Rekan Milis,
   Waktu rencana pembangunan PLTGU Pemaron, kami dari PHRI Buleleng 
sudah menentang dan meminta kepada Pemerintah agar lokasinya dipindahkan ke 
Celukan Bawang karena Celukan Bawang telah ditetapkan sebagai kawasan industri 
dan Pemaron yang masuk kawasan Lovina adalah kawasan pariwisata. Para pakar 
listrik, Pak Sudja diantaranya telah memaparkan bahwa lokasi di Pemaron secara 
ekonomi tidak menguntungkan karena pemakai listrik justru terbanyak di selatan, 
disamping dampak negatip terhadap lingkungan dan pariwisata. Protes dari demo 
sampai PTUN, akhirnya "anjing menggonggong kafilah berlalu". Kami masih ingat 
lelucon Pak Sudja "orang mencari cincin yang hilang dibawah tiang penerangan 
jalan. Ketika ditanya dimana cincinnya hilang, dirumah katanya, tetapi mengapa 
dicari dibawah lampu penerangan jalan, karena disana ada lampu, katanya". 
Bahkan proyek itu disebuit proyek "CC" alias "cagcag cigcig". He ... he...., 
sampai sekarang kami masih tertawa.
 Sekarang bahkan akan dibangun Power plant di Celukan Bawang dengan bahan bakar 
batubara. Ya, kita cuma siap-siap sesak nafas. Lalu apa yang bisa kami lalukan? 
Kami masih ingat filsafat teman-teman: "If you fight you may win or lose, but 
if you do not fight you have lost already". And now should we fight?
   Baru-baru ini, kami sebagai pengelola hotel di Lovina, kaget 
tiba-tiba rekening listrik kami double. Apa pilihan kami? Bayar atau tidak? 
Tidak, listrik dicabut, pilihannya pakai lampu sentir atau " sundih alias 
prakpak, atau lobakan". Kami pilih bayar dengan harapan pelayanan dari PLN akan 
lebih baik. Tetapi apa yang kami dapat? Pemadaman selama 12 jam. Kami juga 
mengelola warung. Daging dalam freezer membusuk, es krim meleleh, komputer 
untuk bar code kasir tidak jalan, pelanggan protes. Mau protes kemana? Kepada 
yang Maha kuasa, tidak tahu alamatnya.
    Kemudian diadakan pertemuan antara PHRI dengan PLN. Kami 
sampaikan kalau listrik mati, apa hak kami sebagai pelanggan dan pilihan apa 
yang kami miliki? Dgn enteng PLN jawab bahwa pilihan yang kami miliki adalah 
langganan listrik dengan PLN atau pakai genset sendiri. Katanya kalau listrik 
pada 3X24 jam baru ada konpensasi.  Kemungkinan listrik padam 3X24 jam kan 
sangat tipis, kecuali bencana alam. Kalau bencana alam, PLN tidak akan beri 
konpensasi karena "force mayure". Ujung-ujungnya, RAKYAT JUGA YANG HARUS 
BERKORBAN. Tidak apa-apa, kita kan sudah makmur, wong wakil-wakil kita saja 
sudah makmur, apalagi yang diwakili. He---he.... Laughter is the best medicine. 
Cheerful mate.
NS


--- On Mon, 5/26/08, gdp <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: gdp <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang.
To: [email protected]
Date: Monday, May 26, 2008, 8:58 AM







Yth rekan2,
Dari yang saya amati dan pernah alami, kasus dengan pola-pola seperti ini bisa 
terjadi dimana-mana, tidak hanya di PLN, juga terjadi di Pertamina, PDAM, dan 
bidang-bidang lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Publik selalu 
dirugikan karena pada akhirnya menanggung semua beban yang ada.
 
Yang begini HARUS KITA LAWAN ! tentunya dengan cara-cara yang baik dan elegan.
 
Salam,
Kiwi
 

----- Original Message ----- 
From: Nengah Sudja 
To: [email protected] 
Sent: Sunday, May 25, 2008 6:23 PM
Subject: [bali] Re: PLTU Celukan Bawang.



Yth. Ibu Silvia,Pak Made Wirata, Thomas Lengkey dan Para Rekan Milis LP3B,
 
Pengamatan saya, pembangunan PLTU Celukan Bawang  telah dilakukan tanpa 
mempertimbangkan kaedah perencanaan sistem dalam upaya pencarian perolehan 
solusi optimal, biaya termurah (least cost) guna memenuhui kebutuhan listrik 
jangka panjang Pulau Bali. 
 
Coba tanyakan, diperiksa  apakah pembangunan itu telah dilakukan melalui 
proses perencanaan (didasarkan studi kelayakan dengan pertimbangkan aspek 
teknik, ekonomi, sosial dan masalah lingkungan ). Apakah ijin pembangunannya 
telah memperhatikan pandangan hidup di masyarakat, apa ada dengar pendapat 
dengan masyarakat? Padahal setiap keputusan publik seyogyanya berlandaskan pada 
asas pencapaian efisiensi  dan keadilan bagi masyarakat? Seharusnya kita 
belajar dari kegagalan pembangunan PLTGU Pemaron yang tak dilandasi studi 
kelayakan yang memadai dan kini mengulanginya kembali dengan PLTU  Celukan 
Bawang!
 
Rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang dilakukan karena PLN (sebagai pengemban 
penyediaan ketenagalistrikan di tanah air) yang seharusnya bekerja secara 
professional telah ditundukkan oleh para politisi /pedagang, untuk memilih 
solusi mahal yang  menguntungkan investor. Konsumen sengaja dikorbankan 
secara tidak adil untuk membayar listrik yang mahal.
 
Solusi optimal yang saya usulkan  untuk memenuhui kebutuhan listrik Bali 
adalah dengan menghidupkan kembali rencana pembangunan saluran udara transmisi 
500 kV Jawa-Bali (dari PLTU Paiton sampai ke sekitar Gardu Induk di 
Kapal/Denpasar, periksa Lampiran). Dengan biaya 278 juta US$ pasokan listrik di 
Bali dapat dipenuhui untuk jangka waktu 12 -15 tahun kedepan tanpa beban polusi 
dari PLTU Batubara dan penghematan 500 juta liter minyak setiap tahun ( 
bernilai lebih dari 4 tilyun Rupiah atau 440 juta US$ per tahun).
  
Lampiran ini telah saya sampaikan pada Hari Listrik Oktober 2007 kepada Menteri 
ESDM/ Dijen LEB. Tapi ternyata kepentingan investor lebih diperhatikan daripada 
konsumen.
Begitulah keputusan publik di Negara ini m asih tidak dilakukan secara rasional 
berlandaskan kekuatan argumentasi,dengan menggunakan power of reasoning.  
 
Dengan ini, saya mengundang para rekan,akademisi, pemerhati kepentingan 
masyarakat untuk melakukan diskusi mengenai masalah ketenagalistrikan di Bali 
dan bangkit melawan keputusan publik yang tidak rasional, jelas merugikan 
masyarakat.
 
SALAM.
Nengah Sudja.
 
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, May 25, 2008 4:42 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines
 
Hallo Pak Made Wirata!
 
Di tahun 1994 saya mendapat tugas untuk menghitung keseluruhan "Wirkungsgrad 
der gesamten Anlage" (tech. efficiency) dari Kraftwerk Rostock KNG mbH dan
saya mendapat Training langsung dari ABB-Swedia di Rostock khusus untuk 
penyaringan gas-cole (Rauchgasentstickungsanlage und 
Rauchgasentschwefelungsanlage)
dengan system tegangan tinggi (Hochspannungssystem).
Dan Technik yang kami dapat, pada waktu itu adalah technik yang termodern 
dan sampai sekarang m asih diakui keunggulannya.
PLTB Rostock ini pada waktu dibangun, merupakan PLTB yang termodern didunia, 
sehingga saya kira cukup untuk menjadi standard bagi PLTB yang baru 
dibangun.
 
Silahkan baca lebih jelas, di Link ini (bahasa Jerman) 
www.kraftwerk-rostock.de
Dari penjelasan Pak Direktur PLN itu, sayapun akan m asih bertanya-tanya 
seperti pak Made, Apa sebenarnya yang dimaksud?
 
" dia membantah
> dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir 
> yang sudah
> tdk masalah katanya."
 
Perkataan yang sangat kurang memuaskan dan tidak membawa masyarakat menjadi 
pintar, sebenarnya masyarakat musti di berikan informasi yang cukup dan 
dapat dimengerti.
Masyarakat harus mendapat jaminan, bahwa kesehatan mereka tidak akan 
terganggu atau tumbuh-tumbuhan tidak hanya disekitar PL bahkan sampai 
puluhan atau bahkan ratusan kilometer
tidak akan terganggu.
Jadi jika ada perubahan Ecosystem masyarakat dan para ahlipun dapat cepat 
bertindak. Begitu juga dari pihak PLN.
 
Oya ...bagaimana pengalaman pak Made dengan PLTD di Pemaron?
 
 
 
Salam
Thomas Lengkey
 
 
 
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: "Made Wirata" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, May 23, 2008 9:15 AM
Subject: [bali] Re: quit coal - greenpeace in the Philippines
 
 
> Mbak Silvia,
>  
> skedar info: saya skitar sebulan lalu kebetulan ada pertemuan di Bandung 
> dengan salah
> seorang Direktur PLN yang bertanggung jawab untuk kawasan non Jawa 
> termasuk dalam
> pembangunan 10rb MW, menurut dia di Bali yang sudah konfirm / segera 
> dilaksanakan
> adalah PLTG 2x100MW di daerah telukan bawang, dimana BBM-nya dari Coal. 
> Saya sempat
> menanyakan kekhawatiran tentang polusi yang ditimbulkan disekitarnya, dia 
> membantah
> dan menambahkan bahwa sudah disaring dengan baik / ada teknologi terakhir 
> yang sudah
> tdk masalah katanya.
>  
> Ditempat lainnya sekitar Tianyar juga m asih ada plan untuk itu, tapi 
> belakangan
> pelaksanaannya.
>  
> Terima k asih
>  
> Made Wirata
> --
> Open WebMail Project (http://openwebmail.org)
>  
>  
> ---------- Original Message -----------
> From: "Kubu Lalang" < kubu-lalang @cu-media.com>
> To: <[email protected]>
> Sent: Thu, 22 May 2008 11:56:45 +0200 (W. Europe Daylight Time)
> Subject: [bali] quit coal - greenpeace in the Philippines
>  
>> Dear friends,
>> the rainbow warrior ship of Greenpeace is on the Philippines to fight
>> against coal fired power plants. They are on the tour in South East 
Asia .
>> Following some links with information. What about Bali ? Still planning
>> firing coal in Berombong????
>>  
>> http://www.greenpeace.org/seasia/en/quit-coal/
>> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/rainbow-warrior-docks-at-albay
>> http://www.greenpeace.org/seasia/en/news/thousands-protest-against-plan
>>  
>> Salam hangat dari Austria ,
>> Silvia.
> ------- End of Original Message -------
>  
>  
> --
> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia .
>  
> Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
> Arsip         : 
http://bali.lp3b.or.id
> Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> 
 
 
--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia .
 
Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>


      

Kirim email ke