Bli Tut Arthana, apa khabar kangen banget lho, di mana dan sibuk apa, alamatnya dong, berapa putra, pernah denger-denger aja sih!
Saya masih seperti dulu, ntar kalau ke Bali mau mampir ya! Anaku 2 orang, cewek semua, yang gede baru naik klas 2 SMP, yang kecil klas 4 SD, ok .... ntar disambung lagi, pokoknya kangen banget .....
Salam

ketut arthana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Santo, kenken khabare,
 
Dimana sekarang, aku di bali dan sekarang juga monitoring teman-teman kita.
 
Untuk masalah sampah, sementara aku bergerak dari diri sendiri, sementara di rumah ( rumahku di kampung ) kami sewa pick up person yang datang 3 kali seminggu, sampah juga udah di pisah-pisah jadi mereka ada advantage untuk recycle. Kita juga larang untuk bakar-bakar sampah,  buang sampah di sungai, termasuk para tetangga.
Awalnya mereka marah, tapi sekarang lumayan ada kemajuan. Kalau sembahyang atau main sama anak-anak, kami sedikit banyak, kalau ada waktu, juga ngumpulin sampah-sampah disekitar pura. Jadi kami sedikit banyak berusaha Desentralisasi Sampah, usaha dulu disekitar kita, mungkin lama-lama ada yang meniru. Menurut saya, kalau menunggu komitment poloitik dari pemerintah, kok kayak menunggu lebaran monyet ya.
Saya juga ada rencana masang iklan baris masalah sampah ini, mudah-mudahan tahun ini bisa terlaksana.
 
wassalam to, udah haji belum?
 
 
 
ketut arthana

R Susanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf, saya kok nggak pernah dapet kiriman e-mail lagi ya ... sejak saya coba ikutan nimbrung nulis "sampah", why! Apa sedang sepi-sepi aja di Singaraja atau Bali ....
Emang sih ... saya lupa ngenalin diri, apa perlu ya ...
Ok, saya R. Susanto, lahir di Singaraja, rumah orang tua masih di Singaraja (Mumbul) sejak lahir sampai lulus SMA tetap di Singaraja, tamat SMA melanjutkan ke Bandung hingga saat ini, saya adik kelasnya Gede Wisnaya. Saya alumni jurusan Teknik Industri & jurusan Desain-FSRD ITB. Saya ikutan aktif di lingkungan pengembangan usaha kecil, mengajar di PTS & FSRD-ITB, bekerja juga di swasta. Demikian!
Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon dimaafkan. Terima kasih.
Saya ingin terlibat dan ingin peduli Bali, tapi saat ini sedang mengikuti dulu aja sikon!
Ok ... 7 U

Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekans,
Ini ada masukan menarik dari Herr Lengkey yang tinggal di Jerman.

Viele Gruessen
GW

----- Original Message -----
From: lengkey <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, June 15, 2004 5:40 PM
Subject: [bali] Re: Sampah


> PaK Gde & Teman-teman Yth,
>
> Saya ingin memberikan sedikit impuls tentang penanganan sampah kita di
> Singaraja/Bali. Memang untuk masalah ini sangat sulit diatasi, jika tidak
> ada kerjasama bahu-membahu antara Konsumen dan Produsen.
> Saya masih ingat di tahun akhir 70-han, ketika Singaraja mulai dibanjiri
tas
> "Kresek". Dimana Daun Pisang dan kertas koran sudah tidak "Mode" lagi. Nah
> sekarang setelah 30-tahun kemudian baru kita mengenal polusi plastik,
Polusi
> Kaleng, Aluminium, Batu Baterai, dan ...lain-lainnya. Tanpa inisiatif
> masyarakat yang tinggi, maka persoalan ini tak akan tertanggulangi.
Mungkin
> saja bisa lahir dibumi Pandji Sakti, partai baru seperti di negara
Germany
> contohnya, lahirnya partai Gr?karena diawali dengan masalah okologie.
> Saya sudah banyak membaca dan mendengar usaha-usaha pemda juga serta
> masyarakat untuk mengatasi sampah. Toh sampai sekarang hasilnya belum
jelas.
> Sampai sampai ada rencana pemda Badung/Denpasar untuk membeli/membangun
> Pabrik pembakaran Sampah dari Cina. Sampai saat ini saya belum mendengar
> bagaimana kelanjutannya.
>
> Jika masalah sampah ini, sudah menjadi masalah intern di Bali, kenapa
> seluruh kabupaten diBali tidak bersama-sama memikirkan hal ini. Setiap
> Kabupaten mengeluarkan anggaran bersama untuk misalnya: Pengolahan akhir
> Sampah, seperti Pabrik pembakaran Sampah (Jangan Lupa Penyaringan
asapnya).
> Dari sini ada Produk sampingan yang bisa dihasilkan, seperti air panas
atau
> Listrik. Dari pada bagi-bagi uang untuk dana Purnabakti, beh....kalau itu
> semua dikumpulkan paling tidak bisa beli mesin Press Sampah....heee...,
> atau....?.Men bes Pipis Rakyat dume dogen, kenkenang lakar berinvestasi
> untuk kepentingan rakyat? Seng keto, malu...
> Sampahpun semakin hari modelnya semakin "Aneh dan Modern", kalau jangka
> panjang penanggulangannya tidak ada, maka jangan heran kalau timbul
penyakit
> model baru yang akan diidap Masyarakat. Salah satu penyakit yang
dihasilkan
> sampah adalah Allergie, radang Paru-Paru, perubahan janin sebelum
> lahir...dllnya.
>
> Saya mengajak pemda kita, masyarakat dan Industrie untuk bersama-sama
> memikirkan sampah. Jika ke-3 Oknum ini tidak duduk bersama untuk
memecahkan
> hal ini, maka tak akan ada jalan keluarnya.
> Sebagai contohnya saja:
> 1. Setiap Industrie yang menghasilkan sampah dikenakan pajak untuk
> penaggulangan sampah.
> 2. Tentunya, hasil pajak ini harus Transparent. Mengapa.... , karena
setiap
> Rumah/Sekolah/Pasar/ Toko-Toko atau Konsumen nantinya dengan uang pajak
ini
> bisa mendapat dengan cuma-cuma sebuah tong sampah. Investasi untuk Pabrik
> pengolahan Sampah / Pemisahan sampah-sampah.
> Sampah ini seharusnya sudah mulai didaur/ dipisahkan dari awal.
> Industrie
> pendauran ulang sampah / Recycle dapat dibangun. Lapangan pekerjaan
> dapat
> dihasilkan dan Martabat Pengangkutan Sampahpun dapat ditingkatkan
> dsbnya....
> Yang saya tidak lupakan juga, tentu harga barang akan naik sedikit,
> karena
> Konsumenpun harus menanggung sampah yang diproduksinya. Dengan
> demikinan kita mendidik secara tidak langsung
> kepada konsumen dan Produsen untuk mengurangi sampah. Siapa yang
lebih
> banyak menghasilkan sampah dia harus lebih banyak menerima
> konsekwensinya
> (Lebih banyak mebayarnya)
> * Untuk sampah organik - tong sampahnya dibuar warna Hijau/Hitam
> Pemisahan sampah organik secara dini, dapat membantu pengolahan pengolahan
> pupuk berkwalitas tingggi. Taman-taman umum dapat dirawat dengan
pupuk-pupuk
> ini. Setiap rumah dapat membeli pupuk, untuk pekarangannya.
> * Untuk Sampah non Organik, seperti kaleng, aluminium, produk dari bahan
> Plastik (PP) - tong sampahnya berwarna Kuning.
> Dalam hal ini setiap Konsumen/ Rumah dibagikan Plastik Kuning (( 50 Lt).
> Mengapa Plastik kuning saja yang dibagikan cuma-cuma: karena disini ada
> unsur Recycle secara langsung yang memerlukan penanganan/penanggulangan
> Khusus. Dan ada andil Konsumen secara langsung. Konsumen telah membayar
> secara tunai produkt yang menghasilkan sampah Recycle sebelumnya.
> Biasanya Platik plastik ini di cuci dan kemudian diubah dengan pertolongan
> mesin Press untuk menjadi bahan dasar seperti Granulat. Granulat Plastik
> bisa direproduksi lagi untuk tong-tong sampah besar dan kecil, Tempat
tempat
> duduk umum di Taman-taman dllnya
> * Untuk Kertas - tong sampahnya berwarna Biru
> Kertas bekaspun bisa di-Recycle, menjadi kertas yang bermutu-tinggi. Tentu
> kita memerlukan investasi lagi, tetapi jangan lupa dengan adanya Recycle,
> keperluan kita dengan bahan Baku Kayu sebagai Pulp, akan drastis menurun.
> Penggundulan Hutan kayu sedikitnya dapat diatasi. Mensosialisasikan
> masyarakat untuk menggunakan kertas Recycle juga sangat penting.
> * Untuk Glaspun musti dipisahkan; gelas bening - tongnya Putih, Glas Hijau
> tongnya Hijau, Glas Coklat -tongnya Coklat.
> Industri Gelaspun akan dapat dibangun di Bali dan mereka akan bersyukur
> karena bahan bakunya sebagian akan mudah didapat dan lebih murah.
> * Batu Bateraipun dan Akku musti disortier dengan Khusus, karena banyak
yang
> memerehkan sampah yang tinggi dengan racun Timbal dan Quicksilvernya.
> Industri Akku dan Batu Baterai diharuskan mengambil balik sampah-sampah
ini,
> dan sampah inipun dapat di Recycle kembali.
> * Tong-tong sampah yang berukuran besarpun dapat mulai disediakan
> ditempat-tempat strategis/ dimana masyarakat dapat menjangkaunya.
>
> Mungkin kelihatannya atau kedengarannya sangat mudah, dalam praktiknya
> memang banyak kesulitannya. Kita memerlukan banyak dukungan dari
teman-teman
> dan masyarakat untuk berpikir dan bekerja bahu-membahu. "Alles ist
machbar,
> nur wenn wir daran glauben"
>
>
> 3. UU Persampahan dapat ditinggkatkan dan di masyarakatkan. Soal Sampah
dan
> Lalinpun sudah dapat disosialisasikan mulai dari TK.
> Sering kalau kami pulang berlibur diBali, anak-anak kamipun yang baru
> berumur 4 dan 6 Tahun selalu bertanya dan ngedumel sendiri. ....Mana Tong
> sampahnya ....pah? (Pa.. wo ist die M?ne?)
> Saya sendiri sebagai orang tua sangat malu, jika kita mengajar bersih
kepada
> anak-anak, sedangkan prasarananya untuk penanggulangan sampah kita tidak
> bisa memberikannya secara optimal!, Saking susahnya cari tong sampah
> terpaksa yah..masukkan saja di kantong baju atau kantong celana, sampai
> pulang dirumahpun jadi ribut lagi dengan anak-anak.
> Anak saya teriak.... Pah..kok plastik sampah dicampur dengan daun-daun
> pisang atau kertas....?, Saya cuma tersenyum kagum...dan menjawab yah..nak
> kita bawa sampahnya nanti sampai di Jerman ya..... Gerrrr....rrrr.....
semua
> orang yang ada ditumah jadi tertawa terbahak-bahak.....nganti adek adikk
> ragane....nganti ngenceh-ngenceh mekekekan, saking lucunya.....
>
> Masih..banyak lagi sebenarnya yang saya ingin utarakan,....dilain
kesempatan
> lagi lah...,dan saya sangat bergembira dan berterimakasih jika ada
> rekan-rekan semetone yang bisa memberi komentar kepada saya atau dengan
> rubrik ini dapat berkenalan langsung kepada saya. Maaf jika bahasa saya
agak
> kedengaranya janggal! Men kenkenang bes..mekelo gati ngoyong digumin
> anake....
>
>



--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators :
Berlangganan :
Henti Langgan :


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail is new and improved - Check it out!


Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!


Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!

Kirim email ke