Dan setahu saya yang wajib dituntut itu adalah ilmu agama bukan ilmu dunia. Apakah benar menuntut ilmu itu maksudnya ilmu dunia juga?
2008/12/2 Syamsul Ariefin <[EMAIL PROTECTED]> > "menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan* muslimah*" > > Tambahan muslimah adalah tambahan yang* la asla lahu alias tidak ada asal > usulnya*, jika dinisbatkan sebagai hadits Nabi Shallallahu alaihi > wasallam, demikian dijelaskan oleh syaikh Albani dan ditegaskan oleh al > Hafidz as Sakhawi dalam al Maqashid al Hasanah (hal 277) > > "menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat, sepanjang hayat" > > Kalimat ini adalah kalimat yang *la asla lahu alias tidak ada asal usulnya > *, jika dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja, > imam Ahmad bin Hanbal pernah mengatakannya, ketika ditanya seseorang,"Sampai > kapankah seseorang menuntut ilmu?' Beliau menjawab,"Sampai meninggal dunia" > lalu katanya:"Kami hingga saat ini tetap menuntut ilmu." > > (lihat di kitab Koreksi Hadits-Hadits Dhoi'if Populer karya Abu Ubaidah) > > Mudah-mudahan ana dan pak dokter bisa berhati-hati dalam membawakan > kalimat-kalimat sebagai hujjah > > Wallahu a'lam > Syamsul > > > 2008/12/1 diah taman <[EMAIL PROTECTED]>: > > > "menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimah" > > "menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat, sepanjang hayat" > > "Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu" > > > > Tapi menuntut ilmu itu tidak harus ke pasca sarjana S2 dan S3. > > Antum harus tahu S2 dan S3 itu untuk mereka yang berprofesi sebagai > dosen. > > kalau tujuan antum untuk mencari harta lalu kawin, lebih baik antum > bekerja > > saja selepas S1. > > > > salam, > > diah > > > > --- On Fri, 11/28/08, Dian Ambarawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > From: Dian Ambarawati <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: Re: [assunnah] Re: Cinta Dunia apa tidak? > > To: [email protected] > > Date: Friday, November 28, 2008, 8:07 PM > > > > Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh > > > > Akhi, silahkan dikaji artikel berikut, menurut saya, pas & bagus bangets. > > > > Semoga bermanfaat. > > > > ============ ========= ======== > > > > Ada Saatnya… > > > > Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah > > > > Manusia tidak selamanya bisa menghadirkan hati untuk selalu mengingat > > akhirat. Dalam hidup berumah tangga, ada saat-saat bagi kita untuk > bercanda > > dengan anak-anak, bermesraan dengan suami, dan kesenangan-kesenang an > dunia > > lainnya. Bagaimana mengelola itu semua sehingga kehidupan kita senantiasa > > dalam naungan syariat? > > > > Mungkin pernah terlintas di benak kita bahwa hari-hari bersama suami dan > > anak-anak kadang dipenuhi dengan kelalaian. Kita disibukkan untuk > melayani > > mereka, mengurusi dan mempersiapkan kebutuhan mereka. Belum lagi > > menyempatkan diri untuk duduk bermesraan dan bercengkerama dengan suami, > > ditambah dengan bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak. Bersama > mereka, > > kita selalu tertawa dan seakan lupa dengan kehidupan setelah kehidupan > ini. > > Bersama mereka, seakan kita merasa kebersamaan ini akan kekal, tidak akan > > ada perpisahan. Yang ada hanyalah kebahagiaan demi kebahagiaan, > kesenangan > > demi kesenangan. Bersama mereka seakan kita hidup hanya untuk dunia… > Bersama > > mereka kita terbuai, lupa dan lalai… > > > > Namun saat duduk sendiri dalam keheningan malam, bersimpuh di hadapan > > Ar-Rahman, ketika orang-orang yang dikasihi sedang terlelap dalam > > mimpi-mimpi indah mereka, timbul ingatan dan kesadaran bahwa semua itu > > tidaklah kekal, bahwa ada saat perjumpaan dengan Ar-Rahman. Di sana ada > > kenikmatan yang menanti dan ada azab yang tak terperikan. Hati menjadi > lunak > > hingga mata pun mudah meneteskan butiran beningnya, terasa tak ingin > > berpisah dengan perasaan seperti ini. Ingin selalu rasa ini menyertai, > ingin > > selalu tangis ini mengalir membasahi pipi…. Ingin dan ingin selalu ingat > > dengan akhirat, berpikir tentang akhirat di sepanjang waktu tanpa lupa > > sedetik pun dan tanpa lalai sekerdip mata pun. > > > > Demikian pula ketika kita duduk di majelis dzikir, majelis ilmu yang haq, > > mendengar ceramah seorang ustadz tentang dunia dengan kefanaan dan > > kerendahannya, tentang akhirat dengan kemuliaannya, tentang targhib dan > > tarhib, tentang kenikmatan surga dan azab neraka… Kembali kita ingat > bahwa > > tawa canda dan kegembiraan kita dalam rumah tangga, bersama suami dan > > anak-anak, adalah kefanaan. Ada kehidupan setelah kehidupan dunia yang > hanya > > sementara ini. > > > > Pikiran seperti ini bisa saja suatu saat timbul di benak kita, sehingga > > terkadang membuat kita terusik, didera keresahan dan kebimbangan. > Benarkah > > sikapku? Salahkah perbuatanku? > > > > Saudariku… > > > > Perasaan yang mungkin agak mirip dengan yang pernah engkau rasakan juga > > pernah dialami para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam > yang > > mulia. Hanzhalah Al-Asadi radhiallahu 'anhu seorang shahabat yang > terhitung > > dalam jajaran juru tulis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam > bertutur: > > > > Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu. > > " Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?" tanyanya1. > > "Hanzhalah ini telah berbuat nifaq," jawabku. > > "Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?" tanya Abu Bakr. > > "Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, > beliau > > mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa > > melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan > > majelis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, istri, anak dan harta > kita > > (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) menyibukkan kita2, hingga kita > > banyak lupa/ lalai," kataku. > > "Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu3," Abu Bakr menanggapi > > perasaan Hanzhalah. > > Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa > > sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu 'alaihi wa > > sallam. > > "Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah," kataku. > > "Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?" tanya > beliau > > Shallallahu 'alaihi wa sallam. > > "Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami > > tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan > > mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, > anak > > dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, > > hingga kami banyak lupa/ lalai4," jawabku. > > > > Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa > > sallam bersabda: > > > > وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ > > عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ > وَفِي > > طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً سَاعَةً. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ) > > > > "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap > berada > > dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku > dan > > selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian > di > > atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai > > Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu." Rasulullah > > Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. > > 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril > Akhirah > > wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba'dhil Auqat wal Isytighal bid > > Dunya) > > > > Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa > sallam > > di atas dengan lafadz: > > > > يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً سَاعَةً، وَلَوْ كَانَتْ تَكُوْنُ قُلُوْبُكُمْ > كَمَا > > تَكُوْنُ عِنْدَ الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ حَتَّى تُسَلِّمَ > > عَلَيْكُمْ فِي الطُُّرُقِ > > > > "Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya > > hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat > akan > > akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka > > mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan." (HR. Muslim no. 6901) > > > > Hanzhalah radhiallahu 'anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah > seorang > > shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya > > merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan ia merasa > khawatir > > bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi > > Shallallahu 'alaihi wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa > > Ta'ala dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah > > (merasa terus dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala), berpikir dan > > menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan > majelis > > Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia disibukkan dengan istri, > > anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan > > kemunafikan, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengajari > Hanzhalah > > dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah > kemunafikan. > > Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan > > menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan > ada > > waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi > > penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70) > > > > Ketika Hanzhalah radhiallahu 'anhu mengeluhkan perasaan dan keadaan > dirinya > > yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan > bila > > keadaannya sama dengan keadaannya ketika bersama beliau, merasa hatinya > itu > > lunak dan takut kepada Allah. Terus keadaannya demikian di mana pun ia > > berada, niscaya para malaikat dengan terang-terangan akan menyalaminya di > > majelisnya, di atas tempat tidurnya dan di jalan-jalannya. > > > > Namun yang namanya manusia tidaklah bisa demikian. Ada waktunya ia bisa > > menghadirkan hatinya untuk mengingat akhirat, dan ada saatnya ia lemah > dari > > ingatan akan akhirat. Ketika waktunya ingat akan akhirat, ia bisa > menunaikan > > hak-hak Rabbnya dan mengatur perkara agamanya. Saat waktunya lemah, ia > > mengurusi bagian dari kehidupan dunianya ini. Dan tidaklah seseorang > > dianggap munafik bila demikian keadaannya, karena masing-masingnya > merupakan > > rahmah atas para hamba. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war > > Raqa`iq wal Wara', bab ke 59, Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/560) > > > > Al-Imam As-Sindi rahimahullahu menjelaskan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi > wa > > sallam (لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ) : "Nabi Shallallahu > > 'alaihi wa sallam memperingatkan mereka bahwa biasanya hati itu tidak > > selamanya dapat dihadirkan untuk selalu ingat akhirat. Namun hal itu > > tidaklah memudharatkan bagi keberadaan iman di dalam hati, karena > kelalaian/ > > saat hati itu lupa tidaklah melazimkan (mengharuskan) hilangnya > keimanan." > > (Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/559-560) > > > > Demikianlah ajaran yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa > sallam > > kepada umatnya, kepada para suami dan tentunya juga untuk para istri. > > Kesibukan dalam rumah tangga, bersenda gurau dengan suami dan > bermain-main > > dengan anak-anak hingga kadang membuat lupa dan lalai, bukanlah suatu > dosa > > yang dapat menghilangkan keimanan dalam hati. > > Ada saatnya memang manusia itu lupa dan lalai karena memang demikian > tabiat > > mereka yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan. Yang dicela hanyalah bila > ia > > terus tenggelam dalam kelalaian, ridha terlena dengan keadaan yang > demikian, > > dan memang enggan untuk bangkit memperbaiki diri. Pikirannya hanya dunia > dan > > dunia, tanpa mengingat akhirat. Namun bila terkadang lupa kemudian ingat, > ia > > bersemangat kembali. Demikianlah sifat manusia, manusia bukanlah malaikat > > yang mereka memang diciptakan semata untuk taat dan selalu beribadah > kepada > > Allah Subhanahu wa Ta'ala, selalu mengerjakan dengan sempurna apa yang > > diperintahkan, tanpa lalai sedikitpun. > > > > وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ > > يَسْتَحْسِرُوْنَ. يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ > > > > "Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa > angkuh > > untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula mereka merasa letih. Mereka > selalu > > bertasbih kepada Allah siang dan malam tiada hentinya-hentinya." > > (Al-Anbiya`: 19-20) > > > > Para malaikat itu tidak pernah lelah, tidak pernah bosan dan jenuh karena > > kuatnya raghbah (harapan) mereka (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), > > sempurnanya mahabbah (cinta) mereka, dan kuatnya tubuh mereka. Mereka > > tenggelam dalam ibadah dan bertasbih di seluruh waktu mereka. Sehingga > tidak > > ada waktu mereka yang terbuang sia-sia dan tidak ada waktu mereka yang > luput > > dari ketaatan. Tujuan mereka selalu lurus, sebagaimana lurusnya amalan > > mereka. Dan mereka diberi kemampuan untuk melakukan semua itu, > sebagaimana > > Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: > > > > لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ > > > > "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya > kepada > > mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6) > > [Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 862, Taisir > > Al-Karimir Rahman hal. 520-521] > > > > Itulah sifat-sifat malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia. Dan > > manusia, sekali lagi bukanlah malaikat. Pada diri manusia ada kelalaian > dan > > sifat lupa. Kadang semangat dalam menjalankan ketaatan, kadang pula futur > > (lemah semangat). Kadang hatinya tersibukkan mengingat kematian dan > kampung > > akhirat, kadang pula ia sibuk mengurus dunianya. Begitulah sifat manusia, > > ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Dan orang yang demikian > keadaannya > > tidaklah bisa dicap munafik, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi > wa > > sallam menolak cap seperti itu ketika diucapkan oleh Hanzhalah > radhiallahu > > 'anhu.. > > > > Dengan penjelasan di atas, kita berharap dapat mengambil pelajaran bahwa > > kita tidaklah dituntut untuk menjadi seorang yang ghuluw (berlebihan > > melampaui batas). Sehingga karena tak ingin dilalaikan dengan kesibukan > > rumah tangga, dengan suami dan anak, kita pun memilih hidup membujang > agar > > bisa sepenuhnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atau jika > kita > > sudah berumah tangga, lalu kita terapkan sikap ekstrim; tidak boleh ada > > canda tawa dengan suami, tak boleh ada gurauan karena dianggap sia-sia, > > harus diam berzikir. Tidak ada berkasih mesra karena membuang waktu dan > itu > > hanyalah perbuatan ahlud dunya, orang-orang yang cinta dunia, sementara > kita > > orientasinya akhirat. Tidak perlu mengajak anak-anak bermain. Rumah tidak > > perlu terlalu diurusi dan ditata, masak sekedarnya tidak usah enak-enak, > > tidak perlu ada perawatan tubuh dan kecantikan, tidak perlu repot dengan > > dandanan dan penampilan di depan suami, tidak mengapa pakai baju yang > sudah > > sobek, semuanya sekedarnya… Toh ini cuma kehidupan dunia, toh semua ini > > melalaikan dan buang waktu… Benarkah? Tentunya tidak! > > > > Bila ada seorang istri yang melakukannya atau berpikir seperti itu, maka > > benar-benar hal itu bersumber dari kebodohannya. > > Tapi kita katakan, urusilah rumah tanggamu dengan baik. Perhatikan suami > dan > > anak-anakmu. Usahakan untuk memberikan yang terbaik dan ternyaman untuk > > mereka, baik dari sisi pelayanan, penyediaan makanan, penataan rumah dan > > sebagainya sesuai dengan kemampuan yang ada dengan tiada memberatkan. > Kalau > > dikatakan hal itu melalaikan dari akhirat maka jawabannya hadits > Hanzhalah > > radhiallahu 'anhu di atas. > > > > Dan tengok pula rumah tangga nabawiyyah yang kerap kami singgung kisahnya > > dalam rubrik ini. Bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam > berumah > > tangga dan bagaimana istri-istri beliau, demikian pula istri-istri para > > shahabat radhiallahu 'anhum. Merekalah sebaik-baik contoh. > > Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita > > semua. Amin!!! > > > > Wallahul musta'an, wallahu ta'ala a'lam bish-shawab. > > > > 1 Karena saat itu Hanzhalah melewati Abu Bakr dalam keadaan Hanzhalah > > menangis. (Sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dalam > Sunannya > > no. 2514) > > 2 Karena kita harus memperbaiki penghidupan/ mata pencaharian kita dan > > mengurusi mereka. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70) > > Dalam riwayat lain, Hanzhalah radhiallahu 'anhu berkata mengeluhkan > keadaan > > dirinya: "Kemudian aku pulang ke rumah lalu tertawa ceria bersama > > anak-anakku dan bermesraan dengan istriku." (HR. Muslim no. 6901) > > 3 Dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu berkata: > "Aku > > juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan." > > 4 Seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu. (Tuhfatul > > Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqaiq wal Wara', bab ke 59) > > > > --- On Sun, 11/16/08, abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > > From: abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED] com> > > Subject: [assunnah] Re: Cinta Dunia apa tidak? > > To: [EMAIL PROTECTED] s.com > > Date: Sunday, November 16, 2008, 6:50 PM > > > > Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, > > Perkenankan saya memberi tambahan bahan perenungan kepada Saudaraku > > Revaldo. > > 1/ Kita sama-sama tahu bahwa segala perbuatan dinilai dari niatnya. > > Kita diajarkan untuk ikhlas berniat mencari karunia dan keridhaan > > Allah subhanahu wa ta'ala. > > 2/ Puncak tujuan bagi setiap muslim ialah kehidupan di negeri akhirat.. > > Kehidupan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk kehidupan > > berikutnya. Namun demikian, kehidupan di dunia itu kenyataan yang kita > > jalani sehari-hari sehingga Allah subhanahu wa ta'ala tidak > > menginginkan kita sengsara atau kita diberi hak untuk menikmatinya > > sepanjang mengikuti ketentuan-Nya. > > > > "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu > > (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu > > dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) > > sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu > > berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai > > orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS 28. Al Qashash [28]:77) > > > > 3/ Kita dituntut berusaha keras untuk mencapai apa yang bermanfaat > > bagi kita sambil senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhanahu > > wa ta'ala. > > > > "Artinya : Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu > > dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika > > kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata : Andaikan aku berbuat > > demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi > > katakanlah : Allah telah menakdirkan (ini). Allah melakukan apa yang > > dikehendakiNya. Karena, kata "andaikan" membukakan pintu perbuatan > > syaitan". [Hadits Riwayat Muslim dalam shahih-nya] > > > > 4/ Tujuan bersekolah semakin tinggi antara lain ialah: (a) makin > > banyak ilmu yang dapat dimanfaatkan; (b) makin besar peluang kerja dan > > makin besar peluang penghasilan yang akan diperoleh; dan yang tidak > > boleh dilupakan karena justru tujuan yang seharusnya ialah (c) makin > > bijak sehingga makin tunduk, patuh, dan taat kepada Allah subhanahu wa > > ta'ala. > > 5/ Apabila tujuan bersekolah semakin tinggi hanya untuk mencari dunia, > > alangkah sayangnya karena Allah subhanahu wa ta'ala menganggap sebagai > > kesia-siaan dan tidak memperoleh kenikmatan kekal di negeri akhirat. > > 6/ Rencana Anda mulia.. Mestinya rencana Anda tidak tergolong cinta > > dunia. Apabila ingin mandiri, perlu meyakinkan orang tua bahwa > > kewajiban beliau untuk membiayai sekolah telah selesai setelah Anda > > lulus S1 dan untuk selanjutnya, Anda berusaha mandiri. > > 7/ Kematangan jiwa dan pengalaman lebih mantap apabila melanjutkan > > pendidikan ke S2 setelah bekerja. Namun perlu upaya jauh lebih besar > > dibandingkan apabila langsung melanjutkan S2 setelah lulus S1. > > Sebabnya ialah karena Anda juga bekerja atau bahkan mungkin juga telah > > berkeluarga. > > > > Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kemudahan pada langkah Anda. > > Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > > Abu Farhan > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Revaldo Zen" <revaldozen@ ...> wrote: > >> > >> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh > >> > >> Kepada rekan-rekan assunnah saya mau bertanya: > >> 1. Saya merupakan mahasiswa S1, dan Insya Allah sebentar lagi saya > > lulus. Orang Tua saya menginginkan saya mengambil S2, sementara saya > > berfikir hal itu merupakan terlalu cinta kepada harta, karena niat > > orang tua saya menyekolahkan saya supaya saya mendapat gaji yang besar > > setelah lulus. Saya berniat untuk bekerja terlebih dahulu kemudian > > menikah dan setelah itu jika ada biaya saya mau untuk S2. apakah hal > > tersebut termasuk cinta kepada dunia? atau cara berpikir saya yang > > salah? karena itu juga merupakan permintaan orang tua, ya saya sebagai > > anak harus menurutinya. apa yang harus saya lakukan. mohon diberikan > > penjelasan > >> 2. Saya meminta kepada rekan Assunnah bagaimana sikap kita dalam > > menyikapi Dunia, apakah kasus saya diatas termasuk berlebih-lebihan > > dalam dunia. mohon penjelasannya > >> > >> Atas perhatiannya terima kasih, Jazakullah Khairan > >> > >> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
