Klaim dakwah syumul mereka adalah klaim semata. Yang ada adalah mereka menyesuaikan dakwah mereka agar memperoleh banyak dukungan dan akhirnya memperoleh kekuasaan. Setelah kekuasaan di tangan pun tidak ada bukti mereka akan menegakkan syari'ah dengan utuh. Mereka hanya akan terus beralasan dengan "fiqh dakwah", "fiqh prioritas" dan semacamnya.
Jika ada pihak lain yang melanggar syari'ah menurut mereka, maka mereka akan cepat menyerangnya. Namun ketika ada pelanggaran di sisi mereka, mereka akan menuntut "tabayyun" dan mencari-carikan alasan. Ketidakmampuan mengingkari kemunkaran disulap menjadi "fiqh dakwah". Kader dan simpatisan pun dibeda-bedakan. Kalau kader disebut "ikhwan" dan "akhwat" tapi kalau simpatisan tidak disebut begitu. Ini salah satu masalah yang juga dilakukan sebagian kita. Mereka akan terlihat kuat dan berkembang karena "pandainya" mereka menarik hati semua kalangan. Namun metode itu akan berbalik kepada mereka ketika mereka memegang kekuasaan dan muncul konflik kepentingan dari para pendukung itu. Apakah mereka akan mengingkari janji-janji kepada "konstituen" ketika kampanye? Ingatlah nasihat para ulama. Dengan cara-cara mereka, bukan mereka yang mengubah masyarakat tetapi merekalah yang berubah. Tanya saja ke mereka hasil "dakwah syumul" mereka di Mesir, Sudan dan Indonesia (kini beberapa pos pemerintahan telah diisi mereka). Allahul musta'aan. Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, -- Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M)
