Dan setahu saya yang wajib dituntut itu adalah ilmu agama bukan ilmu dunia.
Apakah benar menuntut ilmu itu maksudnya ilmu dunia juga?


2008/12/2 Syamsul Ariefin <[EMAIL PROTECTED]>

>    "menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan* muslimah*"
>
> Tambahan muslimah adalah tambahan yang* la asla lahu alias tidak ada asal
> usulnya*, jika dinisbatkan sebagai hadits Nabi Shallallahu alaihi
> wasallam, demikian dijelaskan oleh syaikh Albani dan ditegaskan oleh al
> Hafidz as Sakhawi dalam al Maqashid al Hasanah (hal 277)
>
> "menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat, sepanjang hayat"
>
> Kalimat ini adalah kalimat yang *la asla lahu alias tidak ada asal usulnya
> *, jika dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja,
> imam Ahmad bin Hanbal pernah mengatakannya, ketika ditanya seseorang,"Sampai
> kapankah seseorang menuntut ilmu?' Beliau menjawab,"Sampai meninggal dunia"
> lalu katanya:"Kami hingga saat ini tetap menuntut ilmu."
>
> (lihat di kitab Koreksi Hadits-Hadits Dhoi'if Populer karya Abu Ubaidah)
>
> Mudah-mudahan ana dan pak dokter bisa berhati-hati dalam membawakan
> kalimat-kalimat sebagai hujjah
>
> Wallahu a'lam
> Syamsul
>
>
> 2008/12/1 diah taman <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> > "menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimah"
> > "menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat, sepanjang hayat"
> > "Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu"
> >
> > Tapi menuntut ilmu itu tidak harus ke pasca sarjana S2 dan S3.
> > Antum harus tahu S2 dan S3 itu untuk mereka yang berprofesi sebagai
> dosen.
> > kalau tujuan antum untuk mencari harta lalu kawin, lebih baik antum
> bekerja
> > saja selepas S1.
> >
> > salam,
> > diah
> >
> > --- On Fri, 11/28/08, Dian Ambarawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > From: Dian Ambarawati <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: Re: [assunnah] Re: Cinta Dunia apa tidak?
> > To: [email protected]
> > Date: Friday, November 28, 2008, 8:07 PM
> >
> > Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh
> >
> > Akhi, silahkan dikaji artikel berikut, menurut saya, pas & bagus bangets.
> >
> > Semoga bermanfaat.
> >
> > ============ ========= ========
> >
> > Ada Saatnya…
> >
> > Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
> >
> > Manusia tidak selamanya bisa menghadirkan hati untuk selalu mengingat
> > akhirat. Dalam hidup berumah tangga, ada saat-saat bagi kita untuk
> bercanda
> > dengan anak-anak, bermesraan dengan suami, dan kesenangan-kesenang an
> dunia
> > lainnya. Bagaimana mengelola itu semua sehingga kehidupan kita senantiasa
> > dalam naungan syariat?
> >
> > Mungkin pernah terlintas di benak kita bahwa hari-hari bersama suami dan
> > anak-anak kadang dipenuhi dengan kelalaian. Kita disibukkan untuk
> melayani
> > mereka, mengurusi dan mempersiapkan kebutuhan mereka. Belum lagi
> > menyempatkan diri untuk duduk bermesraan dan bercengkerama dengan suami,
> > ditambah dengan bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak. Bersama
> mereka,
> > kita selalu tertawa dan seakan lupa dengan kehidupan setelah kehidupan
> ini.
> > Bersama mereka, seakan kita merasa kebersamaan ini akan kekal, tidak akan
> > ada perpisahan. Yang ada hanyalah kebahagiaan demi kebahagiaan,
> kesenangan
> > demi kesenangan. Bersama mereka seakan kita hidup hanya untuk dunia…
> Bersama
> > mereka kita terbuai, lupa dan lalai…
> >
> > Namun saat duduk sendiri dalam keheningan malam, bersimpuh di hadapan
> > Ar-Rahman, ketika orang-orang yang dikasihi sedang terlelap dalam
> > mimpi-mimpi indah mereka, timbul ingatan dan kesadaran bahwa semua itu
> > tidaklah kekal, bahwa ada saat perjumpaan dengan Ar-Rahman. Di sana ada
> > kenikmatan yang menanti dan ada azab yang tak terperikan. Hati menjadi
> lunak
> > hingga mata pun mudah meneteskan butiran beningnya, terasa tak ingin
> > berpisah dengan perasaan seperti ini. Ingin selalu rasa ini menyertai,
> ingin
> > selalu tangis ini mengalir membasahi pipi…. Ingin dan ingin selalu ingat
> > dengan akhirat, berpikir tentang akhirat di sepanjang waktu tanpa lupa
> > sedetik pun dan tanpa lalai sekerdip mata pun.
> >
> > Demikian pula ketika kita duduk di majelis dzikir, majelis ilmu yang haq,
> > mendengar ceramah seorang ustadz tentang dunia dengan kefanaan dan
> > kerendahannya, tentang akhirat dengan kemuliaannya, tentang targhib dan
> > tarhib, tentang kenikmatan surga dan azab neraka… Kembali kita ingat
> bahwa
> > tawa canda dan kegembiraan kita dalam rumah tangga, bersama suami dan
> > anak-anak, adalah kefanaan. Ada kehidupan setelah kehidupan dunia yang
> hanya
> > sementara ini.
> >
> > Pikiran seperti ini bisa saja suatu saat timbul di benak kita, sehingga
> > terkadang membuat kita terusik, didera keresahan dan kebimbangan.
> Benarkah
> > sikapku? Salahkah perbuatanku?
> >
> > Saudariku…
> >
> > Perasaan yang mungkin agak mirip dengan yang pernah engkau rasakan juga
> > pernah dialami para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
> yang
> > mulia. Hanzhalah Al-Asadi radhiallahu 'anhu seorang shahabat yang
> terhitung
> > dalam jajaran juru tulis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
> bertutur:
> >
> > Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu.
> > " Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?" tanyanya1.
> > "Hanzhalah ini telah berbuat nifaq," jawabku.
> > "Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?" tanya Abu Bakr.
> > "Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
> beliau
> > mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa
> > melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan
> > majelis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, istri, anak dan harta
> kita
> > (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) menyibukkan kita2, hingga kita
> > banyak lupa/ lalai," kataku.
> > "Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu3," Abu Bakr menanggapi
> > perasaan Hanzhalah.
> > Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
> > sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu 'alaihi wa
> > sallam.
> > "Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah," kataku.
> > "Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?" tanya
> beliau
> > Shallallahu 'alaihi wa sallam.
> > "Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami
> > tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan
> > mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri,
> anak
> > dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami,
> > hingga kami banyak lupa/ lalai4," jawabku.
> >
> > Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
> > sallam bersabda:
> >
> > وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ
> > عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ
> وَفِي
> > طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً سَاعَةً. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)
> >
> > "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap
> berada
> > dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku
> dan
> > selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian
> di
> > atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai
> > Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu." Rasulullah
> > Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no.
> > 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril
> Akhirah
> > wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba'dhil Auqat wal Isytighal bid
> > Dunya)
> >
> > Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
> sallam
> > di atas dengan lafadz:
> >
> > يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً سَاعَةً، وَلَوْ كَانَتْ تَكُوْنُ قُلُوْبُكُمْ
> كَمَا
> > تَكُوْنُ عِنْدَ الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ حَتَّى تُسَلِّمَ
> > عَلَيْكُمْ فِي الطُُّرُقِ
> >
> > "Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya
> > hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat
> akan
> > akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka
> > mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan." (HR. Muslim no. 6901)
> >
> > Hanzhalah radhiallahu 'anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah
> seorang
> > shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya
> > merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan ia merasa
> khawatir
> > bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi
> > Shallallahu 'alaihi wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa
> > Ta'ala dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah
> > (merasa terus dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala), berpikir dan
> > menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan
> majelis
> > Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia disibukkan dengan istri,
> > anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan
> > kemunafikan, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengajari
> Hanzhalah
> > dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah
> kemunafikan.
> > Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan
> > menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan
> ada
> > waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi
> > penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70)
> >
> > Ketika Hanzhalah radhiallahu 'anhu mengeluhkan perasaan dan keadaan
> dirinya
> > yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan
> bila
> > keadaannya sama dengan keadaannya ketika bersama beliau, merasa hatinya
> itu
> > lunak dan takut kepada Allah. Terus keadaannya demikian di mana pun ia
> > berada, niscaya para malaikat dengan terang-terangan akan menyalaminya di
> > majelisnya, di atas tempat tidurnya dan di jalan-jalannya.
> >
> > Namun yang namanya manusia tidaklah bisa demikian. Ada waktunya ia bisa
> > menghadirkan hatinya untuk mengingat akhirat, dan ada saatnya ia lemah
> dari
> > ingatan akan akhirat. Ketika waktunya ingat akan akhirat, ia bisa
> menunaikan
> > hak-hak Rabbnya dan mengatur perkara agamanya. Saat waktunya lemah, ia
> > mengurusi bagian dari kehidupan dunianya ini. Dan tidaklah seseorang
> > dianggap munafik bila demikian keadaannya, karena masing-masingnya
> merupakan
> > rahmah atas para hamba. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war
> > Raqa`iq wal Wara', bab ke 59, Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/560)
> >
> > Al-Imam As-Sindi rahimahullahu menjelaskan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
> wa
> > sallam (لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ) : "Nabi Shallallahu
> > 'alaihi wa sallam memperingatkan mereka bahwa biasanya hati itu tidak
> > selamanya dapat dihadirkan untuk selalu ingat akhirat. Namun hal itu
> > tidaklah memudharatkan bagi keberadaan iman di dalam hati, karena
> kelalaian/
> > saat hati itu lupa tidaklah melazimkan (mengharuskan) hilangnya
> keimanan."
> > (Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/559-560)
> >
> > Demikianlah ajaran yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
> sallam
> > kepada umatnya, kepada para suami dan tentunya juga untuk para istri.
> > Kesibukan dalam rumah tangga, bersenda gurau dengan suami dan
> bermain-main
> > dengan anak-anak hingga kadang membuat lupa dan lalai, bukanlah suatu
> dosa
> > yang dapat menghilangkan keimanan dalam hati.
> > Ada saatnya memang manusia itu lupa dan lalai karena memang demikian
> tabiat
> > mereka yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan. Yang dicela hanyalah bila
> ia
> > terus tenggelam dalam kelalaian, ridha terlena dengan keadaan yang
> demikian,
> > dan memang enggan untuk bangkit memperbaiki diri. Pikirannya hanya dunia
> dan
> > dunia, tanpa mengingat akhirat. Namun bila terkadang lupa kemudian ingat,
> ia
> > bersemangat kembali. Demikianlah sifat manusia, manusia bukanlah malaikat
> > yang mereka memang diciptakan semata untuk taat dan selalu beribadah
> kepada
> > Allah Subhanahu wa Ta'ala, selalu mengerjakan dengan sempurna apa yang
> > diperintahkan, tanpa lalai sedikitpun.
> >
> > وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ
> > يَسْتَحْسِرُوْنَ. يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ
> >
> > "Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa
> angkuh
> > untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula mereka merasa letih. Mereka
> selalu
> > bertasbih kepada Allah siang dan malam tiada hentinya-hentinya."
> > (Al-Anbiya`: 19-20)
> >
> > Para malaikat itu tidak pernah lelah, tidak pernah bosan dan jenuh karena
> > kuatnya raghbah (harapan) mereka (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala),
> > sempurnanya mahabbah (cinta) mereka, dan kuatnya tubuh mereka. Mereka
> > tenggelam dalam ibadah dan bertasbih di seluruh waktu mereka. Sehingga
> tidak
> > ada waktu mereka yang terbuang sia-sia dan tidak ada waktu mereka yang
> luput
> > dari ketaatan. Tujuan mereka selalu lurus, sebagaimana lurusnya amalan
> > mereka. Dan mereka diberi kemampuan untuk melakukan semua itu,
> sebagaimana
> > Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
> >
> > لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
> >
> > "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya
> kepada
> > mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)
> > [Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 862, Taisir
> > Al-Karimir Rahman hal. 520-521]
> >
> > Itulah sifat-sifat malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia. Dan
> > manusia, sekali lagi bukanlah malaikat. Pada diri manusia ada kelalaian
> dan
> > sifat lupa. Kadang semangat dalam menjalankan ketaatan, kadang pula futur
> > (lemah semangat). Kadang hatinya tersibukkan mengingat kematian dan
> kampung
> > akhirat, kadang pula ia sibuk mengurus dunianya. Begitulah sifat manusia,
> > ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Dan orang yang demikian
> keadaannya
> > tidaklah bisa dicap munafik, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi
> wa
> > sallam menolak cap seperti itu ketika diucapkan oleh Hanzhalah
> radhiallahu
> > 'anhu..
> >
> > Dengan penjelasan di atas, kita berharap dapat mengambil pelajaran bahwa
> > kita tidaklah dituntut untuk menjadi seorang yang ghuluw (berlebihan
> > melampaui batas). Sehingga karena tak ingin dilalaikan dengan kesibukan
> > rumah tangga, dengan suami dan anak, kita pun memilih hidup membujang
> agar
> > bisa sepenuhnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Atau jika
> kita
> > sudah berumah tangga, lalu kita terapkan sikap ekstrim; tidak boleh ada
> > canda tawa dengan suami, tak boleh ada gurauan karena dianggap sia-sia,
> > harus diam berzikir. Tidak ada berkasih mesra karena membuang waktu dan
> itu
> > hanyalah perbuatan ahlud dunya, orang-orang yang cinta dunia, sementara
> kita
> > orientasinya akhirat. Tidak perlu mengajak anak-anak bermain. Rumah tidak
> > perlu terlalu diurusi dan ditata, masak sekedarnya tidak usah enak-enak,
> > tidak perlu ada perawatan tubuh dan kecantikan, tidak perlu repot dengan
> > dandanan dan penampilan di depan suami, tidak mengapa pakai baju yang
> sudah
> > sobek, semuanya sekedarnya… Toh ini cuma kehidupan dunia, toh semua ini
> > melalaikan dan buang waktu… Benarkah? Tentunya tidak!
> >
> > Bila ada seorang istri yang melakukannya atau berpikir seperti itu, maka
> > benar-benar hal itu bersumber dari kebodohannya.
> > Tapi kita katakan, urusilah rumah tanggamu dengan baik. Perhatikan suami
> dan
> > anak-anakmu. Usahakan untuk memberikan yang terbaik dan ternyaman untuk
> > mereka, baik dari sisi pelayanan, penyediaan makanan, penataan rumah dan
> > sebagainya sesuai dengan kemampuan yang ada dengan tiada memberatkan.
> Kalau
> > dikatakan hal itu melalaikan dari akhirat maka jawabannya hadits
> Hanzhalah
> > radhiallahu 'anhu di atas.
> >
> > Dan tengok pula rumah tangga nabawiyyah yang kerap kami singgung kisahnya
> > dalam rubrik ini. Bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
> berumah
> > tangga dan bagaimana istri-istri beliau, demikian pula istri-istri para
> > shahabat radhiallahu 'anhum. Merekalah sebaik-baik contoh.
> > Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita
> > semua. Amin!!!
> >
> > Wallahul musta'an, wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.
> >
> > 1 Karena saat itu Hanzhalah melewati Abu Bakr dalam keadaan Hanzhalah
> > menangis. (Sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dalam
> Sunannya
> > no. 2514)
> > 2 Karena kita harus memperbaiki penghidupan/ mata pencaharian kita dan
> > mengurusi mereka. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70)
> > Dalam riwayat lain, Hanzhalah radhiallahu 'anhu berkata mengeluhkan
> keadaan
> > dirinya: "Kemudian aku pulang ke rumah lalu tertawa ceria bersama
> > anak-anakku dan bermesraan dengan istriku." (HR. Muslim no. 6901)
> > 3 Dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu berkata:
> "Aku
> > juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan."
> > 4 Seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu. (Tuhfatul
> > Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqaiq wal Wara', bab ke 59)
> >
> > --- On Sun, 11/16/08, abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> >
> > From: abu_farhan_ws <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: [assunnah] Re: Cinta Dunia apa tidak?
> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> > Date: Sunday, November 16, 2008, 6:50 PM
> >
> > Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
> > Perkenankan saya memberi tambahan bahan perenungan kepada Saudaraku
> > Revaldo.
> > 1/ Kita sama-sama tahu bahwa segala perbuatan dinilai dari niatnya.
> > Kita diajarkan untuk ikhlas berniat mencari karunia dan keridhaan
> > Allah subhanahu wa ta'ala.
> > 2/ Puncak tujuan bagi setiap muslim ialah kehidupan di negeri akhirat..
> > Kehidupan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk kehidupan
> > berikutnya. Namun demikian, kehidupan di dunia itu kenyataan yang kita
> > jalani sehari-hari sehingga Allah subhanahu wa ta'ala tidak
> > menginginkan kita sengsara atau kita diberi hak untuk menikmatinya
> > sepanjang mengikuti ketentuan-Nya.
> >
> > "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
> > (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu
> > dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
> > sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu
> > berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
> > orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS 28. Al Qashash [28]:77)
> >
> > 3/ Kita dituntut berusaha keras untuk mencapai apa yang bermanfaat
> > bagi kita sambil senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhanahu
> > wa ta'ala.
> >
> > "Artinya : Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu
> > dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika
> > kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata : Andaikan aku berbuat
> > demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi
> > katakanlah : Allah telah menakdirkan (ini). Allah melakukan apa yang
> > dikehendakiNya. Karena, kata "andaikan" membukakan pintu perbuatan
> > syaitan". [Hadits Riwayat Muslim dalam shahih-nya]
> >
> > 4/ Tujuan bersekolah semakin tinggi antara lain ialah: (a) makin
> > banyak ilmu yang dapat dimanfaatkan; (b) makin besar peluang kerja dan
> > makin besar peluang penghasilan yang akan diperoleh; dan yang tidak
> > boleh dilupakan karena justru tujuan yang seharusnya ialah (c) makin
> > bijak sehingga makin tunduk, patuh, dan taat kepada Allah subhanahu wa
> > ta'ala.
> > 5/ Apabila tujuan bersekolah semakin tinggi hanya untuk mencari dunia,
> > alangkah sayangnya karena Allah subhanahu wa ta'ala menganggap sebagai
> > kesia-siaan dan tidak memperoleh kenikmatan kekal di negeri akhirat.
> > 6/ Rencana Anda mulia.. Mestinya rencana Anda tidak tergolong cinta
> > dunia. Apabila ingin mandiri, perlu meyakinkan orang tua bahwa
> > kewajiban beliau untuk membiayai sekolah telah selesai setelah Anda
> > lulus S1 dan untuk selanjutnya, Anda berusaha mandiri.
> > 7/ Kematangan jiwa dan pengalaman lebih mantap apabila melanjutkan
> > pendidikan ke S2 setelah bekerja. Namun perlu upaya jauh lebih besar
> > dibandingkan apabila langsung melanjutkan S2 setelah lulus S1.
> > Sebabnya ialah karena Anda juga bekerja atau bahkan mungkin juga telah
> > berkeluarga.
> >
> > Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kemudahan pada langkah Anda.
> > Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> > Abu Farhan
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "Revaldo Zen" <revaldozen@ ...> wrote:
> >>
> >> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
> >>
> >> Kepada rekan-rekan assunnah saya mau bertanya:
> >> 1. Saya merupakan mahasiswa S1, dan Insya Allah sebentar lagi saya
> > lulus. Orang Tua saya menginginkan saya mengambil S2, sementara saya
> > berfikir hal itu merupakan terlalu cinta kepada harta, karena niat
> > orang tua saya menyekolahkan saya supaya saya mendapat gaji yang besar
> > setelah lulus. Saya berniat untuk bekerja terlebih dahulu kemudian
> > menikah dan setelah itu jika ada biaya saya mau untuk S2. apakah hal
> > tersebut termasuk cinta kepada dunia? atau cara berpikir saya yang
> > salah? karena itu juga merupakan permintaan orang tua, ya saya sebagai
> > anak harus menurutinya. apa yang harus saya lakukan. mohon diberikan
> > penjelasan
> >> 2. Saya meminta kepada rekan Assunnah bagaimana sikap kita dalam
> > menyikapi Dunia, apakah kasus saya diatas termasuk berlebih-lebihan
> > dalam dunia. mohon penjelasannya
> >>
> >> Atas perhatiannya terima kasih, Jazakullah Khairan
> >>
> >> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke