Ketika guru malu mengakui kalau mereka tidak punya kredibilitas dalam
mengajar, ya..gini dech cara busuknya.

Ngga usah berdalih infrastruktur atau yang lainya. Kita tahu seperti apa
deras aliran dana ke Pendidikan. Ya oknum2 berotak sampah aja yang
menikmatinya.

 

Salah satu hal yang sangat nyakitin adalah, banyak orang berlomba-lomba
menjadi guru hanya untuk mengejar biar punya dana pension. Yang penting jadi
pegawai negeri.

Saya sekolah dari SD-SMP-SMA-KULIAH, hanya menemukan kurang dari 5 % dari
para pendidik yang memiliki kecintaan pada dunia pendidikan.yang mempunyai
itikad baik memajukan pola piker generasi baru. Sisanya adalah para kambing
congek yang kerjanya ngasi catetan, trus di tinggal metajen.

Gimana mau jadi masyarakat terdidik, klo aklhak pendidiknya sudah kayak tai
kucing. Siswa dimanjain dengan cara itu biar ketutupan belangnya
penyelenggara pendidikan.

 

Salah siapa??

 

Tanya sama bli ancak!

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of suwastinah atmodjo
Sent: Thursday, May 08, 2008 11:07 AM
To: [email protected]
Subject: [baliblogger] rerasan...

 

UAN oh UAN.bocor di semua sekolah!?

Gek Tu, siswi salah satu SLTP Negeri di Denpasar begitu tinggi semangat
belajarnya, terlebih ketika mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhi
Nasional (UAN), 5 - 8 Mei 2008 ini. Ia rela berjam-jam mengurung diri di
kamar untuk membaca, menghafal dan mengerjakan contoh soal dari mata
pejalaran yang akan diujikan. Gadis kecil ini pun rajin bangun dini hari dan
nyaris tidak menonton televisi.
Sehari menjelang ujian, raut mukanya tampak serius. Keceriaan seolah sirna
dari dirinya. Apalagi saat berpapasan dengannya ketika akan diantar ke
sekolah, terlihat semakin tegang.
Tapi aneh, siang hari sepulang sekolah semuanya berubah. Ia begitu rileks,
banyak senyum dan menyempatkan diri bermain dengan adik-adiknya. 
"Ia pasti sudah terkena virus bocoran seperti diceritakan seorang guru SLTP
di Denpasar beberapa hari lalu," pikirku. Dan prasangka tersebut kian kuat
karena hari berikutnya Gek semakin santai. Namun aku masih menyimpan tanya
tersebut, hingga di hari ketiga semuanya termuntahkan.
"Gimana Gek, susah tidak ujiannya? Mendapat kunci jawaban via SMS atau
lembaran kertas? Gurunya langsung memberikannya ke kalian atau informasi
berantai antara murid? Kira-kira benar semua tidak kunci jawaban itu? Kamu
menjawab sesuai kunci jawaban itu persis atau ada yang beda? Kamu pasti
tidak tegang lagi ya biarpun ujian belum kelar? Wah, semakin optimis juga ya
bisa lolos dan akan mendapat nilai baik?...," tanyaku mengalir tanpa
menunggu jawabannya. 
"Hehe, kok tahu?," cetusnya. Ia pun akhirnya buka kartu. "Terima lewat SMS
dari teman, lalu pada dicatat di kertas. Tidak tahu pasti siapa sumbernya,
tapi katanya sih guru. Guru siapa dari sekolah mana saya kurang tahu,"
urainya mencoba memotong informasi.
Ia menambahkan, "Tapi tidak semuanya benar, setidaknya menurut saya. Saya
sih berusaha mengerjakan sendiri semua dulu. Baru kalau buntu, terpaksa
lihat kunci jawaban itu walaupun kurang yakin."
Begitulah gambaran anak sekolah sekarang, mentalnya dihancurkan oleh sistem
yang menginginkan prestise semata. Sekolah tidak mau namanya hancur
gara-gara banyak siswanya tak lulus ujian. Sikap sama dimiliki pimpinan
rayon dan bahkan instansi pendidikan di kabupaten/kota dan bahkan provinsi.
Masing-masing menjaga gengsi dengan mengorbankan generasi penerusnya.

"Tahun lalu juga begitu, makanya saya juga bingung mau nurut sama keinginan
sekolah atau hati nurani. Pendeknya surga atau neraka-lah," kata seorang
teman yang menjadi guru SLTP.
Dua hari sebelum UAN, lanjutnya, "Kami diajak rapat oleh Kepala Sekolah.
Saya sudah menghindar tidak datang dengan suatu alasan. Namun undangan rapat
susulan di hari berikutnya disampaikan lagi lewat telepon dan sms. Intinya
ya menegaskan lagi kepada guru-guru yang bertugas menjadi pengawas ujian di
sekolah lain untuk mengerjakan soal-soal lalu meneruskan jawabannya untuk
murid-murid. Karena yang berkesempatan untuk tahu lembar soal ya yang tugas
jaga diluar. Kalau di sekolah sendiri malah tidak bisa."
Menurutnya, kasus yang mencuat di televisi tentang guru atau kepala sekolah
yang membocorkan soal ujian sebenarnya tidak mengagetkan. "Itu hanya apes
saja, karena semua begitu kok," tegasnya.
"Mau jadi apa nanti adik-adik kita. Saya misalnya, sudah susah-susah
meluangkan waktu memberi tambahan jam belajar atau les, eh juga harus yang
menjawab juga soalnya. Lha ini yang sekolah kok malah gurunya." 
Menurut sumber lain, hal serupa bukan saja terjadi untuk UAN SLTP melainkan
juga SLTA. Bahkan dikabarkan memakai joki segala. Anehnya, biar pengawasnya
tahu ya tetap membiarkan saja.
Si sumber ini mengatakan, "Saya sempat merasa curiga dengan seorang siswa,
cowok, sedikit-sedikit membuka tisu, pura-pura untuk mengelap mukanya, lalu
ditutup dan masuk ke kantongnya lagi. Kuperhatikan terus hingga akhirnya
kutahu di tisu itu tertulis kunci jawaban. Ya aneh toh, cowok ber-tisu ria.
Sudah pasti lah, ada yang menuliskannya di kulit tubuh atau apalah."
"Sejak kapan sih ini berlangsung dan kenapa jadi demikian," tanyaku. Dulu,
waktu UAN SLTP dan SLTA kujaamin hasil jerih payah sendiri. Termasuk ketika
harus masuk ke PT dan mengikuti ujian-ujian mata kuliah. Kalau mau
sedikitttt saja belajar, pasti bisa menjawab soal setidaknya 50 persen.
Sebenarnya juga, UAN dihapuskan alias tidak perlu ada. Kalaupun
dipertahankan, tidak musti ditetapkan standar baku kelulusan. Kalau salah
satu mata pelajaran nilainya jeblok, ya itu memang menunjukkan kemampuan
yang bersangkutan, lemah di bidang tersebut. Wah, entahlah, jadi ikut
pusing. Habisnya ada adik-adik sendiri yang masih di SD, SLTP dan SLTA.
Akankah mereka bernasib serupa...semoga tidak!!! Tidaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk!!!

__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.
<http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 8.0.100 / Virus Database: 269.23.10/1421 - Release Date: 5/7/2008
5:23 PM


Kirim email ke