Pak Nengah, dan Pak wijaya, juga rekan2 sekalian

tiyang coba ganti sedikit tema agar lebih clear diskusinya yakni
konferensi iklim vs karbon emision (sebab tidak hanya coal saja )
sebetulnya karbon emison lah yg dianggap biangnya dan yg paling dituding
dalam konferensi tsb.
Nah mangkin tiyang pikir, seperti halnya mbo vieb lihat , ..ternyata
kita tengah ber main di daerah abu2 tsb, okey Coal murah, kita punya
melimpah, belum ada aturan yg tegas akan tax, denda, tilang apalah
namanya akan emisi dari Coal tsb. Sedang kita sangat2 memerlukan energy
tsb. So, sepeti no way out rasanya. sekali lagi kalau kita lihat di
neraca bebannya PLN versi online,.. banyak daerah yg minus (hanya Jawa
bali yg cukup meyakinkan) artinya, bagaimana mau investasi atau suplay
utk industri bila seperti ini, sekali lagi seolah no way out????

trus renewbable sampunapi. ring indonesia?? ..nenten wenten tempat..??

Nah Kenapa harus renewable dipikirkan utk transmisi ke grid??, Renewable
prioritas bukan utk power plant , neraca renewable di dunia khususnya PV
hampir 70%nya adalah suplay stand alone, (include perumahan dan
gedung2), karenanya kenapa kita pikirkan renewable utk Diselnya PLN,
sekali lagi jelas tidak akan pernah imbang, samapaikapanpun sebab
rumusan terbalik yg dipakai di Indonesia fosil energy disubsidi vs
renewable di tax (banyak import sampai saat ini), dimana negara2 yg
tengah merangkak renewablenya adalah fosil di tax double vs renewbale di
subsidi.

karenanya bila kita bicara renewbale harus samakan visi,

sekali lagi tyang melihat renewable yg ada sangat tepat dipakai Bali
sebagai pilot project. khususnya utk tujuan pariwisata.
kenapa tidak ikuti Sedney, yg memproklamirkan kota bersih yg renewable
di dunia (iklannya jeg mentereng sekali di eropa)
seluruh kota pakai solar cell, tampak indah, cantik, usefull, juga
daerah2 wisatanya, hotel2nya, swiming pool, dll. mesti tyang sangat
yakin renewable mungkin hanya kurang dari 20-25% nya dari kebutuhan
energy yg dipakai.

Nah kenapa kita tdk mencoba di Bali, misal di Gedung2 pemerintahan di
Renon, di Hotel di nusa dua, di kuta (dirumahnya mbo vieb), jalan2 dll,
juga masyarakat khususnya perumahan2 atau developer2 disarankan utk
menggunakan solar cell di rumahnya yg sedang di bangun. meski hanya
15-20% energynya pakai solar cell, sangat besar pengaruhnya utk beban
PLN. Saat ini tyang dan rekan team deriki menginsatll 5000 W (peak), PV,
utk tambahan kebutuahn di Department Electronic and Electrical tempat
tyang study. Juga tyang ikut membantu pemasangan/ evaluasi 15KWpeak, PV
di gedung city councilnya Leicester city. Tyang sangat percaya kebutuhan
tsb bukan sebagai energy primernya.

Maslah Biodisel, saat ini seperti kita ketahui UN, dengan jelas2 mamberi
'RED FLAG' utk energy ini sebab dalam perkembangannya akan jelas
persaingan manuasia Vs mobil/ Disel dll.. dalam hal lahan utk kebutuhan
pangan atau biodisel . Negara2 Eropa (khusunya UK, dan France ) tengah
kembali mengalihkan lahan olahan sunflower oil atau olive oli yg selama
ini sebagai sumber dasar biosolar menjadi lahan murni pertanian.

kita bermain di daerah abu2, tapi hendaknya pintar2 dan saatnya tiba,
dimana tax utk carbon emmison datang kita sudah siap.

Tyang sangat senang dan tertarik seperti apa yg dilakukan Nowegia,
meraka tetap mengolah pertanian dan kayu olahan, meskipun  di akhir
70-an /awal 80-an saat banyak sumur2 minyak ditemukan, namun tidak
sertamerta mengalihkan kehidupan negara tsb dari pertanian dan
perhutanan ke pengeboran dan explorasi minyak. Hasil minyak yg diperoleh
disimpan, dan saat ini menjadi negara yg paling gencar di scandinavia,
yg tengah berjuang meningkatkan renewable energy khususnya  wind dan
wave energy.

ingih samunika dumun,

salam
k_astawa

  _____

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Asana Viebeke Lengkong
Sent: 17 January 2008 12:17
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara (a)


P Sudja selamat malam,

Wah saya ini hanya mampu baca baca saja karena terlalu serem untuk saya
bicara soal listrik (sangat sadar bahwa ada masyaraakt yang belum
menikmati listrik, dan juga banyak yang masih punya kemampuan ekonomi
lemah jadi kalau pakai listrik juga susah)

Baca punya baca.... kita ini sedang berjuang katanya untuk 'renewable
energy' salah satu upaya adaptasi climate change.... sedang kan P Sudja
bicara terus mengenai batu bara...... saya bingung juga ini karena
diskusinya jadi alot juga ya... kesepakatan bersamanya nggak
kelihatan..... sedangkan kalau kita bicara soal teknis maka 1 tambah 1
sama dengan 2, tapi kalau soal sosial lain lagi jawabannya.....

Sebagai sesepuh tentu kita ingin tau sebenarnya di belakang pengertian
dari dua sisi berseberangan ini?  Batubara versus renewable energy
versus area abu abu?

Saya bukan pejantan, tapi berani aja tanya tanya..... hehe

Di Lamandau sudah berapa lama? apa dekat dengan rumah dari Prof. Manuaba
yang dulu atau lebih dekat ke rumahnya Mary Pangestu?  Saya ketika kecil
tinggal di rumah pojok di jalan Sungai Pawan lo Pak.....  Sempat masuk
sd di PSKD yang pojok itu di depan rumah soalnya.. jadi kalau bel bunyi
baru lari lari... Disana apa Keluarga Sukada masih ada?  Dulu keluarga
Kus Plus juga ada di seputaran sana.....

salam, vieb

----- Original Message -----
From: Nengah Sudja <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, January 17, 2008 1:10 PM
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara (a)


Yth. Pak Wijaya Kusuma , Semeton Sareng Sami,


Terima kasih atas input - inputnya. Yang jelas, membandingkan biodiesel
tentu saja dengan solar, baik dari
segi harga sampai dengan unjuk kerja engine. Membandingkan biogas tentu
saja dengan lpg, dsb.
Nah, sekarang saya  mengerti apa yang Anda maksud, biodiesel bersaing
dengan solar.
Ketika  harga solar  Rp.3500 per liter. Setara  tingkat harga 59,20 US
$per barrel.
Sementara,  harga minyak sudah berada pada tingkat 100 US$ per barrel.
Tetapi biodiesel tidak bisa bersaing dengan tarif  listrik  berbasis
mixed fuel yang didominasi batubara.
Untuk  pembangkitan beban puncak dengan  gas turbin atau diesel power
plants  yang
masih memakai solar,  biodiesel  bisa bersaing, tapi  tergantung pada
keadaan setempat,
bila tak ada pengganti solar misalnya  tidak tersedianya  gas alam atau
hydro peaking unit. Jadi
biodiesel bisa bersaing sebagai subsitusi solar, pada tingkat harga
lebih murah dari solar.

Sekalipun nantinya PLN atau Indonesia Power menggunakan jalur Jawa-Bali,
masih banyak tenaga diesel yang ada di lapangan.
Mulai dari genset, traktor, kapal laut, transportasi darat, dll, yang
kebutuhan akan solar juga tinggi.
Sementara itu, daya beli masyarakat sudah menurun.
Kalau saluran 500 kV Jawa-Bali dibangun , pasokan biodiesel untuk PLN
akan nol atau kecil kebutuhannya ,
(hanya  untuk tambahan cadangan demi keamanan pasokan, saat terjadi
pemadaman total, kalau pembangkit
solar PLN masih dipertahankan di Bali).
Potensi pemakaian biodiesel  justeru ada diluar  PLN   untuk sektor
industri dan transpotasi. Di luar Jawa masih
 banyak pembangkit listrik pakai solar, tapi sedang diupayakan mulai
diganti dengan pembangkit batubara satuan kecil.


Maaf pak Sudja, mengenai harga itu relatif dan tergantung bagaimana
proses di hulu. Mulai dari pembibitan hingga
pengolahan. Yang jelas, biaya produksi kami jelas kurang dari Rp. 3500
per liter.
Saya mengerti harga itu relatif, yang penting  berapa harga yang
ditawarkan  di pasar. Yang saya pertanyakan dengan harga
di hilir ( di pasar)  Rp.3500 per liter, berapa penghasilan yang
diperoleh para petani di hulu (untuk bisa bayar bibit, perolehan
upah yang pantas, sepadan agar  tetap mau menanam jarak) ?
Posting saya mengacu pada upaya I Silvia mencari  alternatif solusi
pemenuhan kebutuhan listriknya. Saya sampaikan
yang termurah masih sambungan dari PLN  7 c/kWh, yang berbasis mixed
fuel yang didominasi batubara.
Malahan posting saya dimulai dengan tanggapan sebelumnya terkait
penolakan pembangunan PLTU Celukan Bawang
yang dikaitkan dengan pemanasan global. Padahal  batubara merupakan
bahan bakar murah untuk pembangkitan
tenaga listrik. Jepang (yang lebih kecil luasnya dari Indonesia)
mengimpor batubara 170 juta ton (2006) sedangkan
Indonesia pemakaian batubaranya  baru 40 juta ton (2006). Mengapa
batubara yang merupakan sumberdaya energi murah mesti ditolak?
Pengotoran, emisi perlu diatur dan dikendalikan. Itulah inti
permasalahan perundingan perubahan iklim
yang masih berlanjut sesudah di Bali.   Penolakan saya pada pembangunan
PLTU Celukan Bawang bukan karena dipakainya batubara tetapi karena
alasan tidak ada studi kelayakan yang sepatutnya diajukan dulu kepada
masyarakat (public acceptance).

Pak Sudja, kami berupaya mengembangkan renewable energy ini dengan
tujuan seperti postingan sebelumnya.
Pak Wijaya, saya angkat topi (kata orang Eropa), saya hargai kegigihan
Anda unutk mengembangkan
renewable energy. You are a real dedicated engineer. Dunia ini dibangun
oleh para insinyur , seperti
Thomas  Edison, Rudolf Diesel. Para fisikawan  bekerja untuk menemukan
konsep/ prisip dasarnya,
para insinyurlah  yang meneruskan dengan kegigihan, fanatik....... made
it workable, available, reliable.
Para ekonomi  menimbang kelayakan, para pejabat (/penjahat)  yang
membuat keputusan yang sering ngawur,
pengusaha / penguasa /penjahat yang ambil untung dan ...........rakyat
yang buntung.

Kalau Bapak berkenan, bisa bantu kami. Misalnya, biodiesel kami bisa
diuji coba secara gratis di LITBANG PLN (dulu LMK) dan
disertifikasi. Kalau bagus, bisa dilanjutkan agar memperoleh sertifikasi
dari luar negeri.
Dengan senang hati akan saya bantu. Kalau sudah ada technical
specification -nya. Akan saya bicarakan
dengan Kepala LITBANG / Kepala Jasa Teknik.

Saya kira pada tahap ini, diskusi kita baru muncul putiknya, belum
menjadi bunga, semoga kelak bisa berbuah.
Terima kasih untuk P Gde Wisnaya, pencipta  web site lp3b, patriarki,
pejantan, bukan bangkung , pejantanpun
kalau mau diskusi juga bisa reproduktif.

SALAM .
Nengah Sudja.
Jl. Lamandau  Raya No.21,
Kebayoran Baru,
JAKARTA 12130.
Tel. 720 3143.
Fac. 720 1690.
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
 -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Wijaya Kusuma
Sent: Tuesday, January 15, 2008 9:42 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara (a)



Pak Nengah Sudja dan saudara semuanya,

Terima kasih atas input - inputnya. Yang jelas, membandingkan biodiesel
tentu saja dengan solar, baik dari
segi harga sampai dengan unjuk kerja engine. Membandingkan biogas tentu
saja dengan lpg, dsb.
Maaf pak Sudja, mengenai harga itu relatif dan tergantung bagaimana
proses di hulu. Mulai dari pembibitan hingga
pengolahan. Yang jelas, biaya produksi kami jelas kurang dari Rp. 3500
per liter.

Sekalipun nantinya PLN atau Indonesia Power menggunakan jalur Jawa-Bali,
masih banyak tenaga diesel yang ada di lapangan.
Mulai dari genset, traktor, kapal laut, transportasi darat, dll, yang
kebutuhan akan solar juga tinggi.
Sementara itu, daya beli masyarakat sudah menurun.

Pak Sudja, kami berupaya mengembangkan renewable energy ini dengan
tujuan seperti postingan sebelumnya.
Kalau Bapak berkenan, bisa bantu kami. Misalnya, biodiesel kami bisa
diuji coba secara gratis di LITBANG PLN (dulu LMK) dan disertifikasi.
Kalau bagus, bisa dilanjutkan agar memperoleh sertifikasi dari luar
negeri.

Salam,

Wijaya.



__________ NOD32 2788 (20080113) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com




<<faint_grain1.jpg>>

Kirim email ke