Yth. P Wijaya , semeton sareng sami.
 
Maaf, agar dialog menjadi lebih terarah,  saya akan copy /paste
pernyataan teman diskusi saya dulu (berhuruf hitam) 
sedangkan tanggapan saya ( berhuruf biru). Dengan demikian berikut
disampaikan  tanggapan  ini :
 
Kalau kita membandingkan energi listrik dari batu bara dengan
biodiesel/biogas/biobriket, tentu tidak sebanding.
 
Saya balik bertanya,  agar menjadi  sebanding, pasokan listrik biodiesel
harus dibandingkan dengan pembangkit yang mana? 
Uraian saya pada posting sebelumnya, berkaitan dengan posting I Silvia
yang menanyakan kebutuhan listrik
untuk usahanya?. Untuk itu saya  uraikan  perbandingan  biaya pasokan
tenaga listrik  dari PLN (berbasis pada 
mixed fuel dan dengan biaya rata-rata 7 c/kWh dan unsur biaya bahan
bakar dari batubara)  dibandingkan  
dengan unsur biaya bahan bakar dari   biodiesel/biogas (memakai nilai Rp
5500 dan Rp 3500 per liter). 
 
Sayangnya kecenderungan  pemilihan P Wijaya pada   biodiesel  tidak
diberi  uraian berapa rincian biayanya? 
Bahkan pertanyaan saya berapa biaya pengadaan/ produksi  biodiesel tidak
dijawab? 
 
Membandingkan bensin dengan lpg saja, tentu ada kelebihan dan
kekurangannya, baik dari sisi kemudahan, kandungan energinya, serta
unjuk kerja engine. Biogas masih kalah dengan lpg, apalagi kalau
dibandingkan dengan bensin. Setuju saya dapat memahami ini, karena
setiap jenis energi punja cirinya masing-masing.Karena itu perlu
dilakukan pilihan optimal melalui perencanaan sebelum pelaksanaan
pembangunan dimulai (uji kelayakan).
Nah, kalau itung - itungannya semua ke arah itu, maka renewable energy
menjadi lebih mahal dan tidak ekonomis.
Rasa pesimis akan muncul dan tidak ada niatan orang - orang untuk
mengerjakan energi tersebut.
Kalau ekonominya tak cocok, pesimisme  pasti akan berlanjut dan niatan
orangpun pada renewable energy berkurang. 
Untuk itu perlu penelitian dilanjutkan agar  ada trobosan baru  dulu.
Gejala umum (world wide).
 
Rasa optimis muncul melihat banyaknya PLN menggunakan tenaga diesel.
Indonesia Power di Pesanggaran, Denpasar  masih menggunakan tenaga
diesel dan bahan bakar solar dalam jumlah ratusan ribu liter per
harinya. Sedemikian juga dengan di Pemaron. Saya memperkirakan pemakaian
bahan bakar solar pembangkitan listrik di Bali 500 juta liter per tahun
(senilai 3 trilyun Rp per tahun, atau  US $ 319 per tahun, dihitung
dengan Rp 6000 per liter, Rp 9400 per US $ ). Besaran  yang membuat
ngiler atau gegeretan  ( periksa posting saya
Saluran Udara 500 kV Jawa-Bali). Tapi optisme Anda untuk
mensubsitusinya dengan biodiesel, mohon dirinci berapa biayanya dan
berapa penghematan yang akan diperoleh? Berapa lama pelaksanaan
subsitusi dengan biodiesel dapat dilakukan?. Dengan membangun Saluran
Udara 500 kV Jawa-Bali penghematan yang diperoleh 303  juta $ per tahun
( kalau seluruh pembangkitan bahan bakar solar di Bali disubsitusi
dengan pembangkitan batu bara dari Jawa).
 
 Kalau PLN di Nusa Penida perlu 8000 liter per hari. Sedangkan PLTU
tidak bisa dibangun di sembarang tempat. Di Bali, PLTU hanya berpotensi
dibangun di kabupaten Klungkung. Tapi mungkin pula di Karangasem atau
lokasi lain. Perlu survai,  panjang jaringan transmisinya lebih pendek
dari pada bila dibangun di Buleleng Barat . Kalau di Buleleng sebenarnya
potensi itu ada, namun PLN harus membuat jaringan yang baru untuk
mensuplai beban ke Bali Selatan. Cuaca yang jelek menyebabkan pasokan
batubara terhambat sehingga mengganggu pembangkitan energi
listrik.Pasokan batubara masalah manajemen  logisitik, security of
supply tergantung pada penetapan besar jumlah cadangan memenuhui
kebutuhan untuk pemakaian ,misalnya satu atau dua bulan di musim panca
roba dan mungkin cukup 3 minggu di musim tenang. Jepang yang impor
batubara 178 juta ton ( 2006)  dari luar, melalui Laut Cina yang lebih
ganas, tak mengalami masalah pasokan batubara. Buntutnya, Direktur
pembangkitan PLN terpaksa melepaskan jabatan. No comment, sebelum ada
kejelasan mengenai kesempatan pembelaan diri pejabat terkait.
 
Harga biodiesel tergantung pada bagaimana mekanisme kita di hulu dan
nilai kalor yang dihasilkan. Nah, kalau pembangkit listrik
dikelilingi oleh sumber bahan bakarnya, maka tidak akan ada kendala
dalam suplai bahan bakar. Nilai kalor biodiesel bisa lebih tinggi 
daripada solar (tergantung bahan baku). Kalau yang dari palm oil, jelas
lebih rendah dibandingkan solar, namun biodiesel dari jatropha, kemiri
terlebih dari camplung, nilai kalornya lebih tinggi dari solar.
Hasilnya, sfc engine menjadi 0,26 liter per kWh. 
Ada penghematan bahan bakar, terlebih kalau putaran dinaikkan, maka sfc
menjadi 0,24 liter per kWh.
Setuju. Tapi berapa harganya, please quantify? Apakah saran P Wijaya
untuk pengembangan biogas/biodiesel  memberikan 
uraian nilai ke-ekonomiannya?
 
Nilai tambah dari renewable energy adalah sebagai berikut:
1. marginal area bisa diubah menjadi lahan produktif 
2. penghasilan petani penggarap ataupun pemilik lahan xx juta rupiah per
tahun
3. lahan yang semula kurus, secara bertahap menjadi lebih subur
4. meningkatnya daya dukung dan daya serap tanah dan daur hidrologi
5. selain biodiesel, wilayah ini juga menghasilkan biogas dan biobriket
(yang nilai kalornya lebih tinggi dari batu bara)
   dan lainnya, seperti pakan ternak, pupuk organik, dan hasil samping
lainnya
6. meningkatnya skill petani
7. transfer teknologi 
8. penurunan emisi kabon, dll.
 
Nah, kalau semua di atas bisa dipertahankan, maka lambat laun akan:
9. wilayah yang semula tidak ada aliran listriknya, secara bertahap bisa
menghasilkan energi listrik
   (akan diuji coba oleh mbak Viebeke dan IAA nya)
10. sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan bisa dibangun di sana,
dll. 
 
Setuju mohon dihitung berapa nilai Kwantifikasinya nya dulu. Kita tunggu
hasil uji cobanya. 
Kalau  ada swasta yang mau mencoba bagus, untung-rugi-nya menjadi
milik-risiko mereka. 
Karena itu saya usulkan pilot project dibiayai pemerintah untuk menguji
kelayakannya.
Rakjat petani kecil dilibatkan setelah jelas kepastian manfaatnya bagi
mereka.
 
Sekali lagi, ini perlu dukungan semua pihak.
Dukungan pasti akan diperoleh kalau kinerjanya bagus.Malahan akan
berebutan !
 
Nah, kira - kira berapa nilai rupiah dari item 1 sampai 8 dan 9 sampai
10 di atas? 
Lalu berapa nilai rupiah CSR sebuah  pertambangan batu bara? 
Berapa nilai kerusakan alam (baik daratan, daur hidrologi dan udara)
yang diakibatkan oleh penambangan tersebut?
 
Tolong, ada yang bisa menghitung dengan tepat?
 
Pertanyaan dan saran bagus. Tugas pemerintahan, seperti Kementeriaan
Lingkungan Hidup untuk menghitungnya
(aspek makroekonomi), pengusaha swasta lebih fokus mikroekonomi-nya.Atau
minta Fakultas Ekonomi Udayana.
 
SALAM.
Nengah Sudja.

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of WIJAYA KUSUMA
Sent: Monday, January 14, 2008 6:23 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara


Pak Nengah Sudja dan saudara semuanya ysh,
 
Kalau kita membandingkan energi listrik dari batu bara dengan
biodiesel/biogas/biobriket, tentu tidak sebanding.
 
Membandingkan bensin dengan lpg saja, tentu ada kelebihan dan
kekurangannya, baik dari sisi kemudahan, kandungan energinya, serta
unjuk kerja engine. Biogas masih kalah dengan lpg, apalagi kalau
dibandingkan dengan bensin. 
Nah, kalau itung - itungannya semua ke arah itu, maka renewable energy
menjadi lebih mahal dan tidak ekonomis.
Rasa pesimis akan muncul dan tidak ada niatan orang - orang untuk
mengerjakan energi tersebut.
 
Rasa optimis muncul melihat banyaknya PLN menggunakan tenaga diesel.
Indonesia Power di Pesanggaran, Denpasar  masih menggunakan tenaga
diesel dan bahan bakar solar dalam jumlah ratusan ribu liter per
harinya. Sedemikian juga dengan di Pemaron. Kalau PLN di Nusa Penida
perlu 8000 liter per hari. Sedangkan PLTU tidak bisa dibangun di
sembarang tempat. Di Bali, PLTU hanya berpotensi dibangun di kabupaten
Klungkung. Kalau di Buleleng sebenarnya potensi itu ada, namun PLN harus
membuat jaringan yang baru untuk mensuplai beban ke Bali Selatan. Cuaca
yang jelek menyebabkan pasokan batubara terhambat sehingga mengganggu
pembangkitan energi listrik. Buntutnya, Direktur pembangkitan PLN
terpaksa melepaskan jabatan. 
 
Harga biodiesel tergantung pada bagaimana mekanisme kita di hulu dan
nilai kalor yang dihasilkan. Nah, kalau pembangkit listrik
dikelilingi oleh sumber bahan bakarnya, maka tidak akan ada kendala
dalam suplai bahan bakar. Nilai kalor biodiesel bisa lebih tinggi 
daripada solar (tergantung bahan baku). Kalau yang dari palm oil, jelas
lebih rendah dibandingkan solar, namun biodiesel dari jatropha, kemiri
terlebih dari camplung, nilai kalornya lebih tinggi dari solar.
Hasilnya, sfc engine menjadi 0,26 liter per kWh. 
Ada penghematan bahan bakar, terlebih kalau putaran dinaikkan, maka sfc
menjadi 0,24 liter per kWh.
 
Nilai tambah dari renewable energy adalah sebagai berikut:
1. marginal area bisa diubah menjadi lahan produktif 
2. penghasilan petani penggarap ataupun pemilik lahan xx juta rupiah per
tahun
3. lahan yang semula kurus, secara bertahap menjadi lebih subur
4. meningkatnya daya dukung dan daya serap tanah dan daur hidrologi
5. selain biodiesel, wilayah ini juga menghasilkan biogas dan biobriket
(yang nilai kalornya lebih tinggi dari batu bara)
   dan lainnya, seperti pakan ternak, pupuk organik, dan hasil samping
lainnya
6. meningkatnya skill petani
7. transfer teknologi 
8. penurunan emisi kabon, dll.
 
Nah, kalau semua di atas bisa dipertahankan, maka lambat laun akan:
9. wilayah yang semula tidak ada aliran listriknya, secara bertahap bisa
menghasilkan energi listrik
   (akan diuji coba oleh mbak Viebeke dan IAA nya)
10. sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan bisa dibangun di sana,
dll. 
 
Sekali lagi, ini perlu dukungan semua pihak.
 
Nah, kira - kira berapa nilai rupiah dari item 1 sampai 8 dan 9 sampai
10 di atas? 
Lalu berapa nilai rupiah CSR sebuah pertambangan batu bara? 
Berapa nilai kerusakan alam (baik daratan, daur hidrologi dan udara)
yang diakibatkan oleh penambangan tersebut?
 
Tolong, ada yang bisa menghitung dengan tepat?
 
Salam,
 
Wijaya.
 
 


__________ NOD32 2788 (20080113) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


<<faint_grain1.jpg>>

Kirim email ke