--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bro lokasi persisnya dimana? kabatulan amak  taringek jo kampuang...


> Saya berjalan ke arah Blok M Mall, menyeberangi jembatan.
> 
> Seperti biasa, jembatan penyeberangan itu setengahnya dipenuhi
jejeran lapak pedagang. Macam-macam jualannya. Mulai dari sandal
jepit, jepit rambut hingga tas. Hari itu ada tas ransel warna-warni
yang berlapis jaring macam net dari benang putih atau hitam.
Serombongan anak berseragam biru putih, tampak bergerombol di tempat
penjual. Beberapa tas tampak digatung di tiang penyangga atap
penyeberangan.
> 
> Kendati ramai, lalu lintas orang yang melewati area ke arah terminal
bis tidak sepadat jika ekonomi meriah. Pedagang di kios-kios kecil,
hanya tampak menikmati dentuman musik dari CD player, yang antara kios
satu dan lainnya membunyikan berpengeras saling berlomba. Jarak satu
kios dan lainnya yang tiga meteran itu seakan tak berdinding. Kuping
sulit fokus menyimak yang mana.
> 
> Di tingkah aneka suara gaduh demikian, terlihat seorang ibu dengan
tenong - - baskom besar - - di kepala.
> 
> "Sala lauak, sala lauak," ujarnya.
> 
> Sala lauk, sejenis makanan asal Padang, seperti bakso, terbuat dari
tepung beras, diadon dengan bawang merah, kunyit dan daun kunyit,
sedikit cabe, lalu di tengahnya diberi ikan asin, dibulat-bulatkan
macam bakso. Lantas digoreng atau disala - - istilah digoreng bagi
orang Minang.
> 
> Untuk memudahkan Anda membayangkan penganan ini, ia ibarat bakso
goreng, tetapi di tengahnya berisi potongan kecil ikan asin. Di daerah
asalnya sana, ikan asin sala dari ikan kembung.
> 
> Mendekati ujung, setelah melewati berbagai deretan pedagang dan mall
yang umumnya dipenuhi oleh Ramayana, saya mengorder rujak dan es timun
di restoran Mie Aceh di bawah tangga.
> 
> - dipetik dari tulisan panjang Narliswandi Piliang -
>


Kirim email ke