Kalau di Jakarta, disebut Soto Gebrak.

Penjual menaruh botol kecapnya dengan kencang. Maka berbunyi: "Gebrak'

Kagetlah para pengunjung...



  ----- Original Message ----- 
  From: Abdur Rohman 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:24 PM
  Subject: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?


    Soto Dok, Makanan Khas Jombang? 

        DULU ada seorang kawan yang ketika akan ikut mudik ke Jombang, hal 
pertama yang dipertanyakannya adalah makanan apa yang enak dan khas di Jombang? 
Pertanyaan yang kelihatan sederhana tetapi sulit bagi saya untuk bisa 
menjawabnya dengan segera. Bagi saya butuh hastabrata sebelum melakukan 
"penerawangan" dengan metode mutakhir untuk dapat menemukan literatur-literatur 
makanan enak dan khas di Jombang.

        Bagaimana tidak, sebagai anak kost selepas SMP tahun 1993 lalu, bagi 
saya ada makanan yang bisa dimakan saja sudah sebuah karunia yang luar biasa 
enaknya. Ini malah membedakan makanan itu enak atau tidak enak. Bagai mengurai 
simpul-simpul benang kusut.

        Di Jombang, meskipun tak ada rumah makan atau restaurant sekelas KFC, 
McD, atau HC seperti di dekat Air Mancur yang ada di Bogor dan kota-kota besar 
lainnya, namun bukan berarti di Jombang tak ada makanan-makanan enak. Di 
Jombang banyak sekali jenis-jenis makanan yang menggugah selera seperti halnya 
di kota-kota lain. Persoalannya, makanan apa yang khas yang sekaligus bisa 
menunjukkan "identitas nJombang", itu yang membuat saya tambah bingung lagi.

        Ada Nasi Pecel tetapi masih kalah tenar dengan Pecel Madiun meskipun 
penjual Nasi Pecel di Jombang jumlahnya seabrek dari kelas emperan sampai kelas 
depot atau cafe. Bahkan mata belum melek beneran atau pagi-pagi buta kita akan 
mudah mendapatkan Nasi Pecel. Kaum ibu dan si mbok-mbok dengan sepeda onthel 
banyak yang menjajakan Nasi Pecel ke kompleks-kompleks perumahan, tempat kost 
dan ngetem di beberapa ruas jalan. Di Jombang penjual Nasi Pecel banyak yang 
ngetem di perempatan Jalan Wahid Hasyim persis dekat Rumah Sakit Umum Daerah. 
Sedangkan yang tempat berjualannya permanen yang paling enak menurut lidah saya 
ada di Depot Giri Jaya di Jalan Merdeka. Lauknya cukup komplet dan 
kebersihannya cukup terjamin.

        "Kring kring kring, cel pecel, pecele Mas!" Itu kata-kata yang sering 
saya dengar dulu dari ibu-ibu dan si mbok-mbok penjual Nasi Pecel keliling 
setiap pagi dengan sepeda onthelnya ketika melintas di depan asrama pondokan 
saya.

        Lalu di Jombang juga ada Soto, tetapi masih kalah meng-Indonesia dengan 
Soto Lamongan meskipun di Jombang ada Soto Pak Loso yang menurut lidah saya 
lebih enak dari pada Soto Lamongan yang ada di kawasan Lingkar Kampus Darmaga 
Bogor yang rasanya gak ngalor gak ngidul itu.

        Berikutnya Sate. Di Jombang dulu ada Sate Ringin Contong, sebab 
berjualannya di sekitar Ringin Contong. Kemudian juga Sate H. Faqih di kawasan 
Pesantren Tebu Ireng, di seberang PG Tjoekir yang pernah diulas oleh Raja 
Wisata Kuliner, Bondan Winarno. Namun kedua jenis sate tersebut masih kalah 
mendunia dengan Sate Madura. Terkait dengan Sate Madura ini, dulu ada guyonan 
kawan sekamar asrama pondok yang asli Sumenep Madura. Mengapa pesawat jarang 
terbang ke Madura? Jawabnya, sebab kalau terbang ke Madura, pesawat sering 
terjebak asap di udara Madura karena penjual Sate Madura sedang membakar sate! 
Ini saking banyaknya penjual sate di Madura.

        Makanan berikutnya adalah Bakso. Bakso masih kalah tenar dengan aneka 
Bakso Malang (di Jombang ada Bakso Bakar Malang dan Bakso Cak Man Malang) atau 
Bakso Solo. Namun di Jombang sebenarnya ada bakso yang sangat terkenal dan 
cukup legendaris (setidaknya saya mengenalnya dan sering mencicipinya sejak 
saya kanak-kanak), yaitu Bakso Nuklir yang "digawangi" Haji Sumarto alias Cak 
To Nuklir yang berada persis di seberang RSK atau Rumah Sakit Kristen 
Mojowarno. Dulu ketika saya masih SD (1984-1990), saya sering mendengar promosi 
Bakso Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Jombang. Disebut Bakso 
Nuklir sebab baksonya memang ukurannya jumbo dan rasanya tak sekadar "nendang" 
tetapi "meledak" dahsyat, sedahsyat letusan bom nuklir.

        Selanjutnya ada Sego Sadhukan. Ini mungkin khas Jombang, tetapi 
kayaknya tak etis menjamu tamu jauh dengan Sego Sadhukan atau kalau di kawasan 
Malioboro Ngayogjakarta Hadiningrat disebut sebagai Nasi Kucing. Makan Sego 
Sadhukan bisa menjadi alternatif jika memang kantong benar-benar kering dan 
perut benar-benar keroncongan.

        Sego Sadhukan adalah nasi bungkus yang isinya sekepal nasi, ada mie, 
lauk tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan kadang-kadang ada ikan terinya. 
Sadhukan artinya tendangan, mungkin karena porsinya yang minimalize itulah 
dinamakan Sego Sadhukan, sekali tendang langsung bisa mencelat jauh atau sekali 
santap langsung habis. Dulu di kawasan Simpang Tiga atau Pertigaan Tugu Adipura 
dan juga sekitar Stasiun dan Alun-alun kalau malam hari Sego Sadhukan mudah 
didapatkan. Karena harganya murah maka sangat cocok bagi anak kost yang uangnya 
pas-pasan.

        Then, the next badhokan di Jombang yang sempat saya ingat dan mungkin 
paling enak dan unik adalah makanan yang di masa kecil sering saya santap, 
yaitu Soto Dok. Ya, Soto Dok ini tak jauh beda dengan makanan sejenis soto 
lainnya, bahan dasarnya tetap dari daging. Namun sepertinya ada bahan tambahan 
atau racikan yang agak beda dengan soto lainnya. Soto Dok rasanya lebih "seksi" 
sebab kuahnya tak terlalu mblenek seperti jenis soto lainnya. Dan yang tak 
pernah terlupakan, ada taogenya yang menjadi "aksesoris" Soto Dok dan mungkin 
ini membuat beda dengan soto lainnya.

        Dinamakan Soto Dok karena penjualnya melayani pembeli dengan cara yang 
unik yaitu setelah menuang kecap dari botol ke dalam mangkuk langsung 
meletakkan kembali botol kecap dengan cara yang keras seperti menggebrak atau 
membanting botol kecap ke meja hingga menimbuklan bunyi: DOK! Pembeli pemula 
atau yang tak biasa tentu akan kaget dan mengira penjualnya kasar.

        Dulu, ketika masih kecil saya seringkali diajak orang tua ke Pasar Lama 
Mojoagung, pasar di kampungnya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (sekarang sudah 
dipindah 1 km ke arah barat). Di pasar itulah saya seringkali diajak andok 
menikmati Soto Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen di 
tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja panjang dan 
lebar yang di atas meja ditaruh berbagai abrakan atau perkakas termasuk panci 
penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya. Bentuknya tetap mirip penjual soto 
keliling yang dipikul, apalagi pikulan atau alat pemikul masih ditata 
sedemikian rupa di atas meja. Bentuk pikulan-nya yang terbuat dari bambu dan 
berhias rotan melengkung dan memanjang, terkesan mirip sekali lengkungan atap 
Rumah Minang.

        Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan Jombang kota dulu 
juga banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang petang penjual Soto Dok kaki 
lima mulai menggelar dagangannya. Apalagi di Pujasera atau Kebonrojo, dulu 
banyak juga yang penjual Soto Dok. Kebetulan selama hampir dua tahun, tahun 
1993-1995, saya indekost di seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu gerbang 
sebelah utara Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan yang 
dijual di situ, terutama jenis makanan yang murah!

        Demikian juga, dulu di Jalan Pattimura tepat di seberang SMP Negeri I 
Jombang atau SMK Negeri 3 (dulu STM Negeri Jombang), juga ada penjual Soto Dok 
yang buka tenda setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 Rp. 400,- 
plus Es Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura merupakan 
salah satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak pelanggan dari 
anak sekolah yang indekost di sekitar situ.

        Beberapa waktu yang lalu, saya juga mendapati penjual Soto Dok di 
Jakarta, iseng-iseng tanya ke penjualnya, ternyata penjualnya orang Jombang 
juga, tapi saya lupa Jombang mana dia berasal. Sementara di Kota Surabaya juga 
banyak penjual Soto Dok meskipun yang jualan bukan orang Jombang.


        Nah, beberapa waktu yang lalu ada grenengan yang saya dengar, kalau 
Soto Dok ini akan ditetapkan menjadi makanan khas Jombang. Bahkan Bupati 
Jombang, dengar-dengar mau membuat Perdanya, disamping Perda Ludruk (bukan 
Ludruk Perda) sebagai upaya untuk melestarikan kesenian Ludruk yang memang 
cikal bakalnya dari Jombang. Saya kurang begitu jelas Perda tentang Soto Dok 
nanti seperti apa, dan pelaksanaannya nanti bagiamana, namanya juga masih 
grenengan.

        Namun yang jelas tujuan seperti itu sangat baik untuk memperkenalkan 
salah satu jenis kuliner Jombang untuk lebih mengindonesia. Mungkin juga dari 
Soto Dok ini bisa mencari "identitas nJombang" yang selama ini masih 
remeng-remeng. "Pengakuan" atas Soto Dok sebagai makanan khas Jombang 
setidaknya akan mendukung wisata Jombang dan terutama secara ekonomi, akan 
mampu meningkatkan perekonomian warga Jombang, setidaknya bagi penjual Soto Dok 
dan petani-peternak. Lho, kok petani-peternak? Ya, sebab yang dijual adalah 
nasi dan bahan dasar utama Soto Dok adalah daging, jadi jangan dilupakan 
petani-peternaknya!

        Sumber: http://pencangkul.blogspot.com
        Kunjungi selalu http://bango-mania.blogspot.com 



  

Kirim email ke