan sebuah gadget canggih yang bernama Blackberry.
>> Blackberry yang pada hakikatnya bisa dikategorikan sebagai Handphone
>> (telepon genggam), mempunyai 2 fasilitas andalan yang membedakannya dengan
>> handphone biasa, yaitu fasilitas *push email* dan *Blackberry PIN*.
>>
>>
>>
>> Fitur push email pada dasarnya adalah sebuah layanan yang memudahkan
>> seseorang untuk mengakses email secara dengan kemampuan “*always on*”.
>> Artinya anda tidak perlu repot-repot mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu
>> untuk memeriksa email account anda karena gadget anda selalu online untuk
>> memberitahu apakah ada email baru atau tidak. Kelebihan Blackberry pada
>> fitur push email, seperti yang ditulis dalam *The Wall Street Journal *edisi
>> 13 Agustus 2010, adalah kemudahannya untuk digunakan, yaitu akses instant
>> pada saat ada email masuk. Sehingga sang penerima email tidak perlu menunggu
>> beberapa saat sebelum notifikasi email muncul dalam Blackberry-nya.
>>
>> Sedangkan fitur Blackberry PIN adalah fitur tambahan yang cenderung lebih
>> untuk “menghemat” pulsa anda. Dengan Blackberry PIN walaupun jumlah pulsa
>> anda 0 rupiah, anda tetap bisa ber-BB ria dengan sesama pengguna Blackberry
>> dimanapun anda berada. Ya sebenarnya fitur ini sih tidak begitu signifikan
>> seperti fitur push email Blackberry karena sekarang banyak operator (bahkan
>> hampir semua) yang menyediakan paket-paket SMS baik itu dengan pendaftaran
>> ataupun tanpa pendaftaran yang murahnya luar biasa.
>>
>> Saya yakin sebagian besar pembaca tahu bahwa tujuan awal di ciptakannya
>> Blackberry adalah fitur Push emailnya. Bisa dibilang juga bahwa fitur ini
>> lah yang membedakan antara Blackberry dengan HP lain seperti *Nokia,
>> Motorola, Sony Ericsson* dan lain sebagainya. Dan yang jadi pertanyaan
>> yang cukup menggelitik saya adalah “Apakah sebegitunya banyaknya orang
>> Indonesia yang memanfaatkan email sebagai sarana komunikasi utama mereka?”.
>>
>> Berdasarkan data dari *Asosiasi Telepon Seluler Indonesia*, jumlah
>> pengguna BB di Indonesia mencapai 1 juta pelanggan (Maret 2010). Dan jumlah
>> pengguna internet di Indonesia (termasuk didalamnya pengguna email, facebook
>> dan lain sebagainya) adalah 45 juta pengguna (Kementrian Komunikasi). Jadi
>> dapat kita ketahui bahwa setiap 45 pengguna internet (tidak perduli anda
>> hanya menyewa di warnet atau sekedar OL di HP) maka 1 orangnya adalah
>> pengguna Blackberry.
>>
>>
>>
>> Sekarang kita lihat, berapa banyak sih orang yang “*melek*” internet di
>> Indonesia yang menjadikan email sebagai mata pencahariannya? Seberapa banyak
>> orang di Indonesia yang mempunyai urgensi sedemikian tinggi atas cepatnya
>> akses terhadap emailnya? Si penulis sendiri yang sebagian besar
>> pendapatannya & kepentingan organisasinya saja bergantung pada email tidak
>> memerlukan Blackberry.
>>
>> Secara mengejutkan, tahun 2010 ini Indonesia diprediksikan akan menjadi
>> Negara dengan pengguna Blackberry terbesar di dunia. Sangat mengejutkan
>> menurut saya karena dengan cepatnya kita sanggup mengalahkan A.S dan
>> Negara-negara Eropa lainnya. Amerika Serikat contohnya, dengan jumlah
>> pengguna internet tahun 2010 yang mencapai angka 230 juta pengguna (yang
>> bahkan lebih banyak dari penduduk Indonesia), hanya sekitar 1,3-1,5 juta
>> orang saja yang menggunakan Blackberry (*detik.com*).
>>
>> Bisa kita lihat bersama bahwa ada ketidakseimbangan yang begitu besar
>> antara pengguna BB di Indonesia & A.S: Indonesia dengan pengguna Internet
>> “hanya” 45 juta orang, mempunyai pengguna BB sebanyak satu juta orang.
>> Amerika Serikat dengan pengguna internet mencapai 230 juta orang (atau
>> sekitar lima kali lipat pengguna internet Indonesia) justru hanya mempunyai
>> pemakai BB sebesar 1,3-1,5 juta pengguna.
>>
>> Hal diatas menunjukkan bahwa ada kecenderungan “penggunaan tanpa
>> pemanfaatan” (*using without utilization) *oleh banyak pengguna BB di
>> Indonesia. Namun tetap menjadi tanda tanya kenapa Indonesia bisa menjadi
>> pengguna BB terbesar di dunia?
>>
>> Dengan asumsi dasar bahwa motivasi hakiki seseorang menggunakan BB adalah
>> fitur Push emailnya (sesuai dengan tujuan dasar RIM menciptakan BB), maka
>> adalah suatu hal yang janggal bilamana pada kenyatannya terdapat banyak
>> orang yang tidak memanfaatkan fitur tersebut, maka patut dipertanyakan
>> motivasinya menggunakan BB. Di dalam pandangan saya hanya ada satu motivasi
>> yang menjadi factor utama pengguna Blackberry (selain karena kebutuhan push
>> email tentunya) yaitu menaikkan status sosial.
>>
>> *Michael Marmot* (2004) dalam bukunya *The Status Syndrome: How Social
>> Standing Affects Our Health and Longevity *disebutkan bahwa sudah menjadi
>> kodrat seseorang (human nature) untuk senantiasa memperoleh status sosial
>> yang lebih tinggi daripada umumnya. Dan seringkali dalam memperoleh status
>> sosial yang lebih baik seseorang rela mengorbankan apapun seperti kesehatan,
>> orang yang dicintai, perasaan, kemampuan ekonomi dan lain sebagainya. Tidak
>> ada yang aneh tentang hal ini, maka dari itulah mengapa meningkatkan status
>> sosial tidak dikategorikan dalam penyimpangan sosial (*social distortio*
>> n).
>>
>>
>>
>> Begitupun halnya dengan para pengguna BB yang sekedar mengikuti trend atau
>> high life style. Mereka selaku manusia normal yang menginginkan status
>> sosial yang tinggi bisa mencapainya melalui pencapaian atas symbol status.
>> *Cherrington, David J*. (1994) dalam bukunya *Organizational 
>> Behavior*menjelaskan bahwa kepemilikan barang/akses terhadap sesuatu hal 
>> tertentu
>> oleh seseorang dapat menaikkan status sosial orang yang bersangkutan.
>> Biasanya barang-barang yang dianggap sebagai symbol status adalah
>> barang-barang mewah, mencakup seperti kendaraan pribadi, jam tangan,
>> personal gadget (termasuk BB) dan lain sebagainya.
>>
>> Yang menjadi masalah dan bisa disebut sebagai penyimpangan sosial adalah
>> saat kodrat manusia atas pencapaian status sosial diimplementasikan secara
>> berlebih. Menurut *James W. Van Der Zanden* perilaku menyimpang yaitu
>> perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan
>> di luar batas toleransi. Dan orang-orang yang melakukan pengejaran atas
>> status sosial secara berlebihan biasa disebut *Social Status Climber*.
>> Orang-orang ini, seperti yang telah tersebutkan sedikit diatas, adalah orang
>> yang rela menggadaikan atau mengorbankan apapun untuk mencapai status sosial
>> yang lebih tinggi. Hal ini dapat membawa dampak negatif terhadap dirinya
>> sendiri dan orang lain disekitarnya, bahkan dalam level lebih tinggi bila
>> dilakukan secara kolektif oleh sebagian besar anggota komunitas tertentu
>> (contohnya adalah dalam tingkat Negara) maka hal tersebut akan membawa
>> distorsi struktur pada organisasi/komunitas tersebut.
>>
>> Contohnya: Ada seorang remaja SMA berusia 17 tahun. Dia tinggal bersama
>> kedua orang tua yang mempunyai kemampuan ekonomi menengah kebawah. Si anak
>> ini melihat di sekolah nya banyak teman-temannya yang sudah menjadi pengguna
>> BB. Si anak ini kemudian iri dan dia juga ingin mempunyai BB seperti milik
>> teman-temannya. Dia tahu bahwa kedua orang tuanya akan sangat merasa
>> kesulitan untuk membelikannya sebuah Blackberry baru, namun ternyata si anak
>> ini tidak mau tahu dan memaksa kedua orang tuanya memberikan sebuah BB.
>> Akhirnya dibelikanlah si anak ini BB baru yang harganya sekitar 4,5 juta
>> rupiah dan bahagialah si anak karena dia bisa ikut menjadi anak “gaul”
>> disekolahnya. Lalu apa fungsi BB bagi si anak ini? Tidak ada sebenarnya
>> karena pemanfaatan BB oleh si anak remaja ini sama saja bila dia menggunakan
>> Nokia 3315 atau mungkin yang lebih canggih sedikit Nokia N70. Nilai yang dia
>> dapatkan hanyalah posisi status sosialnya yang naik secara semu. Saya
>> katakan semu karena dibalik kepemilikannya atas BB, keluarganya kemungkinan
>> mengalami masalah financial untuk makan atau bahkan untuk membayar uang
>> sekolah si anak tersebut yang tingkat urgensitas jauh diatas hak kepemilikan
>> atas BB.
>>
>>
>>
>> Contoh tersebut diatas juga menunjukkan bahwa *social status climber*juga 
>> turut dipengaruhi lingkungan sosialnya. Dan sering tanpa kita sadari
>> diri kita sendiri bahkan menjadi personal yang terlibat secara langsung atas
>> sikap social status climber seseorang. Bahasa sederhananya, kerapkali kita
>> menjadi pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya penyimpangan sosial
>> dalam komunitas, baik memang kita sengaja ataupun samasekali tidak
>> disengaja. Kasus Blackberry yang saya berikan itu hanyalah satu contoh kecil
>> saja, anda dapat menemukan lusinan contoh-contoh lain yang ada disekitar
>> hidup anda sendiri.
>>
>> Jadi apa kesimpulan anda? Silahkan anda mengambil nilai yang kira-kira
>> anda bisa tangkap. Oh iya tapi jangan anda berkesimpulan dangkal dengan
>> mengira saya adalah seorang anti-BB karena kalau ada orang yang mau memberi
>> saya sebuah BB onyx atau BB torch tentu saya dengan sangat amat senang hati
>> mau menerimanya dan menggunakannya walaupun mungkin saya tidak terlalu
>> membutuhkannya. Atau mungkin kalau ada yang mau memberi saya iPhone 4G
>> terbaru pasti saya mau menerimanya walaupun saya tidak butuh hal itu
>> samasekali :)
>>
>> Terserah anda mau mengambil nilai positif dan mengambil kesimpulan jenis
>> apa yang anda dapat dari tulisan sederhana saya ini. Yang pasti jangan
>> samakan tulisan ini dengan skripsi atau thesis karena “penelitian” dan
>> sumber yang saya cantumkan disini sangat lah seadanya dan terselesaikan
>> dalam waktu kurang dari 45 menit. So, maaf-maaf saja kalau ada kesalahan
>> data/argument ya :)
>>
>> *Tulisan ini juga dapat anda baca di 
>> http://venomaxus.wordpress.com<http://venomaxus.wordpress.com/2010/09/29/blackberry-kebutuhan-atau-pamer/>
>> *
>>
>>
>>
>>
>>
>> *Warm Regards,*
>>
>> * *
>>
>> * *
>>
>> *Zigo AlCapone*
>>
>>
>>
>> --
>> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
>> to post emails, just send to :
>> [email protected]
>> to join this group, send blank email to :
>> [email protected]
>> to quit from this group, just send email to :
>> [email protected]<aga-madjid%[email protected]>
>> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
>> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
>> add my twitter @aga_madjid
>> thanks for joinning this group.
>>
>>  --
>> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
>> to post emails, just send to :
>> [email protected]
>> to join this group, send blank email to :
>> [email protected]
>> to quit from this group, just send email to :
>> [email protected]<aga-madjid%[email protected]>
>> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
>> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
>> add my twitter @aga_madjid
>> thanks for joinning this group.
>>
>
>  --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]<aga-madjid%[email protected]>
> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
> add my twitter @aga_madjid
> thanks for joinning this group.
>



-- 
ketika hidup penuh dgn makna
Regards,


Eka Prasetia (Phecor)

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke