Selamat para juara !

Pak Azka ** - dua bintang (mayjen), kalau dapat 2 nobel prizes Pak Azka akan mengantongi USD 2 juta dollars, sayangnya ini di AIT ada yang nraktir di cafetaria saja bagus.
Pak Berlian * - satu bintang (brigjen)
Pak Budi * - satu bintang (brigjen)
Kang Didin * - satu bintang (brigjen)

Ada satu hal yang menarik, kenapa orang Indonesia lebih banyak berhasil jadi juara di cabang olah raga individu seperti: tenis (Pak Azka, Pak Berlian, Alvin Proboyo dulu), tenis meja (Pak Wong, Pak Asep, Pak Affan, Pak Irwan), Bulu Tangkis (Pak Budi cs), dibandingkan dengan cabang olah raga keroyokan seperti sepakbola (The best achievement tim sepakbola Indonesia di AIT kan kalah 3-4 melawan AIT Staff), dan kalah 6-7 dari Nepal yang baru tahu cara menendang bola kemarin sore.

Di tingkat nasional juga samimawon, Bulutangkis Indonesia sudah malang melintang arena asia dan dunia (terutama jaman Rudi Hartono, Liem swie king, Tjun tjun, Johan Wahyudi, Christian dan Ade Chandra, Ivana Lee dan Susi Susanti), tapi bukan di jamannya menantu Pak Agum yang temperamental dan prestasinya naik-turun-turun-turun.

Sebaliknya di cabang olahraga keroyokan, prestasi terbaik PSSI sepanjang sejarah persepakbolaan indonesia adalah bisa menahan 0-0 Czechoslovakia dan 0-0 USSR (tahun 1960an jaman Ramang, Sutjipto Suntoro cs), itu saja. Setelah itu, lawan Brunei saja (yang kalau di Bandung sekelas dengan Babakan Ciparay), kalah, kalaupun menang skornya tipis sekali.

Ada yang bisa menjelaskan kenapa begitu?

Regards
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke