Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh
Akhi, silahkan dikaji artikel berikut, menurut saya, pas & bagus bangets.
Semoga bermanfaat.
=============================
Ada Saatnya…

Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Manusia tidak selamanya bisa menghadirkan hati untuk selalu mengingat akhirat. 
Dalam hidup berumah tangga, ada saat-saat bagi kita untuk bercanda dengan 
anak-anak, bermesraan dengan suami, dan kesenangan-kesenangan dunia lainnya. 
Bagaimana mengelola itu semua sehingga kehidupan kita senantiasa dalam naungan 
syariat?

Mungkin pernah terlintas di benak kita bahwa hari-hari bersama suami dan 
anak-anak kadang dipenuhi dengan kelalaian. Kita disibukkan untuk melayani 
mereka, mengurusi dan mempersiapkan kebutuhan mereka. Belum lagi menyempatkan 
diri untuk duduk bermesraan dan bercengkerama dengan suami, ditambah dengan 
bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak. Bersama mereka, kita selalu 
tertawa dan seakan lupa dengan kehidupan setelah kehidupan ini. Bersama mereka, 
seakan kita merasa kebersamaan ini akan kekal, tidak akan ada perpisahan. Yang 
ada hanyalah kebahagiaan demi kebahagiaan, kesenangan demi kesenangan. Bersama 
mereka seakan kita hidup hanya untuk dunia… Bersama mereka kita terbuai, lupa 
dan lalai…

Namun saat duduk sendiri dalam keheningan malam, bersimpuh di hadapan 
Ar-Rahman, ketika orang-orang yang dikasihi sedang terlelap dalam mimpi-mimpi 
indah mereka, timbul ingatan dan kesadaran bahwa semua itu tidaklah kekal, 
bahwa ada saat perjumpaan dengan Ar-Rahman. Di sana ada kenikmatan yang menanti 
dan ada azab yang tak terperikan. Hati menjadi lunak hingga mata pun mudah 
meneteskan butiran beningnya, terasa tak ingin berpisah dengan perasaan seperti 
ini. Ingin selalu rasa ini menyertai, ingin selalu tangis ini mengalir 
membasahi pipi…. Ingin dan ingin selalu ingat dengan akhirat, berpikir tentang 
akhirat di sepanjang waktu tanpa lupa sedetik pun dan tanpa lalai sekerdip mata 
pun. 

Demikian pula ketika kita duduk di majelis dzikir, majelis ilmu yang haq, 
mendengar ceramah seorang ustadz tentang dunia dengan kefanaan dan 
kerendahannya, tentang akhirat dengan kemuliaannya, tentang targhib dan tarhib, 
tentang kenikmatan surga dan azab neraka… Kembali kita ingat bahwa tawa canda 
dan kegembiraan kita dalam rumah tangga, bersama suami dan anak-anak, adalah 
kefanaan. Ada kehidupan setelah kehidupan dunia yang hanya sementara ini..

Pikiran seperti ini bisa saja suatu saat timbul di benak kita, sehingga 
terkadang membuat kita terusik, didera keresahan dan kebimbangan. Benarkah 
sikapku? Salahkah perbuatanku?

Saudariku… 

Perasaan yang mungkin agak mirip dengan yang pernah engkau rasakan juga pernah 
dialami para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia. 
Hanzhalah Al-Asadi radhiallahu 'anhu seorang shahabat yang terhitung dalam 
jajaran juru tulis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertutur:

Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu. 
“Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya1.
“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq,” jawabku.
“Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?” tanya Abu Bakr.
“Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau 
mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa 
melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, istri, anak dan harta kita (sawah 
ladang ataupun pekerjaan, –pent.) menyibukkan kita2, hingga kita banyak lupa/ 
lalai,” kataku.
“Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu3,” Abu Bakr menanggapi 
perasaan Hanzhalah.
Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah,” kataku.
“Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?” tanya beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
“Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang 
neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala 
kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami 
(sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, hingga kami banyak 
lupa/ lalai4,” jawabku.

Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ 
عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي 
طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً سَاعَةً. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada 
dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan 
selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di 
atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai 
Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. 6900, kitab 
At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril Akhirah wal Muraqabah, 
wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba’dhil Auqat wal Isytighal bid Dunya) 

Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di 
atas dengan lafadz:

يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً سَاعَةً، وَلَوْ كَانَتْ تَكُوْنُ قُلُوْبُكُمْ كَمَا 
تَكُوْنُ عِنْدَ الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ حَتَّى تُسَلِّمَ 
عَلَيْكُمْ فِي الطُُّرُقِ

“Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati-hati 
kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat akan akhirat, 
niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka mengucapkan 
salam kepada kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim no. 6901)

Hanzhalah radhiallahu 'anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah seorang 
shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya merasa 
aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan ia merasa khawatir bila ia 
termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan azab-Nya yang 
pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah (merasa terus dalam pengawasan 
Allah Subhanahu wa Ta'ala), berpikir dan menghadapkan diri kepada akhirat. 
Namun ketika keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam, ia disibukkan dengan istri, anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah 
khawatir hal itu merupakan kemunafikan, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
pun mengajari Hanzhalah dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu 
bukanlah kemunafikan. Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus 
memikirkan dan menghadapkan diri
 hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Ada 
saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi penghidupan di dunia. 
(Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70) 

Ketika Hanzhalah radhiallahu 'anhu mengeluhkan perasaan dan keadaan dirinya 
yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan bila 
keadaannya sama dengan keadaannya ketika bersama beliau, merasa hatinya itu 
lunak dan takut kepada Allah. Terus keadaannya demikian di mana pun ia berada, 
niscaya para malaikat dengan terang-terangan akan menyalaminya di majelisnya, 
di atas tempat tidurnya dan di jalan-jalannya.

Namun yang namanya manusia tidaklah bisa demikian. Ada waktunya ia bisa 
menghadirkan hatinya untuk mengingat akhirat, dan ada saatnya ia lemah dari 
ingatan akan akhirat. Ketika waktunya ingat akan akhirat, ia bisa menunaikan 
hak-hak Rabbnya dan mengatur perkara agamanya. Saat waktunya lemah, ia 
mengurusi bagian dari kehidupan dunianya ini. Dan tidaklah seseorang dianggap 
munafik bila demikian keadaannya, karena masing-masingnya merupakan rahmah atas 
para hamba. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqa`iq wal Wara’, 
bab ke 59, Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/560)

Al-Imam As-Sindi rahimahullahu menjelaskan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam (لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ) : “Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam memperingatkan mereka bahwa biasanya hati itu tidak selamanya dapat 
dihadirkan untuk selalu ingat akhirat. Namun hal itu tidaklah memudharatkan 
bagi keberadaan iman di dalam hati, karena kelalaian/ saat hati itu lupa 
tidaklah melazimkan (mengharuskan) hilangnya keimanan.” (Syarhu Sunan Ibni 
Majah, 2/559-560)

Demikianlah ajaran yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
kepada umatnya, kepada para suami dan tentunya juga untuk para istri. Kesibukan 
dalam rumah tangga, bersenda gurau dengan suami dan bermain-main dengan 
anak-anak hingga kadang membuat lupa dan lalai, bukanlah suatu dosa yang dapat 
menghilangkan keimanan dalam hati.
Ada saatnya memang manusia itu lupa dan lalai karena memang demikian tabiat 
mereka yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan. Yang dicela hanyalah bila ia 
terus tenggelam dalam kelalaian, ridha terlena dengan keadaan yang demikian, 
dan memang enggan untuk bangkit memperbaiki diri. Pikirannya hanya dunia dan 
dunia, tanpa mengingat akhirat. Namun bila terkadang lupa kemudian ingat, ia 
bersemangat kembali. Demikianlah sifat manusia, manusia bukanlah malaikat yang 
mereka memang diciptakan semata untuk taat dan selalu beribadah kepada Allah 
Subhanahu wa Ta'ala, selalu mengerjakan dengan sempurna apa yang diperintahkan, 
tanpa lalai sedikitpun.


وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُوْنَ. 
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ

“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh 
untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula mereka merasa letih. Mereka selalu 
bertasbih kepada Allah siang dan malam tiada hentinya-hentinya.” (Al-Anbiya`: 
19-20) 

Para malaikat itu tidak pernah lelah, tidak pernah bosan dan jenuh karena 
kuatnya raghbah (harapan) mereka (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), 
sempurnanya mahabbah (cinta) mereka, dan kuatnya tubuh mereka. Mereka tenggelam 
dalam ibadah dan bertasbih di seluruh waktu mereka. Sehingga tidak ada waktu 
mereka yang terbuang sia-sia dan tidak ada waktu mereka yang luput dari 
ketaatan. Tujuan mereka selalu lurus, sebagaimana lurusnya amalan mereka. Dan 
mereka diberi kemampuan untuk melakukan semua itu, sebagaimana Allah Subhanahu 
wa Ta'ala berfirman:

لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada 
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6) 
[Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 862, Taisir Al-Karimir 
Rahman hal. 520-521]

Itulah sifat-sifat malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia. Dan manusia, 
sekali lagi bukanlah malaikat. Pada diri manusia ada kelalaian dan sifat lupa. 
Kadang semangat dalam menjalankan ketaatan, kadang pula futur (lemah semangat). 
Kadang hatinya tersibukkan mengingat kematian dan kampung akhirat, kadang pula 
ia sibuk mengurus dunianya. Begitulah sifat manusia, ada saatnya begini, ada 
saatnya begitu. Dan orang yang demikian keadaannya tidaklah bisa dicap munafik, 
sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menolak cap seperti itu 
ketika diucapkan oleh Hanzhalah radhiallahu 'anhu..

Dengan penjelasan di atas, kita berharap dapat mengambil pelajaran bahwa kita 
tidaklah dituntut untuk menjadi seorang yang ghuluw (berlebihan melampaui 
batas). Sehingga karena tak ingin dilalaikan dengan kesibukan rumah tangga, 
dengan suami dan anak, kita pun memilih hidup membujang agar bisa sepenuhnya 
beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atau jika kita sudah berumah 
tangga, lalu kita terapkan sikap ekstrim; tidak boleh ada canda tawa dengan 
suami, tak boleh ada gurauan karena dianggap sia-sia, harus diam berzikir. 
Tidak ada berkasih mesra karena membuang waktu dan itu hanyalah perbuatan ahlud 
dunya, orang-orang yang cinta dunia, sementara kita orientasinya akhirat. Tidak 
perlu mengajak anak-anak bermain. Rumah tidak perlu terlalu diurusi dan ditata, 
masak sekedarnya tidak usah enak-enak, tidak perlu ada perawatan tubuh dan 
kecantikan, tidak perlu repot dengan dandanan dan penampilan di depan suami, 
tidak mengapa pakai baju yang sudah sobek,
 semuanya sekedarnya… Toh ini cuma kehidupan dunia, toh semua ini melalaikan 
dan buang waktu… Benarkah? Tentunya tidak! 
Bila ada seorang istri yang melakukannya atau berpikir seperti itu, maka 
benar-benar hal itu bersumber dari kebodohannya. 
Tapi kita katakan, urusilah rumah tanggamu dengan baik. Perhatikan suami dan 
anak-anakmu. Usahakan untuk memberikan yang terbaik dan ternyaman untuk mereka, 
baik dari sisi pelayanan, penyediaan makanan, penataan rumah dan sebagainya 
sesuai dengan kemampuan yang ada dengan tiada memberatkan. Kalau dikatakan hal 
itu melalaikan dari akhirat maka jawabannya hadits Hanzhalah radhiallahu 'anhu 
di atas. 

Dan tengok pula rumah tangga nabawiyyah yang kerap kami singgung kisahnya dalam 
rubrik ini. Bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berumah tangga 
dan bagaimana istri-istri beliau, demikian pula istri-istri para shahabat 
radhiallahu 'anhum. Merekalah sebaik-baik contoh.
Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita semua. 
Amin!!!

Wallahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Karena saat itu Hanzhalah melewati Abu Bakr dalam keadaan Hanzhalah menangis. 
(Sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dalam Sunannya no. 2514) 
2 Karena kita harus memperbaiki penghidupan/mata pencaharian kita dan mengurusi 
mereka. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70)
Dalam riwayat lain, Hanzhalah radhiallahu 'anhu berkata mengeluhkan keadaan 
dirinya: “Kemudian aku pulang ke rumah lalu tertawa ceria bersama anak-anakku 
dan bermesraan dengan istriku.” (HR. Muslim no. 6901)
3 Dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu berkata: “Aku 
juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan.” 
4 Seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu. (Tuhfatul 
Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqaiq wal Wara’, bab ke 59)

--- On Sun, 11/16/08, abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [assunnah] Re: Cinta Dunia apa tidak?
To: [email protected]
Date: Sunday, November 16, 2008, 6:50 PM






Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Perkenankan saya memberi tambahan bahan perenungan kepada Saudaraku
Revaldo.
1/ Kita sama-sama tahu bahwa segala perbuatan dinilai dari niatnya.
Kita diajarkan untuk ikhlas berniat mencari karunia dan keridhaan
Allah subhanahu wa ta'ala.
2/ Puncak tujuan bagi setiap muslim ialah kehidupan di negeri akhirat.
Kehidupan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk kehidupan
berikutnya. Namun demikian, kehidupan di dunia itu kenyataan yang kita
jalani sehari-hari sehingga Allah subhanahu wa ta'ala tidak
menginginkan kita sengsara atau kita diberi hak untuk menikmatinya
sepanjang mengikuti ketentuan-Nya.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu
dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS 28. Al Qashash [28]:77)

3/ Kita dituntut berusaha keras untuk mencapai apa yang bermanfaat
bagi kita sambil senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhanahu
wa ta'ala.

"Artinya : Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu
dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika
kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata : Andaikan aku berbuat
demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi
katakanlah : Allah telah menakdirkan (ini). Allah melakukan apa yang
dikehendakiNya. Karena, kata "andaikan" membukakan pintu perbuatan
syaitan". [Hadits Riwayat Muslim dalam shahih-nya]

4/ Tujuan bersekolah semakin tinggi antara lain ialah: (a) makin
banyak ilmu yang dapat dimanfaatkan; (b) makin besar peluang kerja dan
makin besar peluang penghasilan yang akan diperoleh; dan yang tidak
boleh dilupakan karena justru tujuan yang seharusnya ialah (c) makin
bijak sehingga makin tunduk, patuh, dan taat kepada Allah subhanahu wa
ta'ala.
5/ Apabila tujuan bersekolah semakin tinggi hanya untuk mencari dunia,
alangkah sayangnya karena Allah subhanahu wa ta'ala menganggap sebagai
kesia-siaan dan tidak memperoleh kenikmatan kekal di negeri akhirat.
6/ Rencana Anda mulia. Mestinya rencana Anda tidak tergolong cinta
dunia. Apabila ingin mandiri, perlu meyakinkan orang tua bahwa
kewajiban beliau untuk membiayai sekolah telah selesai setelah Anda
lulus S1 dan untuk selanjutnya, Anda berusaha mandiri.
7/ Kematangan jiwa dan pengalaman lebih mantap apabila melanjutkan
pendidikan ke S2 setelah bekerja. Namun perlu upaya jauh lebih besar
dibandingkan apabila langsung melanjutkan S2 setelah lulus S1.
Sebabnya ialah karena Anda juga bekerja atau bahkan mungkin juga telah
berkeluarga.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kemudahan pada langkah Anda.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Abu Farhan

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Revaldo Zen" <revaldozen@ ...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
> 
> Kepada rekan-rekan assunnah saya mau bertanya:
> 1. Saya merupakan mahasiswa S1, dan Insya Allah sebentar lagi saya
lulus. Orang Tua saya menginginkan saya mengambil S2, sementara saya
berfikir hal itu merupakan terlalu cinta kepada harta, karena niat
orang tua saya menyekolahkan saya supaya saya mendapat gaji yang besar
setelah lulus. Saya berniat untuk bekerja terlebih dahulu kemudian
menikah dan setelah itu jika ada biaya saya mau untuk S2. apakah hal
tersebut termasuk cinta kepada dunia? atau cara berpikir saya yang
salah? karena itu juga merupakan permintaan orang tua, ya saya sebagai
anak harus menurutinya. apa yang harus saya lakukan. mohon diberikan
penjelasan
> 2. Saya meminta kepada rekan Assunnah bagaimana sikap kita dalam
menyikapi Dunia, apakah kasus saya diatas termasuk berlebih-lebihan
dalam dunia. mohon penjelasannya
> 
> Atas perhatiannya terima kasih, Jazakullah Khairan
> 
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 














      

Kirim email ke