Widi yang baik dan kawan-kawan semua,
Kalau aku sih maunya dirumah tersedia keduanya.Kelapa muda dan wine. Winenya
made in  Buleleng/Bali, local  pemberian teman ketika berkunjung ke
Pemaron,ngak bayar.
Karena itu anak-anak muda  belajar dan kerja keraslah, baca text book,
majalah ,  serap pengusaan ilmu dan teknologi dari luar/ negara maju, dimana
ada kesempatan.  Urusan Iptek patut belajar dari luar. Tapi di negara ini,
perumusan kebijakan  diatur dan didikte orang luar, IMF/WB/ADB/Paris Club.
UU Ketengalistrikan contohnya, dari desakan tertera pada loan covenant
pinyaman pemerintah . Juga pengaturan investasi modal asing
,perbank-an..Perlu political will untuk  perumusan kebijakan bagi
kepentingan warga negara, bangsa dan negara sendiri..Tak patut dari luar
datangnya.

Kebijakan penggunaan expatriate seharusnya diatur, misalnya setelah jangka
waktu tertentu diganti warga bangsa ini.Di tambang juga begitu. Tembagapura
setelah kotrak pertama selesai, sepatutnya disiapkan diganti oleh bangsa
sendiri. Tak perlu diperpanjang .Usaha tembaga itu kan tambang duit, very,
very profitable.Mengapa kontraknya diperpanjang? Kesempatan kerja orang
lokal jadi  hilang. Karena kalau diurus sendiri akan jadi rugi, katanya?
Alasan bisa dibuat, tapi tak dipertanggungjawabkan. Tapi mengapa tak
dipersiapkan jauh sebelumnya. Belajar, atur  magang dari expatriate dulu.
Memang kita ini cuma pintar ngurus untuk kantong sendiri-sendiri  dan tidak
untuk kepentingan publik, well-being or satisfaction for the public common
interist. TKI saja yang di Phillipina dijadikan pahlawan, dihargai, dijemput
Ibu Presidennya di Manila Airprt,  di Indonesia tak dilindungi bahkan
dipungli.

Di negeri ini tak ada GOOD GOVERNACE, tak ada keterbukaan. CHECKS  and
BALANCES  tak jalan. Maka itu belajar dulu jadi RATIONAL, KRITIS dan
REFLEKTIF. Baru urusan negara bisa demokratis.
SALAM.
Nengah Sudja, bukan Sichan.
----- Original Message -----
From: "nimade widiasari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, January 03, 2004 11:46 PM
Subject: [bali] Re: Fw: [itb77] FW: [ytisman3] TEXMACO - THE UNTOLD STORY


> Dear Friends,
> saya sangat trenyuh membaca semuanya, namun memang
> terjadi dibanyak tempat di Indonesia ini.
> Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat bahwa
> jika tidak ada ekspatriat, kita saling sikut....
> Sangat emosional dan ada trauma dalam pernyataan
> tersebut.
> Saya melihat masih banyak orang pribumi yang mempunyai
> kemampuan managerial cukup baik. Mungkin dalam
> beberapa kasus, cara meminggirkan orang2/memilih
> orang2 kurang profesional atau terlihat kurang
> berbasa-basi, namun kita memang harus belajar
> menghargai bangsa sendiri. Harus ada semangat untuk
> menunjukkan harga diri bangsa. Jujur saja, tidak ada
> yang lebih dari mereka kecuali kemampuan mereka untuk
> bekerja keras. Bahkan kekurangan mereka yang terbesar
> adalah hidup "boros". Saya akan lebih memilih
> menyediakan kelapa muda di rumah, dibandingkan wine
> misalnya.
> Hayo....mari kita buktikan "tampang kampung kita"
> berisi otak yang encer, kerja yang profesional,
> kejujuran dan kesehatan yang prima.
> Tidak akan ada saling sikut, kalau tidak
> ditanggapi.....pokoknya tetap bersikap manis, santun
> dan kerja keras....doakan dia (acep sabilang peteng),
> jangan pernah menyerah untuk menundukkan musuh dengan
> cara yang santun dan penuh kasih.
>
> cheers : Widi
>
>
> --- Wisnaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > FYI
> > ----- Original Message -----
> > From: [EMAIL PROTECTED]
> > To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Friday, January 02, 2004 1:48 PM
> > Subject: Re: [itb77] FW: [ytisman3] TEXMACO - THE
> > UNTOLD STORY
> >
> >
> > Cukup menarik untuk dibaca contoh kasus Texmaco ini.
> > Saya juga pernah mengalami dan merasakan pengalaman
> > pahit bekerja di perusahaan asing yang mendunia.
> > Hanya untuk gaji, fasilitas dll (+/- item-itemnya
> > sama dengan contoh kasus di Texmaco), pabrik yang
> > menjadi tanggung jawab saya harus mengeluarkan
> > ongkos +/- 1,4 milyar rupiah per tahun dengan kurs
> > pada saat itu masih sekitar 6000-an (hanya untuk
> > satu orang ekpatriat). Ada beberapa ekpatriat di
> > bagian / divisi lain. Kalau di Indonesia
> > diberlakukan layaknya super boss, tetapi kalau
> > dikampungnya ,pergi pulang kantor nyopirpun sendiri
> > karena kalau sedang ditempatkan di kantor yang ada
> > di kampungnya sendiri ybs hanya karyawan biasa.
> > Tetapi kalau ditempatkan di Indonesia semuanya
> > dilayani dengan berbagai fasilitas yang luar biasa.
> > Kasarnya, mungkin hanya ke kamar kecil saja tidak
> > diladeni.
> >
> > Namun disisi lain dengan contoh-contoh serupa dengan
> > ekpatriat di Texmaco (tentunya di perusahaan lainpun
> > banyak), kita sebagai bangsa mestinya introspeksi
> > juga. Karena sadar atau tidak, kita sendiri yang
> > membuka peluang terciptanya kondisi seperti itu.
> > Coba kita cermati, di suatu perusahaan yang
> > kebanyakan orang lokal, kondisinya belum tentu lebih
> > baik. Sudah menjadi pemandangan umum bahwa saling
> > sikut, saling menjatuhkan merupakan budaya kerja
> > dari sebagian diantara kita. Agar kita sebagai
> > bangsa tidak selalu kecewa karena untuk beban
> > tanggung jawab yang sama  dibayar hanya < 20% dari
> > karyawan ekpatriat, mari kita bersatu dan berasa
> > yang sama dengan aura yang profesional. Bukan hanya
> > merintis persatuan berdasarkan kebutuhan suku, ras
> > apalagi agama saja. Hanya dengan demikian kita
> > sebagai bangsa akan diberlakukan manusiawi oleh
> > bangsa lain.
> >
> > Kita tidak usah membenci ekpatriatnya, tetapi mari
> > kita melakukan introspeksi kenapa kondisi tsb bisa
> > terjadi.
> >
> > Terima kasih.
> >
> > I Ketut Widiarsa
> >
> > >
> > >
> > >Teman2 ITB 77, mungkin ini dapat dijadikan bahan
> > renungan kita
> > >
> > >TEXMACO - THE UNTOLD STORY Bacalah dengan sabar,
> > >
> > >
> > >
> > >kalo Anda pingin jadi expatriat India, jangan lupa
> > beri nama keluarga Anda
> > >
> > >dengan SINIVASAN,
> > >
> > >
> > >
> > >selamat menikmati-
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >Kepada Yth:
> > >
> > >Ketua BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)
> > >
> > >di Jakarta
> > >
> > >Tembusan:
> > >
> > >1. Ketua DPR  RI
> > >
> > >2. Ketua MPR RI
> > >
> > >3. Media massa
> > >
> > >
> > >
> > >KASUS DI BALIK HUTANG TEXMACO GROUP
> > >
> > >Kepada Yth. Ibu/Bapak sekalian, Kami segenap
> > karyawan dan ex karyawan
> > >Texmaco Group memohon bantuan kepada Bapak/Ibu
> > untuk dapat ikut
> > >
> > >mengungkap Kasus Di Balik Hutang Texmaco Group.
> > >
> > >
> > >
> > >Kami sangat sedih dan tidak rela kalau pemerintah
> > dengan gampang dan
> > >
> > >tanpa pertimbangan matang mengucurkan kredit baru
> > kep erusahaan di
> > >
> > >bawah Texmaco group karena kami merasa yakin bahwa
> > itikad baik dari
> > >
> > >pihak manajemen/pemilik perusahaan sama sekali
> > tidak ada.
> > >
> > >
> > >
> > >DIBALIK RENCANA DEMO KARYAWAN TEXMACO.
> > >
> > >Karyawan Texmaco berdemo diatur dengan rapi oleh
> > pihak Manajemen
> > >
> > >(Expatriat).
> > >
> > >Dengan adanya rencana demonstrasi karyawan Texmaco
> > Group, kami
> > >
> > >sebagian di antara ex karyawan dan karyawan Texmaco
> > sangat yakin kalau
> > >
> > >demo ini benar-benar bukan aspirasi dari mayoritas
> > karyawan Texmaco.
> > >
> > >Tuntutan yang diajukan sangat tidak masuk akal.
> > Jika murni dari aspirasi
> > >
> > >
> > >karyawan Texmaco seharusnya yang dituntut adalah
> > pimpinan Texmaco Group
> > >
> > >sendiri untuk membubarkan/memulangkan karyawan
> > Expatriat yang jumlahnya
> > >
> > >sangat banyak.
> > >
> > >
> > >
> > >Berikut adalah sekilas gambaran pemborosan yang
> > terjadi di Texmaco Group
> > >
> > >
> > >yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun. Gambaran
> > gaji dan fasilitas apa
> > >
> > >
> > >saja yang mereka dapatkan berikut perkiraan biaya
> > yang kami ambil secara
> > >rata-rata perbulan. Data ini kami dapatkan dari
> > rekan yang masih bekerja
> > >
> > >
> > >di Texmaco dan memiliki akses informasi Expatriat
> > secara mendetail.
> > >
> > >
> > >
> > >1.  Gaji rata-rata: $4 000/bulan (= 34 juta/bulan)
> > >
> > >2.  Rumah/Apartemen (perabot lengkap): Rp 4
> > Juta/bulan
> > >
> > >3.  Telepon, Listrik, PAM: 3 Juta/bulan
> > >
> > >4.  Mobil dinas: 5 Juta/bulan
> > >
> > >5.  Pengemudi: 1.5 Juta/bulan
> > >
> > >6.  Telepon Genggam: 3 Juta/bulan
> > >
> > >7.  Transportasi: 2 Juta/bulan
> > >
> > >8.  Pelayanan Kesehatan: 2 Juta/bulan
> > >
> > >9.  Sekolah Anak (Internasional): 2 Juta/bulan
> > >
> > >10. Tiket pesawat untuk cuti (1 bulan dalam
> > setahun): 3 Juta/bulan
> > >
> > >      (36 Juta/tahun)
> > >
> > >11. Tiket pesawat, hotel, perpanjangan KIM S di
> > Singapura: 1/2 Juta/bulan
> > >
> > >      (6 Juta/tahun)
> > >
> > >
> > >
> > >Total biaya yang dikeluarkan per orang Expatriat:
> > 60 Juta/bulan
> > >
> >
> === message truncated ===
>
>
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> New Yahoo! Photos - easier uploading and sharing.
> http://photos.yahoo.com/
>
> --
> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
>
> Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
> Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
> Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
>



--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke