Jadi untuk jangka pendek kita bisa melakukan apa bli?? dah pasti
produksi minyak akan tetep defisit, sampai waktu recovery tercapai.

Inilah yang saya sesalkan bli.. Hampir semua kontrak karya yang
dilakukan pemerintah pasti tidak transparan. Kita taunya jika ada
kasus-kasus besar seperti kasus Balongan. Itupun samar-samar.
Seharusnya setiap kontrak karya diumumkan ke publik, sehingga bisa
dinilai apakah akan menguntungkan atau malah merugikan. Pakar minyak
sendiri heran dengan kontak karya yang kita buat. Kok bisa-bisanya
perusahaan asing yang lebih diuntungkan. Di sini kongkalikong antara
oknum pertamina dan perusahaan asing musti di ungkap. CAranya ya
transparansi tadi.
Banyak keanehan yang terjadi dalam pengolahan kekayaan alam kita.
Freeport katanya penghasil tembaga, eh nyatanya emasnya melimpah dan
tembaga hanya hasil sampingannya. Pencemaran lingkungan oleh Newmon
Minahasa Raya, eh dua universitas yang cukup valid di negeri ini
menyimpulkan hasil yang berbeda. Yang disewa Newmon mengatakan kalau
Newmont tidak melakukan pencemaran, sedangkan yang disewa pemerintah
menyatakan sebaliknya. Inikan lucu..

Tapi perlu diingat juga, klo minyak itu bisa diperbaharui. Kita harus
siap-siap untuk melakukan peralihan. Klo tidak dari sekarang, kapan lagi??
suksma

http://proletarman.wordpress.com

--- In [email protected], ngurah beni setiawan
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Eka,
> Menaikkan produksi 400 rb bbl/day itu tidak harus dengan penemuan
lapangan baru. Optimasi produksi lapangan dan sumur yang ada
sekarangpun sudah bisa membantu memperkecil margin defisit itu.
> Beberapa eksplorasi sekarang sudah sangat giat dilakukan, dan memang
benar yang Eka katakan bahwa hal ini tidak bisa digenjot dalam setahun
dua tahun, bukan karena malas tetapi memang proses pengolahan data
sejak eksplorasi sampai dengan uji ke ekonomian sangat panjang, maklum
karena MIGAS adalah high investment sector.
> Perusahaan asing langsung diambil netto juga tidak benar.
Sesungguhnya yang terjadi adalah sharing 70-30 untuk minyak dan 85-15
untuk gas antara pemerintah-swasta. Jadi pemerintah selalu mendapat
bagian besar toh?! kasarnya meskipun tidak melakukan kegiatan
eksploitasi pemerintah tetap mendapat sharing produksi.
> Namun memang semua biaya yang dikeluarkan swasta akan masuk kedalam
apa yang disebut cost recovery ke pemerintah. Silahkan dikoreksi jika
sudah ada perubahan dari apa yang saya tahu sampai sekarang ini.
> Intinya adalah tetap dengan berupaya menaikkan produksi minyak kita
dan menggalakkan hemat energi, sehingga margin adalah supply dan
demand akan semakin kecil karena kita berupaya untuk menggerakkan
keduanya.
> salam, 
> ngurah beni setiawan
> P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: sairameka_diva <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, May 8, 2008 12:52:28 PM
> Subject: Re: [bali-bali] RE: [baliblogger] welcome to new dark ages
> 
> 
> Saat ini kita defisit 400 ribu barrel/hari. Klo pun nambah produksi,
> ga bisa dalam setahun ato dua tahun.. Itupun cadangan minyak baru
> belum ditemukan selain di Cepu. 
> Klo saya sih, harus ada transparansi dari pemerintah mengenai
> penggunaan subsidi oleh pemerintah. Berapa sebenarnya produksi minyak
> kita yang di eksport dan berapa yang digunakan sendiri selain
> menggunakan import.
> Yang paling penting adalah adanya transparansi kontrak karya pada
> perusahaan asing. Banyak sekali keanehan dari kontrak karya ini
> seperti: Bagian pemerintah dipotong biaya produksi dan biaya lainnya,
> sedangkan perusahaan asing langsung mengambil keuntungan netto
> (bukannya harus sebaliknya). Ada kasus di ladang Natuna, dimana
> pemerintah tidak mendapatkan bagian sama sekali dikarenakan alasan
> tempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan untuk bagi hasil. Klo
> tidak mendapat apa2 mendingan ga usah di kasi ijin nambang dong..
> Selain itu, sudah saatnya Pertamina menghentikan pembelian minyak dari
> para broker. Seharusnya Pertamina membeli langsung ke negara produsen,
> sehingga harga jauh lebih murah daripada membeli di kartel minyak.
> Kerugiannya, oknum Pertamina ga dapat komisi dari proses kong kalikong
> tersebut..
> Klo semua itu terlaksana, sangat mungkin klo kita dapat melakukan
> penghematan anggaran yang cukup besar sehingga tidak diperlukan
> kenaikan harga minyak. 
> Sayangnya saat ini pemerintah lebih senang melakukan kucing-kucingan 
> dengan rakyatnya. Mereka menganggap rakyat bodoh dan pemerintah
> pintar, sehingga setiap kebijakan pasti diputuskan sendiri tanpa
> adanya transparansi. .
> suksma
> 
> http://proletarman. wordpress. com 
> 
> --- In baliblogger@ yahoogroups. com, ngurah beni setiawan
> <setiawan_beni@ ...> wrote:
> >
> > Saya setuju dengan Bli Heru,
> > Memang usaha pembatasan jumlah kendaraan dan kepemilikan kendaraan
> harus dikendalikan.
> > Sedih jika pergi ke POM Bensin dan menemukan fakta Mobil mewah
> parkir di premium.
> > Loh, bukannya seharusnya mobil mewah itu pake pertamax dan
> sekelasnya yang bukan subsidi?!
> > Yah, itulah negera kita. Mengutip bli asn, bahwa kita lebih sering
> menang gaya bawa mobil mewah.
> > Bli Ancak ramone akan tetap berjuang untuk turun ke jalan, Bli asn
> dan win dengan solusi jangka panjang untuk mengatur produksi.
> > dan tyang dengan usaha untuk hemat. Dan tentu kawan-kawan lain punya
> cara untuk mengatasi lingkaran setan ini.
> > Saya pikir itu kombinasi yang bagus, jika setiap orang berjuang
> dengan cara nya sendiri. Tidak ada yang salah dengan satu usaha diatas.
> > Kolaborasi selalu menjadi hal penting yang kerap dibelokkan menjadi
> pro-kontra.
> > Satu hal lagi, jika usaha-usaha itu dilaksanakan dan pemerintah
> mampu menaikkan produksi MIGAS. maka kita akan kembali menjadi negara
> yang surplus.
> > 
> > salam,
> > ngurah beni setiawan
> > P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really
need to
> > 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: siapa_heru <herugutomo@ ...>
> > To: baliblogger@ yahoogroups. com
> > Sent: Thursday, May 8, 2008 10:05:39 AM
> > Subject: Re: [bali-bali] RE: [baliblogger] welcome to new dark ages
> > 
> > 
> > kalau pemecahan jangka panjang untuk transportasi, ya tranpsortasi
> > publik. 
> > 
> > saya sepakat pembatasan kendaraan. setau saya gak sesederhana dengan
> > membatasi per KK hanya boleh punya sekian motor atau sekian mobil.
> > bisa dengan harga BBM yang tinggi, bisa dengan pajak masuk, bisa
> > dengan pajak tahunan, bisa dengan mempersulit perolehan kendaraan.
> > 
> > sayang, pemerintah cukup takut dengan produsen maupun distributor
> > otomotif. belum lagi pihak-pihak yang mengambil untung dari masuknya
> > produk otomotif ini. 
> > 
> > padahal mudah saja, kendaraan pribadi diatas 2000 cc kasih aja pajak
> > 10 juta setahun. trus tiap tahunnya kasih peningkatan 30%-50%. biaya
> > masuk boleh murah, pajak tahunan kasih selangit. beres deh.
> > 
> > tapi, rata-rata pengguna kendaraan diatas 2000cc ternyata para pembuat
> > kebijakan. atau orang yang dekat si pembuat kebijakan. mana mau mereka
> > hidup gak enak, hehe...
> > 
> > periode 1997-2002 (kalo gak salah), pemda bali punya konsultan yang
> > perorangnya dibiayai diatas 20 juta rupiah. program mereka melakukan
> > perencanaan bali urban infrastructure project. salah satu yang diurusi
> > masalah transportasi publik ini. entah bagaimana hasilnya, karena
> > sampai sekarang daerah urban di bali toh sama saja. 
> > 
> > karena studinya sudah begitu lama berlalu. mau jangka panjang berapa
> > tahun lagi?
> > 
> > salam,
> > heru
> > http://kataheru. com
> > 
> > --- In baliblogger@ yahoogroups. com, "Made Suryawan"
> > <made.suryawan@ ...> wrote:
> > 
> > > Anyway, back to the topic. Saya ga tau apa benar naiknya harga
minyak
> > > dunia bisa sampai membobol APBN negara ini sampe sedemikian
parahnya.
> > > Yang jelas kalaupun iya, saya pikir pemerintah ga hanya mencari
jalan
> > > keluar dengan jalan pintas seperti menaikkan harga BBM. Okelah,
anggap
> > > saja tidak bisa dihindari. Saya pikir harus dipikirkan juga solusi
> > > jangka panjangnya! 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Penghematan adalah jalan keluar yang sebenarnya paling mudah,
> kalau mau
> > > berusaha dilakukan. Jangan salahkan orang punya mobil banyak, karena
> > > pemerintah sendiri tidak pernah mengatur berapa jumlah mobil yang
> boleh
> > > dimiliki warga negaranya. Memang sih itu kembali ke diri sendiri
yang
> > > punya mobilnya, tapi at least pemerintah ada niat untuk mengatur hal
> > > ini. Misal saja dengan meningkatkan pajak untuk mobil2 mewah, dsb!
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > Be a better friend, newshound, and 
> > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
> http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ
> >
> 
>  
> 
> 
>      
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>


Kirim email ke