seharusnya sich memang demikian Pak, yg bersalah ya meminta maaf, cuman ya 
seperti yg sudah saya tulis itu, contohnya si PSSI, sudah jelas itu tanggung 
jawab dia utk kesalahan mati lampu, nah kok ya gak minta maaf ? apa karena 
banyak yg gak merasa salah ? nah, berangkat dari hal ini makanya saya bilang 
gentle, karena mau merasa bersalah dan mau minta maaf, gak kayak PSSI itu :)
lah, kalo gak ada salah, lantas minta maaf, apanya yang hendak dimaafkan Pak ? 
:) 
menurut saya itu malah lebih mudah Pak, ucap minta maaf padahal gak punya 
salah, lebih sulit minta maaf ketika punya salah. 
Kalo mau Ramadhan atau Idul Fitri bisa berasa juga Pak, ketika ketemu temen 
akrab yg hubungannya fine-fine aja ,wah ringan sekali salaman sambil bilang 
minal aidin, tapi coba kalo papasan sama orang yg kita punya salah padanya, apa 
seringan tadi ajak salamannya ? :)
malah ada temen saya yg justru gak mau salaman sama "musuhnya", wah, di mana 
letak hari fitrinya kalo gitu ya ?

Saya malah lupa siapa aja posting mengenai hal ini, jadi saya gak mengarahkan 
posting kepada siapa pun,  saya hanya kasih opini saja, jadi Pak Yulian jangan 
merasa harus klarifikasi lho :)

salam sukses
-wadi-


Alexander Yulian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
--- In [email protected], wadi wijaya <[EMAIL PROTECTED]>
 wrote:
 >
 > a gentle thing to do,agak jarang menurut saya hari gini ada yg mau
 minta maaf. Termasuk para pejabat PSSI mengenai stadion mati lampu pas
 Korea lawan Arab Saudi tempo hari (menurut harian Kompas)
 
 Gentle? Bisa iya, bisa tidak :) Kalau seseorang bersalah tentu saja
 sudah kewajibannya meminta maaf. Kalau tidak bersalah tapi meminta
 maaf demi meredam suasana misalnya, itu baru gentle. Tapi yang jelas
 saya yakin beliau ini seorang bijak yang cukup bisa mengendalikan diri
 di hadapan umum.
 
 > Di sisi lain, member lain juga benar adanya bila soal hal ini sama
 sekali gak diatur dan disinggung di atas kertas, dan hal ini yg
 menjadi dasar argumen member lainnya.
 > 
 > Kesimpulannya, dua pihak memiliki dasar argumen yg kuat dan
 keadannya ya imbang. Yang paling berhak memberikan keputusan hasil
 akhir, ya tentu pihak yg memberi "soal" nya, alias si pembuat
 ketentuan office dan warnet ini, yakni para pejabat Telkom yg berkaitan. 
 > Ingat, bukan para pegawai Telkom ataupun orang lapangan, karena
 mereka hanyalah pelaksana, bukan pembuat kebijakan, mereka gak tahu
 menahu alasan pembikinan kebijakan perusahaan, untung-rugi perusahaan
 bukan mereka yg ikut menentukan arah garis besarnya.
 > 
 
 Maaf kalau saya GR, hehehe. Kalau yang dimaksud itu postingan saya,
 saya klarifikasi, saya bukan berargumen bahwa penggunaan paket selain
 Paket Warnet untuk warnet adalah bukan tindakan ilegal atau curang.
 Justru yang saya sampaikan adalah permintaan agar pihak-pihak yang
 tidak berkompeten menilai agar tidak mengumbar penilaiannya di hadapan
 umum. Dan itu saya sampaikan bukan kepada perorangan melainkan kepada
 seluruh anggota milis yth (saya menulis "anda-anda" sebagai kata ganti
 "kalian" yang tentunya tidak sopan). 




          

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]



Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke