sejak kapan??

sepertinya sejak diterapkan nilai kelulusan atau standar kelulusan
yaa.. antara 2004-2005

selain lewat sms.. ada juga sekolah yang rela "rapat" (baca: berkumpul) setelah 
ujian selesai.. untuk mengganti jawaban murid2..

salam,
Aprilia Gayatri 
http://binchoutan.wordpress.com


suwastinah atmodjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             UAN 
oh UAN…bocor di semua sekolah!?
 
 Gek Tu, siswi salah satu SLTP Negeri di Denpasar begitu tinggi semangat 
belajarnya, terlebih ketika mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhi Nasional 
(UAN), 5 – 8 Mei 2008 ini. Ia rela berjam-jam mengurung diri di kamar untuk 
membaca, menghafal dan mengerjakan contoh soal dari mata pejalaran yang akan 
diujikan. Gadis kecil ini pun rajin bangun dini hari dan nyaris tidak menonton 
televisi.
 Sehari menjelang ujian, raut mukanya tampak serius. Keceriaan seolah sirna 
dari dirinya. Apalagi saat berpapasan dengannya ketika akan diantar ke sekolah, 
terlihat semakin tegang.
 Tapi aneh, siang hari sepulang sekolah semuanya berubah. Ia begitu rileks, 
banyak senyum dan menyempatkan diri bermain dengan adik-adiknya. 
 ”Ia pasti sudah terkena virus bocoran seperti diceritakan seorang guru SLTP 
di Denpasar beberapa hari lalu,” pikirku. Dan prasangka tersebut kian kuat 
karena hari berikutnya Gek semakin santai. Namun aku masih menyimpan tanya 
tersebut, hingga di hari ketiga semuanya termuntahkan.
 ”Gimana Gek, susah tidak ujiannya? Mendapat kunci jawaban via SMS atau 
lembaran kertas? Gurunya langsung memberikannya ke kalian atau informasi 
berantai antara murid? Kira-kira benar semua tidak kunci jawaban itu? Kamu 
menjawab sesuai kunci jawaban itu persis atau ada yang beda? Kamu pasti tidak 
tegang lagi ya biarpun ujian belum kelar? Wah, semakin optimis juga ya bisa 
lolos dan akan mendapat nilai baik?...,” tanyaku mengalir tanpa menunggu 
jawabannya. 
 ”Hehe, kok tahu?,” cetusnya. Ia pun akhirnya buka kartu. ”Terima lewat 
SMS dari teman, lalu pada dicatat di kertas. Tidak tahu pasti siapa sumbernya, 
tapi katanya sih guru. Guru siapa dari sekolah mana saya kurang tahu,” 
urainya mencoba memotong informasi.
 Ia menambahkan, ”Tapi tidak semuanya benar, setidaknya menurut saya. Saya 
sih berusaha mengerjakan sendiri semua dulu. Baru kalau buntu, terpaksa lihat 
kunci jawaban itu walaupun kurang yakin.”
 Begitulah gambaran anak sekolah sekarang, mentalnya dihancurkan oleh sistem 
yang menginginkan prestise semata. Sekolah tidak mau namanya hancur gara-gara 
banyak siswanya tak lulus ujian. Sikap sama dimiliki pimpinan rayon dan bahkan 
instansi pendidikan di kabupaten/kota dan bahkan provinsi. Masing-masing 
menjaga gengsi dengan mengorbankan generasi penerusnya.
 
 ”Tahun lalu juga begitu, makanya saya juga bingung mau nurut sama keinginan 
sekolah atau hati nurani. Pendeknya surga atau neraka-lah,” kata seorang 
teman yang menjadi guru SLTP.
 Dua hari sebelum UAN, lanjutnya, ”Kami diajak rapat oleh Kepala Sekolah. 
Saya sudah menghindar tidak datang dengan suatu alasan. Namun undangan rapat 
susulan di hari berikutnya disampaikan lagi lewat telepon dan sms. Intinya ya 
menegaskan lagi kepada guru-guru yang bertugas menjadi pengawas ujian di 
sekolah lain untuk mengerjakan soal-soal lalu meneruskan jawabannya untuk 
murid-murid. Karena yang berkesempatan untuk tahu lembar soal ya yang tugas 
jaga diluar. Kalau di sekolah sendiri malah tidak bisa.”
 Menurutnya, kasus yang mencuat di televisi tentang guru atau kepala sekolah 
yang membocorkan soal ujian sebenarnya tidak mengagetkan. ”Itu hanya apes 
saja, karena semua begitu kok,” tegasnya.
 ”Mau jadi apa nanti adik-adik kita. Saya misalnya, sudah susah-susah 
meluangkan waktu memberi tambahan jam belajar atau les, eh juga harus yang 
menjawab juga soalnya. Lha ini yang sekolah kok malah gurunya.” 
 Menurut sumber lain, hal serupa bukan saja terjadi untuk UAN SLTP melainkan 
juga SLTA. Bahkan dikabarkan memakai joki segala. Anehnya, biar pengawasnya 
tahu ya tetap membiarkan saja.
 Si sumber ini mengatakan, ”Saya sempat merasa curiga dengan seorang siswa, 
cowok, sedikit-sedikit membuka tisu, pura-pura untuk mengelap mukanya, lalu 
ditutup dan masuk ke kantongnya lagi. Kuperhatikan terus hingga akhirnya kutahu 
di tisu itu tertulis kunci jawaban. Ya aneh toh, cowok ber-tisu ria. Sudah 
pasti lah, ada yang menuliskannya di kulit tubuh atau apalah.”
 ”Sejak kapan sih ini berlangsung dan kenapa jadi demikian,” tanyaku. Dulu, 
waktu UAN SLTP dan SLTA kujaamin hasil jerih payah sendiri. Termasuk ketika 
harus masuk ke PT dan mengikuti ujian-ujian mata kuliah. Kalau mau sedikitttt 
saja belajar, pasti bisa menjawab soal setidaknya 50 persen.
 Sebenarnya juga, UAN dihapuskan alias tidak perlu ada. Kalaupun dipertahankan, 
tidak musti ditetapkan standar baku kelulusan. Kalau salah satu mata pelajaran 
nilainya jeblok, ya itu memang menunjukkan kemampuan yang bersangkutan, lemah 
di bidang tersebut. Wah, entahlah, jadi ikut pusing. Habisnya ada adik-adik 
sendiri yang masih di SD, SLTP dan SLTA. Akankah mereka bernasib 
serupa...semoga tidak!!! Tidaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk!!!
 
 __________________________________________________________
 Be a better friend, newshound, and 
 know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
 
     
                                       

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke