Saat ini kita defisit 400 ribu barrel/hari. Klo pun nambah produksi,
ga bisa dalam setahun ato dua tahun.. Itupun cadangan minyak baru
belum ditemukan selain di Cepu. 
Klo saya sih, harus ada transparansi dari pemerintah mengenai
penggunaan subsidi oleh pemerintah. Berapa sebenarnya produksi minyak
kita yang di eksport dan berapa yang digunakan sendiri selain
menggunakan import.
Yang paling penting adalah adanya transparansi kontrak karya pada
perusahaan asing. Banyak sekali keanehan dari kontrak karya ini
seperti: Bagian pemerintah dipotong biaya produksi dan biaya lainnya,
sedangkan perusahaan asing langsung mengambil keuntungan netto
(bukannya harus sebaliknya). Ada kasus di ladang Natuna, dimana
pemerintah tidak mendapatkan bagian sama sekali dikarenakan alasan
tempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk bagi hasil. Klo
tidak mendapat apa2 mendingan ga usah di kasi ijin nambang dong..
Selain itu, sudah saatnya Pertamina menghentikan pembelian minyak dari
para broker. Seharusnya Pertamina membeli langsung ke negara produsen,
sehingga harga jauh lebih murah daripada membeli di kartel minyak.
Kerugiannya, oknum Pertamina ga dapat komisi dari proses kong kalikong
tersebut..
Klo semua itu terlaksana, sangat mungkin klo kita dapat melakukan
penghematan anggaran yang cukup besar sehingga tidak diperlukan
kenaikan harga minyak. 
Sayangnya saat ini pemerintah lebih senang melakukan kucing-kucingan 
dengan rakyatnya. Mereka menganggap rakyat bodoh dan pemerintah
pintar, sehingga setiap kebijakan pasti diputuskan sendiri tanpa
adanya transparansi..
suksma

http://proletarman.wordpress.com  

--- In [email protected], ngurah beni setiawan
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju dengan Bli Heru,
> Memang usaha pembatasan jumlah kendaraan dan kepemilikan kendaraan
harus dikendalikan.
> Sedih jika pergi ke POM Bensin dan menemukan fakta Mobil mewah
parkir di premium.
> Loh, bukannya seharusnya mobil mewah itu pake pertamax dan
sekelasnya yang bukan subsidi?!
> Yah, itulah negera kita. Mengutip bli asn, bahwa kita lebih sering
menang gaya bawa mobil mewah.
> Bli Ancak ramone akan tetap berjuang untuk turun ke jalan, Bli asn
dan win dengan solusi jangka panjang untuk mengatur produksi.
> dan tyang dengan usaha untuk hemat. Dan tentu kawan-kawan lain punya
cara untuk mengatasi lingkaran setan ini.
> Saya pikir itu kombinasi yang bagus, jika setiap orang berjuang
dengan cara nya sendiri. Tidak ada yang salah dengan satu usaha diatas.
> Kolaborasi selalu menjadi hal penting yang kerap dibelokkan menjadi
pro-kontra.
> Satu hal lagi, jika usaha-usaha itu dilaksanakan dan pemerintah
mampu menaikkan produksi MIGAS. maka kita akan kembali menjadi negara
yang surplus.
> 
> salam,
> ngurah beni setiawan
> P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: siapa_heru <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, May 8, 2008 10:05:39 AM
> Subject: Re: [bali-bali] RE: [baliblogger] welcome to new dark ages
> 
> 
> kalau pemecahan jangka panjang untuk transportasi, ya tranpsortasi
> publik. 
> 
> saya sepakat pembatasan kendaraan. setau saya gak sesederhana dengan
> membatasi per KK hanya boleh punya sekian motor atau sekian mobil.
> bisa dengan harga BBM yang tinggi, bisa dengan pajak masuk, bisa
> dengan pajak tahunan, bisa dengan mempersulit perolehan kendaraan.
> 
> sayang, pemerintah cukup takut dengan produsen maupun distributor
> otomotif. belum lagi pihak-pihak yang mengambil untung dari masuknya
> produk otomotif ini. 
> 
> padahal mudah saja, kendaraan pribadi diatas 2000 cc kasih aja pajak
> 10 juta setahun. trus tiap tahunnya kasih peningkatan 30%-50%. biaya
> masuk boleh murah, pajak tahunan kasih selangit. beres deh.
> 
> tapi, rata-rata pengguna kendaraan diatas 2000cc ternyata para pembuat
> kebijakan. atau orang yang dekat si pembuat kebijakan. mana mau mereka
> hidup gak enak, hehe...
> 
> periode 1997-2002 (kalo gak salah), pemda bali punya konsultan yang
> perorangnya dibiayai diatas 20 juta rupiah. program mereka melakukan
> perencanaan bali urban infrastructure project. salah satu yang diurusi
> masalah transportasi publik ini. entah bagaimana hasilnya, karena
> sampai sekarang daerah urban di bali toh sama saja. 
> 
> karena studinya sudah begitu lama berlalu. mau jangka panjang berapa
> tahun lagi?
> 
> salam,
> heru
> http://kataheru. com
> 
> --- In baliblogger@ yahoogroups. com, "Made Suryawan"
> <made.suryawan@ ...> wrote:
> 
> > Anyway, back to the topic. Saya ga tau apa benar naiknya harga minyak
> > dunia bisa sampai membobol APBN negara ini sampe sedemikian parahnya.
> > Yang jelas kalaupun iya, saya pikir pemerintah ga hanya mencari jalan
> > keluar dengan jalan pintas seperti menaikkan harga BBM. Okelah, anggap
> > saja tidak bisa dihindari. Saya pikir harus dipikirkan juga solusi
> > jangka panjangnya! 
> > 
> > 
> > 
> > Penghematan adalah jalan keluar yang sebenarnya paling mudah,
kalau mau
> > berusaha dilakukan. Jangan salahkan orang punya mobil banyak, karena
> > pemerintah sendiri tidak pernah mengatur berapa jumlah mobil yang
boleh
> > dimiliki warga negaranya. Memang sih itu kembali ke diri sendiri yang
> > punya mobilnya, tapi at least pemerintah ada niat untuk mengatur hal
> > ini. Misal saja dengan meningkatkan pajak untuk mobil2 mewah, dsb!
> 
>  
> 
> 
>      
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>


Kirim email ke