Karena pantat botol selalu lebih tebal lapisannya. Makanya tidak pecah. 

Kalau Soto Gebrak yang di Jakarta, penjualnya berasal dari Lamongan. 


Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia


  ----- Original Message ----- 
  From: Abdur Rohman 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, September 02, 2009 11:34 PM
  Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?


    Anehnya, itu botol kecap kok gak pecah ya...?! Padalah kan berulang kali 
dihantamkan ke meja untuk membuat bebunyian "DOK!" atau "BRAK!"-nya agar 
menarik perhatian pengunjung.

        --- On Fri, 9/4/09, mediacare <[email protected]> wrote:


          From: mediacare <[email protected]>
          Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?
          To: [email protected]
          Date: Friday, September 4, 2009, 2:44 AM


            
           

          Kalau di Jakarta, disebut Soto Gebrak.

          Penjual menaruh botol kecapnya dengan kencang. Maka berbunyi: "Gebrak'

          Kagetlah para pengunjung.. .



            ----- Original Message ----- 
            From: Abdur Rohman 
            To: bango-mania@ yahoogroups. com 
            Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:24 PM
            Subject: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?


              
                  Soto Dok, Makanan Khas Jombang? 

                  DULU ada seorang kawan yang ketika akan ikut mudik ke 
Jombang, hal pertama yang dipertanyakannya adalah makanan apa yang enak dan 
khas di Jombang? Pertanyaan yang kelihatan sederhana tetapi sulit bagi saya 
untuk bisa menjawabnya dengan segera. Bagi saya butuh hastabrata sebelum 
melakukan “penerawangan” dengan metode mutakhir untuk dapat menemukan 
literatur-literatur makanan enak dan khas di Jombang.

                  Bagaimana tidak, sebagai anak kost selepas SMP tahun 1993 
lalu, bagi saya ada makanan yang bisa dimakan saja sudah sebuah karunia yang 
luar biasa enaknya. Ini malah membedakan makanan itu enak atau tidak enak. 
Bagai mengurai simpul-simpul benang kusut.

                  Di Jombang, meskipun tak ada rumah makan atau restaurant 
sekelas KFC, McD, atau HC seperti di dekat Air Mancur yang ada di Bogor dan 
kota-kota besar lainnya, namun bukan berarti di Jombang tak ada makanan-makanan 
enak. Di Jombang banyak sekali jenis-jenis makanan yang menggugah selera 
seperti halnya di kota-kota lain. Persoalannya, makanan apa yang khas yang 
sekaligus bisa menunjukkan “identitas nJombang”, itu yang membuat saya tambah 
bingung lagi.

                  Ada Nasi Pecel tetapi masih kalah tenar dengan Pecel Madiun 
meskipun penjual Nasi Pecel di Jombang jumlahnya seabrek dari kelas emperan 
sampai kelas depot atau cafe. Bahkan mata belum melek beneran atau pagi-pagi 
buta kita akan mudah mendapatkan Nasi Pecel. Kaum ibu dan si mbok-mbok dengan 
sepeda onthel banyak yang menjajakan Nasi Pecel ke kompleks-kompleks perumahan, 
tempat kost dan ngetem di beberapa ruas jalan. Di Jombang penjual Nasi Pecel 
banyak yang ngetem di perempatan Jalan Wahid Hasyim persis dekat Rumah Sakit 
Umum Daerah. Sedangkan yang tempat berjualannya permanen yang paling enak 
menurut lidah saya ada di Depot Giri Jaya di Jalan Merdeka. Lauknya cukup 
komplet dan kebersihannya cukup terjamin.

                  “Kring kring kring, cel pecel, pecele Mas!” Itu kata-kata 
yang sering saya dengar dulu dari ibu-ibu dan si mbok-mbok penjual Nasi Pecel 
keliling setiap pagi dengan sepeda onthelnya ketika melintas di depan asrama 
pondokan saya.

                  Lalu di Jombang juga ada Soto, tetapi masih kalah 
meng-Indonesia dengan Soto Lamongan meskipun di Jombang ada Soto Pak Loso yang 
menurut lidah saya lebih enak dari pada Soto Lamongan yang ada di kawasan 
Lingkar Kampus Darmaga Bogor yang rasanya gak ngalor gak ngidul itu.

                  Berikutnya Sate. Di Jombang dulu ada Sate Ringin Contong, 
sebab berjualannya di sekitar Ringin Contong. Kemudian juga Sate H. Faqih di 
kawasan Pesantren Tebu Ireng, di seberang PG Tjoekir yang pernah diulas oleh 
Raja Wisata Kuliner, Bondan Winarno. Namun kedua jenis sate tersebut masih 
kalah mendunia dengan Sate Madura. Terkait dengan Sate Madura ini, dulu ada 
guyonan kawan sekamar asrama pondok yang asli Sumenep Madura. Mengapa pesawat 
jarang terbang ke Madura? Jawabnya, sebab kalau terbang ke Madura, pesawat 
sering terjebak asap di udara Madura karena penjual Sate Madura sedang membakar 
sate! Ini saking banyaknya penjual sate di Madura.

                  Makanan berikutnya adalah Bakso. Bakso masih kalah tenar 
dengan aneka Bakso Malang (di Jombang ada Bakso Bakar Malang dan Bakso Cak Man 
Malang) atau Bakso Solo. Namun di Jombang sebenarnya ada bakso yang sangat 
terkenal dan cukup legendaris (setidaknya saya mengenalnya dan sering 
mencicipinya sejak saya kanak-kanak) , yaitu Bakso Nuklir yang “digawangi” Haji 
Sumarto alias Cak To Nuklir yang berada persis di seberang RSK atau Rumah Sakit 
Kristen Mojowarno. Dulu ketika saya masih SD (1984-1990), saya sering mendengar 
promosi Bakso Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Jombang. 
Disebut Bakso Nuklir sebab baksonya memang ukurannya jumbo dan rasanya tak 
sekadar “nendang” tetapi “meledak” dahsyat, sedahsyat letusan bom nuklir.

                  Selanjutnya ada Sego Sadhukan. Ini mungkin khas Jombang, 
tetapi kayaknya tak etis menjamu tamu jauh dengan Sego Sadhukan atau kalau di 
kawasan Malioboro Ngayogjakarta Hadiningrat disebut sebagai Nasi Kucing. Makan 
Sego Sadhukan bisa menjadi alternatif jika memang kantong benar-benar kering 
dan perut benar-benar keroncongan.

                  Sego Sadhukan adalah nasi bungkus yang isinya sekepal nasi, 
ada mie, lauk tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan kadang-kadang ada ikan 
terinya. Sadhukan artinya tendangan, mungkin karena porsinya yang minimalize 
itulah dinamakan Sego Sadhukan, sekali tendang langsung bisa mencelat jauh atau 
sekali santap langsung habis. Dulu di kawasan Simpang Tiga atau Pertigaan Tugu 
Adipura dan juga sekitar Stasiun dan Alun-alun kalau malam hari Sego Sadhukan 
mudah didapatkan. Karena harganya murah maka sangat cocok bagi anak kost yang 
uangnya pas-pasan.

                  Then, the next badhokan di Jombang yang sempat saya ingat dan 
mungkin paling enak dan unik adalah makanan yang di masa kecil sering saya 
santap, yaitu Soto Dok. Ya, Soto Dok ini tak jauh beda dengan makanan sejenis 
soto lainnya, bahan dasarnya tetap dari daging. Namun sepertinya ada bahan 
tambahan atau racikan yang agak beda dengan soto lainnya. Soto Dok rasanya 
lebih “seksi” sebab kuahnya tak terlalu mblenek seperti jenis soto lainnya. Dan 
yang tak pernah terlupakan, ada taogenya yang menjadi “aksesoris” Soto Dok dan 
mungkin ini membuat beda dengan soto lainnya.

                  Dinamakan Soto Dok karena penjualnya melayani pembeli dengan 
cara yang unik yaitu setelah menuang kecap dari botol ke dalam mangkuk langsung 
meletakkan kembali botol kecap dengan cara yang keras seperti menggebrak atau 
membanting botol kecap ke meja hingga menimbuklan bunyi: DOK! Pembeli pemula 
atau yang tak biasa tentu akan kaget dan mengira penjualnya kasar.

                  Dulu, ketika masih kecil saya seringkali diajak orang tua ke 
Pasar Lama Mojoagung, pasar di kampungnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (sekarang 
sudah dipindah 1 km ke arah barat). Di pasar itulah saya seringkali diajak 
andok menikmati Soto Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen 
di tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja panjang 
dan lebar yang di atas meja ditaruh berbagai abrakan atau perkakas termasuk 
panci penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya. Bentuknya tetap mirip penjual 
soto keliling yang dipikul, apalagi pikulan atau alat pemikul masih ditata 
sedemikian rupa di atas meja. Bentuk pikulan-nya yang terbuat dari bambu dan 
berhias rotan melengkung dan memanjang, terkesan mirip sekali lengkungan atap 
Rumah Minang.

                  Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan Jombang 
kota dulu juga banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang petang penjual Soto 
Dok kaki lima mulai menggelar dagangannya. Apalagi di Pujasera atau Kebonrojo, 
dulu banyak juga yang penjual Soto Dok. Kebetulan selama hampir dua tahun, 
tahun 1993-1995, saya indekost di seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu 
gerbang sebelah utara Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan 
yang dijual di situ, terutama jenis makanan yang murah!

                  Demikian juga, dulu di Jalan Pattimura tepat di seberang SMP 
Negeri I Jombang atau SMK Negeri 3 (dulu STM Negeri Jombang), juga ada penjual 
Soto Dok yang buka tenda setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 
Rp. 400,- plus Es Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura 
merupakan salah satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak 
pelanggan dari anak sekolah yang indekost di sekitar situ.

                  Beberapa waktu yang lalu, saya juga mendapati penjual Soto 
Dok di Jakarta, iseng-iseng tanya ke penjualnya, ternyata penjualnya orang 
Jombang juga, tapi saya lupa Jombang mana dia berasal. Sementara di Kota 
Surabaya juga banyak penjual Soto Dok meskipun yang jualan bukan orang Jombang.


                  Nah, beberapa waktu yang lalu ada grenengan yang saya dengar, 
kalau Soto Dok ini akan ditetapkan menjadi makanan khas Jombang. Bahkan Bupati 
Jombang, dengar-dengar mau membuat Perdanya, disamping Perda Ludruk (bukan 
Ludruk Perda) sebagai upaya untuk melestarikan kesenian Ludruk yang memang 
cikal bakalnya dari Jombang. Saya kurang begitu jelas Perda tentang Soto Dok 
nanti seperti apa, dan pelaksanaannya nanti bagiamana, namanya juga masih 
grenengan.

                  Namun yang jelas tujuan seperti itu sangat baik untuk 
memperkenalkan salah satu jenis kuliner Jombang untuk lebih mengindonesia. 
Mungkin juga dari Soto Dok ini bisa mencari “identitas nJombang” yang selama 
ini masih remeng-remeng. “Pengakuan” atas Soto Dok sebagai makanan khas Jombang 
setidaknya akan mendukung wisata Jombang dan terutama secara ekonomi, akan 
mampu meningkatkan perekonomian warga Jombang, setidaknya bagi penjual Soto Dok 
dan petani-peternak. Lho, kok petani-peternak? Ya, sebab yang dijual adalah 
nasi dan bahan dasar utama Soto Dok adalah daging, jadi jangan dilupakan 
petani-peternaknya!

                  Sumber: http://pencangkul. blogspot. com
                  Kunjungi selalu http://bango- mania.blogspot. com 


       



  

Kirim email ke