Alhamdulilah, Terimakasih. Itu memang yang seharusnya selalu diucapkan
tersirat ataupun tersurat. Tapi kadang kita lupa dan khilaf saat sesuatu
menimpa diri
kita sendiri, kejadian yang tidak menyenangkan tentunya.

Saya pernah merasakan yang demikian. Suasana jadi lepas kontrol, rasa
bersyukur tiba2 hilang dan tertutup
amarah dan benci. Memang rasa itu hanya beberapa saat dan hidayah datang
Alhamdulillah Tuhan masih sayang dengan
hambanya ini, dan saya melihat, kejadian yang terjadi sebenarnya sarana kita
untuk tumbuh berkembang menjadi manusia yang bersyukur, Qona ah, nrimo,
menerima sesuatu yang terjadi.

Mampukah kita melewati kejadian tidak menyenangkan itu? Tuhan maha baik, Dia
berikan sesuatu yang terbaik buat semua umat Nya. Baik dan buruk semua pasti
ada hikmahnya dan menjadi pengalaman berharga dalam hidup kita juga tingkat
derajat kita dimata Tuhan.

Alhamdullilah,

Tio


  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
Adi Permana
  Sent: Friday, May 25, 2007 11:47 PM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [Bicara] Terimakasih Tuhan



  Mbak..
  Emang kita akan merasa bersyukur klo liat ke"bawah",
  Itulah HIDAYAH, tidak semua orang mendapat hidayah. Bisa jadi banyak orang
melihat "DIA YANG CACAT", tapi tidak, sekali lagi  tidak semua yang melihat
mendapatkan pelajaran.
  Saya setuju "Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita
inginkan"

  Semoga kita selalu diberi hidayah agar lebih bersyukur atas apa yang telah
kita dapat.


  Salam kenal,
  Adi Permana
  Surabaya
  rika purba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Pagi ini, tidak biasanya saya menempuh perjalanan naik angkot ke kantor.
Bukan apa-apa, memang kantor saya tidak jauh dari rumah tempat tinggal saya.
Namun, tadi malam saya menginap di rumah sau dara, karena ada urusan
penting. Jadilah pagi ini saya naik angkot.

    Kebetulan saya duduk di depan, silau nakal matahari pagi memaksa saya
memejamkan mata dan memang sambil mengantuk, karena semalam lama berdiskusi
dengan saudara saya. Tiba-tiba saya tertarik oleh sebuah pemandangan. Di
sebrang jalan berdiri seorang bapak paruh baya. Beliau hendak menyebrang dan
bermaksud menumpangi angkot yang saya tumpangi. Apa yang menarik? Bukankah
itu pemandangan biasa di jalan raya setiap hari?

    Namun, bagi saya pagi ini ada hikmah luar biasa. Kenapa? iya, Bapak itu,
bapak yang usianya sekitar 40 tahun, wajahnya ganteng, senyum di wajahnya
menunjukkan betapa ia begitu bersemangat berangkat kerja.

    Hm... masih penasaran. Hikmah luar biasa? Apa maksudnya? Iya, bapak
itu.. beliau menjinjing tas, yang isinya map dan amplop-amplop. saya tidak
tahu isinya apa. saya juga tidak tau profesinya apa. Apakah beliau karyawan,
guru, sales, debt collector, entahlah.

    Makin bingung? iya, wajar. artinya anda hanyut dengan cerita saya. Apa
yang menarik perhatian saya, apa yang membuat saya tergelitik memilih judul
begitu. Iya, bapak itu, beliau tidaklah seperti saya. tidak seperti saya
yang mempunyai tangan lengkap, mempunyai kaki yang sempurna. Beliau
mempunyai tangan cacat. entah seperti apa,saya pun kurang jelas. tapi yang
pasti beliau tidak memiliki jari tangan yang lengkap, ukuran tangan yang
normal, telapak tangan yang lebar. Pun, beliau tidak punya dua kaki yang
lengkap yang bisa menopang tubuhnya. Kaki beliau mungkin hanya selutut saja.
Mungkin tinggi badannyapun tidak sampai 1 meter kotor. Ingat dengan Hee Ahh
Lee, si tangan lobster yang mahir memainkan tuts-tuts pianonya? Mungkin
ukuran tubuh beliau persis seperti dia.

    Tapi semangat itu, wajah berseri itu? Tidak ada beban di wajahnya. Dia
mensyukuri keadaannya. Sampai ke pemberhentian terakhir angkot yang saya
tumpangi pagi ini, beliau pun turun. entah menuju ke arah mana, saya tidak
sempat lagi memperhatikannya. Dan saya juga tidak mau menunjukkan kalau saya
memperhatikan beliau.

    Saya meneruskan perjalanan saya. sepanjang jalan, saya merenungkan
kembali pemandangan tadi. yang baru beberapa menit berlalu. Dalam hati aya
mulai berkata, terimakasih Tuhan atas tubuh yang sempurna ini, terimakasih
Tuhan atas dua kaki, dua tangan, dua mata, mulut, dan semuanya. Ini sungguh
sempurna.

    Ada semangat baru yang timbul setelah melihat pemandangan itu. Iya...
rasa bersyukur atas banyak hal. Ternyata begitu banyak yang saya lewatkan
selama ini. Ternyata sering tanpa kita sadari, kita mengeluhkah hal-hal yang
seharusnya tidak perlu dikeluhkan. Tuhan begitu baik pada kita. Tuhan
memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

    Bahkan bapak itu, beliau masih bisa memberikan senyumnya yang tulus,
mengalirkan semangatnya bagi yang bisa merasakannya. Terimakasih Tuhan untuk
pelajaran berharga pagi ini.

    Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik setiap hari, setiap
waktu, setiap menit, bahkan dalam setiap helaan nafas. Oleh sebab itu
berterimakasih kepadaNya. Kepada dia si pemberi hidup.

    Salam,
    Rika - Jkt



----------------------------------------------------------------------------
    Food fight? Enjoy some healthy debate
    in the Yahoo! Answers Food Drink Q&A.




----------------------------------------------------------------------------
--
  Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!

  

Kirim email ke