kampus memang bukan "wilayah tak terjamah" hukum. tapi, buat mahasiswa, kampus adalah rumahnya. saat sudah di dalam rumah, masih dikejar-kejar, digebukin, rumahnya dihancurin. ini masalah.
kasus unas dan perkembangannya ini cukup menarik. saya perhatikan isu mulai berbelok. dari masalah kenaikan bbm, ke tudingan pemerintah bahwa mahasiswa / demonstran tidak cerdas. *masalahnya, kebijakan pemerintah yang tidak cerdas juga banyak yang jadi penyebab demonstrasi. tapi hal ini gak mau diakui pemerintah.* saya merasa ada upaya untuk menyatukan pandangan di masyarakat bahwa demonstrasi adalah hal yang buruk, haram. tapi diungkapkannya dengan cara yang halus. mahasiswa "demonstran" perlahan sedang dijadikan simbol sebagai "musuh bagi masyarakat". ada tiga kejadian beruntun: Unas (serangan fajar polisi), UKI (rektor mindahin ban), UKI vs YAI (perang antar mahasiswa). kejadian ini berturut-turut. berbau demonstrasi dan kekerasan. pada saat unas vs polisi, ini awal isu. bahwa mahasiswa melakukan kekerasan. dianggap mengganggu ketertiban umum, dst. pada saat rektor UKI mindahin ban, serentak seluruh pejabat pemerintah memuji yang dilakukan rektor UKI tersebut. pada saat UKI vs YAI, lempar batu kesana-kemari. dalam media massa, khususnya televisi, polisi digambarkan sebagai penyelamat. masyarakat pun dibuat untuk mengatakan "MEMANG, MAHASISWA GAK BERES!" nah, saya perhatikan ada yang mau dibenturkan: 1. mahasiswa dengan masyarakat. 2. mahasiswa dengan birokrat kampus. jelas, ini bahaya untuk kampus sebagai tempat belajar demokrasi. NKK/BKK mungkin tidak lagi diberlakukan secara resmi. tapi, laten NKK/BKK sedang berkembang biak. btw, adakah delegasi BIN di milis ini? mungkin dia tau siapa yang menciptakan penyeragaman isu ini, hehehe... :) salam, heru http://kataheru.com --- In [email protected], "yoskebe" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Semeton Blogger, > > > Aksi penentangan kenaikan BBM yang paling menarik perhatian kayaknya > cuman kejadian demonstran UNAS vs Polisi. Hasilnya gak main2, seratus > lebih dikit yang diangkut ke markas polisi dan kemudian beberapa > diantaranya ditahan dengan pasal-pasal tertentu. > > Seperi biasa, selalu ada adu argumentasi mengiringi kasus sperti ini. > Pihak polisi bersandar pada prosedur "pengamanan" - "aksi anarkis" dan > "mengganggu ketertiban umum". Sementara di pihak mahasiswa memegang > teguh asas "demokrasi" - "kemerdekaan berpendapat" ampe "amanat > penderitaan rakyat" > > Bukan itu yang aku mau coba bahas, karena akan memunculkan perdebatan. > Pokok perhatian aku pada "wilayah kampus". Pada tayangan tipi sering > dimunculkan wacana "ini wilayah kampus" yang seolah-olah wilayah > kampus merupakan "untouchable zone" > > Pertanyaan ini berangkat dari kekuatiran bahwa wilayah kampus rawan > menjadi sebuah kawasan yang imun dari tangan-tangan hukum atas > tindakan melawan hukum (ingat : bukan melawan aparat hukum). > > Aku cuman berpikir saja, kalo polisi selalu disodok dengan wacana 'ini > wilayah kampus' apa gak jadi bumerang nantinya ? Bisa saja polisi cuek > lalu bilang "biarin ajah mahasiswane kelahi ampe bunuh-bunuhan, kami > malas masuk krn itu wilayah kampus" > > Any comment my pren ? > > > Matur suksma, > > > Yos Kebe > multiply.mosalaki.com >

