Hehehe
Manthab analisanya...

Saya salah satu dari 230 jiwa pak,
Main bola... 10 menit capek, lari aja kalah jauh terus..
Main voley, Cuma bisa passing dikit, nyemess gak nyampe, toser.. mleset
mulu,
Main basket, wah... 10 kali shooting tanpa lawan, 1 pun gak ada yang
masuk...

Memang saya gak ada bakat, ditambah lagi gak pernah latihan untuk mengasah
kemampuan....... jadi wajar di scala kecil AIT saja, permitha gak bisa
berharap banyak dari saya...

tapi minimal saya masih bisa jadi supporter, jadi tau, oh... begini kalo
orang kita lagi main... 

Kalo berbicara scala nasional, ada yang buat saya miris..
Mereka2 yang dulunya atlit2 nasional peraih penghargaan tertinggi, di masa
tua nya ada dan tidak sedikit yang taraf hidupnya sedikit menyedihkan, jika
dilihat apa yang pernah di raihnya di masa kejayaan..

Makanya banyak orang yang punya pilihan tidak ingin menggantungkan hidupnya
di dunia olahraga, termasuk seperti saya.


Hendra



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of ariva s. permana
Sent: Thursday, April 09, 2009 11:34 AM
To: AIT Indonesian Student Association (Permitha AIT) mailing list 
Subject: Re: [AIT-Indo] Olah raga perseorangan vs olah raga keroyokan

Pak Wong,

Saya bisa mematahkan argument Pak Wong bahwa membentuk team itu sulit. 
Kesebelasan Piala Dunia Brazil 2002 yang juara di Jepang/South Korea 
dibentuk oleh Scolari hanya dalam waktu 2 tahun dan jadi juara.Kalau kata 
Pak Wong lagi: itu kan karena individunya bagus, ya itu tadi Pak Wong, 
talent pemain brazil itu sudah dibentuk dari sononya, jadi faktor genus dan 
anthropologis atau faktor apalagi kali, ada di sana. Jadi di Brazil ini 
siapapun pelatihnya tidak akan kesulitan memilih pemain, karena stock-nya 
buanyak.Kalau kesebelasan brazil kalah, itu bukan karena faktor teknik 
individu, tapi lebih karena strategi pelatihnya saja yang salah.

Di Brazil itu (hanya denger cerita saja, dan belum pernah ke sana) setiap 
orang (termasuk juga perempuannya) bisa bermain bola, dan candanya setiap 
bayi brazil yang baru brojol bisa nendang bola. Saya pernah melihat film 
dokumentasi tentang para pekerja offshore brazil. Mereka punya lapangan bola

mini di platform rig mereka, perusahaannya (walaupun perusahaan non-brazil) 
menyediakan lapangan bola mini itu. Itulah hiburan bagi mereka, perusahaan 
tahu kultur orang brazil.Malahan pernah salah satu klub indonesia jaman 
Galatama, meng-hire pemain bola dari brazil tapi ternyata kelas RT paling 
banter kelas kelurahan mereka, padahal di Indonesia bisa jadi kelas 
nasional.Ini jelas kultur dan faktor genetik.

Pak Wong, PSSI berdiri (kalau tidak salah) tahun 1930, sudah 79 tahun !, dan

rakyat indonesia itu ada sekitar 230 juta jiwa, masa membentuk 22 orang saja

susahnya 1/2 mati?. Faktor genetik orang indonesia mungkin tidak cocok untuk

olahraga keroyokan, cocoknya olahraga perorangan. Lihat saja banyak pemain 
bola yang berbakat jadi petinju kan? Di tengah2 main bola ada adu tinju, 
jadi sebaiknya tinju saja yang dikembangkan, supaya kelas bulu, kelas 
bantam, kelas terbang, dan kelas sejenisnya bisa dikuasai oleh orang 
Indonesia.

Tapi ada satu phenomenon lagi tentang arti kelompok dalam khasanah bangsa 
kita ini, kalau dalam arti negatif, indonesia juaranya dalam berkelompok, 
contohnya keroyokan anak SMA vs SMA lain atau vs STM/SMK, anggota geng 
motor, korupsi berjamaah anggota DPRD/DPR, dan ada lagi, kalau seorang (main

gitar), dua orang (main catur), tiga orang (main halma), 4 orang (main remi 
atau gaple), lebih dari 4 orang (ngrampok) hahah  :).

Kalau saya punya dana 5 milar rp, saya akan memberi scholarship untuk 
seorang PhD yang berasal dari anak desa miskin tapi cerdas untuk study 
anthropologi di amrik dan meneliti masalah ini, untuk kemajuan olahraga 
bangsa ini.

Maaf Pak Wong ngelantur, soalnya  nungguin info dari UNDP belum juga datang 
padahal deadline report siang ini. Selamat (jangan)  memilih (maling dan 
calon maling).

Salam
ariva




----- Original Message ----- 
From: "Wong Foek Tjong" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, April 08, 2009 5:39 PM
Subject: Re: [AIT-Indo] Olah raga perseorangan vs olah raga keroyokan


> Untuk Nita:
> Menyebutkan "peace", saya jadi teringat teman saya, mantan aktifis SU yang

> energik dan enak diajak ngobrol, yang sepedanya sampai hilang tiga kali 
> selama tinggal di AIT :D
>
> Untuk Pak Arriva:
> Tidak disangka ternyata Pak Ariva tahu juga bagaimana temperamen-nya mantu

> Pak Agun Gumelar itu.  Secara skill saya (dan banyak yang lainnya) 
> mengakui dia memang hebat dan spesial, tapi mungkin karena mental dan 
> temperamen-nya itu yang menyebabkan dia jatuh terlalu cepat 
> ("naik-turun-turun-turun" menurut termonologi Pak Ariva).  Saat nonton SEA

> GAMES di Naknon Rachasima tahun 2007 lalu saya sempat nonton dia secara 
> langsung.  Cara dia menyampaikan protes ke penjaga garis seperti 
> meremehkan penjaga garis itu.  Ini tentu saja tidak menimbulksn simpati 
> penonton.
>
> Mengenai kenapa prestasi olahraga tim (keroyokan) Indonesia tidak ada yang

> sampai mendunia seperti prestasi olahraga individual, ini yang sulit 
> dijawab.  Namun saya kira ini karena untuk membentuk tim yang kuat butuh 
> banyak individu yang berkualitas baik dan juga sistem pembinaan yang baik,

> tidak seperti olah raga individu yang dapat menonjol karena ada satu atau 
> dua orang yang hebat.
>
> Misalnya, mungkin saja dalam tim sepakbola (atau volley, basket, dll) 
> Indonesia ada satu atau dua pemain yang prestasinya sangat menonjol, tapi 
> karena tidak ada teman-temannya yang kualitasnya hampir sama dengan pemain

> yang hebat itu, akibatnya prestasi tim tidak bisa bagus.  Artinya, untuk 
> membentuk tim tangguh tidak bisa didasarkan hanya kebetulan terlahir 
> seorang seperti Pele atau seorang seperti Maradona di bumi Indonesia, tapi

> harus didasarkan pada sistem pembinaan dan atmosfer olahraga yang kondusif

> sejak dini.  Ini yang saya kira menjadi kelemahan di Indonesia.
>
> Salam,
>
> F.T. Wong
>
>
> Quoting [email protected] on 04/08/09:
>
>> hihiihih..
>> kayaknya bagus juga tuh jadi bahan tesis hehhehee peace!!!
>>
>>
>> Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/08/2009:
>>
>>> Kang Didin,
>>>
>>> Saya kira bukan karena jarang berlatih. Coba aja tengok PSSI, kurang apa

>>> soal perjalanan liga dari Liga Primer Jarum, Sampurna, Bank Mandiri, dan

>>> lain-lain calon sponsor utama Liga Utama PSSI, rekrutmen pemain asing, 
>>> dan pelatih asing termasuk Mario Kempes pahlawan Piala Dunia Argentina 
>>> 1978 juga pernah melatih di Indonesia, tapi tetep aja prestasi PSSI 
>>> jalan di tempat, sementara Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Thailand 
>>> udah pada lari.Volley ball, basket ball, base ball gak pernah ada cerita

>>> tim indonesia bercerita di SEA games saja, kan? Ini cerita olahraga 
>>> keroyokan.
>>>
>>> Tapi tanpa basa-basi, Donald Pandiangan pernah meraih emas panahan di 
>>> olimpiade, Susi Susanti dan Alan Budikusuma pernah meraih emas di 
>>> olimpiade. Elias Pical pernah jadi juara OPBF walaupun jadi bulan2an 
>>> Khaosai Galaxy, Syamsul Anwar Harahap sama pernah jadi juara di OPBF. 
>>> Chris John malah jadi juara dunia kelas bulu versi WBA. Tonton Suprapto 
>>> kan kalau sekedar kelas Tour of d'Langkawi mah sudah langganan juara. 
>>> Ini cerita olahraga perorangan.
>>>
>>> Latihan hanya salah satu faktor, tapi saya kira ada faktor genus dan 
>>> anthropologis yang perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan ini, bagi 
>>> kita termasuk Tim Indonesia di AIT, yang harus diperkuat adalah cabang 
>>> olahraga perorangan, gak usah ikutan voli dan sepakbola, kalau hanya 
>>> sekedar menang ...... gung aib.Atau kalau mau, latihan voli dan sepak 
>>> bola, sehari 3x (kalau argument Kang Didin benar).
>>>
>>> Wassalam
>>> ariva
>>>
>>>
>>> _______________________________________________
>>> Ait-indo mailing list
>>> [email protected]
>>> https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
>>>
>>
>>
>>
>> _______________________________________________
>> Ait-indo mailing list
>> [email protected]
>> https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
>>
>>
>
>
>
> -- 
> Wong Foek Tjong
> ...studying for better serving
>
> School of Engineering and Technology
> Asian Institute of Technology
> Thailand
> Office    tel: 66-2-524-6587
> Residence tel: 66-2-524-7770
> Mobile    tel: 66-31-309760
>
> _______________________________________________
> Ait-indo mailing list
> [email protected]
> https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo 

_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature
database 3995 (20090408) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com



_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke