Yth. Rekan2, bicara soal lingkungan, secara pribadi saya masih ragu, mungkin karena belum pernah lihat hasilnya seperti apa. Apakah rekan-rekan ada yang funya pra FS dan FS nya?, perlu diwaspadai kadang-kadang investor itu nakal, cuman ambil FS nya daerah lain kmudian dijiplak disesuaikan, lalu minta persetujuan lingkungan stempat (beberapa orang yang pro) untuk ikutan tandatangan. Apakah misalnya debu batubara yang kluar dari cerobong nantinya tidak dibawa angin menyebar kemana-mana? dan sejauh mana menerima dampaknya?, yang katanya saat ini sudah menerapkan saringan yang canggih?.
Kmudian satu lagi, bahwa daerah telukan bawang dengan tempat wisata skitarnya tidak begitu jauh, contoh lovina saja masih dibawah radius 50km. kalo memang dipaksakan musti dibangun PLTU di Bali, kenapa misalnya tidak dipasang di daerah timur saja seperti tianyar yang agak sepi penduduk dan jauh dari daerah pariwisata? Suksma Made W -- Open WebMail Project (http://openwebmail.org) ---------- Original Message ----------- From: "Nengah Sudja" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Fri, 6 Jun 2008 18:35:43 +0700 Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > Yth. Pak Nyoman Suwela dan para rekan milis, > > Yang perlu ditanyakan mengenai pembangunan PLTU Celukan Bawang, apakah > keputusan menyangkut kepentingan public itu : efisien dan adil? > Efisien dalam kaitannya dengan apakah pembangunan itu merupakan solusi > optimal/termurah (tanpa melanggar persyaratan seperti lingkungan)? > Adil dalam kaitannya dengan berapa harga listrik yang akan dibayar ke > kosumen? Mengingat PLTU ini dibangun oleh pihak swasta !. > Untuk itu harus ada pertanggungjawaban kepada masyarakat; tidak pantas harga > listrik ditetapkan bersama oleh investor dan investor untuk kemudian menjual > listriknya ke masyarakat. > > Sementara demikian dulu. > > SALAM. > Nengah Sudja. > > _____ > > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > nyoman suwela > Sent: Thursday, June 05, 2008 1:54 PM > To: [email protected] > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > > Ini baru berita. Waktu pembangunan PLTGU di Pemaron, PHRI (Perhimpunan hotel > dan Restoran Indonesia) Cabang Buleleng protes. Alasannya, Desa Pemaron > adalah masuk dalam kawasan wisata Lovina, yang ditetapkan dengan Perda Bali, > dan Celukan Bawang ditetapkan sebagai Kawasan Industri. Pembangunan PLTGU di > Pemaron dikatakan melanggar Perda dan dampak lingkungannya akan mengancam > uisaha pariwisata yang telah ada, karena diakui daya tarik utama kawasan itu > adalah laut dengan segala kekayaannya. Belum lagi kebisingan yang > ditimbulkan oleh PLTGU itu dan pencemaran udaranya. Dari demo sampai melalui > jalur hukum. > Apa sikap DPRD? DPRD diharapkan bersuara untuk menyatakan bahwa pembangunan > ini melanggar Perda dan merugikan masyarakat yang kebanyakan lokal yang > telah mencari makan disektor pariwisata. DPRD diam. Proyek jalan terus. > Sekarang ada rencana pembangunan pembangkit listrik di Celukan Bawang, yang > dari segi lokasinya memang sudah berada di kawasan industri, terlepas dari > dampak lingkungannya. Apa kata DPRD? DPRD mengancam untuk menolak. > He...he... ini sich lelucon yang tidak lucu lagi. It must be something fishy > there. It is not a funny farce. Well, that is life. My grandmom told me one > day that money is not everything but it helps. What is impossible can be > made possible. So, let see from the funny side otherwise you will have a > heart attack. > C U mate. > NS > > --- On Wed, 6/4/08, lengkey <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: lengkey <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > To: [email protected] > Date: Wednesday, June 4, 2008, 3:25 PM > [Buleleng.Seni Budaya] 23.07.2007 12:28 > DPRD Buleleng Ancam Tolak PLTU Celukan Bawang > Singaraja, Acaman penolakan terhadap pembangunan PLTU tersebut diungkapkan > anggota Komisi B DPRD Buleleng, Putu Suwija. > > "Dampak lingkungan yang bisa timbul dari rencana pembangunan PLTU di celukan > bawang adalah matinya biota laut, padahal laut merupakan salah satu andalan > pariwisata Buleleng, " ungkap Suwija. > > Menyikapi ancaman penolakan itu, Assiten Dua Setda Buleleng, Drs. Ketut > Gelgel Ariadi mengatakan, rencana pembangunan PLTU di celukan bawang tinggal > direalisasikan saja. Kajian dampak lingkungan sudah selesai dikerjakan. > > "Sosialisasi sudah kita lakukan dan masyarakat di sekitar lokasi sudah > menerima rencana pembanggunan PLTU tersebut,"jelasnya. > > Informasi yang diperoleh beritabali.com di lokasi proyek PLTU di Dusun > Punggukan, Desa Celukan Bawang menyebutkan, Investor Proyek PLTU tersebut > tengah mencari lahan, selain lahan utama. Warga di sekitar lokasi juga masih > pro dan kontra menyikapi proyek itu. (sas) > > Dikutip dari Beritabali.com > > Salam > Th. Lengkey > > --- Original Message ----- > From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Asana Viebeke Lengkong > To: <mailto:[email protected]> [email protected] > Sent: Wednesday, June 04, 2008 5:40 AM > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > > Pak Man Suwela, > > Banyak sekali yang patah hati ya jadi bangsa Indonesia.... kita keluarkan > banyak sekali dana lo untuk pesta to celebrate Kebangkitan Nasional.... > gimana bangkit? Bangun tidur saja belum????? > > Yang sabar ya Pak.... > > vieb > ----- Original Message ----- > From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> nyoman suwela > To: <mailto:[email protected]> [email protected] > Sent: Wednesday, June 04, 2008 10:35 AM > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > > Rekan Milis, > Waktu rencana pembangunan PLTGU Pemaron, kami dari PHRI Buleleng sudah > menentang dan meminta kepada Pemerintah agar lokasinya dipindahkan ke > Celukan Bawang karena Celukan Bawang telah ditetapkan sebagai kawasan > industri dan Pemaron yang masuk kawasan Lovina adalah kawasan pariwisata. > Para pakar listrik, Pak Sudja diantaranya telah memaparkan bahwa lokasi di > Pemaron secara ekonomi tidak menguntungkan karena pemakai listrik justru > terbanyak di selatan, disamping dampak negatip terhadap lingkungan dan > pariwisata. Protes dari demo sampai PTUN, akhirnya "anjing menggonggong > kafilah berlalu". Kami masih ingat lelucon Pak Sudja "orang mencari cincin > yang hilang dibawah tiang penerangan jalan. Ketika ditanya dimana cincinnya > hilang, dirumah katanya, tetapi mengapa dicari dibawah lampu penerangan > jalan, karena disana ada lampu, katanya". Bahkan proyek itu disebuit proyek > "CC" alias "cagcag cigcig". He ... he...., sampai sekarang kami masih > tertawa. Sekarang bahkan akan dibangun Power plant di Celukan Bawang dengan > bahan bakar batubara. Ya, kita cuma siap-siap sesak nafas. Lalu apa yang > bisa kami lalukan? Kami masih ingat filsafat teman-teman: "If you fight you > may win or lose, but if you do not fight you have lost already". And now > should we fight? > Baru-baru ini, kami sebagai pengelola hotel di Lovina, kaget tiba-tiba > rekening listrik kami double. Apa pilihan kami? Bayar atau tidak? Tidak, > listrik dicabut, pilihannya pakai lampu sentir atau " sundih alias prakpak, > atau lobakan". Kami pilih bayar dengan harapan pelayanan dari PLN akan lebih > baik. Tetapi apa yang kami dapat? Pemadaman selama 12 jam. Kami juga > mengelola warung. Daging dalam freezer membusuk, es krim meleleh, komputer > untuk bar code kasir tidak jalan, pelanggan protes. Mau protes kemana? > Kepada yang Maha kuasa, tidak tahu alamatnya. > Kemudian diadakan pertemuan antara PHRI dengan PLN. Kami sampaikan kalau > listrik mati, apa hak kami sebagai pelanggan dan pilihan apa yang kami > miliki? Dgn enteng PLN jawab bahwa pilihan yang kami miliki adalah langganan > listrik dengan PLN atau pakai genset sendiri. Katanya kalau listrik pada > 3X24 jam baru ada konpensasi. Kemungkinan listrik padam 3X24 jam kan sangat > tipis, kecuali bencana alam. Kalau bencana alam, PLN tidak akan beri > konpensasi karena "force mayure". Ujung-ujungnya, RAKYAT JUGA YANG HARUS > BERKORBAN. Tidak apa-apa, kita kan sudah makmur, wong wakil-wakil kita saja > sudah makmur, apalagi yang diwakili. He---he.... Laughter is the best > medicine. Cheerful mate. > NS > > --- On Mon, 5/26/08, gdp <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: gdp <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > To: [email protected] > Date: Monday, May 26, 2008, 8:58 AM > Yth rekan2, > Dari yang saya amati dan pernah alami, kasus dengan pola-pola seperti ini > bisa terjadi dimana-mana, tidak hanya di PLN, juga terjadi di Pertamina, > PDAM, dan bidang-bidang lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. > Publik selalu dirugikan karena pada akhirnya menanggung semua beban yang > ada. > > Yang begini HARUS KITA LAWAN ! tentunya dengan cara-cara yang baik dan > elegan. > > Salam, > Kiwi > > ----- Original Message ----- > From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Nengah Sudja > To: <mailto:[email protected]> [email protected] > Sent: Sunday, May 25, 2008 6:23 PM > Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang. > > Yth. Ibu Silvia,Pak Made Wirata, Thomas Lengkey dan Para Rekan Milis LP3B, > > Pengamatan saya, pembangunan PLTU Celukan Bawang telah dilakukan tanpa > mempertimbangkan kaedah perencanaan sistem dalam upaya pencarian perolehan > solusi optimal, biaya termurah (least cost) guna memenuhui kebutuhan listrik > jangka panjang Pulau Bali. > > Coba tanyakan, diperiksa apakah pembangunan itu telah dilakukan melalui > proses perencanaan (didasarkan studi kelayakan dengan pertimbangkan aspek > teknik, ekonomi, sosial dan masalah lingkungan ). Apakah ijin pembangunannya > telah memperhatikan pandangan hidup di masyarakat, apa ada dengar pendapat > dengan masyarakat? Padahal setiap keputusan publik seyogyanya berlandaskan > pada asas pencapaian efisiensi dan keadilan bagi masyarakat? Seharusnya > kita belajar dari kegagalan pembangunan PLTGU Pemaron yang tak dilandasi > studi kelayakan yang memadai dan kini mengulanginya kembali dengan PLTU > Celukan Bawang! > > Rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang dilakukan karena PLN (sebagai > pengemban penyediaan ketenagalistrikan di tanah air) yang seharusnya bekerja > secara professional telah ditundukkan oleh para politisi /pedagang, untuk > memilih solusi mahal yang menguntungkan investor. Konsumen sengaja > dikorbankan secara tidak adil untuk membayar listrik yang mahal. > > Solusi optimal yang saya usulkan untuk memenuhui kebutuhan listrik Bali > adalah dengan menghidupkan kembali rencana pembangunan saluran udara > transmisi 500 kV Jawa-Bali (dari PLTU Paiton sampai ke sekitar Gardu Induk > di Kapal/Denpasar, periksa Lampiran). Dengan biaya 278 juta US$ pasokan > listrik di Bali dapat dipenuhui untuk jangka waktu 12 -15 tahun kedepan > tanpa beban polusi dari PLTU Batubara dan penghematan 500 juta liter minyak > setiap tahun ( bernilai lebih dari 4 tilyun Rupiah atau 440 juta US$ per > tahun). > > Lampiran ini telah saya sampaikan pada Hari Listrik Oktober 2007 kepada > Menteri ESDM/ Dijen LEB. Tapi ternyata kepentingan investor lebih > diperhatikan daripada konsumen. > Begitulah keputusan publik di Negara ini m asih tidak dilakukan secara > rasional berlandaskan kekuatan argumentasi,dengan menggunakan power of > reasoning. > > Dengan ini, saya mengundang para rekan,akademisi, pemerhati kepentingan > masyarakat untuk melakukan diskusi mengenai masalah ketenagalistrikan di > Bali dan bangkit melawan keputusan publik yang tidak rasional, jelas > merugikan masyarakat. > > SALAM. > Nengah Sudja. > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Sunday, May 25, 2008 4:42 AM > To: [email protected] > Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines > > Hallo Pak Made Wirata! > > Di tahun 1994 saya mendapat tugas untuk menghitung keseluruhan "Wirkungsgrad > > der gesamten Anlage" (tech. efficiency) dari Kraftwerk Rostock KNG mbH dan > saya mendapat Training langsung dari ABB-Swedia di Rostock khusus untuk > penyaringan gas-cole (Rauchgasentstickungsanlage und > Rauchgasentschwefelungsanlage) > dengan system tegangan tinggi (Hochspannungssystem). > Dan Technik yang kami dapat, pada waktu itu adalah technik yang termodern > dan sampai sekarang m asih diakui keunggulannya. > PLTB Rostock ini pada waktu dibangun, merupakan PLTB yang termodern didunia, > > sehingga saya kira cukup untuk menjadi standard bagi PLTB yang baru > dibangun. > > Silahkan baca lebih jelas, di Link ini (bahasa Jerman) > www.kraftwerk-rostock.de > Dari penjelasan Pak Direktur PLN itu, sayapun akan m asih bertanya-tanya > seperti pak Made, Apa sebenarnya yang dimaksud? > > " dia membantah > > dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir > > yang sudah > > tdk masalah katanya." > > Perkataan yang sangat kurang memuaskan dan tidak membawa masyarakat menjadi > pintar, sebenarnya masyarakat musti di berikan informasi yang cukup dan > dapat dimengerti. > Masyarakat harus mendapat jaminan, bahwa kesehatan mereka tidak akan > terganggu atau tumbuh-tumbuhan tidak hanya disekitar PL bahkan sampai > puluhan atau bahkan ratusan kilometer > tidak akan terganggu. > Jadi jika ada perubahan Ecosystem masyarakat dan para ahlipun dapat cepat > bertindak. Begitu juga dari pihak PLN. > > Oya ...bagaimana pengalaman pak Made dengan PLTD di Pemaron? > > Salam > Thomas Lengkey > > ----- Original Message ----- > From: "Made Wirata" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Friday, May 23, 2008 9:15 AM > Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines > > > Mbak Silvia, > > > > skedar info: saya skitar sebulan lalu kebetulan ada pertemuan di Bandung > > dengan salah > > seorang Direktur PLN yang bertanggung jawab untuk kawasan non Jawa > > termasuk dalam > > pembangunan 10rb MW, menurut dia di Bali yang sudah konfirm / segera > > dilaksanakan > > adalah PLTG 2x100MW di daerah telukan bawang, dimana BBM-nya dari Coal. > > Saya sempat > > menanyakan kekhawatiran tentang polusi yang ditimbulkan disekitarnya, dia > > membantah > > dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir > > yang sudah > > tdk masalah katanya. > > > > Ditempat lainnya sekitar Tianyar juga m asih ada plan untuk itu, tapi > > belakangan > > pelaksanaannya. > > > > Terima k asih > > > > Made Wirata > > -- > > Open WebMail Project (http://openwebmail.org) > > > > > > ---------- Original Message ----------- > > From: "Kubu Lalang" < kubu-lalang @cu-media.com> > > To: <[email protected]> > > Sent: Thu, 22 May 2008 11:56:45 +0200 (W. Europe Daylight Time) > > Subject: [bali] quit coal - greenpeace in the Philippines > > > >> Dear friends, > >> the rainbow warrior ship of Greenpeace is on the Philippines to fight > >> against coal fired power plants. They are on the tour in South East Asia > . > >> Following some links with information. What about Bali ? Still planning > >> firing coal in Berombong???? > >> > >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/quit-coal/ > >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/rainbow-warrior-docks-at-albay > >> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/thousands-protest-against-plan > >> > >> Salam hangat dari Austria , > >> Silvia. > > ------- End of Original Message ------- > > > > > > -- > > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia . > > > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia . > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> ------- End of Original Message ------- -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
