Semeton Samian, PLTU Celukan Bawang bukan solusi optimal untuk memenuhi kebutuhan listrik Bali. Bisa diminta PLN/ Pemerintah untuk membuktikannya.
Ada pelanggaran Undang Undang Ketenagaan Listrik No.15/1985, terutama ditinjau dari Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 7. Tindakan terakhir tentu bisa diajukan tuntutan ke pengadilan. Sejarah Pemaron di Lovina berulang lagi, pemakaian preman dan tidak ada penerapan good corporate governance. Lebih baik cari upaya membawakan masalah ini ke DPRD dan Pemerintah Daerah,Gubernur yang baru dipilih. Kita bisa siapkan bahan untuk disampaikan kepada DPRD/Pemerintah. Apa kita akan menghadapi orang buta dan tuli lagi?. Semoga ngak ya! Sekian dulu. SALAM. Nengah Sudja. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Made Wirata Sent: Wednesday, September 10, 2008 8:50 AM To: [email protected]; Ketut Darma Subject: [bali] Re: Betreff: Fw: PLTU Celukan Bawang Mbak Silvia, Gmana khabarnya?, apa sudah di Buleleng atau masih di LN? terima kasih tanggapannya. Saya juga jadi bingung musti usul dengan cara apa menyampaikan ke Pemerintah kabupaten atau provinsi dan juga PLN, supaya prosesnya bener-bener dilalui dengan jujur / dengan semestinya, termasuk sosialisasi dan kajian lingkungan dan pra FS sampai FS yang matang. Apakah cukup dengan rekan-rekan LP3B atau dari bantuan mana?! untuk meluruskan hal ini? sebagai info tambahan : Kt Darma ini rekan deket saya yang keluarga dan kampung halamannya kebetulan di skitar Celukan Bawang, hampir tiap minggu diskusi sama saya dan keluhan serta kekhawatiran tentang ini ada, juga kekhawatiran lainnya dimana kelihatannya Pemerintah kurang peduli sama yang dibawah termasuk tidak peduli untuk memajukan atau cari cara gimana supaya pertanian/perkebunan dan peternakannya bisa berkembang. Saya merasakan juga, walaupun kampung saya agak jauh (skitar 30 km dari Celukan Bawang), kekhawatiran ada pengaruhnya terhadap perkebunan disana. Ada bukti juga ketidak pedulian pemerintah sewaktu proses pengeboran bukit di skitar danau untuk PLTGU (gas bumi di bedugul), dikampung saya yang biasanya banyak air, 5 th kebelakang sangat berkurang sehingga perkebunan/ pertanian merosot jauh. Salam Made Wirata -- Open WebMail Project (http://openwebmail.org) ---------- Original Message ----------- From: "Kubu Lalang" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Tue, 9 Sep 2008 17:34:44 +0800 Subject: [bali] Betreff: Fw: PLTU Celukan Bawang > Terima kasih Pak Made, Pak Ketut Darma, Fabby dan Gede utk info dan reaksi > seperti itu! Saya sudah mulai dari tahun yang lalu kadang2 menulis tentang > cerita itu ke listar kita tentang tidak ada process demokratis dan terbuka, > tidak ada sosialisi apa lagi process transparen dan good and responsible > governance... > Sudah tahun yang lalu saya dengar ada satu orang di daerah Celukan Bawang / > Berombong yang membeli tanah hektar hektaran dari petani2 di tempat dengan > acara nanti menjual ke PLN... > Ada yang bilang ya nanti akan pakai teknologi yang modern, dimana buktinya? > Alatnya mau beli dari Cina, di Cina sendiri polusi dari pembangkit listrik > yang bakar batu bara sudah besar sekali, banyak anak2 sakit paru2 dan tanah > sudah tidak bisa dipakai untuk tanam apa lagi. Lihat linknya yang saya > pernah kirim ke listar http://www.cnn.com/2007/WORLD/asiapcf/11/13/pip.coal > ap/ > > Di Jakarta Post beberapa hari yang lalu ada artikel bilang PLN mau mencari > kredit di Cina utk bangunan itu... > > Caranya yang di Celukan Bawang sama lagi seperti di Pemaron, orang yang di > atas dan calo2 dan preman2 yang ikut ikutan ngurus cepat dan tanpa visi dan > cuma kewatir supaya kantongnya dia sendiri penuh dengan uang dari membangun > proyek besar, orang kecil dikasih "peanuts" dan linkungan dan warisan untuk > generasi depan jadi korban. When will they ever learn? Sewaktu berjuangan > kami masalah PLTGU Pemaron kami sudah tahu, minyaknya lama2 akan terlalu > mahal untuk bakar dengan effisiensi kecil seperti itu. Sekarang mau dibakar > batu bara, cobalah lihat harga batu bara naik, sampai kapan itu akan > effisien? Ya least cost, tapi saya mau tanya lagi apakah di kalkulasi least > cost sudah termasuk effect samping ke lingkungan dan kesehatan masyarakat? > Biasanya ongkos itu yang next generation tentu harus bayar selalu lupa masuk > ke kalkulasi... > > A good definiton of sustainability: > Meeting the needs of the present generation without compromising the ability > of future generations to meet their own needs. > Apakah Buleneng ini yang - selain dari Bali selatan - masih kaya dengan > alam yang bagus dan istimewa memang harusnya jadi "tempat sampah" untuk > Bali? Sama lagi caranya mereka seperti dulu, sama seperti saya tulis tentang > Pemaron beberapa tahun yang lalu - "It could be alleged that North Bali, > being a relatively poor and undeveloped area, with a population, consisting > mainly of fishermen and farmers, that did not have much of a chance to > receive a proper education has not been chosen by chance..." > > Salam dari Buleleng, > Silvia. > > [UTF-8?] [UTF-8?] [UTF-8?] Refuse - Reduce - Reuse - Repair - Recycle > > -------Originalmeldung------- > > Von: Made Wirata > Datum: 08.09.2008 16:33:34 > An: LP3B > Betreff: [bali] Fw: PLTU Celukan Bawang > > Info dari seorang rekan yang daerahnya dijadikan proyek PLTU di sekitar > celukan bawang, > mungkin ada komentar dari rekan-rekan di LP3B yth? > > Suksma > Made Wirata > > ---------- Forwarded Message ----------- > From: i ketut darma <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Thu, 4 Sep 2008 01:37:06 -0700 (PDT) > Subject: PLTU Celukan Bawang > > Beli Made, > Saya barusan pulang hari raya, sekalian melihat perkembangan proyek dimaksud > Peta > lokasi sdh ditetapkan, beberapa kebun kelapa yg subur dg harga buah kelapa > per butir > saat ini Rp 2300 itupun sdh diratakan dg tanah.Transaksi jual belitanahpun > sudah > berlangsung dan menurut info semua dilakukan dibawah tangan. Transaksi > dilakukan > dirumah seorang calo tanah? disaksikan oleh Perbekel setempat.Jadi tdk ada > proses > formal sebagaimana mestinya seperti dihadapan notaris. Jadi memang seperti > pepatah > mengatakan dimana ada gula disana ada semut, tapi semutnya adalah calo > tanah!. > Transaksi dilakukan sangat tertutup, diam-diam, bagi warga yg tidak mengerti > dg di- > iming-imingi uang dilepaslah tanahnya, maklum orang desa, lugu dsbnya. > Sosialisasi > tidaklah ada, sehingga bagaimana dampak lingkungan yg akan terjadi mereka > tdk mengerti, > yg penting duit.....duit, kepada siapa dia jual, dan berapa lagi tnh itu > akan dijual > oleh calo itu, dan kenapa dibawah tangan mereka tak > pedulikan.Termasuk perahu/sampan yg mereka milikipun dibeli calo(sebagian > warga > pencahariannya nelayan). Lantas setelah mereka jual semua mereka mau kerja > apa(sampan > tak lagi punya) terus pindah kemana?.Saking tdk adanya orang yg memberi > pencerahan soal > dampak lingkungan, ramai-ramai warga pindah ke daerah yg hanya berjarak > kira2 400meter > dari ring 1.Sekarang warga masih pegang uang, setelah habis mereka mau > kemana, melaut?, > tdk bisa lagi, beternak juga tdk bisa sebab rumah-rumah mereka berdempetan > spt rmh BTN > (sebelumnya mereka bisa melaut, beternak dibelakang rumahnya). > Bagi yg sedikit mengerti ada beberapa warga yg belum mau melepas tanahnya. > Pernah ada > arahan dari bupati kpd warga yg belum mau menjual tnhnya, yg arahannya agar > warga > menjual tanahnya dg harga tertentu. Komunikasi satu arah, tdk ada tanya > jawab. Akhirnya > warga menemui DPRD.DPRD janji melakukan sidak (karena dia tdk tahu ada pemb. > PLTU?), > sebab rekomendasi pemb. PLTU dilakukan oleh DPRD sebelumnya. > Apa hasil sidaknya, warga tidak mengetahui. > Jadi begitulah Bali (Singaraja khususnya)pembangunan PLTU itu akan menjadi > sangat > runyam, calo berseliweran, warga sekitar akan menerima dampak polusinya > (debu, musim > kemarau akan kesulitan air bersih, daerah semakin panas dan sumpek) dan desa > tinga- > tinga, celukan bawang, Pengulon kena dampaknya.Jelas amdalnya belum ada, > pembangkit > didatangkan dari china katanya yg murah meriah itu?.Bagaimana dg kwalitas > teknologinya?. > Tapi yg jelas Beli Made, saat ini di Paiton sedang dibangun PLTU tahap 5 dg > kapasitas > besar tdk menutup kemungkinan dibangun tahap 6,7 dst karena lahannya sangat > luas, > ideal, sepi penduduk. > Jadi pertanyaan saya sangat perlukah Balipunya pembangkit sendiri?. > Dari segi Asli pendapatan daerah apakah pembangkit di pemaron sdh menambah > asli > pendapatan daerah buleleng?. Kalo tdk salah info, tdk menambah asli > pendapatan daerah > buleleng, karena info dari IP (Ind Pwr) pembangkit dinyalakan saat beban > puncak saja, > so what?. > Jadi beli Made, menurut info 94% asset-asset di bali dimiliki oleh orang > luar Bali > (bukan orang bali). Bagaimana tanggapan Beli Made dengan apa yg saya > ceritakan > diatas.Apa yg bisa dilakukan?. > Sekian Beli Made, ntar kita cerita-cerita soal pertanian, perkebunan di Bali > > Salam > Ketut Darma > ------- End of Forwarded Message ------- > > -- > Open WebMail Project (http://openwebmail.org) > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> ------- End of Original Message ------- -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
