Dear All,
he..he...kalau Pak Sinchan memang asyik ya...?
ya, kita memang susah, karena dari atasnya sudah mikir
dewe2, terus dibawah  (sebagian/nggak semua sih)juga
ngelihat tuh...diatas enak2an, jadi pada ambil langkah
"jitu", ngalahin ekspatriat dengan "demo", atau
"premanisme" (bukannya ngasah diri).
Saya sih, nggak perlu sebel dengan ekspatriat, karena
itu lagi...kualitas boo....!!he..he...kalau kita mau
bangsa ini maju, hayo..kita kampanye untuk mengajak
semua orang bekerja lebih keras, dan lebih jujur.
Jadikan life style barulah..., tapi kayaknya memang
harus jadi program nasional ya?

Widi

--- nsudja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Widi yang baik dan kawan-kawan semua,
> Kalau aku sih maunya dirumah tersedia
> keduanya.Kelapa muda dan wine. Winenya
> made in  Buleleng/Bali, local  pemberian teman
> ketika berkunjung ke
> Pemaron,ngak bayar.
> Karena itu anak-anak muda  belajar dan kerja
> keraslah, baca text book,
> majalah ,  serap pengusaan ilmu dan teknologi dari
> luar/ negara maju, dimana
> ada kesempatan.  Urusan Iptek patut belajar dari
> luar. Tapi di negara ini,
> perumusan kebijakan  diatur dan didikte orang luar,
> IMF/WB/ADB/Paris Club.
> UU Ketengalistrikan contohnya, dari desakan tertera
> pada loan covenant
> pinyaman pemerintah . Juga pengaturan investasi
> modal asing
> ,perbank-an..Perlu political will untuk  perumusan
> kebijakan bagi
> kepentingan warga negara, bangsa dan negara
> sendiri..Tak patut dari luar
> datangnya.
> 
> Kebijakan penggunaan expatriate seharusnya diatur,
> misalnya setelah jangka
> waktu tertentu diganti warga bangsa ini.Di tambang
> juga begitu. Tembagapura
> setelah kotrak pertama selesai, sepatutnya disiapkan
> diganti oleh bangsa
> sendiri. Tak perlu diperpanjang .Usaha tembaga itu
> kan tambang duit, very,
> very profitable.Mengapa kontraknya diperpanjang?
> Kesempatan kerja orang
> lokal jadi  hilang. Karena kalau diurus sendiri akan
> jadi rugi, katanya?
> Alasan bisa dibuat, tapi tak dipertanggungjawabkan.
> Tapi mengapa tak
> dipersiapkan jauh sebelumnya. Belajar, atur  magang
> dari expatriate dulu.
> Memang kita ini cuma pintar ngurus untuk kantong
> sendiri-sendiri  dan tidak
> untuk kepentingan publik, well-being or satisfaction
> for the public common
> interist. TKI saja yang di Phillipina dijadikan
> pahlawan, dihargai, dijemput
> Ibu Presidennya di Manila Airprt,  di Indonesia tak
> dilindungi bahkan
> dipungli.
> 
> Di negeri ini tak ada GOOD GOVERNACE, tak ada
> keterbukaan. CHECKS  and
> BALANCES  tak jalan. Maka itu belajar dulu jadi
> RATIONAL, KRITIS dan
> REFLEKTIF. Baru urusan negara bisa demokratis.
> SALAM.
> Nengah Sudja, bukan Sichan.
> ----- Original Message -----
> From: "nimade widiasari" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, January 03, 2004 11:46 PM
> Subject: [bali] Re: Fw: [itb77] FW: [ytisman3]
> TEXMACO - THE UNTOLD STORY
> 
> 
> > Dear Friends,
> > saya sangat trenyuh membaca semuanya, namun memang
> > terjadi dibanyak tempat di Indonesia ini.
> > Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat bahwa
> > jika tidak ada ekspatriat, kita saling sikut....
> > Sangat emosional dan ada trauma dalam pernyataan
> > tersebut.
> > Saya melihat masih banyak orang pribumi yang
> mempunyai
> > kemampuan managerial cukup baik. Mungkin dalam
> > beberapa kasus, cara meminggirkan orang2/memilih
> > orang2 kurang profesional atau terlihat kurang
> > berbasa-basi, namun kita memang harus belajar
> > menghargai bangsa sendiri. Harus ada semangat
> untuk
> > menunjukkan harga diri bangsa. Jujur saja, tidak
> ada
> > yang lebih dari mereka kecuali kemampuan mereka
> untuk
> > bekerja keras. Bahkan kekurangan mereka yang
> terbesar
> > adalah hidup "boros". Saya akan lebih memilih
> > menyediakan kelapa muda di rumah, dibandingkan
> wine
> > misalnya.
> > Hayo....mari kita buktikan "tampang kampung kita"
> > berisi otak yang encer, kerja yang profesional,
> > kejujuran dan kesehatan yang prima.
> > Tidak akan ada saling sikut, kalau tidak
> > ditanggapi.....pokoknya tetap bersikap manis,
> santun
> > dan kerja keras....doakan dia (acep sabilang
> peteng),
> > jangan pernah menyerah untuk menundukkan musuh
> dengan
> > cara yang santun dan penuh kasih.
> >
> > cheers : Widi
> >
> >
> > --- Wisnaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > FYI
> > > ----- Original Message -----
> > > From: [EMAIL PROTECTED]
> > > To: [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED]
> > > Sent: Friday, January 02, 2004 1:48 PM
> > > Subject: Re: [itb77] FW: [ytisman3] TEXMACO -
> THE
> > > UNTOLD STORY
> > >
> > >
> > > Cukup menarik untuk dibaca contoh kasus Texmaco
> ini.
> > > Saya juga pernah mengalami dan merasakan
> pengalaman
> > > pahit bekerja di perusahaan asing yang mendunia.
> > > Hanya untuk gaji, fasilitas dll (+/-
> item-itemnya
> > > sama dengan contoh kasus di Texmaco), pabrik
> yang
> > > menjadi tanggung jawab saya harus mengeluarkan
> > > ongkos +/- 1,4 milyar rupiah per tahun dengan
> kurs
> > > pada saat itu masih sekitar 6000-an (hanya untuk
> > > satu orang ekpatriat). Ada beberapa ekpatriat di
> > > bagian / divisi lain. Kalau di Indonesia
> > > diberlakukan layaknya super boss, tetapi kalau
> > > dikampungnya ,pergi pulang kantor nyopirpun
> sendiri
> > > karena kalau sedang ditempatkan di kantor yang
> ada
> > > di kampungnya sendiri ybs hanya karyawan biasa.
> > > Tetapi kalau ditempatkan di Indonesia semuanya
> > > dilayani dengan berbagai fasilitas yang luar
> biasa.
> > > Kasarnya, mungkin hanya ke kamar kecil saja
> tidak
> > > diladeni.
> > >
> > > Namun disisi lain dengan contoh-contoh serupa
> dengan
> > > ekpatriat di Texmaco (tentunya di perusahaan
> lainpun
> > > banyak), kita sebagai bangsa mestinya
> introspeksi
> > > juga. Karena sadar atau tidak, kita sendiri yang
> > > membuka peluang terciptanya kondisi seperti itu.
> > > Coba kita cermati, di suatu perusahaan yang
> > > kebanyakan orang lokal, kondisinya belum tentu
> lebih
> > > baik. Sudah menjadi pemandangan umum bahwa
> saling
> > > sikut, saling menjatuhkan merupakan budaya kerja
> > > dari sebagian diantara kita. Agar kita sebagai
> > > bangsa tidak selalu kecewa karena untuk beban
> > > tanggung jawab yang sama  dibayar hanya < 20%
> dari
> > > karyawan ekpatriat, mari kita bersatu dan berasa
> > > yang sama dengan aura yang profesional. Bukan
> hanya
> > > merintis persatuan berdasarkan kebutuhan suku,
> ras
> > > apalagi agama saja. Hanya dengan demikian kita
> > > sebagai bangsa akan diberlakukan manusiawi oleh
> > > bangsa lain.
> > >
> > > Kita tidak usah membenci ekpatriatnya, tetapi
> mari
> > > kita melakukan introspeksi kenapa kondisi tsb
> bisa
> > > terjadi.
> > >
> > > Terima kasih.
> > >
> > > I Ketut Widiarsa
> > >
> > > >
> > > >
> > > >Teman2 ITB 77, mungkin ini dapat dijadikan
> bahan
> > > renungan kita
> > > >
> > > >TEXMACO - THE UNTOLD STORY Bacalah dengan
> sabar,
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >kalo Anda pingin jadi expatriat India, jangan
> lupa
> > > beri nama keluarga Anda
> > > >
> > > >dengan SINIVASAN,
> > > >
> > > >
> > > >
> 
=== message truncated ===


__________________________________
Do you Yahoo!?
New Yahoo! Photos - easier uploading and sharing.
http://photos.yahoo.com/

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke