ASI Eksklusif memang memiliki pengertian hanya ASI smp 6 bulan, air
putih bahkan madu pun tdk diperkenankan.
Mengenai tahnik, sama dg obat2an. Ia diijinkan krn proses tahnik
memiliki banyak manfaat dibandingkan mudharatnya.
Semoga bermanfaat bg para orgtua.. :)


On 4/3/10, Abu Harits <[email protected]> wrote:
> From: [email protected]
> Date: Sun, 03 Mar 2010 07:26:53 +0800
> afwan,ana mau nambahin pertanyaan. mgkn dah agak melenceng dr topik.tp
> mumpung ada yg menyinggung masalah asi eksklusif.
> dr dulu ana selalu bertanya2 mengenai mslh asi eksklusif 6 bln, adakah hal
> ini disebutkan dlm alqur'an dan al hadits? benarkah bayi tdk boleh mkn apa2
> selain asi selama 6 bln? bgmn halnya dgn sunnah mentahnik bayi yang bru
> lahir dgn kurma?bknkah ini bertentangan dgn prinsip asi eksklusif?
>
> mohon pencerahannya.
> jazakumullaahu khairan katsiir..
> wassalaam
> Abu Ruqayyah                                  
> _________________________________________________________________
>
> Alhamdulillah..,
> Dibawah ini saya copy permasalahan tahnik, semoga bermanfaat.
>
> TAHNIK [1] DAN MEMBERI NAMA
> http://www.almanhaj.or.id/content/248/slash/0
> TAHNIK تحنيك DAN MENDO'AKAN KEBERKAHAN KETIKA ANAK ITU LAHIR
> Oleh
> Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
> http://www.almanhaj.or.id/content/1525/slash/0
>
> Tahnik تحنيك ialah : "Mengunyah sesuatu"[1] kemudian meletakkan/
> memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit
> (mulut)nya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih
> terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan
> ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga
> (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih
> utama (ketika) mentahnik ialah dengan kurma. Dan kalau tidak ada kurma
> dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang
> lainnya (kecuali kurma)".
>
> Demikan keterangan Ibnu Hajar di Fat-hul Baari Kitabul 'Aqiqah. Menurut
> Imam Nawawi bahwa tahnik ini termasuk sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi
> wa sallam dengan kesepakatan para ulama (Lihat syarah Muslim Kiatbul
> Adab).
>
> Saya berkata : Adapun hukumnya sunat tidak wajib dan waktunya ketika
> anak ini lahir atau sehari sesudahnya dengan melihat zhahirnya hadits
> dan hikmah yang terdapat pada tahnik yaitu latihan terhadap makanan dan
> untuk menguatkan tubuhnya. Meskipun demikian kalau dilakukan beberapa
> hari sesudah kelahiran tidak mengapa hanya saja kurang utama. Wallahu
> a'lam.
>
> Sedangkan yang dimaksud dengan mendo'akan keberkahan [2] ketika anak
> itu lahir dan waktunya sesudah tahnik ialah misalnya dengan ucapan
>
> با ر ك ا لله فيه   (Baarakallahu fihi). Artinya : "Berkah Allah kepadanya".
>
> Atau dengan ucapan.
>
> ا للهم با ر ك فيه (Allahumma baarik fihi). Artinya : "Ya Allah berkahilah
> dia" [3]
>
> Atau dengan do'a yang kita atur sendiri dengan bahasa kita yang
> maksudnya memohon kepada Allah agar anak yang baru lahir itu mendapat
> keberkahan-Nya.
>
> Dalil dari dua masalah di atas (tahnik dan mendo'akan keberkahan) banyak
> sekali diantaranya.
>
> Pertama : Hadits Abu Musa
> Kedua : Hadits Anas bin Malik tentang kiash Abu Thalhah dan istrinya Ummu
> Sulaim
> Ketiga : Hadits Asma' binti Abi Bakar Ash-Shiddiq ketika melahirkan anaknya
> Abdullah bin Zubair.
>
> Ketiga hadits diatas telah saya turunkan di fasal ke 20 masalah yang pertama
> "waktu memberi nama kepada anak".
>
> Keempat : Hadits Aisyah.
>
> عن عا ء شة رضى الله عنها قا لت : أتى النبى صلى الله عليه و سلم بصبى يحنكه
> فبا ل عليه فأ تبعه الماء
>
> "Artinya : Dari Aisyah, ia berkata, "Didatangkan kepada Nabi
> Shallallahu 'alaihi wa sallam seorang bayi laki-laki beliau
> mentahniknya, lalu bayi itu mengecinginya, kemudian beliau
> memercikkannya dengan air"
>
> Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (no. 5468) dan Muslim
> (I/163-164). Lafadz hadits ini oleh Bukhari. Dan dalam lafadz Muslim
> sebagai berikut.
>
> عن عا ء شة زوج النبى صلى الله عليه و سلم أن رسو ل الله صلى الله عليه و
> سلم يؤ تى با لصبيا ن فيبرك عليهم ويحنكهم فأ تى بصبى فبال عليه قد عا
> بماء فأ تبعه بو له ولم يغسله
>
> "Artinya : Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
> "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di datangkan
> kepada beliau beberapa bayi kemudian beliau mendo'akan keberkahan atas
> mereka dan mentahnik mereka. Lalu dibawa kepada beliau seorang bayi
> laki-laki, lalu bayi itu kencing dipangkuan beliau, kemudian beliau
> meminta air dan memercikkannya ke kencing bayi tersebut dan beliau
> tidak mencucinya" [4]
>
> [Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti,
> Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta,
> Cetakan I – Th 1423H/2002M]
> _______
> Footnote
> [1]. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mentahnik dengan
> kurma dan jika tidak dilakunyah boleh dilembutkan dengan tangan dengan
> cara melembekkannya (memencet-mencet kurma tersebut).
> [2] Yang dimaksud dengan barakah ialah : "Tetapnya kebaikan dan
> banyaknya kebaikan". An-Nawawi di Syarah Muslim dan Syaikh Utsaimin di
> kitabnya Qaulul Mufid "Ala Kitabit Tauhid bab tabarruk.
> [3] Ibnu Hajar di Fat-hul Baari (no. 3909)
> [4]. Lihat fasal "Hukum Kencing Bayi"


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke