Saya sich setuju saja. Tapi tidak sepertinya bagi pihak-2 yang mengaku
"ekonomi pas-2an". Teori seperti om Ajat tulis adalah bagus, tapi pasti
prakteknya akan sulit (karena ada pembagian ini dan itu). Seperti pada kasus
minyak tanah (seperti yang dianalogikan di bawah), Pertamina harus berani
ekstrem. Tidak menjual sama sekali premium atau dijual terbatas banget (dulu
sering lihat di pompa SPBU Pertamina ada tulisan "Solar habis" - tanpa ada
penjelasan jelas, kenapa?) Kalau premium tidak ada, maka tentunya tidak
perlu ada yang di subsidi kan ? Apalagi kalo terjadinya sebelum kasus FP
mbledug, hasilnya mungkin akan sama dengan peralihan minyak tanah ke elpiji.
Sepeda motor saya (yang menjadi kendaraan dinas harian, sedangkan mbal buat
nyari side job dan pacaran hehehe) hanya dua kali isi premium. Selebihnya
gonta ganti dari shell super, petronas 92 dan pertamax. Udah ga makan
subsidi dari lebih tiga tahun lalu.
Cuma mudah2an kasus subsidi adalah kebahagiaan pihak "ekonomi pas2an" saja,
bukan juga buat para oknum petinggi yang bisa mengambil "manfaat"
mengalirnya subsidi. Biasalah, yang gratisan itu lebih enak daripada bayar
sendiri... hehehe....

regards,
Yose.


2010/7/24 ajat sudrajat <[email protected]>

>
>  Daripada ribut soal fuel pump, mendingan membuat wacana baru dah,
> khususnya soal subsidi premium, kalau ngebahas soal ini kayanya ngga akan
> dituntut balik deh he he
>
> Ketika kasus fuel pump mati mencuat, banyak pihak yg menuding atau menduga
> fuel pump pada mati karena kualitas Premium (RON 88) yg dijual Pertamina
> bermasalah. Kenapa hal ini terjadi..? jelas karena yg menjual bbm RON 88
> hanyalah pertamina, kenapa cuman Pertamina..? Karena untuk premium masih di
> subsidi oleh pemerintah yg dananya diambil dari APBN. Jumlah subsidi ini
> jumlahnya begitu luar biasa besar. Senadainya saja premium tidak hanya
> dijual oleh Pertamina, mungkin tudingan itu tidak akan mengarah ke Pertamina
> saja.
>
> Hikmah dari kejadian ini koq Saya berfikir kenapa pemerintah tidak mencabut
> saja subsidi bbm khususnya premium, jadi perusahaan swasta bisa menjual bbm
> jenis ini, dengan begitu Pertamina bukan lagi satu2nya perusahaan yg menjual
> premium maka kualitas bbm yg dijual dipasaran akan lebih kompetitif dengan
> adanya pilihan buat konsumen untuk tidak membeli premium hanya di SPBU
> Pertamina. Daripada skr wacana yg muncul hanyalah pembatasan th produksi
> kendaraan yg boleh memberi premium atau menurunkan kadar oktan menjadi 84
> atau lebih rendah lagi, Sy fikir kebijakan itu hanya isapan jempol belaka
> dan akan gagal. Lebih baik cabut saja subsidi premium khusus buat kendaraan
> pribadi lebih khusus lagi mobil so mungkin yg disubsidi hanyalah premium
> untuk kendaraan umum dan roda 2 (Motor)
>
> Adapun Argumen Sy soal pencabutan terbatas subsidi premium ini adalah :
>
> 1. Premium bersubsidi tetap hanya dijual SPBU Pertamina tapi hanya boleh
> dibeli oleh kendaraan umum dan pengguna sepeda motor, hal ini bertujuan
> untuk melindungi masyarakat menengah bawah.
>
> 2. Sementara itu SPBU swasta diperkenankan menjual premium non subsidi. Hal
> ini bertujuan agar hak2 konsumen terlindungi. Masih ingatkah dulu sebelum
> ada pom bensin swasta betapa SPBU2 Pertamina tidak memberikan pelayanan
> terbaik terhadap konsumen, kasus pom bensin curang lah, pelayanan tidak
> ramah lah dll. Tapi ketika pombensin swasta muncul, ,mau ngga mau Pertamina
> harus bebenah agar tidak ditinggalkan konsumennya, maka muncululah SPBU2
> Pasti Pas yg pelayanannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain itu karena
> harga bbm non subsidi mengacu pada harga minyak internasional, maka harga
> jual pun akan sangat kompetitif, skr aja harga antara SPBU yg satu dengan yg
> lainnya pasti berbeda, dengan begitu konsumen bisa memilih mana yg terbaik.
>
> 3. Konversi minyak tanah ke Gas yg asalnya dihujat akan memberatkan
> masyarakat, terbukti berhasil dan berjalan, terlepas ada kekurangan disana
> sini seperti kasus tabung meladak, regulator palsu, slang palsu dll toh
> kenyataannya program ini bisa diterapkan, tinggal kontrol pelaksanaannya aja
> yg harus diperbaiki. Nah melihat dari kasus ini Sy yakin pencabutan subsidi
> premium juga bisa berjalan dgn baik.
>
> 4. Kalau ada anggapan bahwa dampak dari pencabutan subsidi ini akan
> memberatkan masyarakat bawah, Sy fikir ngga juga. Subsidi untuk bbm bisa
> dialihkan ke sektor lain misal pendidikan atau kesehatan. Jadi anak2 bisa
> sekolah gratis sampai tingkat SMA dan berobat gratis ditingkat Puskesmas
> misal so biaya sekolah akan menjadi ringan dan hanya beralih sedikit untuk
> biaya tambahan premium yg naik.
>
> Lebih dari 40th Kita dimanjakan oleh Pemerintah dengan berbagai Subsidi,
> liat jaman Orde Baru semua serba murah karena hampir semua sektor disubsidi
> Pemerintah dan ketika era Reformasi subsidi2 tersebut dicabut karena membuat
> utang negara menjulang tinggi dampaknya bisa Kita rasakan sekarang. Sudah
> saatnya Kita jadi Masyarakat yg maju dan Mandiri. Sy yakin selama Pemerintah
> punya niat, kemauan dan para penguasa tidak tamak tapi mau mengurusi
> rakyatnya dengan baik, maka masyarakat bisa menikmati hasilnya.
>
> Hahhh serius amat ya he he ngga apa2lah toh berdiskusi berbagi wacana ngga
> ada ruginya kan..? Siapa tau walau hanya setitik yg bisa Kita berikan
> ternyata bisa membantu Negri Kita tercinta ini lebih maju dan berjaya
> dikemudian hari.
>
>
> Salam
> Ajat
> BCI 247
>
>
>  
>

Kirim email ke