Assalamu'alaikum Warohmatullah Langsung saja ana menanggapi pertanyaan akhi nur hidayat:
1. Afwan sebelumnya, jangan biasakan menyingkat salam, sholawat atau tulisan2 lain berupa doa atau pengagungan. Karena ini bukan ajaran manhaj salaf. Tulis saja apa adanya. Sesungguhnya penulisan lafadz itu termasuk ibadah, maka tidak akan bermakna ibadah jika menyingkat2 seperti itu. 2. Mengenai akal secara umum Islam sangat mengagungkan akal, dan mendorong umat manusia untuk menggunakannya. Akan tetapi sesungguhnya segala sesuatu itu ada batasnya, kecuali Allah Azza Wa Jalla. Dan tidaklah ada yg lebih mengetahui keterbatasan akal kecuali Allah Yang Maha Sempurna. Secara umum, akal tidak diperbolehkan untuk berpikir tentang DZAT dan HAKIKAT Allah, akan tetapi manusia disuruh untuk memikirkan kebesaran Allah melalui tanda-tanda kekuasaanNya. Tidak ada satupun ayat/hadits/atsar yg menyuruh kita memikirkan tentang Dzat dan Hakikat Allah. (untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikel di vbaitullah.or.id, judul artikel: "Kedudukan Akal dalam Islam" (3 tulisan). Firman Allah: Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (45:13) Kenapa manusia tidak diperbolehkan berpikir tentang DZAT dan HAKIKAT Allah? karena memang Allah tidak mendesain kita untuk mencapai itu. Karena itulah kaum falasifah (ahlul filsafat) tersesat sejauh-jauhnya. Karena mereka memaksa akal mereka melewati ambang batas yg ditetapkan oleh Allah. Dan puncak dari filsafat adalah kembali kepada aqidahnya orang awam, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dan cukuplah bagi orang yg mau berfikir mengenai kesesatan kaum ini, manakala datang pendapat yg menurut mereka lebih bagus, maka akan mereka ambil. Maka keyakinan mereka berubah2 dari masa ke masa. Padahal Islam itu satu, yaitu yg dibawa Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam, sejak dulu sampai sekarang hingga hari kiamat nanti tetap sama. Mengenai sifat Allah maka ahlussunnah memahaminya sebagai berikut: Adapun mengenai sifat-sifat Allah, maka kami mengimaninya tanpa ta'thil, tamtsil, tahrif, dan takyif. Maka mengimani sifat-sifat tersebut adalah wajib, dan mempertanyakan bagaimananya adalah bid'ah. Maka ketika Allah menyatakan Dia punya tangan, maka wajib kita mengimani bahwa Allah punya tangan, adapun bagaimana bentuk tangannya, seberapa besar dll, maka ini bukanlah urusan kita. Mengenai Allah turun ke langit bumi (saya tidak tahu mengenai hadits Allah turun ke bumi dari langit, setahu saya Allah turun ke langit bumi dari Arsy-Nya) maka kita mengimaninya, dan saya rasa kita semua tahu apa makna turun. Adapun mengenai bagaimana turunnya, maka kita tidak diperintahkan untuk membahasnya, bahkan bid'ah mempertanyakannya. Mengenai kelemahan akal, mari kita simak diskusi antara Imam Abul Hasan Al Asy'ari dengan Al-Jubba'i: Al Asy'ary (A) : Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan? Al Jubba'i (B) : Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya dan orang kafir masuk ke dalam neraka. A : Bagaimana dengan anak kecil? B : anak kecil tidak akan masuk neraka A : dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin? B : tidak, karena tidak pernah berbuat baik A : kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan B : Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat. A : kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka. Abu Ali Al Jubba'i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat diandalkan. Wallahua'lam Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu Sent by: "joelian rhomadonna" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Subject: Re: [assunnah] penggunaan akal dalam beragama 04/02/2006 10:06 AM From: nur hidayat <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sat Apr 1, 2006 9:41 am Subject: penggunaan akal dalam beragama Ass. wr. wb Apakah dalam memahami nilai-nilai keagamaan, kita harus sesuai konteks tanpa boleh berpikir atau menggunakan akal? padahal Allah menyukai orang yang menggunakan akal. Apakah pengertian Allah turun ke bumi diartikan secara harfiah Allah dari langit ke bumi? yang dapat menimbulkan konotasi Allah punya wujud lebih kecil dari bumi, Subanallah. maaf kalau saya salah. mohon penjelasan karena saya sering ikut kajian seakan akal di nomor duakan di dalam salafi. misal ketika ustadz ditanya kenapa begini atau begitu jawab utamanya adalah karena haditsnya begitu ikuti saja gak usah mikir. sehingga seakan-akan kita jadi dibutaka dari ilmu/akal. ============= Assalamu'alaiakum Ana mungkin hanya menyarankan, supaya antum lebih memperdalam lagi mengenai manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Kalo ana lihat pertanyaan antum sih sepertinya ada yang antum belum mengerti mengenai manhaj yang haq ini. Antum bisa baca buku Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah oleh Al-Ustadz Yazid Jawas atau melalui kaset atau VCD ceramah mengenai hal tersebut Dan Juga dapat dibaca di situs http://www.almanhaj.or.id di kolom artikel Aqidah Ahlus Sunnah, dll -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
