Pak Wis dan Bu Widi serta rekan-rekan lain,
yang saya kasihani, eh maaf maksud saya yang saya kasihi,
 
    Rupanya "sampah" lagi jadi topik "ngetop" menyaingi SCTV. Saya setuju banget ada sampah jorok dan sampah bersih. Ada sampah masyarakat, biasanya gelandangan dan PSK disebut sampah masyarakat. PSK ada yang bersih lho, apalagi dikota besar. Parfumnya lebih mahal dari punya BU Widi, naik BMW segala. Tapi mengapa disebut "tuna susila", ditangkapi, dilepas, sedangkan ada yang disebut "yang terhormat" padahal ngaku selama ini bohongi rakyat. Kalau sampah yang bersih ini, baiknya pilih-pilih, yang segar baiknya disimpan yang baik, siapa tahu masih bisa dinikmati oleh mereka yang terhormat. Setuju?????
   Mengikuti diskusi sampah ini, ada yang menarik dalam kaitannya dengan pariwisata. Katanya ada wisatawan yang tidak mau kembali ke Bali karena sampah ini. Soal ini saya pernah ngomong dengan vulgar kepada YANG TERHORMAT Bupati Buleleng, dalam penataan kawasan Lovina, bahwa tidak ada gunanya membuat candi bentar mahal-mahal kalau sampah dibiarkan berserakan. Wisatawan tidak akan melihat candi bentarnya, tapi sampahnya. Saya sih setuju saja dibangun candi bentar jika kawasan itu memang sudah bersih dan tertib. Bu what I said gone unheeded.
   Karena kasus sampah dan pariwisata ini, saya pikir perlu diketahui oleh BOSSnya pariwisata Bali, yaitu Bapak Drs.Gde Nurjaya MM. Beliau itu dulu teman saya waktu sama-sama miskin. Saya tetap miskin beliau jadi BOSS pariwisata. Kebetulan saya bertemu beliau. Syukur beliau masih mengakui saya ini temannya, bahkan dibeliin nasi segala. Saya bilang: "Nur, kantor anda punya Email nggak? Kalau punya mungkin saya forward beberapa pendapat teman di Milis, yang saya anggap perlu anda ketahui, karena menyangkut tugas anda." Beliau kasi saya alamat Emailnya di kantor yaitu : [EMAIL PROTECTED]  Saya coba forward salah satu pendapat rekan di Milis, yang saya cc-kan ke Pak dan Bu Widi. Eh, ternyata ada message:failure notice.
Sebelumnya saya pernah dengar dari Pak Swamba (bagian promosi) kalau alamat itu tidak bisa diakses dan karena tidak ada connectnya ke telpon. Oh, my God Dinas Pariwisata Emailnya tidak bisa dipakai karena tidak ada hubungan telpon. Saya lihat pejabatnya bawa dua mobile phone. Saya juga nggak tahu, apakah Pemprop Bali punya website atau Email yang bisa diakses. Atau sengaja tidak dibuat supaya teriakan teman-teman di Milis tidak didengar? Saya masih belum puas kalau rekan-rekan yang masih punya hati nurani tidak didengar maka beberapa perndapat teman saya print dan print outnya saya kirim ke Dispar Bali, dengan pos. Mungkin beliau tuli, apakah beliau juga buta, saya tidak tahu. Tidak salah kalau teriakan kita, ibarat gonggongan anjing dipadang pasir. Tidak apa-apa minimal unek-unek kita keluar sehingga mengurangi stress.
  Inggih asapunika titiang matur, please accept my sincere apology if you find something offended. To err is human, my grandma once told me.
Cheers,
NS
R Susanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ikutan Nimbrung ..
Bicara sampah, dilihat dari katanya, kecenderungan semua orang untuk menghindari, menjauhi .... karena memang namanya juga sampah! Padahal, kemana pun, di mana pun, kapan pun, dia setia mengikuti keseharian kita .... sangat loyal!!! Karena, dia pada hakekatnya tidak lain adalah bagian dari diri kita, bagian diri kita yang kebetulan kita coba buang, tapi tidak akan pernah bisa, karena melekat dan menyatu dengan kegiatan keseharian kita, mulai bangun tidur, beraktivitas, sampai pulas kembali, beriringan dengan perilaku & sikap hidup yang dianut dan diimplementasikan!
 
Ada yang jorok, dan tidak sedikit juga yang Bersih!
 
Bagi yang Bersih, sampah bukanlah dianggap sampah, tapi buangan (betulkan ya, agar tepat!). Karena itu merupakan buangan, tentu ada cara, ke mana, di mana dan kapan dibuang. Contoh, Kentut (maaf!), kalau tidak dibuang, mungkin bisa membuat penyakit, nah ... klau kita lagi asyik ngobrol dengan banyak orang, tiba-tiba kebelet ingin kentut .... apa yang terjadi! .... tergantung, tergantung siapa yang mau kentut tadi, umumnya .... kita coba buang sebisa mungkin (cari amannya) tidak berbunyi (mencoba lepas tanggung jawab, tidak mau menggangu keasyikkan diskusi ... dan umumnya kita akan mentolerir, karena dalam waktu singkat aromanya akan tertelan oleh udara sekitarnya (parfum, bau asap rokok, makanan, dll.).
 
Singapura, konon, untuk mendisiplinkan warganya menerapkan mekanisme denda yang tinggi bagi mereka yang berperilaku jorok.... Akhirnya, karena kebersihan telah menjadi perilaku keseharian mereka .... kebetulan ada secuil sampah di depan perlintasan yang dilalui, dan terlihat, secara otomatis dipungutnya kemudian ditempatkan semestinya (hebat ya ... sampah saja dihargai!).
 
Kita memang belum seperti warga Singapura! (untuk urusan sampah), saking hebatnya Singapura sampai-sampai sampah konglomerat yang melarikan uang rakyat Indonesia pun dipungutnya, diakui dan diberi sertifikat kewarganegaraan (kontradiktif ya...), kita maklumi-lah! (?)
 
Bali (Singaraja?) dikenal dunia punya organisasi yang namanya Banjar, barangkali bentuk organisasi kearifan lokal yang terus tererosi oleh perkembangan trend, mode dan model manajemen (organisasi), bisa kita elaborasi untuk kita coba jadikan alternatif mengatasi persoalan sampah yang mengganggu kehidupan kini dan masa depan kita, syukur-syukur bisa menambah PAB (Pendapatan Aseli Banjar) untuk berbagai kemaslahatan yang mungkin (barangkali).
 
Banjar Award
Melalui kriteria tertentu (partisipatif  musyawarah), terumuskan bahwa mereka yang membuang sampah paling sedikit untuk kurun tertentu, akan mendapatkan Award, yang tentu award ini harus bisa dijadikan sebagai track record seseorang untuk masa depan yang ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin (kepemimpinan), misalnya ketua RT/RW, Lurah, Camat, Bupati/Walikota, ketua partai (+ harus punya uang), anggota Legislatif, dst.
 
Demikian dulu, perkenalan awal untuk ikutan aktif berpartisipasi
 
 
 
 
 
 
 
 


Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekans,
Ini ada masukan menarik dari Herr Lengkey yang tinggal di Jerman.

Viele Gruessen
GW

----- Original Message -----
From: lengkey <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, June 15, 2004 5:40 PM
Subject: [bali] Re: Sampah


> PaK Gde & Teman-teman Yth,
>
> Saya ingin memberikan sedikit impuls tentang penanganan sampah kita di
> Singaraja/Bali. Memang untuk masalah ini sangat sulit diatasi, jika tidak
> ada kerjasama bahu-membahu antara Konsumen dan Produsen.
> Saya masih ingat di tahun akhir 70-han, ketika Singaraja mulai dibanjiri
tas
> "Kresek". Dimana Daun Pisang dan kertas koran sudah tidak "Mode" lagi. Nah
> sekarang setelah 30-tahun kemudian baru kita mengenal polusi plastik,
Polusi
> Kaleng, Aluminium, Batu Baterai, dan ...lain-lainnya. Tanpa inisiatif
> masyarakat yang tinggi, maka persoalan ini tak akan tertanggulangi.
Mungkin
> saja bisa lahir dibumi Pandji Sakti, partai baru seperti di negara
Germany
> contohnya, lahirnya partai Gr�nen, karena diawali dengan masalah okologie.
> Saya sudah banyak membaca dan mendengar usaha-usaha pemda juga serta
> masyarakat untuk mengatasi sampah. Toh sampai sekarang hasilnya belum
jelas.
> Sampai sampai ada rencana pemda Badung/Denpasar untuk membeli/membangun
> Pabrik pembakaran Sampah dari Cina. Sampai saat ini saya belum mendengar
> bagaimana kelanjutannya.
>
> Jika masalah sampah ini, sudah menjadi masalah intern di Bali, kenapa
> seluruh kabupaten diBali tidak bersama-sama memikirkan hal ini. Setiap
> Kabupaten mengeluarkan anggaran bersama untuk misalnya: Pengolahan akhir
> Sampah, seperti Pabrik pembakaran Sampah (Jangan Lupa Penyaringan
asapnya).
> Dari sini ada Produk sampingan yang bisa dihasilkan, seperti air panas
atau
> Listrik. Dari pada bagi-bagi uang untuk dana Purnabakti, beh....kalau itu
> semua dikumpulkan paling tidak bisa beli mesin Press Sampah....heee...,
> atau....?.Men bes Pipis Rakyat dume dogen, kenkenang lakar berinvestasi
> untuk kepentingan rakyat? Seng keto, malu...
> Sampahpun semakin hari modelnya semakin "Aneh dan Modern", kalau jangka
> panjang penanggulangannya tidak ada, maka jangan heran kalau timbul
penyakit
> model baru yang akan diidap Masyarakat. Salah satu penyakit yang
dihasilkan
> sampah adalah Allergie, radang Paru-Paru, perubahan janin sebelum
> lahir...dllnya.
>
> Saya mengajak pemda kita, masyarakat dan Industrie untuk bersama-sama
> memikirkan sampah. Jika ke-3 Oknum ini tidak duduk bersama untuk
memecahkan
> hal ini, maka tak akan ada jalan keluarnya.
> Sebagai contohnya saja:
> 1. Setiap Industrie yang menghasilkan sampah dikenakan pajak untuk
> penaggulangan sampah.
> 2. Tentunya, hasil pajak ini harus Transparent. Mengapa.... , karena
setiap
> Rumah/Sekolah/Pasar/ Toko-Toko atau Konsumen nantinya dengan uang pajak
ini
> bisa mendapat dengan cuma-cuma sebuah tong sampah. Investasi untuk Pabrik
> pengolahan Sampah / Pemisahan sampah-sampah.
> Sampah ini seharusnya sudah mulai didaur/ dipisahkan dari awal.
> Industrie
> pendauran ulang sampah / Recycle dapat dibangun. Lapangan pekerjaan
> dapat
> dihasilkan dan Martabat Pengangkutan Sampahpun dapat ditingkatkan
> dsbnya....
> Yang saya tidak lupakan juga, tentu harga barang akan naik sedikit,
> karena
> Konsumenpun harus menanggung sampah yang diproduksinya. Dengan
> demikinan kita mendidik secara tidak langsung
> kepada konsumen dan Produsen untuk mengurangi sampah. Siapa yang
lebih
> banyak menghasilkan sampah dia harus lebih banyak menerima
> konsekwensinya
> (Lebih banyak mebayarnya)
> * Untuk sampah organik - tong sampahnya dibuar warna Hijau/Hitam
> Pemisahan sampah organik secara dini, dapat membantu pengolahan pengolahan
> pupuk berkwalitas tingggi. Taman-taman umum dapat dirawat dengan
pupuk-pupuk
> ini. Setiap rumah dapat membeli pupuk, untuk pekarangannya.
> * Untuk Sampah non Organik, seperti kaleng, aluminium, produk dari bahan
> Plastik (PP) - tong sampahnya berwarna Kuning.
> Dalam hal ini setiap Konsumen/ Rumah dibagikan Plastik Kuning (( 50 Lt).
> Mengapa Plastik kuning saja yang dibagikan cuma-cuma: karena disini ada
> unsur Recycle secara langsung yang memerlukan penanganan/penanggulangan
> Khusus. Dan ada andil Konsumen secara langsung. Konsumen telah membayar
> secara tunai produkt yang menghasilkan sampah Recycle sebelumnya.
> Biasanya Platik plastik ini di cuci dan kemudian diubah dengan pertolongan
> mesin Press untuk menjadi bahan dasar seperti Granulat. Granulat Plastik
> bisa direproduksi lagi untuk tong-tong sampah besar dan kecil, Tempat
tempat
> duduk umum di Taman-taman dllnya
> * Untuk Kertas - tong sampahnya berwarna Biru
> Kertas bekaspun bisa di-Recycle, menjadi kertas yang bermutu-tinggi. Tentu
> kita memerlukan investasi lagi, tetapi jangan lupa dengan adanya Recycle,
> keperluan kita dengan bahan Baku Kayu sebagai Pulp, akan drastis menurun.
> Penggundulan Hutan kayu sedikitnya dapat diatasi. Mensosialisasikan
> masyarakat untuk menggunakan kertas Recycle juga sangat penting.
> * Untuk Glaspun musti dipisahkan; gelas bening - tongnya Putih, Glas Hijau
> tongnya Hijau, Glas Coklat -tongnya Coklat.
> Industri Gelaspun akan dapat dibangun di Bali dan mereka akan bersyukur
> karena bahan bakunya sebagian akan mudah didapat dan lebih murah.
> * Batu Bateraipun dan Akku musti disortier dengan Khusus, karena banyak
yang
> memerehkan sampah yang tinggi dengan racun Timbal dan Quicksilvernya.
> Industri Akku dan Batu Baterai diharuskan mengambil balik sampah-sampah
ini,
> dan sampah inipun dapat di Recycle kembali.
> * Tong-tong sampah yang berukuran besarpun dapat mulai disediakan
> ditempat-tempat strategis/ dimana masyarakat dapat menjangkaunya.
>
> Mungkin kelihatannya atau kedengarannya sangat mudah, dalam praktiknya
> memang banyak kesulitannya. Kita memerlukan banyak dukungan dari
teman-teman
> dan masyarakat untuk berpikir dan bekerja bahu-membahu. "Alles ist
machbar,
> nur wenn wir daran glauben"
>
>
> 3. UU Persampahan dapat ditinggkatkan dan di masyarakatkan. Soal Sampah
dan
> Lalinpun sudah dapat disosialisasikan mulai dari TK.
> Sering kalau kami pulang berlibur diBali, anak-anak kamipun yang baru
> berumur 4 dan 6 Tahun selalu bertanya dan ngedumel sendiri. ....Mana Tong
> sampahnya ....pah? (Pa.. wo ist die M�lltonne?)
> Saya sendiri sebagai orang tua sangat malu, jika kita mengajar bersih
kepada
> anak-anak, sedangkan prasarananya untuk penanggulangan sampah kita tidak
> bisa memberikannya secara optimal!, Saking susahnya cari tong sampah
> terpaksa yah..masukkan saja di kantong baju atau kantong celana, sampai
> pulang dirumahpun jadi ribut lagi dengan anak-anak.
> Anak saya teriak.... Pah..kok plastik sampah dicampur dengan daun-daun
> pisang atau kertas....?, Saya cuma tersenyum kagum...dan menjawab yah..nak
> kita bawa sampahnya nanti sampai di Jerman ya..... Gerrrr....rrrr.....
semua
> orang yang ada ditumah jadi tertawa terbahak-bahak.....nganti adek adikk
> ragane....nganti ngenceh-ngenceh mekekekan, saking lucunya.....
>
> Masih..banyak lagi sebenarnya yang saya ingin utarakan,....dilain
kesempatan
> lagi lah...,dan saya sangat bergembira dan berterimakasih jika ada
> rekan-rekan semetone yang bisa memberi komentar kepada saya atau dengan
> rubrik ini dapat berkenalan langsung kepada saya. Maaf jika bahasa saya
agak
> kedengaranya janggal! Men kenkenang bes..mekelo gati ngoyong digumin
> anake....
>
>



--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators :
Berlangganan :
Henti Langgan :


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!

 

 


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!

Kirim email ke