Rahajeng Bli Kiwi dan semetons, Sayapun selalu berpikir, kenapa perusahaan plat merah itu selalu merugi dan merugi. Logika orang belog seperti saya, kok bisa-bisanya toko monopoli itu merugi (Maaf, saya tidak/ belum menemukan kata yang tepat selain monopoli). Wong jelas-jelas kalo beli rokok semua ke toko plat merah itu. Ya, pada akhirnya saya akan kembali ke titik seperti pemaparan Pak Nengah Sudja dan mendorong saya untuk ikut bergerak (nantinya) seperti ujaran Bli Kiwi.
Rahajeng, ngurah beni setiawan http://ngurah-setiawan.blogspot.com/ P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to ----- Original Message ---- From: gdp <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, May 26, 2008 8:58:30 AM Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. Yth rekan2, Dari yang saya amati dan pernah alami, kasus dengan pola-pola seperti ini bisa terjadi dimana-mana, tidak hanya di PLN, juga terjadi di Pertamina, PDAM, dan bidang-bidang lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Publik selalu dirugikan karena pada akhirnya menanggung semua beban yang ada. Yang begini HARUS KITA LAWAN ! tentunya dengan cara-cara yang baik dan elegan. Salam, Kiwi ----- Original Message ----- From: Nengah Sudja To: [email protected] Sent: Sunday, May 25, 2008 6:23 PM Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. Yth.Ibu Silvia,Pak Made Wirata, Thomas Lengkey dan Para Rekan Milis LP3B, Pengamatansaya, pembangunan PLTU Celukan Bawang telah dilakukan tanpa mempertimbangkan kaedah perencanaan sistem dalam upaya pencarian perolehan solusi optimal, biaya termurah (least cost) guna memenuhui kebutuhan listrik jangka panjang Pulau Bali. Cobatanyakan, diperiksa apakah pembangunan itu telah dilakukan melalui proses perencanaan (didasarkan studi kelayakan dengan pertimbangkan aspek teknik, ekonomi, sosial dan masalah lingkungan ). Apakah ijin pembangunannya telah memperhatikan pandangan hidup di masyarakat, apa ada dengar pendapat dengan masyarakat? Padahal setiap keputusan publik seyogyanya berlandaskan pada asas pencapaian efisiensi dan keadilan bagi masyarakat? Seharusnya kita belajar dari kegagalan pembangunan PLTGU Pemaron yang tak dilandasi studi kelayakan yang memadai dan kini mengulanginya kembali dengan PLTU Celukan Bawang! Rencanapembangunan PLTU Celukan Bawang dilakukan karena PLN (sebagai pengemban penyediaan ketenagalistrikan di tanah air) yang seharusnya bekerja secara professional telah ditundukkan oleh para politisi /pedagang, untuk memilih solusi mahal yang menguntungkan investor. Konsumensengaja dikorbankan secara tidak adil untuk membayar listrik yang mahal. Solusioptimal yang saya usulkan untuk memenuhui kebutuhan listrik Bali adalah dengan menghidupkan kembali rencana pembangunan saluran udara transmisi 500 kV Jawa-Bali (dari PLTU Paiton sampai ke sekitar Gardu Induk di Kapal/Denpasar, periksa Lampiran). Dengan biaya 278 juta US$ pasokan listrik di Bali dapat dipenuhui untuk jangka waktu 12 -15 tahun kedepan tanpa beban polusi dari PLTU Batubara dan penghematan 500 juta liter minyak setiap tahun ( bernilai lebih dari 4 tilyun Rupiah atau 440 juta US$ per tahun). Lampiranini telah saya sampaikan pada Hari Listrik Oktober 2007 kepada Menteri ESDM/ Dijen LEB. Tapi ternyata kepentingan investor lebih diperhatikan daripada konsumen. Begitulahkeputusan publik di Negara ini m asih tidak dilakukan secara rasional berlandaskan kekuatan argumentasi,dengan menggunakan power of reasoning. Denganini, saya mengundang para rekan,akademisi, pemerhati kepentingan masyarakat untuk melakukan diskusi mengenai masalah ketenagalistrikan di Bali dan bangkit melawan keputusan publik yang tidak rasional, jelas merugikan masyarakat. SALAM. NengahSudja. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, May 25, 2008 4:42 AM To: [email protected] Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines Hallo Pak Made Wirata! Di tahun 1994 saya mendapat tugas untuk menghitung keseluruhan "Wirkungsgrad der gesamten Anlage" (tech. efficiency) dari Kraftwerk Rostock KNG mbH dan saya mendapat Training langsung dari ABB-Swedia di Rostock khusus untuk penyaringan gas-cole (Rauchgasentstickungsanlage und Rauchgasentschwefelungsanlage) dengan system tegangan tinggi (Hochspannungssystem). Dan Technik yang kami dapat, pada waktu itu adalah technik yang termodern dan sampai sekarang m asih diakui keunggulannya. PLTB Rostock ini pada waktu dibangun, merupakan PLTB yang termodern didunia, sehingga saya kira cukup untuk menjadi standard bagi PLTB yang baru dibangun. Silahkan baca lebih jelas, di Link ini (bahasa Jerman) www.kraftwerk-rostock.de Dari penjelasan Pak Direktur PLN itu, sayapun akan m asih bertanya-tanya seperti pak Made, Apa sebenarnya yang dimaksud? " dia membantah > dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir > yang sudah > tdk masalah katanya." Perkataan yang sangat kurang memuaskan dan tidak membawa masyarakat menjadi pintar, sebenarnya masyarakat musti di berikan informasi yang cukup dan dapat dimengerti. Masyarakat harus mendapat jaminan, bahwa kesehatan mereka tidak akan terganggu atau tumbuh-tumbuhan tidak hanya disekitar PL bahkan sampai puluhan atau bahkan ratusan kilometer tidak akan terganggu. Jadi jika ada perubahan Ecosystem masyarakat dan para ahlipun dapat cepat bertindak. Begitu juga dari pihak PLN. Oya ...bagaimana pengalaman pak Made dengan PLTD di Pemaron? Salam Thomas Lengkey ----- Original Message ----- From: "Made Wirata" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, May 23, 2008 9:15 AM Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines > Mbak Silvia, > > skedar info: saya skitar sebulan lalu kebetulan ada pertemuan di Bandung > dengan salah > seorang Direktur PLN yang bertanggung jawab untuk kawasan non Jawa > termasuk dalam > pembangunan 10rb MW, menurut dia di Bali yang sudah konfirm / segera > dilaksanakan > adalah PLTG 2x100MW di daerah telukan bawang, dimana BBM-nya dari Coal. > Saya sempat > menanyakan kekhawatiran tentang polusi yang ditimbulkan disekitarnya, dia > membantah > dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir > yang sudah > tdk masalah katanya. > > Ditempat lainnya sekitar Tianyar juga m asih ada plan untuk itu, tapi > belakangan > pelaksanaannya. > > Terima k asih > > Made Wirata > -- > Open WebMail Project (http://openwebmail.org) > > > ---------- Original Message ----------- > From: "Kubu Lalang" < kubu-lalang @cu-media.com> > To: <[email protected]> > Sent: Thu, 22 May 2008 11:56:45 +0200 (W. Europe Daylight Time) > Subject: [bali] quit coal - greenpeace in the Philippines > >> Dear friends, >> the rainbow warrior ship of Greenpeace is on the Philippines to fight >> against coal fired power plants. They are on the tour in South East Asia . >> Following some links with information. What about Bali ? Still planning >> firing coal in Berombong???? >> >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/quit-coal/ >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/rainbow-warrior-docks-at-albay >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/thousands-protest-against-plan >> >> Salam hangat dari Austria , >> Silvia. > ------- End of Original Message ------- > > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia . > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia . Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
