Mbak Rika,
Pagi ini saya pun tidak seperti biasanya, datang ke kantor langsung membuka
email. Ada sesuatu yang tiba-tiba menarik saya untuk membaca artikel
"Terimakasih Tuhan". Beberapa hari ini juga merupakan hal yang berat untuk
saya. Bahkan pagi ini, saya merasa malas sekali pergi ke kantor. Kejenuhan saya
dengan suasana kantor, apalagi dengan atas saya. Memang, sudah dua bulan ini
saya tidak bertegur sapa dengan atasan saya. Saya juga tidak pernah tahu
penyebab pasti sehingga atasan saya bersikap saya seperti itu. ini bukalah yang
pertama beliau mendiamkan saya. setiap kali ada hal yang saya ajukan (program
atau pun segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan saya), beliau pasti
mendiamkan saya. Tanpa mengatakan atau menegur apa yang salah dengan cara kerja
dan sikap saya. Akhirnya, ya.......jadi saya males-malesan pergi ke kantor,
meskipun semua pekerjaan tetap saya selesaikan dan kerjakan tepat waktu. Namun
yang bikin capek, ketika bepapasan selalu saja terjadi perang dingin
yang hebat dan tak terkatakan. Buntut-buntutnya, yang semakin membuat malas,
kerja lembur saya ketika masuk di hari libur ataupun kelebihan jam kerja pun
tidak pernah diperhitungkan. Saya pun mulai jadi mudah mengeluh. Apapun hal
yang terjadi pada saya, terutama sesuatu yang tidak menyenagkan dan menyulitkan
saya membuat saya selalu protes dengan Tuhan. Bahkan kadang saya berpikir,
apakah sikap Tuhan juga sama dengan sikap atasan saya. Saya merasa nglokro,
ngak bersemangat untuk melakukan banyak hal. Yang ada hanya sikap menyerah.
Namun, artikel Mbak Rika membuat saya tersentuh. Seketika itu, tanpa saya
sadari saya menangis membacanya. Saya menyesal menjadi orang yang tidak
bersemangat dan mudah menyerah. Makasih yang mbak untuk inspirasinya...........
Listi
Jogja
Adi Permana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak..
Emang kita akan merasa bersyukur klo liat ke"bawah",
Itulah HIDAYAH, tidak semua orang mendapat hidayah. Bisa jadi banyak orang
melihat "DIA YANG CACAT", tapi tidak, sekali lagi tidak semua yang melihat
mendapatkan pelajaran.
Saya setuju "Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita
inginkan"
Semoga kita selalu diberi hidayah agar lebih bersyukur atas apa yang telah
kita dapat.
Salam kenal,
Adi Permana
Surabaya
rika purba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pagi ini, tidak biasanya saya menempuh perjalanan naik angkot ke
kantor. Bukan apa-apa, memang kantor saya tidak jauh dari rumah tempat tinggal
saya. Namun, tadi malam saya menginap di rumah saudara, karena ada urusan
penting. Jadilah pagi ini saya naik angkot.
Kebetulan saya duduk di depan, silau nakal matahari pagi memaksa saya
memejamkan mata dan memang sambil mengantuk, karena semalam lama berdiskusi
dengan saudara saya. Tiba-tiba saya tertarik oleh sebuah pemandangan. Di
sebrang jalan berdiri seorang bapak paruh baya. Beliau hendak menyebrang dan
bermaksud menumpangi angkot yang saya tumpangi. Apa yang menarik? Bukankah itu
pemandangan biasa di jalan raya setiap hari?
Namun, bagi saya pagi ini ada hikmah luar biasa. Kenapa? iya, Bapak itu,
bapak yang usianya sekitar 40 tahun, wajahnya ganteng, senyum di wajahnya
menunjukkan betapa ia begitu bersemangat berangkat kerja.
Hm... masih penasaran. Hikmah luar biasa? Apa maksudnya? Iya, bapak itu..
beliau menjinjing tas, yang isinya map dan amplop-amplop. saya tidak tahu
isinya apa. saya juga tidak tau profesinya apa. Apakah beliau karyawan, guru,
sales, debt collector, entahlah.
Makin bingung? iya, wajar. artinya anda hanyut dengan cerita saya. Apa yang
menarik perhatian saya, apa yang membuat saya tergelitik memilih judul begitu.
Iya, bapak itu, beliau tidaklah seperti saya. tidak seperti saya yang mempunyai
tangan lengkap, mempunyai kaki yang sempurna. Beliau mempunyai tangan cacat.
entah seperti apa,saya pun kurang jelas. tapi yang pasti beliau tidak memiliki
jari tangan yang lengkap, ukuran tangan yang normal, telapak tangan yang lebar.
Pun, beliau tidak punya dua kaki yang lengkap yang bisa menopang tubuhnya. Kaki
beliau mungkin hanya selutut saja. Mungkin tinggi badannyapun tidak sampai 1
meter kotor. Ingat dengan Hee Ahh Lee, si tangan lobster yang mahir memainkan
tuts-tuts pianonya? Mungkin ukuran tubuh beliau persis seperti dia.
Tapi semangat itu, wajah berseri itu? Tidak ada beban di wajahnya. Dia
mensyukuri keadaannya. Sampai ke pemberhentian terakhir angkot yang saya
tumpangi pagi ini, beliau pun turun. entah menuju ke arah mana, saya tidak
sempat lagi memperhatikannya. Dan saya juga tidak mau menunjukkan kalau saya
memperhatikan beliau.
Saya meneruskan perjalanan saya. sepanjang jalan, saya merenungkan kembali
pemandangan tadi. yang baru beberapa menit berlalu. Dalam hati aya mulai
berkata, terimakasih Tuhan atas tubuh yang sempurna ini, terimakasih Tuhan atas
dua kaki, dua tangan, dua mata, mulut, dan semuanya. Ini sungguh sempurna.
Ada semangat baru yang timbul setelah melihat pemandangan itu. Iya... rasa
bersyukur atas banyak hal. Ternyata begitu banyak yang saya lewatkan selama
ini. Ternyata sering tanpa kita sadari, kita mengeluhkah hal-hal yang
seharusnya tidak perlu dikeluhkan. Tuhan begitu baik pada kita. Tuhan
memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Bahkan bapak itu, beliau masih bisa memberikan senyumnya yang tulus,
mengalirkan semangatnya bagi yang bisa merasakannya. Terimakasih Tuhan untuk
pelajaran berharga pagi ini.
Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik setiap hari, setiap waktu,
setiap menit, bahkan dalam setiap helaan nafas. Oleh sebab itu berterimakasih
kepadaNya. Kepada dia si pemberi hidup.
Salam,
Rika - Jkt
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food Drink Q&A.
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.