Untuk nengah, saya akhirnya tidak sabar juga untuk menanggapi nengah, kalo ngeliat beberapa tanggapan nengah,terutama paragraf ini yang saya kutip dan isi garis bawah!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- [I Nengah Sumerta] , "Nengah yang biasa nya menggunakan kerangka berpikir penguasa" itu hanya over-judgement-nya Bli Ancak saja, saya tidak pernah menset-up mind-set saya seperti itu, terlahir dari keluarga tidak mampu, dibesarkan dengan nutrisi yang kurang, Berjuang sendiri untuk Bisa sekolah, merangkap jadi tukang kebun sambil kuliah, saya rasa sangat kecil kemungkinanya punya Mindset penguasa. S*aya tidak sepaham dengan cara kawan-kawan yang memilih turun ke jalan untuk berekspresi, bukan berarti saya sepakat dengan apa yang menyebabkan mereka turun ke jalan. Tidak bli Ancak, saya sama sekali tidak sepakat dengan policy pemerintah yang menaikkan harga BBM, tapi sekali lagi saya tekankan: "there must be a better way to express your thought than blaspheming others*" ======================================================================================== pertama; tanggapan anda kok ga konsisten ya? anda sekarang bilang kalo anda tidak setuju kebijakan pemerintah menaikan BBM, padahal justru kalo anda mau jujur dengan perdebatan di millis kita,(coba cek dimiliss ini dan dapat juga dilihat dimilis ttangga), seluruh pendapat anda sepakat dengan kenaikan harga BBM. kok tiba2 anda menyatakan seolah sejak dari tidak sepakat dengan kebijakan itu? kedua: saya tidak pernah menyalahkan ketidaksepahaman anda tentang turun kejalan sebagai sebuah ekspresi! itu hal lumrah. banyak orang yang tidak sepakat tapi banyak juga yang sepakat. bahkan turun kejalan hari ini juga dilakuakn oleh ribuan orang francis, korea karena dinegara mereka BBm dinaikan. jadi turun kejalan hal yang lumrah aja, kalo anda ga sepakat ga apa2, toh anda bukanlah siapa2 dalam persoalan itu. tapi yang aneh adalah kalimat anda yang saya kutip dibawah ini: -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- [I Nengah Sumerta] Waktu itu kami sempat membuat aliansi dari beberapa LSM keagamaan, termasuk dari Kristen, Budha dan Islam, menyurati DPR, menyurati Kapolri, menyurati Kapolda Bali dan Kapold NTB, di Lombok sendiri di gelar aksi damai besar-besaran untuk menyampaikan ke muka public bahwa telah ada tindakan perusakan dan pembakaran Pura (perlu anda catat, bahwa aksi dilakukan di Polda NTB, bukan aksi balas dendam atau aksi lainya) --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- katanya ga sepaham dengan aksi massa, ga sepakat dengan turun kejalan, tetapi kok anda sepakat dengan aksi di lombok untuk kasus itu.harus nya anda juga ga sepakat dunk. hal yang kontraiktif lainnya adalah: ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Mencegah orang agar tidak buang sampah ke sungai, tidak mungkin kita lakukan dengan memaki orang tersebut. Pun melakukan penghijauan di danau buyan, tidak mungkin akan terlaksana jika WALHI mengutuki masyarakat local yang menebang pohon seenak udele khan?? ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- peryataan anda yang memakai analogi diatas, buat saya adalah judgement. anda menempatkan seolah2 aksi kejalan selalu sarkas. anda menempatkan seolah2 aksi jalanan hanyalah berisi caci maki. padahal banyak hal yang ada di dalam aksi jalanan. anda sendiri yang menyatakan bahwa aksi dilombok bisa damai. lalu bukankan itu bentuk dari aksi jalanan yang anda akui sebagai sebuah metode perjuangan.anda samasekali tidak menentang itu. kalo mindset anda menempatkan aksi jalanan identikdengan caci maki (kalo ngeliat analogi anda) itu secara otomatis anda membantah pernyataan anda sendiri. banyak lagi kontradiksi yang lain bedakan antara aksi turun kejalan sebagai sebuah bentuk berekspresi dengan kekerasan. dan ingat itu dua hal yang berbeda. karena kekerasan tidak mengenal tempat, metode atauapun. dia dapat terjadi dalam bentuk apapun. kekerasan dan cacimaki juga bisa terjadi dalam cara-cara yang anda anggap cerdas. kekerasan dapat terjadi diruang-ruang diskusi ditempat2 yang tidak memakai aksi jalanan sebagai metode. anda katakan dilombok aksi damai? iya, karena aksi kejalan tidak selalu identik dengan kekerasan baik fisik maupun psikis kalo anda tidak paham maka jangan menghakimi. kalo anda tidak mengerti mari saya buat anda mengerti kalo anda merasa sudah mengerti mari kita berdebat secara langsung. secara khusus saya mengundang anda untuk bicara tentang kebebasan berekspresi dan metode jalanan dalam berbagai perspektif! kapan saja dan dimana saja. trims. gendo

