IKUT NAMBAHI/MELENGKAPI.
Krbetulan sy pernah tinggal diJombang,di Mojoagung dekat dengan pasar lama itu. 
Memang soto dok mempunyai ciri yang perlu dilestarikan. selain ada bunyian dok 
dari botol yang diletakkan dimeja menimbulkan suara dok, soto dok mempunyai 
ciri : bahan dari daging sapi, ada sedikit jerohan sapi dan didberi kecambah. 
Kuah tidak sama dengan soto madura. Memang lebih seksi. Kebetulabn sekali yang 
jualan soto dok diPasar lama Mojoagung itu tetangga satu pagar dengan rumah 
nenek saya.
 
Pada generasi pertama, saya dan kawan-kawan memanggilnya " wak(bapak 
tua) Min". Sekarang yang jualan sudah generasi kedua dan ketiga. Dari keturunan 
wak min ini akhirnya muncul soto dok dimalang, dahulu dikota lama itu anaknya, 
demikian soto dok pertama diJogya juga anak wakmin.  Kalau tidak salah yang ada 
di Malang, Jogya, Jakarta sekarang sudah generasi ketiga. 
 
Semoga ya kemauan pemerintah daerah untuk mengangkat soto dok menjadi kenyataan 
dan akan menjadi warisan yang memperkaya kuliner kita. Saya setuju kalau SOTO 
DOK ini mempunyai citarasa yang seksi. Tapi kalau pecel walau ada dimana-mana, 
(seantero jombang maksudnya), tapi masih belum bisa memunculkan jatidirinya 
sebagai pecel khas jombang.

Semoga,
 
mugi.
 
 
 

--- On Wed, 9/2/09, Abdur Rohman <[email protected]> wrote:


From: Abdur Rohman <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:34 PM


  







Anehnya, itu botol kecap kok gak pecah ya...?! Padalah kan berulang kali 
dihantamkan ke meja untuk membuat bebunyian "DOK!" atau "BRAK!"-nya agar 
menarik perhatian pengunjung.

--- On Fri, 9/4/09, mediacare <mediac...@cbn. net.id> wrote:


From: mediacare <mediac...@cbn. net.id>
Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?
To: bango-mania@ yahoogroups. com
Date: Friday, September 4, 2009, 2:44 AM


  

 
Kalau di Jakarta, disebut Soto Gebrak.
 
Penjual menaruh botol kecapnya dengan kencang. Maka berbunyi: "Gebrak'
 
Kagetlah para pengunjung.. .
 
 
 

----- Original Message ----- 
From: Abdur Rohman 
To: bango-mania@ yahoogroups. com 
Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:24 PM
Subject: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang?

  






Soto Dok, Makanan Khas Jombang? 
DULU ada seorang kawan yang ketika akan ikut mudik ke Jombang, hal pertama yang 
dipertanyakannya adalah makanan apa yang enak dan khas di Jombang? Pertanyaan 
yang kelihatan sederhana tetapi sulit bagi saya untuk bisa menjawabnya dengan 
segera. Bagi saya butuh hastabrata sebelum melakukan “penerawangan” dengan 
metode mutakhir untuk dapat menemukan literatur-literatur makanan enak dan khas 
di Jombang.

Bagaimana tidak, sebagai anak kost selepas SMP tahun 1993 lalu, bagi saya ada 
makanan yang bisa dimakan saja sudah sebuah karunia yang luar biasa enaknya. 
Ini malah membedakan makanan itu enak atau tidak enak. Bagai mengurai 
simpul-simpul benang kusut.

Di Jombang, meskipun tak ada rumah makan atau restaurant sekelas KFC, McD, atau 
HC seperti di dekat Air Mancur yang ada di Bogor dan kota-kota besar lainnya, 
namun bukan berarti di Jombang tak ada makanan-makanan enak. Di Jombang banyak 
sekali jenis-jenis makanan yang menggugah selera seperti halnya di kota-kota 
lain. Persoalannya, makanan apa yang khas yang sekaligus bisa menunjukkan 
“identitas nJombang”, itu yang membuat saya tambah bingung lagi.

Ada Nasi Pecel tetapi masih kalah tenar dengan Pecel Madiun meskipun penjual 
Nasi Pecel di Jombang jumlahnya seabrek dari kelas emperan sampai kelas depot 
atau cafe. Bahkan mata belum melek beneran atau pagi-pagi buta kita akan mudah 
mendapatkan Nasi Pecel. Kaum ibu dan si mbok-mbok dengan sepeda onthel banyak 
yang menjajakan Nasi Pecel ke kompleks-kompleks perumahan, tempat kost dan 
ngetem di beberapa ruas jalan. Di Jombang penjual Nasi Pecel banyak yang ngetem 
di perempatan Jalan Wahid Hasyim persis dekat Rumah Sakit Umum Daerah. 
Sedangkan yang tempat berjualannya permanen yang paling enak menurut lidah saya 
ada di Depot Giri Jaya di Jalan Merdeka. Lauknya cukup komplet dan 
kebersihannya cukup terjamin.

“Kring kring kring, cel pecel, pecele Mas!” Itu kata-kata yang sering saya 
dengar dulu dari ibu-ibu dan si mbok-mbok penjual Nasi Pecel keliling setiap 
pagi dengan sepeda onthelnya ketika melintas di depan asrama pondokan saya.

Lalu di Jombang juga ada Soto, tetapi masih kalah meng-Indonesia dengan Soto 
Lamongan meskipun di Jombang ada Soto Pak Loso yang menurut lidah saya lebih 
enak dari pada Soto Lamongan yang ada di kawasan Lingkar Kampus Darmaga Bogor 
yang rasanya gak ngalor gak ngidul itu.

Berikutnya Sate. Di Jombang dulu ada Sate Ringin Contong, sebab berjualannya di 
sekitar Ringin Contong. Kemudian juga Sate H. Faqih di kawasan Pesantren Tebu 
Ireng, di seberang PG Tjoekir yang pernah diulas oleh Raja Wisata Kuliner, 
Bondan Winarno. Namun kedua jenis sate tersebut masih kalah mendunia dengan 
Sate Madura. Terkait dengan Sate Madura ini, dulu ada guyonan kawan sekamar 
asrama pondok yang asli Sumenep Madura. Mengapa pesawat jarang terbang ke 
Madura? Jawabnya, sebab kalau terbang ke Madura, pesawat sering terjebak asap 
di udara Madura karena penjual Sate Madura sedang membakar sate! Ini saking 
banyaknya penjual sate di Madura.

Makanan berikutnya adalah Bakso. Bakso masih kalah tenar dengan aneka Bakso 
Malang (di Jombang ada Bakso Bakar Malang dan Bakso Cak Man Malang) atau Bakso 
Solo. Namun di Jombang sebenarnya ada bakso yang sangat terkenal dan cukup 
legendaris (setidaknya saya mengenalnya dan sering mencicipinya sejak saya 
kanak-kanak) , yaitu Bakso Nuklir yang “digawangi” Haji Sumarto alias Cak To 
Nuklir yang berada persis di seberang RSK atau Rumah Sakit Kristen Mojowarno. 
Dulu ketika saya masih SD (1984-1990), saya sering mendengar promosi Bakso 
Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Jombang. Disebut Bakso 
Nuklir sebab baksonya memang ukurannya jumbo dan rasanya tak sekadar “nendang” 
tetapi “meledak” dahsyat, sedahsyat letusan bom nuklir.

Selanjutnya ada Sego Sadhukan. Ini mungkin khas Jombang, tetapi kayaknya tak 
etis menjamu tamu jauh dengan Sego Sadhukan atau kalau di kawasan Malioboro 
Ngayogjakarta Hadiningrat disebut sebagai Nasi Kucing. Makan Sego Sadhukan bisa 
menjadi alternatif jika memang kantong benar-benar kering dan perut benar-benar 
keroncongan.

Sego Sadhukan adalah nasi bungkus yang isinya sekepal nasi, ada mie, lauk 
tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan kadang-kadang ada ikan terinya. Sadhukan 
artinya tendangan, mungkin karena porsinya yang minimalize itulah dinamakan 
Sego Sadhukan, sekali tendang langsung bisa mencelat jauh atau sekali santap 
langsung habis. Dulu di kawasan Simpang Tiga atau Pertigaan Tugu Adipura dan 
juga sekitar Stasiun dan Alun-alun kalau malam hari Sego Sadhukan mudah 
didapatkan. Karena harganya murah maka sangat cocok bagi anak kost yang uangnya 
pas-pasan.

Then, the next badhokan di Jombang yang sempat saya ingat dan mungkin paling 
enak dan unik adalah makanan yang di masa kecil sering saya santap, yaitu Soto 
Dok. Ya, Soto Dok ini tak jauh beda dengan makanan sejenis soto lainnya, bahan 
dasarnya tetap dari daging. Namun sepertinya ada bahan tambahan atau racikan 
yang agak beda dengan soto lainnya. Soto Dok rasanya lebih “seksi” sebab 
kuahnya tak terlalu mblenek seperti jenis soto lainnya. Dan yang tak pernah 
terlupakan, ada taogenya yang menjadi “aksesoris” Soto Dok dan mungkin ini 
membuat beda dengan soto lainnya.

Dinamakan Soto Dok karena penjualnya melayani pembeli dengan cara yang unik 
yaitu setelah menuang kecap dari botol ke dalam mangkuk langsung meletakkan 
kembali botol kecap dengan cara yang keras seperti menggebrak atau membanting 
botol kecap ke meja hingga menimbuklan bunyi: DOK! Pembeli pemula atau yang tak 
biasa tentu akan kaget dan mengira penjualnya kasar.

Dulu, ketika masih kecil saya seringkali diajak orang tua ke Pasar Lama 
Mojoagung, pasar di kampungnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (sekarang sudah 
dipindah 1 km ke arah barat). Di pasar itulah saya seringkali diajak andok 
menikmati Soto Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen di 
tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja panjang dan 
lebar yang di atas meja ditaruh berbagai abrakan atau perkakas termasuk panci 
penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya. Bentuknya tetap mirip penjual soto 
keliling yang dipikul, apalagi pikulan atau alat pemikul masih ditata 
sedemikian rupa di atas meja. Bentuk pikulan-nya yang terbuat dari bambu dan 
berhias rotan melengkung dan memanjang, terkesan mirip sekali lengkungan atap 
Rumah Minang.

Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan Jombang kota dulu juga 
banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang petang penjual Soto Dok kaki lima 
mulai menggelar dagangannya. Apalagi di Pujasera atau Kebonrojo, dulu banyak 
juga yang penjual Soto Dok. Kebetulan selama hampir dua tahun, tahun 1993-1995, 
saya indekost di seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu gerbang sebelah 
utara Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan yang dijual di 
situ, terutama jenis makanan yang murah!

Demikian juga, dulu di Jalan Pattimura tepat di seberang SMP Negeri I Jombang 
atau SMK Negeri 3 (dulu STM Negeri Jombang), juga ada penjual Soto Dok yang 
buka tenda setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 Rp. 400,- plus 
Es Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura merupakan salah 
satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak pelanggan dari anak 
sekolah yang indekost di sekitar situ.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga mendapati penjual Soto Dok di Jakarta, 
iseng-iseng tanya ke penjualnya, ternyata penjualnya orang Jombang juga, tapi 
saya lupa Jombang mana dia berasal. Sementara di Kota Surabaya juga banyak 
penjual Soto Dok meskipun yang jualan bukan orang Jombang.


Nah, beberapa waktu yang lalu ada grenengan yang saya dengar, kalau Soto Dok 
ini akan ditetapkan menjadi makanan khas Jombang. Bahkan Bupati Jombang, 
dengar-dengar mau membuat Perdanya, disamping Perda Ludruk (bukan Ludruk Perda) 
sebagai upaya untuk melestarikan kesenian Ludruk yang memang cikal bakalnya 
dari Jombang. Saya kurang begitu jelas Perda tentang Soto Dok nanti seperti 
apa, dan pelaksanaannya nanti bagiamana, namanya juga masih grenengan.

Namun yang jelas tujuan seperti itu sangat baik untuk memperkenalkan salah satu 
jenis kuliner Jombang untuk lebih mengindonesia. Mungkin juga dari Soto Dok ini 
bisa mencari “identitas nJombang” yang selama ini masih remeng-remeng. 
“Pengakuan” atas Soto Dok sebagai makanan khas Jombang setidaknya akan 
mendukung wisata Jombang dan terutama secara ekonomi, akan mampu meningkatkan 
perekonomian warga Jombang, setidaknya bagi penjual Soto Dok dan 
petani-peternak. Lho, kok petani-peternak? Ya, sebab yang dijual adalah nasi 
dan bahan dasar utama Soto Dok adalah daging, jadi jangan dilupakan 
petani-peternaknya!

Sumber: http://pencangkul. blogspot. com
Kunjungi selalu http://bango- mania.blogspot. com

















      

Kirim email ke