Praktek ini sudah mulai terjadi dari jaman dulu kala sekali ...
Waktu saya SD, guru - guru suka ngelempar jawaban lewat jendela ke murid ...
Tapi yang jaga cuek - cuek aja seh ya ...
Di kelas, jawaban pun langsung digilir oleh murid - murid ...

Di SMP, mulai ada yang namanya bocoran ...
Teman saya katanya membeli bocoran jawaban dari seorang broker kartel UAN (was Ebtanas) ...
Dia mendapat NEM tertinggi satu sekolah ...
Dapat nilai 9.xx di matematika ... padahal yang lain dapat 7 aja udah untung ...

Di SMA, teman saya rela bangun pagi - pagi untuk menunggu telpon berdering ...
Menunggu telpon dari broker kartel UAN juga ck ck ck ck ...

Maunya apa seh jadi orang itu ...

Kalo menurut saya seh, semua itu karena salah pola pikir ...
Sudut pandang orang cuman dari angka - angka saja (ato huruf kalo udah kuliah)
Tapi mereka kurang memahami esensi dari angka - angka itu ...
Esensi dari nilai itu adalah sebuah evaluasi diri ...
Evaluasi untuk mengetahui sejauh mana kamu udah belajar selama ini ...
Evaluasi untuk mengetahui what you're good at and not good at ...
Evaluasi ini penting untuk mengetahui kamu nantinya pengen jadi apa ...

Kita kan bebas menentukan kita pengen jadi apa?
Tapi kalo kamu memilih untuk menjadi sesuatu yang kamu not good at, kamu ga bakal optimal

Kita bisa belajar dan menjadi good at sesuatu yang kita pengen?
Buat yang pernah main CM / FM pasti tau kalo setiap pemain itu punya potential ability kan Nah kalo kita mampu kembangin potential ability si pemain, maka si pemain akan jadi seorang jenius di lapangan ...
Sama juga halnya di dunia nyata, try to find potential ability mu ...
Tapi kalo kamu udah dikontaminasi ama nilai - nilai palsu, maka kamu dan orang lain tidak akan bisa tau yang mana yang merupakan potential ability-mu sebenarnya ...

*Supaya nanti jangan sampe seperti saya, kuliah di bidang komputer tapi malah jadi petani ...*

sairameka_diva wrote:

Pantas ada 17 guru ditangkap Densus 88 karena mengganti jawaban siswa
di Padangsidempuan SUMUT. Anehnya para siswa dan ortu mendemo polisi
untuk membebaskan mereka, karna sebagai guru mereka tidak mungkin
menyesatkan anak didiknya. Wah alasan macam apa ini?? Jelas jelas itu
menyesatkan anak didik.. Jadi bingung mana yang harus dibela...
Di Banten juga 5 guru ditangkan dengan kasus yang sama...
UAN itu untuk apa sih...Buat masuk perguruan tinggi juga ga dipercaya
ama para rektor universitas. Karena ga guna apa-apa, mending ga usah
disakralkan segitunya deh...
suksma

http://proletarman.wordpress.com <http://proletarman.wordpress.com>

--- In [email protected] <mailto:baliblogger%40yahoogroups.com>, suwastinah atmodjo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> UAN oh UANâEUR¦bocor di semua sekolah!?
>
> Gek Tu, siswi salah satu SLTP Negeri di Denpasar begitu tinggi
semangat belajarnya, terlebih ketika mempersiapkan diri menghadapi
Ujian Akhi Nasional (UAN), 5 âEUR" 8 Mei 2008 ini. Ia rela berjam-jam
mengurung diri di kamar untuk membaca, menghafal dan mengerjakan
contoh soal dari mata pejalaran yang akan diujikan. Gadis kecil ini
pun rajin bangun dini hari dan nyaris tidak menonton televisi.
> Sehari menjelang ujian, raut mukanya tampak serius. Keceriaan seolah
sirna dari dirinya. Apalagi saat berpapasan dengannya ketika akan
diantar ke sekolah, terlihat semakin tegang.
> Tapi aneh, siang hari sepulang sekolah semuanya berubah. Ia begitu
rileks, banyak senyum dan menyempatkan diri bermain dengan adik-adiknya.
> âEUR?Ia pasti sudah terkena virus bocoran seperti diceritakan seorang
guru SLTP di Denpasar beberapa hari lalu,âEUR? pikirku. Dan prasangka
tersebut kian kuat karena hari berikutnya Gek semakin santai. Namun
aku masih menyimpan tanya tersebut, hingga di hari ketiga semuanya
termuntahkan.
> âEUR?Gimana Gek, susah tidak ujiannya? Mendapat kunci jawaban via SMS
atau lembaran kertas? Gurunya langsung memberikannya ke kalian atau
informasi berantai antara murid? Kira-kira benar semua tidak kunci
jawaban itu? Kamu menjawab sesuai kunci jawaban itu persis atau ada
yang beda? Kamu pasti tidak tegang lagi ya biarpun ujian belum kelar?
Wah, semakin optimis juga ya bisa lolos dan akan mendapat nilai
baik?...,âEUR? tanyaku mengalir tanpa menunggu jawabannya.
> âEUR?Hehe, kok tahu?,âEUR? cetusnya. Ia pun akhirnya buka kartu.
âEUR?Terima lewat SMS dari teman, lalu pada dicatat di kertas. Tidak
tahu pasti siapa sumbernya, tapi katanya sih guru. Guru siapa dari
sekolah mana saya kurang tahu,âEUR? urainya mencoba memotong informasi.
> Ia menambahkan, âEUR?Tapi tidak semuanya benar, setidaknya menurut
saya. Saya sih berusaha mengerjakan sendiri semua dulu. Baru kalau
buntu, terpaksa lihat kunci jawaban itu walaupun kurang yakin.âEUR?
> Begitulah gambaran anak sekolah sekarang, mentalnya dihancurkan oleh
sistem yang menginginkan prestise semata. Sekolah tidak mau namanya
hancur gara-gara banyak siswanya tak lulus ujian. Sikap sama dimiliki
pimpinan rayon dan bahkan instansi pendidikan di kabupaten/kota dan
bahkan provinsi. Masing-masing menjaga gengsi dengan mengorbankan
generasi penerusnya.
>
> âEUR?Tahun lalu juga begitu, makanya saya juga bingung mau nurut sama
keinginan sekolah atau hati nurani. Pendeknya surga atau
neraka-lah,âEUR? kata seorang teman yang menjadi guru SLTP.
> Dua hari sebelum UAN, lanjutnya, âEUR?Kami diajak rapat oleh Kepala
Sekolah. Saya sudah menghindar tidak datang dengan suatu alasan. Namun
undangan rapat susulan di hari berikutnya disampaikan lagi lewat
telepon dan sms. Intinya ya menegaskan lagi kepada guru-guru yang
bertugas menjadi pengawas ujian di sekolah lain untuk mengerjakan
soal-soal lalu meneruskan jawabannya untuk murid-murid. Karena yang
berkesempatan untuk tahu lembar soal ya yang tugas jaga diluar. Kalau
di sekolah sendiri malah tidak bisa.âEUR?
> Menurutnya, kasus yang mencuat di televisi tentang guru atau kepala
sekolah yang membocorkan soal ujian sebenarnya tidak mengagetkan.
âEUR?Itu hanya apes saja, karena semua begitu kok,âEUR? tegasnya.
> âEUR?Mau jadi apa nanti adik-adik kita. Saya misalnya, sudah
susah-susah meluangkan waktu memberi tambahan jam belajar atau les, eh
juga harus yang menjawab juga soalnya. Lha ini yang sekolah kok
malah gurunya.âEUR?
> Menurut sumber lain, hal serupa bukan saja terjadi untuk UAN SLTP
melainkan juga SLTA. Bahkan dikabarkan memakai joki segala. Anehnya,
biar pengawasnya tahu ya tetap membiarkan saja.
> Si sumber ini mengatakan, âEUR?Saya sempat merasa curiga dengan
seorang siswa, cowok, sedikit-sedikit membuka tisu, pura-pura untuk
mengelap mukanya, lalu ditutup dan masuk ke kantongnya lagi.
Kuperhatikan terus hingga akhirnya kutahu di tisu itu tertulis kunci
jawaban. Ya aneh toh, cowok ber-tisu ria. Sudah pasti lah, ada yang
menuliskannya di kulit tubuh atau apalah.âEUR?
> âEUR?Sejak kapan sih ini berlangsung dan kenapa jadi demikian,âEUR?
tanyaku. Dulu, waktu UAN SLTP dan SLTA kujaamin hasil jerih payah
sendiri. Termasuk ketika harus masuk ke PT dan mengikuti ujian-ujian
mata kuliah. Kalau mau sedikitttt saja belajar, pasti bisa menjawab
soal setidaknya 50 persen.
> Sebenarnya juga, UAN dihapuskan alias tidak perlu ada. Kalaupun
dipertahankan, tidak musti ditetapkan standar baku kelulusan. Kalau
salah satu mata pelajaran nilainya jeblok, ya itu memang menunjukkan
kemampuan yang bersangkutan, lemah di bidang tersebut. Wah, entahlah,
jadi ikut pusing. Habisnya ada adik-adik sendiri yang masih di SD,
SLTP dan SLTA. Akankah mereka bernasib serupa...semoga tidak!!!
Tidaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk!!!
>
>
>
>
__________________________________________________________


.


Kirim email ke