aku mbaca artikel ini kemarin, tks sudah dibuatkan softcopynya
he..he..he... ada satu lagi lho mas, artikel tentang SGPC di kompas hari itu
 
salam
 
eshape

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of mediacare
Sent: 01 September 2008 8:59
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; media jogja;
mudawijaya; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bango-mania] Warung "Klangenan"



Warung "Klangenan"

Djoko Poernomo

Penguji rasa di Warung SGPC Bu Wiryo 1959 di Yogyakarta tidak hanya seorang
atau dua orang, melainkan ribuan orang. Mereka para mahasiswa yang setia
menyambangi warung tadi sejak didirikan tahun 1959 hingga hari ini.

Kalau dirasa kurang enak atau sebab lain, Warung SGPC Bu Wiryo pasti sudah
ditinggalkan para pelanggan. Nyatanya tidak. Bahkan semakin berkibar-kibar
meski warung dengan menu sejenis terus saja berdiri di kota pelajar ini.

Semula warung dengan spesialisasi menu nasi pecel tersebut berdiri di
sebelah timur kantor pusat tata usaha Universitas Gadjah Mada (UGM) di
lingkungan Kampus Bulaksumur. Tetapi, akibat perluasan Fakultas Teknologi
Pertanian, warung kemudian pindah ke arah utara ke Jalan Agro CT VIII,
Sleman, berseberangan dengan kampus Fakultas Peternakan UGM.

Warung ini didirikan tahun 1959, 10 tahun setelah pendirian UGM, oleh
pasangan suami-istri Dario dan Suyati yang memiliki nama keluarga
Wiryosoenarto. Kala itu mereka belum memberi nama warung itu. Baru beberapa
tahun kemudian, nama SGPC dilabelkan para pelanggan dengan menyebutnya SGPC,
kependekan dari sega pecel. Satu menu spesial lain, sup, tak ikut
disebut-sebut.

Oleh pengelola sekarang, Kelik Indarto (49), anak tertua Wiryosoenarto, di
belakang nama SGPC kemudian diimbuhi potongan nama orangtuanya. Jadilah nama
Warung SGPC Bu Wiryo 1959. Angka yang disebut terakhir adalah tahun
pendirian.

Pasangan Dario-Suyati tidak keberatan dengan penamaan itu, terutama Suyati
yang kemudian sendirian mengomando warung SGPC hingga akhir hayat tahun
1995.

Kecuali menempati rumah sendiri, perkembangan lain warung SGPC adalah
diperkenalkannya musik guna memeriahkan suasana sekaligus membuat betah
pelanggan. Ini merupakan upaya pribadi Kelik Indarto dua tahun terakhir.
Meski demikian, menu utama masih seperti sediakala, yaitu sega (nasi) pecel
dan sup.

"Lauknya juga masih seperti dulu, hanya terdiri dari tahu, tempe, dan telur
ceplok. Harganya pas bagi kantong mahasiswa...," tutur Sudadi (49), karyawan
paling senior di SGPC. Sudadi-biasa dipanggil para pelanggan dengan sebutan
Jon- bergabung sejak tahun 1979 dan hingga sekarang tidak pernah ganti
profesi. Demikian pula 12 karyawan lain yang sebagian besar masih ada
hubungan kekerabatan dengan pemilik.

Nostalgia

Warung SGPC pindah ke tempat baru tahun 1994. Jam buka di tempat lama, kata
Sudadi, disesuaikan dengan jam buka kantor, pukul 06.00 hingga 16.00. Guna
memenuhi permintaan pelanggan, jam layanan di tempat baru kemudian
diperpanjang hingga pukul 21.00. Sepanjang tahun warung ini tak pernah
tutup, kecuali hari pertama Lebaran.

"Pelanggan SGPC mayoritas mahasiswa dan karyawan UGM," tambah Sudadi. Begitu
kerapnya melayani pelanggan, pria asal Kulonprogo, DIY, ini hafal satu demi
satu nama para pelanggan yang sekarang sudah men- jadi orang, di antaranya
Gubernur BI Boediono, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu,
Juru Bicara Kepresidenan Andi Alifian Mallarangeng, calon presiden Rizal
Mallarangeng, ditambah ratusan nama lain.

"Bapak-bapak tersebut, kalau pas pulang ke Yogya atau dinas ke Yogya, pasti
meluangkan waktu ke sini. Tak hanya sendirian, tetapi mengajak anggota
keluarga," tutur Sudadi. Mereka menjadikan warung murah meriah ini sebagai
klangenan.

Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD yang selalu sarapan di SGPC Bu
Wiryo, setiap kali mudik selalu mampir. "Saya sering menggunakan warung ini
untuk bernostalgia...," ungkap Mahfud, pekan lalu, ketika kepergok di SGPC
Bu Wiryo bersama keluarga.

Di sini, warung itulah, Mahfud pada tahun 1980-an bertemu dengan Zaizatun
Nihayati yang kini menjadi istri dan telah memberinya tiga anak.

Menurut Mahfud, masakan di warung itu enak, sayurannya segar, bersih, serta
suasananya bisa memancing selera. "Tak terikat protokoler dan bebas bicara
dengan semua kalangan," tambah dia.

Di SGPC orang memang bebas bersuara. Malah beberapa aktivis mahasiswa
menjadikan warung ini sebagai entry point berbagai unjuk rasa.

Ingar-bingar

Menurut Gutomo Priyatmono, Direktur Institute for Multiculturalism and
Pluralism Studies (Kompas, 17/9/2007), warung itu penuh sesak hingga sore
hari bukan saja karena enaknya rasa pecel yang menjadi menu utama, tetapi
karena menawarkan atmosfer Yogyakarta.

"Identitas Yogyakarta muncul di sana bukan karena cita rasa sambal pecelnya,
tetapi karena persahabatan yang ditawarkan para penyaji sega pecel beserta
jus tomat maupun es kunir asam. Persahabatan di sini bukan dalam arti
sekadar kenal dan tahu, melainkan persahabatan yang mendudukkan pembeli
merasa 'hidup secara bersama-sama' dengan SGPC. Warung sega pecel itu
membuat sekat di antara pengunjung dengan berbagai latar belakang dan status
sosial menjadi cair," tulisnya.

Hidup bersama-sama dapat digambarkan dengan hubungan penyaji SGPC yang aktif
menyapa, menyilakan, melayani, dan menyajikan sega pecel untuk dinikmati
para pengunjung. Sebaliknya, para pengunjung terus aktif menjadi penikmat.

 

Kompas - Minggu, 31 Agustus 2008 | 01:54 WIB 

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/31/01543636/warung.klangenan
<http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/31/01543636/warung.klangenan> 

  

 


Kirim email ke