halo mas Abdur Rohman, belum pernah ketemu ya? padahal satu kota. Upik dan Bambang yang paling sering ketemu saya kalau liputan kuliner. salam kenal juga :)
--- On Tue, 9/15/09, Abdur Rohman <[email protected]> wrote: From: Abdur Rohman <[email protected]> Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? To: [email protected] Date: Tuesday, September 15, 2009, 3:38 PM Waduh! Mbak Marta ini Jombang Banget... Salam kenal... www.arohman. co.cc --- On Mon, 9/14/09, marta nurfaidah <pippom...@yahoo. com> wrote: From: marta nurfaidah <pippom...@yahoo. com> Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? To: bango-mania@ yahoogroups. com Date: Monday, September 14, 2009, 5:07 PM hai, kebetulan saya juga asli Jombang. Soto Dok yang pernah dikenal di Jl Wachid Hasyim, dekat dengan Bank BCA dan Ringin Contong (ini neh bangunan penyimpan air yang jadi pengenal Kota Jombang). Saat itu tahun 1994an, saya masih di bangku SMP. Cirinya, setelah meracik nasi dan kuah soto, si penjual menaruh botol berisi kecap asin atau bumbu tambahan soto dengan keras di atas meja kayu hingga berbunyi 'dok'. Rasanya enak. Kalau pecel macam-macam cara jualannya. Ada yang buka malam hari (paling terkenal pecel bu Sastro, ini turun temurun sekarang yang jualan anaknya. Kebetulan tetangga saya) di Jl Wachid Hasyim, depan Kodim.. Ada kuah tumpang juga, jadi sedap dilahap. Soto ayam yang dikenal ada di sekitar Diwek dan Tebuireng. Saya lupa namanya, hehe. Tapi memang dijamin enak. Ada pula soto ayam di dekat jembatan Panengel (plesetan dari kata Van Hangel, orang Belanda). Ini lokasi di Jombang kotanya, di situ ada sate ayam pula. Soto ayamnya disajikan dengan kecambah dan irisan kubis. Terasa segar. Atau pecel sunggian (pakai wadah dari jalinan bambu untuk disunggi di kepala) yang dijual pagi hari. Biasanya ada di depan toko cetak foto Aneka, Jl Wachid Hasyim, atau dekat BKIA Jombang, Jl Urip Sumoharjo. Pecel yang dijual naik sepeda banyak, ada di Kebonrojo (pagi hari), ini tempat pusat jajanan di Jombang. Salah satunya yang disebut mas Mugiono di depan stasiun, sebagian besar mereka keliling kompleks perumahan atau kampung. Kalau nasi kikil (lebih dikenal ceceg di Jombang, atau krecek) biasanya dekat Stasiun Jombang kalau malam hari. Sate dan gule kambing ada juga yang terkenal, di perempatan Masjid Tugu Jombang. Ini tetangga juga kebetulan. hehe. Silahkan mencoba. --- On Thu, 9/3/09, Mugiono Mugiono <mgio...@yahoo. com> wrote: From: Mugiono Mugiono <mgio...@yahoo. com> Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? To: bango-mania@ yahoogroups. com Date: Thursday, September 3, 2009, 3:22 PM IKUT NAMBAHI/MELENGKAPI. Krbetulan sy pernah tinggal diJombang,di Mojoagung dekat dengan pasar lama itu. Memang soto dok mempunyai ciri yang perlu dilestarikan. selain ada bunyian dok dari botol yang diletakkan dimeja menimbulkan suara dok, soto dok mempunyai ciri : bahan dari daging sapi, ada sedikit jerohan sapi dan didberi kecambah. Kuah tidak sama dengan soto madura. Memang lebih seksi. Kebetulabn sekali yang jualan soto dok diPasar lama Mojoagung itu tetangga satu pagar dengan rumah nenek saya. Pada generasi pertama, saya dan kawan-kawan memanggilnya " wak(bapak tua) Min". Sekarang yang jualan sudah generasi kedua dan ketiga. Dari keturunan wak min ini akhirnya muncul soto dok dimalang, dahulu dikota lama itu anaknya, demikian soto dok pertama diJogya juga anak wakmin. Kalau tidak salah yang ada di Malang, Jogya, Jakarta sekarang sudah generasi ketiga. Semoga ya kemauan pemerintah daerah untuk mengangkat soto dok menjadi kenyataan dan akan menjadi warisan yang memperkaya kuliner kita. Saya setuju kalau SOTO DOK ini mempunyai citarasa yang seksi. Tapi kalau pecel walau ada dimana-mana, (seantero jombang maksudnya), tapi masih belum bisa memunculkan jatidirinya sebagai pecel khas jombang. Semoga, mugi. --- On Wed, 9/2/09, Abdur Rohman <arohmanmail@ yahoo.com> wrote: From: Abdur Rohman <arohmanmail@ yahoo.com> Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? To: bango-mania@ yahoogroups. com Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:34 PM Anehnya, itu botol kecap kok gak pecah ya...?! Padalah kan berulang kali dihantamkan ke meja untuk membuat bebunyian "DOK!" atau "BRAK!"-nya agar menarik perhatian pengunjung. --- On Fri, 9/4/09, mediacare <mediac...@cbn. net.id> wrote: From: mediacare <mediac...@cbn. net.id> Subject: Re: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? To: bango-mania@ yahoogroups. com Date: Friday, September 4, 2009, 2:44 AM Kalau di Jakarta, disebut Soto Gebrak. Penjual menaruh botol kecapnya dengan kencang. Maka berbunyi: "Gebrak' Kagetlah para pengunjung.. . ----- Original Message ----- From: Abdur Rohman To: bango-mania@ yahoogroups. com Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:24 PM Subject: [bango-mania] Soto Dok, Makanan Khas Jombang? Soto Dok, Makanan Khas Jombang? DULU ada seorang kawan yang ketika akan ikut mudik ke Jombang, hal pertama yang dipertanyakannya adalah makanan apa yang enak dan khas di Jombang? Pertanyaan yang kelihatan sederhana tetapi sulit bagi saya untuk bisa menjawabnya dengan segera. Bagi saya butuh hastabrata sebelum melakukan “penerawangan” dengan metode mutakhir untuk dapat menemukan literatur-literatur makanan enak dan khas di Jombang. Bagaimana tidak, sebagai anak kost selepas SMP tahun 1993 lalu, bagi saya ada makanan yang bisa dimakan saja sudah sebuah karunia yang luar biasa enaknya. Ini malah membedakan makanan itu enak atau tidak enak. Bagai mengurai simpul-simpul benang kusut. Di Jombang, meskipun tak ada rumah makan atau restaurant sekelas KFC, McD, atau HC seperti di dekat Air Mancur yang ada di Bogor dan kota-kota besar lainnya, namun bukan berarti di Jombang tak ada makanan-makanan enak. Di Jombang banyak sekali jenis-jenis makanan yang menggugah selera seperti halnya di kota-kota lain. Persoalannya, makanan apa yang khas yang sekaligus bisa menunjukkan “identitas nJombang”, itu yang membuat saya tambah bingung lagi. Ada Nasi Pecel tetapi masih kalah tenar dengan Pecel Madiun meskipun penjual Nasi Pecel di Jombang jumlahnya seabrek dari kelas emperan sampai kelas depot atau cafe. Bahkan mata belum melek beneran atau pagi-pagi buta kita akan mudah mendapatkan Nasi Pecel. Kaum ibu dan si mbok-mbok dengan sepeda onthel banyak yang menjajakan Nasi Pecel ke kompleks-kompleks perumahan, tempat kost dan ngetem di beberapa ruas jalan. Di Jombang penjual Nasi Pecel banyak yang ngetem di perempatan Jalan Wahid Hasyim persis dekat Rumah Sakit Umum Daerah... Sedangkan yang tempat berjualannya permanen yang paling enak menurut lidah saya ada di Depot Giri Jaya di Jalan Merdeka. Lauknya cukup komplet dan kebersihannya cukup terjamin. “Kring kring kring, cel pecel, pecele Mas!” Itu kata-kata yang sering saya dengar dulu dari ibu-ibu dan si mbok-mbok penjual Nasi Pecel keliling setiap pagi dengan sepeda onthelnya ketika melintas di depan asrama pondokan saya. Lalu di Jombang juga ada Soto, tetapi masih kalah meng-Indonesia dengan Soto Lamongan meskipun di Jombang ada Soto Pak Loso yang menurut lidah saya lebih enak dari pada Soto Lamongan yang ada di kawasan Lingkar Kampus Darmaga Bogor yang rasanya gak ngalor gak ngidul itu. Berikutnya Sate. Di Jombang dulu ada Sate Ringin Contong, sebab berjualannya di sekitar Ringin Contong. Kemudian juga Sate H. Faqih di kawasan Pesantren Tebu Ireng, di seberang PG Tjoekir yang pernah diulas oleh Raja Wisata Kuliner, Bondan Winarno. Namun kedua jenis sate tersebut masih kalah mendunia dengan Sate Madura. Terkait dengan Sate Madura ini, dulu ada guyonan kawan sekamar asrama pondok yang asli Sumenep Madura. Mengapa pesawat jarang terbang ke Madura? Jawabnya, sebab kalau terbang ke Madura, pesawat sering terjebak asap di udara Madura karena penjual Sate Madura sedang membakar sate! Ini saking banyaknya penjual sate di Madura. Makanan berikutnya adalah Bakso. Bakso masih kalah tenar dengan aneka Bakso Malang (di Jombang ada Bakso Bakar Malang dan Bakso Cak Man Malang) atau Bakso Solo. Namun di Jombang sebenarnya ada bakso yang sangat terkenal dan cukup legendaris (setidaknya saya mengenalnya dan sering mencicipinya sejak saya kanak-kanak) , yaitu Bakso Nuklir yang “digawangi” Haji Sumarto alias Cak To Nuklir yang berada persis di seberang RSK atau Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Dulu ketika saya masih SD (1984-1990), saya sering mendengar promosi Bakso Nuklir lewat Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Jombang. Disebut Bakso Nuklir sebab baksonya memang ukurannya jumbo dan rasanya tak sekadar “nendang” tetapi “meledak” dahsyat, sedahsyat letusan bom nuklir. Selanjutnya ada Sego Sadhukan. Ini mungkin khas Jombang, tetapi kayaknya tak etis menjamu tamu jauh dengan Sego Sadhukan atau kalau di kawasan Malioboro Ngayogjakarta Hadiningrat disebut sebagai Nasi Kucing. Makan Sego Sadhukan bisa menjadi alternatif jika memang kantong benar-benar kering dan perut benar-benar keroncongan. Sego Sadhukan adalah nasi bungkus yang isinya sekepal nasi, ada mie, lauk tahu-tempe diiris kecil-kecil, dan kadang-kadang ada ikan terinya. Sadhukan artinya tendangan, mungkin karena porsinya yang minimalize itulah dinamakan Sego Sadhukan, sekali tendang langsung bisa mencelat jauh atau sekali santap langsung habis. Dulu di kawasan Simpang Tiga atau Pertigaan Tugu Adipura dan juga sekitar Stasiun dan Alun-alun kalau malam hari Sego Sadhukan mudah didapatkan. Karena harganya murah maka sangat cocok bagi anak kost yang uangnya pas-pasan. Then, the next badhokan di Jombang yang sempat saya ingat dan mungkin paling enak dan unik adalah makanan yang di masa kecil sering saya santap, yaitu Soto Dok. Ya, Soto Dok ini tak jauh beda dengan makanan sejenis soto lainnya, bahan dasarnya tetap dari daging. Namun sepertinya ada bahan tambahan atau racikan yang agak beda dengan soto lainnya. Soto Dok rasanya lebih “seksi” sebab kuahnya tak terlalu mblenek seperti jenis soto lainnya. Dan yang tak pernah terlupakan, ada taogenya yang menjadi “aksesoris” Soto Dok dan mungkin ini membuat beda dengan soto lainnya. Dinamakan Soto Dok karena penjualnya melayani pembeli dengan cara yang unik yaitu setelah menuang kecap dari botol ke dalam mangkuk langsung meletakkan kembali botol kecap dengan cara yang keras seperti menggebrak atau membanting botol kecap ke meja hingga menimbuklan bunyi: DOK! Pembeli pemula atau yang tak biasa tentu akan kaget dan mengira penjualnya kasar. Dulu, ketika masih kecil saya seringkali diajak orang tua ke Pasar Lama Mojoagung, pasar di kampungnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (sekarang sudah dipindah 1 km ke arah barat). Di pasar itulah saya seringkali diajak andok menikmati Soto Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen di tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja panjang dan lebar yang di atas meja ditaruh berbagai abrakan atau perkakas termasuk panci penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya. Bentuknya tetap mirip penjual soto keliling yang dipikul, apalagi pikulan atau alat pemikul masih ditata sedemikian rupa di atas meja. Bentuk pikulan-nya yang terbuat dari bambu dan berhias rotan melengkung dan memanjang, terkesan mirip sekali lengkungan atap Rumah Minang. Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan Jombang kota dulu juga banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang petang penjual Soto Dok kaki lima mulai menggelar dagangannya. Apalagi di Pujasera atau Kebonrojo, dulu banyak juga yang penjual Soto Dok. Kebetulan selama hampir dua tahun, tahun 1993-1995, saya indekost di seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu gerbang sebelah utara Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan yang dijual di situ, terutama jenis makanan yang murah! Demikian juga, dulu di Jalan Pattimura tepat di seberang SMP Negeri I Jombang atau SMK Negeri 3 (dulu STM Negeri Jombang), juga ada penjual Soto Dok yang buka tenda setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 Rp. 400,- plus Es Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura merupakan salah satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak pelanggan dari anak sekolah yang indekost di sekitar situ. Beberapa waktu yang lalu, saya juga mendapati penjual Soto Dok di Jakarta, iseng-iseng tanya ke penjualnya, ternyata penjualnya orang Jombang juga, tapi saya lupa Jombang mana dia berasal. Sementara di Kota Surabaya juga banyak penjual Soto Dok meskipun yang jualan bukan orang Jombang. Nah, beberapa waktu yang lalu ada grenengan yang saya dengar, kalau Soto Dok ini akan ditetapkan menjadi makanan khas Jombang. Bahkan Bupati Jombang, dengar-dengar mau membuat Perdanya, disamping Perda Ludruk (bukan Ludruk Perda) sebagai upaya untuk melestarikan kesenian Ludruk yang memang cikal bakalnya dari Jombang. Saya kurang begitu jelas Perda tentang Soto Dok nanti seperti apa, dan pelaksanaannya nanti bagiamana, namanya juga masih grenengan. Namun yang jelas tujuan seperti itu sangat baik untuk memperkenalkan salah satu jenis kuliner Jombang untuk lebih mengindonesia. Mungkin juga dari Soto Dok ini bisa mencari “identitas nJombang” yang selama ini masih remeng-remeng. “Pengakuan” atas Soto Dok sebagai makanan khas Jombang setidaknya akan mendukung wisata Jombang dan terutama secara ekonomi, akan mampu meningkatkan perekonomian warga Jombang, setidaknya bagi penjual Soto Dok dan petani-peternak. Lho, kok petani-peternak? Ya, sebab yang dijual adalah nasi dan bahan dasar utama Soto Dok adalah daging, jadi jangan dilupakan petani-peternaknya! Sumber: http://pencangkul. blogspot. com Kunjungi selalu http://bango- mania.blogspot. com
