Terimakasih Tuhan oleh karena saya bisa berbagi kasih dengan sesama saya.
Terimakasih buat Tio, mbak Listi di Jogja, Mas Adi di Surabaya, Mas Dedi di
Jkt.
Pengalaman yang kecil ini bisa membukakan pikiran kita, pintu hati kita untuk
lebih bersyukur. Terkadang terlalu sering melihat ke "Atas" yang membuat kita
mengeluh, membuat kita lupa diri, dan tidak jarang pula tersandung. Padahal
kalau kita melihat ke "Bawah" ternyata kita jauh lebih beruntung.
"Saya merasa hari ini sangat indah".
salam,
Rika Purba - Jkt
Tio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Alhamdulilah, Terimakasih. Itu memang yang seharusnya selalu
diucapkan
tersirat ataupun tersurat. Tapi kadang kita lupa dan khilaf saat sesuatu
menimpa diri
kita sendiri, kejadian yang tidak menyenangkan tentunya.
Saya pernah merasakan yang demikian. Suasana jadi lepas kontrol, rasa
bersyukur tiba2 hilang dan tertutup
amarah dan benci. Memang rasa itu hanya beberapa saat dan hidayah datang
Alhamdulillah Tuhan masih sayang dengan
hambanya ini, dan saya melihat, kejadian yang terjadi sebenarnya sarana kita
untuk tumbuh berkembang menjadi manusia yang bersyukur, Qona ah, nrimo,
menerima sesuatu yang terjadi.
Mampukah kita melewati kejadian tidak menyenangkan itu? Tuhan maha baik, Dia
berikan sesuatu yang terbaik buat semua umat Nya. Baik dan buruk semua pasti
ada hikmahnya dan menjadi pengalaman berharga dalam hidup kita juga tingkat
derajat kita dimata Tuhan.
Alhamdullilah,
Tio
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Adi Permana
Sent: Friday, May 25, 2007 11:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Bicara] Terimakasih Tuhan
Mbak..
Emang kita akan merasa bersyukur klo liat ke"bawah",
Itulah HIDAYAH, tidak semua orang mendapat hidayah. Bisa jadi banyak orang
melihat "DIA YANG CACAT", tapi tidak, sekali lagi tidak semua yang melihat
mendapatkan pelajaran.
Saya setuju "Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita
inginkan"
Semoga kita selalu diberi hidayah agar lebih bersyukur atas apa yang telah
kita dapat.
Salam kenal,
Adi Permana
Surabaya
rika purba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pagi ini, tidak biasanya saya menempuh perjalanan naik angkot ke
kantor. Bukan apa-apa, memang kantor saya tidak jauh dari rumah tempat tinggal
saya. Namun, tadi malam saya menginap di rumah sau dara, karena ada urusan
penting. Jadilah pagi ini saya naik angkot.
Kebetulan saya duduk di depan, silau nakal matahari pagi memaksa saya
memejamkan mata dan memang sambil mengantuk, karena semalam lama berdiskusi
dengan saudara saya. Tiba-tiba saya tertarik oleh sebuah pemandangan. Di
sebrang jalan berdiri seorang bapak paruh baya. Beliau hendak menyebrang dan
bermaksud menumpangi angkot yang saya tumpangi. Apa yang menarik? Bukankah itu
pemandangan biasa di jalan raya setiap hari?
Namun, bagi saya pagi ini ada hikmah luar biasa. Kenapa? iya, Bapak itu,
bapak yang usianya sekitar 40 tahun, wajahnya ganteng, senyum di wajahnya
menunjukkan betapa ia begitu bersemangat berangkat kerja.
Hm... masih penasaran. Hikmah luar biasa? Apa maksudnya? Iya, bapak itu..
beliau menjinjing tas, yang isinya map dan amplop-amplop. saya tidak tahu
isinya apa. saya juga tidak tau profesinya apa. Apakah beliau karyawan, guru,
sales, debt collector, entahlah.
Makin bingung? iya, wajar. artinya anda hanyut dengan cerita saya. Apa yang
menarik perhatian saya, apa yang membuat saya tergelitik memilih judul begitu.
Iya, bapak itu, beliau tidaklah seperti saya. tidak seperti saya yang mempunyai
tangan lengkap, mempunyai kaki yang sempurna. Beliau mempunyai tangan cacat.
entah seperti apa,saya pun kurang jelas. tapi yang pasti beliau tidak memiliki
jari tangan yang lengkap, ukuran tangan yang normal, telapak tangan yang lebar.
Pun, beliau tidak punya dua kaki yang lengkap yang bisa menopang tubuhnya. Kaki
beliau mungkin hanya selutut saja. Mungkin tinggi badannyapun tidak sampai 1
meter kotor. Ingat dengan Hee Ahh Lee, si tangan lobster yang mahir memainkan
tuts-tuts pianonya? Mungkin ukuran tubuh beliau persis seperti dia.
Tapi semangat itu, wajah berseri itu? Tidak ada beban di wajahnya. Dia
mensyukuri keadaannya. Sampai ke pemberhentian terakhir angkot yang saya
tumpangi pagi ini, beliau pun turun. entah menuju ke arah mana, saya tidak
sempat lagi memperhatikannya. Dan saya juga tidak mau menunjukkan kalau saya
memperhatikan beliau.
Saya meneruskan perjalanan saya. sepanjang jalan, saya merenungkan kembali
pemandangan tadi. yang baru beberapa menit berlalu. Dalam hati aya mulai
berkata, terimakasih Tuhan atas tubuh yang sempurna ini, terimakasih Tuhan atas
dua kaki, dua tangan, dua mata, mulut, dan semuanya. Ini sungguh sempurna.
Ada semangat baru yang timbul setelah melihat pemandangan itu. Iya... rasa
bersyukur atas banyak hal. Ternyata begitu banyak yang saya lewatkan selama
ini. Ternyata sering tanpa kita sadari, kita mengeluhkah hal-hal yang
seharusnya tidak perlu dikeluhkan. Tuhan begitu baik pada kita. Tuhan
memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Bahkan bapak itu, beliau masih bisa memberikan senyumnya yang tulus,
mengalirkan semangatnya bagi yang bisa merasakannya. Terimakasih Tuhan untuk
pelajaran berharga pagi ini.
Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik setiap hari, setiap waktu,
setiap menit, bahkan dalam setiap helaan nafas. Oleh sebab itu berterimakasih
kepadaNya. Kepada dia si pemberi hidup.
Salam,
Rika - Jkt
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food Drink Q&A.
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
========================================================================
http://www.dt-88.net/index.php?id=Rika
http://www.rikapoerba.blogspot.com
================================================================
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.