Apasih yang akan dijajjikan Rakyat?, sampai saat ini kita cuma terpukau dengan 
nama2 calon. Sudah lebih dari 50 tahun tak ada hal yang baru lagi. Bosan...ah!

Thom Lengkey
  ----- Original Message ----- 
  From: Dudik M 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, February 20, 2008 10:31 AM
  Subject: [bali] Re: Kandidat Gubernur bali


  saya mengikuti disekitar lingkungan, perkembangan kandidat DK1 dan 2 dari 
PDIP dan Golkar yg akan berkoalisi dgn KBD? ternyata kurang menjanjikan, kalau 
ada calon alternatif kemungkinan besar kedua kandidat dari parpol besar itu 
akan kalah...

  di daerah saya, denpasar selatan, dimana kekuatan golkar dan pdip hampir 
berimbang malah sudah banyak muncul guyonan untuk tidak memilih calon-calon 
dari kedua parpol itu...karena ternyata... kalau jadi cbs berpasangan dengan 
suetha maka akan terjadi kombinasi yg sama dengan calon pdip pastika puspayoga  
yaitu feodal/puri dengan angkatan...

  isu terakhir winasa alit putra akan membentuk bali harmoni, sekarang kubu 
winasa dan alit putra lagi mendekati parpol di kbd agar bisa mengajukan calon

  kalau skenario ini terwujud, kemungkinan besar paket winasa akan bersaing 
ketat dengan paket pastika 

  pilihan yang sulit... karena ketiga paket calon adalah kombinasi birokrat dan 
angkatan... pertanyaan  saya apakah kita percaya birokrat kita bersih? tidak 
larut dalam sistim yg korup? begitu juga angkatan... sampai-sampai jajaran ini 
pernah dibilang salah satu yg terkorup....

  dudik
  The real freedome is free from dome 



  ----- Original Message ----
  From: Frans freitas <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Tuesday, February 19, 2008 9:01:55 PM
  Subject: [bali] Re: Kandidat Gubernur bali


  Benar saya dulu tinggal di Jalan Melur No.5 Singaraja, tetangganya Gus V 
Music Studio. Saya dululah yang ngetol beritakan grup band anak-anak bentukan V 
Music Studio. Saya bangga, Pak Wijaya punya keberanian masuk dalam duri-duri 
politik. Saya yakin Pak Wijaya sudah rasakan duri-duri politik itu.
  Saya bangga bila, keikutsertaan Pak Wijaya di konvensi Golkar bukan mencari 
kemenangan semata, melainkan ingin memperoleh sebuah pengalaman politik dan 
ingin tahu bagaimana orang politik bertarung dalam arena politik. Karena saya 
sendiri sudah cukup lama melalangbuana di dunia politik, habitat politik saya 
yang dulu bukan lagi level pilgub tapi sudah masuk level lebih tinggi bagaimana 
membentuk sebuah negara.
  Kini saya sebagai orang independent dan saya berharap Pak Wijaya juga sama 
seperti saya, kita berharap ke depan ada sebuah koridor politik bagi kaum 
intelektual yang tidak berada dalam areal politik yang penuh duri itu. Sehingga 
kaum intelektual yang secara kompetensi lebih mampu dari orang politik bisa 
ikut bertarung dalam sebuah perebutan tahta kekuasaan. Yang saya maksud, mari 
kita sama-sama memperjuangkan payung hukum bagi kandidat independen. Trim's
  Salam buat semua teman-teman yang sempat membaca komentar saya ini. semoga 
tidak menyinggung perasaan melainkan sebagai wahana untuk berdiskusi secara 
intelektual. 

  Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Bapak / Ibu Yth.
    Sebelumnya salam untuk pak Frans, apa benar tetangga saya di Kaliuntu 
Singaraja? Adik saya V Studio Musik Singaraja.

    Terima kasih atas dukungannya. Saya terus terang masuk dalam konvensi 
Partai Golkar, dengan perhitungan kalah.
    Sebenarnya pendaftaran resmi untuk Konvensi Partai Golkar ditutup tanggal 
24 Januari 2008.
    Namun, oleh DPP diminta diperpanjang hingga tanggal 5 Februari 2008.
    Saat diperpanjang inilah, muncul spekulasi bahwa DPP ingin memasukkan 
calonnya, terlebih pak CBS dulu adalah pendukung 
    Akbar Tanjung.

    Hingga tanggal 8 Februari 2008, ada dua kubu yang siap berseteru di 
konvensi ini. Satu, adalah aspirasi DPP dan satu lagi aspirasi 
    DPD Bali. 

    Metoda pemungutan suara adalah voting block, sehingga hanya 4 orang sebagai 
penentu kemenangan Konvensi, yakni
    1 orang (dari sayap partai mewakili 10 orang), 1 orang (dari DPP mewakili 
40 orang), 1 orang (dari DPD Kabupaten/Kodya mewakili 30 orang) dan 1 orang 
(dari DPD Bali mewakili 20 orang). Memang demokratis, tetapi demokrasi secara 
perwakilan.

    Akibatnya bisa ditebak, semua kalah. Dan hal ini sudah disampaikan kepada 
saya saat mau mendaftar Konvensi.

    Kita bukan orang politik, sehingga bagi saya kalah dan menang bukanlah 
suatu target untuk tahun ini.
    Dalam konvensi tersebut, kita bisa belajar bagaimana mesin suatu partai 
politik bekerja, sehingga kalau tahun yang akan datang para independent boleh 
bertarung, maka kita bisa mengatasi mesin politik partai tersebut.

    Saya akan terus berjuang untuk masyarakat Bali. Jadi, sebelum ada keputusan 
KPUD Bali tentang Calon Gubernur Bali periode 2008-2013, maka saya tidak akan 
berhenti sampai di sini.

    Saya mohon dukungannya, semoga kita bisa mewujudkan cita - cita ini.

    Salam,

    Wijaya.




------------------------------------------------------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.




------------------------------------------------------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 

Kirim email ke