Assalamu'alaikum,

Apa yang dirasakan oleh ummu farhan dan penjelasan dari ummu rufaida-jazakillah 
atas infonya- sama seperti yang saya rasakan, tp saya sampai saat ini belum 
memeriksakan diri ke dokter..karena merasa masih bisa mengatasi semua gejala yg 
ada...

Mungkin ada yg bsa memberikan penjelasan penyebab terjadinya kekentalan darah, 
apakah salah satu penyebabnya dari makanan...mengingat saya ini tidak makan 
daging merah dan sangat hati-hati/jarang untuk membeli makan dipinggir jalan.

Jazakullah khairan kasiran,
Ummu ali

--- On Sun, 30/5/10, ummu rufaidah asyirboniyah <[email protected]> wrote:

From: ummu rufaidah asyirboniyah <[email protected]>

Assalamu'alaykum

sekedar sharing ya bu...

penyakit darah yang kental atau istilah kedokteran hiperkoagulasi cukup banyak 
kasusnya. termasuk saya sendiripun penderitanya..

boleh saya tau dari hasil pemeriksaan laboratorium apa ibu dinyatakan darahnya 
kental oleh dokter? dan persisnya nama sakitnya apa? biasanya yang menunjukkan 
hiperkoagulasi itu ditegakkan jika Fibronogen, D dimer meningkat dari nilai 
normal. APTT memendek, INR, dan anticardiolin (AcA) IgM dan IgG tinggi, 
beta2glikoprotein, anexin, dll, jika yang nilai abnormalnya hanya komponen 
homeostasis darah (fibrinogen, D dimer, APTT, INR) biasanya hanya dikatakan 
hiperkoagulasi saja. tapi kalau tinggi juga nilai AcAnya, maka didiagnosa 
sakitnya Antiphospolipide Syndrome (APS)...nah ibu masuk yang mana?...kalo saya 
kebetulan masuk yang kedua.
tapi kurang lebih penangannya sama lah...

apakah hiperkoagulasi ini berbahaya?? gambarannya gini bu...kita gambarkan pipa 
paralon sebagai pembuluh darah dan air sebagai darah. kondisi darah yang kental 
kita ibaratkan seperti air yang tercampur dengan pasir atau lumpur hingga 
airnya jadi lebih kental. tentu saja air yang bercampur pasir tadi akan 
membentuk endapan2, dan laju airnya juga lebih melambat bukan...nah begitu juga 
dnegan darah..jika darahnya mengental maka akan cenderung terbentuk bekuan2 
darah yang dapat menyumbat aliran darah, begitupun alirannya menjadi tidak 
lancar hingga tidak maksimal mencukupi kebutuhan organ, itu yang ibu katakan 
oksigen ke otak jadi kurang lancar, karena darah adalah pembawa oksigen ke 
jaringan tubuh. sebenarnya akibatnya bukan hanya ke otak bu tapi keseluruh 
organ yang ada...justru yang agak khas dari hiperkoagulasi adalah pembuluh 
darah yang diserang adalah pembuluh darah yang kecil-kecil dulu.

akibatnya jadi bisa macam2 bu...beberapa pasien yang pernah saya rawat: tuli 
dan buta mendadak, telinga berdenging, sulit hamil, kepala pusing...di beberapa 
referensi yang saya baca pada tahap yang paling parah bisa sampai stroke, dan 
serangan jantung.

dan memang penyakit ini seumur hidup. jadi mengkonsumsi obat2an antikoagulan ya 
memang harus...begitu kalo ibu bertanya pada medis..

tentang efek samping...ibu pakai warfarin ya? simarc kan?dimunmnya malam 
kan?....sejauh yang sy tau pemakaian simarc aman kok, tapi ibu harus rajin 
memeriksakan INRnya, supaya terpantau. kalo masih kental dosisnya ditingkatkan, 
kalo terlalu encer ya diturunkan atau distop.

ascardia atau aspilet atau asetosal atau aspirin kadang digunakan juga. 
kebetulan saya disarankan memakai ini. tapi sejauh pengetahuan saya ascardia 
ini kadang yang menimbulkan keluhan. karena obatnya bersifat iritatif terhadap 
lambung jadi banyak yang mengeluh perut jadi perih, yang paling parah malah 
jadi perdarahan saluran cerna...maka itu mengkonsumsi obat ini harus benar 
caranya...jangan pas perut sedang kosong.

Bu...setiap tindakan medis sekecil apapun itu pasti ada resikonya, orang yang 
cuma minum paracetamol ajapun yg alergi juga ada. tapi kembali lagi seberapa 
besar resikonya dan manfaatnya untuk kita. mengapa kita mesti terpaku pada 1 
kejadian reaksi obat yang tidak diharapkan terjadi dibanding melihat sekian 
juta yang berhasil dengan pengobatan tersebut. obat jika dipakai sesuai 
indikasi efek samping yang tidak diharapakn biasanya tidak terjadi saya 
ceritakan pengalaman saya ya bu, karena penyakit ini saya ketika hamil harus 
minum ascardia dan disuntik obat pengencer darah, heparin 2 x setiap 
harinya...jika digunakan pada ibu hamil yang tidak sakit seperti saya 
dikhawatirkan keguguran, tapi karena digunakan pada saya yang sakit dan butuh 
obat tersebut justru kl tidka memakai obat tersebut dikhawatirkan malah 
keguguran, janin tidak berkembang atau meninggal di dalam kandungan. kedua obat 
tersebutpun saya baca di MIMS masuk kategori C dimana berpengaruh pada
 janin...tapi memang karena dosis terapi alhamdulillah anak saya tidak apa2, 
normal, bahkan lincah sekali....beberapa kenalan saya yang mengkonsumsi 
antikoagulan saat hamil rata-rata anaknya memang lincah, salah satu dokter 
hematolgi kenalan saya malah bilang efek sampingnya nanti anaknya pinter, walau 
dokter anak saya sih belum setuju...perlu diklarifikasi dengan penelitian 
sepertinya :). tapi anaknya teman saya memang begitu, saya belum bisa  melihat 
pada anak saya, umurnya baru 2 tahun.belum sekolah.

saya kembalikan lagi pada ibu, keputusan untuk menjalani pengobatan atau tidak 
ada pada ibu. oh iya apakah ibu berencana untuk hamil? biasanya kalo 
hiperkoagulasi saat hamil disarankan dokter untuk menyuntik obat pengencer 
darah juga. permasalahannya dokter sering merekomendasikan penggunaan Lovenox 
yg berbahan babi...mungkin kalo memang terjadi pada ibu, ibu bisa minta dokter 
untuk memakai pilihan obat lain semisal heparin atau arixtra. saya kok percaya 
ya kunci penyembuhan penyakit menurut saya adalah soal sugesti, kalo sugestinya 
baik insyaalloh efeknya baik...mungkin saja orang bisa sembuh walau obat yang 
diberikan padanya tidak mengandung apa-apa...sembuh lebih karena dia percaya 
obat yang dia konsumsi menyembuhkan

di luar pertanyaan bu Farida saya kok agak heran ya beberapa orang di milist 
ini begitu apriori terhadap pengobatan medis dengan beragumen tentang efek 
samping dan faktor resiko yang memang ada namun belum tentu terjadi tanpa 
mempertimbangkan manfaat yang ada. padahal kejadian efek samping yang 
ditakutkan terkadang hanya dugaan, atau kalopun memang terjadi berbanding 
dengan ratusan ribu atau jutaan kasus yang berhasil sembuh...belum lg 
kekhawatiran pada kandungan zat kimia. padahal bisa jadi kandungan zat kimia 
pada obat yang kita khawatirkan, vaksin imunisasi misalnya, kadarnya jauh lebih 
kecil dari zat-zat kimia yang memapari kita setiap harinya, bahkan kita tidak 
bisa kontrol jumlahnya....di jalan raya banyak polusi asap kendaraan, naik 
angkot atau di tempat umum terpapar dengan asap rokok yang semuanya mengandung 
zat kimia berbahaya, tahu pake formalin, ikan asin pake formalin, mainan 
anaknya ada bahan melaminnya, jajanan anaknya ada pengawetnya, makan ketoprak 
di pinggir jalan ketupatnya mengandung tawas, beli sayuran banyak pestisidanya, 
kalo luka pake obat merah ada merkurinya. sementara tidak semua dari kita mampu 
beli sayuran organik, mainan yang aman yg biasanya harganya lebih mahal, tidak 
semua dari kita juga mampu membedakan makanan yang berformalin atau tidak, dan 
apakah mungkin kita atau anak kita selalu dirumah terus hingga tidak pernah 
terpapar polusi, asap rokok dan lain-lain...

memilih pengobatan alternatif/herbal/tradisionalpun menurut saya bukan tanpa 
resiko. seandainya saya seorang herbalis saya tidak akan lantang berkata 100% 
aman, tanpa efek samping. sama halnya dengan obat modern obat tradisional juga 
bisa menjadi racun saat penggunaannya tidak benar. dan tidak benar bahwa 
sesuatu yang berasal dari alam, pasti 100% aman tanpa efek samping. beberapa 
tanaman, jamur juga ada yang beracun bukan??jangankan obat--yang bagaimanapun 
adalah sesuatu benda dari luar yang kita masukkan kedalam tubuh. kemungkinana 
ada penolakan dari tubuh pasti ada--tubuh menolak tubuh sendiripun bisa, 
misalnya pada kasus2 autoimun dimana tubuh membuat antibodi yang menyerang 
tubuh sendiri (penyakit Lupus misalnya) disamping itu saat menggunakan obat 
tradisional kita tidak bisa mengetahui mekanisme kerjanya seperti apa, susunan 
senyawanya apa, zat aktifnya apa?masih jarang obat2an tradisional yang sudah 
melalui uji khasiat, uji toksisitas, uji klinik,
 uji pre klinis, karena memang penelitian obat seperti itu yg pasti dilakukan 
pada obat modern memakan biaya yg sangat mahal dan waktu puluhan taun.

Apakah testimoni keberhasilan penggunaan obat herbal cukup untuk menyatakan 
obat tersebut berkhasiat dan aman. menurut saya bukti empirik aja belum bisa 
menjadikannya sebagai bukti ilmiah.perlu didukung dengan penelitian.

dan Nyatanya banyak tuh pasien saya terutama yang menderita kanker, sbelumnya 
sudah datang ke dokter namun memilih pengobatan alternatif, ada yg kemo herbal 
dll, terakhir balik lagi ke medis dengan stadium yang lebih parah lagi, dengna 
kondisi yang terlalu terlambat untuk ditangani. sebagian pasien kanker yang 
datang dengan stadium lanjut, kalo kami tanya umumnya mengaku awalnya memilih 
pengobatan alternatif dulu. ada lagi teman saya yang mengaku jadi sakit 
pinggang (mungkin batu ginjal) karena minum obat penyubur tradisional.

saya menyampaikan hal ini bukan berarti underestimate pada pengobatan 
herbal/tradisional/alternatif. tapi hanya ingin mendorong kita semua untuk 
bersikap wajar tidak mendewa-dewakan pengobatan medis pun juga tidka 
mendewadewakan pengobatan herbal/tradisional/alternatif. balik lagi ke prinsip 
yang menyembuhkan bukan keduanya yang menyembuhkan hanyalah Alloh. biarkanlah 
dokter/herbalis bekerja dan Alloh yang menyembuhkan

perlu diakui juga bahwa pengobatan herbal/tradisional/alternatif walau belum 
ada penelitian yang memadai secara klinis dan statistik, nyatanya secara 
empiris memang ada yang berhasil. beberapa obat modern juga ada yang asalnya 
dari obat herbal (fitofarmaka) contohnya obat antikanker vinkristin dan 
vinblalstin berasal dari tapak dara. Digitalis, obat jantung, berasal dari 
tanaman Digitalis purpurea.

Artemisin, obat antimalaria, berasal dari tanaman Atemisia annua.

Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering disalahgunakan itu, berasal 
dari tanaman opium (Papaver somniverum). Dari morfin, para  ilmuwan lalu 
mengembangkan kodein yang biasa dipakai sebagai obat batuk. curcuma (temu 
lawak) saat ini juga sudah dipake dalam obat2an modern.

Semua contoh ini membuktikan, tanaman obat punya potensi menghasilkan

senyawa tunggal untuk obat modern.

maaf ya jadi melenceng, saya hanya tidak ingin pemikiran kita jadi terdistorsi, 
medis begini tradisional begini...kita harus kritis juga...bisa dibaca artikel 
bagus http://www.te.ugm.ac.id/forum/viewtopic.php?f=13&t=2856 saya tidak anti 
pengobatan tradisional, apalagi tibbun nabawi. saat saya belum dikasih 
kesempatan untuk hamilpun, salah satu ikhtiar saya munum habbatussauda, dipijat 
tradisonal...dulu waktu anak saya masih bilangan beberapa bulan kalo rewel 
sedikit, masih saya bawa ke tukang pijat bayi...maksud tulisan ini lebih ingin 
mengajak bapak-ibu berpikir lebih berimbang saja untuk menyikapi dua dimensi 
pengobatan ini.

sekian semoga bermanfaat

--- On Thu, 27/5/10, syarifah farida <[email protected]> wrote:

From: syarifah farida <[email protected]>
Subject: [assunnah] OOT : Kelainan darah
To: "Assunnah" <[email protected]>
Date: Thursday, 27 May, 2010, 21:26

Assalamu'alaikum,

Kepada ikhwan dan  akhwat yg mungkin berpropesi sebagai dokter ataupun punya 
pengalaman serupa seperti  yg saya alami,saya ingin sharing dan sekaligus 
bertanya,dari hasil pemeriksaan darah di lab, dokter internis bag hematologi 
menyimpulkan bahwa saya memiliki darah yg cenderung kental shg saya sering 
mengeluhkan sakit kepala,sering spt mau terjatuh(oyong),kaki dan tangan 
terkadang sakit.

Darah yg kental ini menghambat oksigen yg dibawa ke otak di sebabkan 
kekentalannya shg saya di haruskan minum obat pengencer darah sejenis 
warfarin,saya sdh browsing mengenai penyakit ini dan  dapat saya simpulkan 
bahwa penyakit ini mau tidak mau hrs minum obat pengecer darah  sepanjang 
hidupnya(tergantung seberapa kental darahnya) oh ya....INR saya 2 bulan yg lalu 
1,87 nilai normal 2 - 3,

Apakah ada obat alami yg fungsinya utk mengencerkan darah  yg dapat 
menggantikan warfarin yg setiap malam hrs saya minum? Saya khawatir dgn efek 
samping dari obat ini apabila di konsumsi jangka panjang.

Apakah penyakit saya termasuk kelainan darah yg dapat menyebabkan kanker darah? 
Mohon pencerahannya

Farida ummu Farhan

Kirim email ke