Memang pak LJ...
secara default se KIS mungkin, meski kadang tdk menjamin cost belum tentu 
minimal.
Tapi bila di perjalanan ternyata perlu tindakan "un-konvensional"...silahkan 
juga sih...(sesuai selera sendiri seperti kata pak YUS) 
Dan "kalo"  hasil sonic sesuai kuping kita TAPI tidak sesuai kuping 
org....(seperti yg dibilang pak Sutrisno) then..So What ?....

Kok jalannya "ruwet" yah ?? !! he he he
Wassalam
PJ



http://www.freewebs.com/komkris2000
  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Cc: [email protected] 
  Sent: Friday, January 30, 2009 10:34 AM
  Subject: [avifans] Re: [ELPOP-Audio] Teknik Rekaman: HDCD vs XRCD vs yang lain


   

  Saya pribadi penganut sistem simpel, bagus, murah,...hehehe. Tetapi bukan 
berarti saya penganjur "haram muti-box". Ok-oke saja, termasuk kalau mau 
menambah unit tone control ke dalam sistem, bahkan sub-woofer sekalipun.

  Proses EQ (unit TC adalah bagian dari EQ) menurut saya, mana bisa sih 
dihindari? Sedari proses rekaman, mastering, semua lini sudah melewati proses 
EQ, bahkan termasuk sejak dari penempatan recording microphone. Iya, nggak? 
Sewaktu play-back, reproduction, juga ada EQ. Lha, kalau nggak, mana ada 
istilah RIAA, NB, LP, dst... dst...?

  Pada loudspeaker (masih di untai perangakt reproduksi), lha bukannya unit 
croos-over juga untuk melakukan EQ? Sekarang, pada domain akustik; bukankah 
upaya loudspeaker placement, acoustic treatment, dst... dst.... itu juga upaya 
EQ?

  Karena itu, saya sama sekali tak pernah mengklaim sebagai penganut "puritas". 
Nah, kacau kan saya? Tetapi silakan vetolah saya, hehehe...

  Tetapi Pak PJ, kalau saya (yang penganut simpel ini, karena simpel memilki 
peluang low cost dan minim kesalahan), daripada menambah perangkat untuk menata 
tonal balance, lebih baik saya perbaiki dulu faktor-faktor di atas.

  Kalau nyatanya masih kurang dan fusing karena faktor "rekaman CD yang ngaco 
ini", bagaimana dong? Apa saya musti mengganti loudspeaker atau mengubah 
posisinya atau mengubah ATT pada mid/twt setiap saya mengganti CD? Mungkin cara 
lazim di dunia car audio bisa ditiru. Itu ada dua: EQ dari HU atau EQ 
pasive-nya. Saya sengaja memakai bahasa yang lazim di para car audio installer. 
Passive, maksudnya, cross-over. Sedangkan pada HU, yang seri lumayan biasanya 
sudah ada unit EQ dan diproses digital sehingga minim noise.

  Sudah setahun ini saya sempat kepikiran juga ingin beli HU car audio ini 
tetapi dipakai di rumah sebagai pembanding CDP desktop dalam riset saya. 
Canggih-canggih HU sekarang, termasuk time allignment, dst... dst... Time 
allignment pun ada yang untuk L/R dan R/F. Ada juga yang pakai tube output, USB 
port, iPod, dst... dst... Harganya juga nggak lebih mahal dibanding level 
serupa untuk CDP desktop.

  Ya, udahlah, makin ngaco saya nih. Teman, jangan ikuti orang ngaco...

  Salam dari Cibubur,
  Alex
  LJ Audio Workshop - www.langsungjadi.com

    ----- Original Message ----- 
    From: Paul Yahya 
    To: [email protected] 
    Cc: [email protected] 
    Sent: Friday, January 30, 2009 9:18 AM
    Subject: Re: [ELPOP-Audio] Teknik Rekaman: HDCD vs XRCD vs yang lain


     
    Agar bisa lebih "universal" , akan  jadi "lebih baik" kah  membuat "tone 
control" di perangkat kita ??
    Memang sih arahan ini kadang dianggap sebagai aliran "sesat" , atau 
"kompromistis"
    Menurut saya pribadi yg penting agar kuping hepi,  tujuan menghalalkan 
cara.....

    {Saya dulu di milis tetangga,  pernah "ngeyel" tentang pembuatan 
tone-tontrol" .....agaknya topic yg kurang menarik saat itu }

    PJ


    http://www.freewebs.com/komkris2000
      ----- Original Message ----- 
      From: [email protected] 
      To: [email protected] 
      Sent: Friday, January 30, 2009 9:01 AM
      Subject: Re: [ELPOP-Audio] Teknik Rekaman: HDCD vs XRCD vs yang lain


      Bandingkan juga Norah Jones album pertama (Come Away With Me...) produksi 
      Indonesia (EMI Indonesia) dengan yang produksi luar.

      PS: Rekaman CD makin lama makin ngaco. Recording level terlalu tinggi, 
      sering dipaksakan. Belum lagi hars, sibilance, dll., termasuk memaksa 
      menggunakan vibration efect (echo) yang berlebihan untuk memoles vokal 
      maupun space. Jhena Lodwick album 1, ampun sibilance-nya. Juga Sammy. 
Norah 
      Jones #1 malah sampai kliping. Begitu pula Lala Suwages (Devoted To You), 
      dan banyak yang lain.

      Saya sampai jengkel karena settingan (khususnya proyek DAC) yang 
      di-standard-kan, harus diubah menjadi ikut-ikutan tak standard. Nggak 
heran 
      kalau Yus atau rekan lainnya yang mencoba proyek DAC sampai teriak 
      "kliping". Lha, coba kalau pakai CD dengan rekaman yang lebih baik, kan 
      mulus-mulus saja tuh.

      Kliping, dugaan saya, terjadi pada CD-nya sendiri (kalau kita memeriksa 
wave 
      pattern) dan/atau pada CDP. Audio Cambridge (tipe lupa, milik Pak 
Budiarto), 
      jelas kliping ketika memainkan salah satu trek dari choir Cantata Domino.

      Salam jengkel,
      Alex
      LJ Audio Workshop - www.langsungjadi.com

      ----- Original Message ----- 
      From: "Dino Ary" <[email protected]>
      To: <[email protected]>
      Sent: Friday, January 30, 2009 7:15 AM
      Subject: [ELPOP-Audio] Teknik Rekaman: HDCD vs XRCD vs yang lain

      > Pagi Pak JA,
      >
      > Hehehe.. setuju pak.. rekaman Sangaji masih jauh lebih baik dari pada 
      > Platinum pak.. saya ada 4 atau 5 album, sehingga bisa konfirm ini...
      >
      > Terus terang, saya memutuskan untuk membeli CD Phil Perry ini setelah 2 
      > atau 3 kali bolak-balik ke toko CD satu dan yang lain, untuk memutuskan 
      > apakah beli atau tidak.. mungkin lebih cenderung karena saya suka 
dengan 
      > vokal Phil Perry plus lagunya. Dan memang ada beberapa lagu lain yang 
      > menurut selera saya bagus dan enak untuk didengar,
      >
      > Soal teknik rekaman, betul juga ya kalau emang karakter master 
      > rekamannya X mau dicopy pake teknik apa aja ya kalo X nya udah bagus ya 
      > bagus toh... hehehe
      >
      > Jadi, mau pake HDCD, DSD, XRCD tetap hasil akhir yang menentukan 
mestinya 
      > kualitas rekaman masternya kan ya...
      >
      > Lha ini juga ada satu pengalaman, saya bandingkan satu CD (album Il 
Divo) 
      > yang saya beli di Singapura dan dibanding dengan CD album yang sama 
milik 
      > teman yang direproduksi di Indonesia. Kami berdua sepakat kalau CD yang 
      > produksi Singapura lebih " terbuka" suaranya...
      > Entah kenapa, tapi juga dikonfirm oleh teman saya lain yang 
membandingkan 
      > album Amore Andrea Bocelli yang dibelinya di Indonesia, untuk mengganti 
      > album yang sama yang dibelinya di negara manca tapi sempet menghilang 
      > (keselip) dan ketemu lagi... beda katanya..
      >
      > Apa karena teknik dan mesin pressing/copy ulang/reproduksinya yang beda 
ya 
      > pak? Atau bahan CDnya yang beda? hehehe ... masih penasaran...
      >
      > Oh ya, pernah denger rekaman yang LPCD itu pak? Penasaran juga...
      >
      >
      > Salam hormat,
      > Dino Ary 





--------------------------------------------------------------------------


      No virus found in this incoming message.
      Checked by AVG. 
      Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.14/1920 - Release Date: 
1/27/2009 6:15 PM


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.14/1920 - Release Date: 1/27/2009 
6:15 PM

Kirim email ke