Yth Pak Zam-zam

Terimakasih banyak atas masukannya.

Beberapa minggu belakangan, saya juga sibuk berpikir keras untuk 
membuat semua situasi ini menjadi lebih baik.

Tidak mudah memang, menjalani sebuah posisi yang berdiri di antara 
banyak orang dengan banyak kepentingan dan banyak sistem tata nilai.

Saya sendiri, sebagai seorang muslim Insya Allah paham bahwa dalam 
konteks apapun kehidupan saya, semuanya harus bernilai ibadah. Di 
antara faktor ibadah itu, adalah tentang kewajiban untuk berdakwah 
dan menyampaikan apa yang telah digariskan oleh Islam.

Pada saat yang sama, sebagai seorang moderator saya memoderatori 
sebuah milis yang tidak secara khusus berorientasi kepada suatu agama.

Semoga apa yang saya sampaikan ini tidak membuat saya jatuh kepada 
kesalahan fatal yang membuat saya masuk ke neraka. Naudzubillah Min 
Dzaalik.

Ungkapan Pak Zam-zam cukup mengena. Oleh sebab itu saya akan 
mengakomodasinya, khususnya setelah Pak Zam-zam mengungkapkan point 
tentang "kedalaman".

Berkaitan dengan sifat dan karakter milis ini, soal "kedalaman" 
memang menjadi krusial manakala kita memahami bahwa setiap member di 
milis ini, baik yang muslim maupun bukan muslim, memiliki "kedalaman" 
yang berbeda dalam memahami sebuah sistem tata nilai, khususnya Islam.

Dengan perbedaan "kedalaman" itu, maka risiko salah kaprah, salah 
persepsi akan menjadi lebih tinggi.

Jika kesalahan demikian terjadi, maka saya selaku moderator juga akan 
menanggung akibatnya di "kemudian hari". Dengan kata lain, saya 
mungkin merasa "menyampaikan" sesuatu yang dianggap baik dan benar, 
tapi ternyata tidak atau belum tentu. Saya, tentu saja tidak ingin 
menanggung risiko kesalahan semacam itu di hadapan Allah SWT.

"Kedalaman" saya sendiri, barulah beberapa senti meter saja. DENGAN 
KATA LAIN, sesungguhnyalah saya belum berada pada kapasitas untuk 
"menyampaikan", baik secara langsung lewat postingan saya, maupun 
tidak langsung melalui proses approval berbagai posting yang mampir 
ke milis ini. SAYA BUKAN AHLINYA.

Atas dasar itu, dengan ini saya selaku moderator Milis Bicara, 
memohon dengan hormat, (tanpa mengurangi rasa hormat saya atas 
kedalaman ilmu para member di milis ini, khususnya Anda berdua, Pak 
Agus Syafii dan Pak Jamhari Maskat, dan tanpa mengurangi pembenaran 
atas apa-apa yang saya yakini benar di dalam berbagai posting Anda 
berdua), agar Pak Agus Syafii dan Jamhari Maskat mengurangi tingkat 
"kedalaman" posting-posting Anda berdua.

Sampaikanlah apa-apa saja, yang lebih sederhana, dan lebih mudah 
dicerna. Yang tidak mengundang kontroversi, kecuali dalam hal yang 
sifatnya fundamental (Anda berdua lebih tahu yang mana).

Semoga Allah SWT mengampuni saya. Semoga kewajiban dakwah saya tetap 
jalan. Insya Allah, Amiienn.

Perlu diketahui, secara pribadi, dorongan saya untuk membangun milis 
ini adalah:

1. Menjadi sebaik-baiknya manusia, dengan sebanyak mungkin bermanfaat 
bagi manusia lain.

2. "Bicara Baik Atau Diam", dalam keyakinan saya menyangkut dua hal:

a. CONTENT-nya BAIK; dan
b. CARA-nya BAIK.

Soal CONTENT, saya yakin bahwa semua member di milis ini punya 
CONTENT yang baik.

Soal CARA, inilah yang menjadi bagian dari DINAMIKA milis ini. 
Termasuk, semua posting yang terkait dengan postingan ini sendiri.

Di sinilah  kita belajar bersama, bagaimana menyampaikan sesuatu yang 
tidak hanya BAIK ISI-nya, tapi juga BAIK CARA-nya.

Contoh-contoh terbaik, telah didemonstrasikan belakangan ini, 
khususnya oleh Pak Agus Syafii dan Pak Jamhari Maskat. Dan khusus 
untuk Pak Jamhari Maskat, apa yang pernah ditegurkan kepadanya, 
adalah berkaitan dengan CARA YANG BAIK.

CARA YANG BAIK itu sendiri, setidaknya di dalam pemahaman saya, di 
antaranya adalah:

- Penyesuaian "kedalaman" CONTENT dengan target audience. Dengan 
sistem nilai yang telah ada pada mereka, dan dengan kultur yang telah 
melekat pada mereka;
- Penggunaan kata dan bahasa, apakah kasar, menyakitkan, flamming, 
membuat tidak nyaman, atau sebaliknya indah, menyentuh, membuat 
nyaman, dan lebih dari itu, "diterima dengan hati terbuka".
- Penyuntikan dan pelekatan EMOSI ke dalam kata-kata. Gesture bahasa 
sangat menentukan apakah sesuatu "akan sampai atau malah memantul".

Semua itu, berkaitan dengan respon pembelajaran semua member di sini 
berkaitan dengan bahasa.

Salah satu hal yang terpenting adalah perbedaan mendasar antara 
bahasa LISAN dan TERTULIS, di mana bahasa TULISAN lebih memiliki 
dampak yang subyektif bagi pembacanya.

Itu sebabnya, HAL YANG BAIK, jika disampaikan dengan CARA YANG KURANG 
BAIK, justru tidak mendapat dukungan atau malah dijauhi dan dibenci. 
Padahal, maksud awal dari setiap postingan, tentu saja "dibaca dengan 
nyaman". Enak di baca dan perlu. Bukankah itu yang menjadi target 
sebuat tulisan?

Bukankah nyaris setiap konflik horisontal berakar pada CARA?

Sekedar blak-blakan dan apa adanya, belum tentu membuat "sebuah 
kebenaran" akan sampai ke "hati". Bisa jadi, ia hanya sampai ke 
"telinga". Apalagi, jika CARA penyampaiannya justru membuat lebih 
merah warnanya. Apa yang dimaksud, akan jauh dari kesampaian.

Sekali lagi mohon maaf, semoga dimengerti, dan sampaikanlah segala 
sesuatu, tidak hanya BAIK ISI-nya, tapi juga BAIK CARA-nya. Sesuaikan 
"kedalaman"-nya. Buatlah semuanya menjadi "diterima". Bukan malah 
tertolak. Mulutmu, harimaumu.

Sukses buat Anda semua.

Ikhwan Sopa
Moderator Milis Bicara
http://milis-bicara.blogspot.com

--- In [email protected], "zamzamahmadnurzaman" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Jamhari yang saya hormati, dan mohon perhatian moderator milis
> bicara, alangkah bijaknya apabila tafsir versi pribadi/golongan atas
> ayat suci  yang menyangkut tentang berita dalam al quran tidak usah 
di
> post di ruang publik seperti di milis bicara ini, baiknya 
didiskusikan
> dengan ulama, guru guru dan ahli ahli tafsir pada tempat yang lebih
> layak, hal tersebut dikarenakan tidak semua pembaca mempunyai
> kedalaman ilmu yang sama untuk mencerna   tafsir tafsir tersebut.
> mohon maaf bila ada kata kata yang salah.
> 
> hormat saya
> zamzam 
> 
> 
>  
> --- In [email protected], Jamhari Maskat <salam_jakarta@> 
wrote:
> >
> > Tanggapan ini bukan untuk meresahkan tetapi sebagai bahan 
renungan 
> > 
> > Salam dari Jakarta,
> > 
> > Cerita tentang Adam dan Hawa atau Tentang Kakek Adam dan NeneK 
Hawa
> ini sangat menarik jika kita melihat dalam film atau drama ketika
> keduanya terusir kedunia dalam keadaan telanjang, kasian...
> > 
> > Bagi seorang yang selalu memperhatikan ayat-ayat Allah dalam
> Al-Quran tentunya akan sama dengan saya yang mempunyai berbagai
> pertanyaan : Apa benar cerita itu ........Kalau benar Alhamdulillah.
> > 
> > Tapi ini ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan untuk
> dipakai sebagai bahan renungan.....:
> > 
> > 1.  Sebelum Nabi Adam diciptakan, Allah telah berfirman : wa-
izqaala
> rabbuka lilmalaikati : "Innii jaailun fil Ardhi khaalifah", Suatu
> ketika Allah berkata kepada Malaikat : "Sesungguhnya Saya  akan
> menjadikan Khalifah di permukaan Bumi"
> > Dialog selanjutnya adalah tentang budaya jadi kita garis bawahi 
saja
> pada ayat ini bahwa Sebelum Nabi Adam diciptakan Allah telah berkata
> bahwa Nabi Adam akan diciptakan di Bumi...
> > 
> > 2.  Diceritakan bahwa Adam dibuat dari segumpal tanah, timbul
> pertanyaan, yang ada tanah itu hanya di Bumi, tapi ada yang bilang 
itu
> Tanah di Surga.... maka terjadilah perdebatan.
> > 
> > 3.  Pada Ayat yang lain Allah berfirman bahwa : "Inna matsali 
'Isya
> wa inna kamatsali Adam" Sesungguhnya tentang penciptaan Isya ibnu
> Maryam itu seperti penciptaan Adam, jadi analisanya karena Nabi Isa
> itu di ciptakan di Bum ini, maka Nabi Adam juga dengan tanah di 
Bumi ini.
> > 
> > 4. Kalau ada pendapat yang sudah melekat dari ajaran semua Agama 
di
> Syurga yaitu diatas sana, maka kita susah untuk mengatakan Syurga 
itu
> planet atau Taman (bagian dari planet)
> > 
> > 5. Istilah di ATAS, inipun membingungkan, jika anda mengatakan 
atas
> itu di atas Indonesia, maka orang di Amerika akan mengatakan atas
> sambil menunjuk keatas kepala mereka, sama-sama menunjuk keatas pada
> saat yang sama hasilnya berbeda karena bumi itu bulat bukan seperti
> perkiraan Columbus bahwa bumi itu datar.
> > 
> > 6.  Boleh jadi ada kesalahan memandang ayat-ayat dalam bentuk
> ungkapan diterjemahkan dalam bentuk leterleyk atau gamblang. 
Sehingga
> kata-kata Jannah itu yang arti terbatasnya adalah Taman atau  Kebun,
> adalah dimaksud Allah sebagai ungkapan untuk tempat orang-orang yang
> beriman di Dunia ini, Termasuk yang pertama bagi Adam dan Hawa 
karena
> Nabi Adam sudah diajarkan Ilmu sehingga mampu menaklukkan Malaikat
> dalam satu mimbar terbuka.
> > Jannah yang dimaksud itu merupakan ungkapan, bahwa mereka orang
> beriman itu tidak terpengaruh oleh bujukan Syetan, walaupun Syetan
> selalu membujuk dengan berbagai cara untuk meninggalkan Jannah atau
> Taman itu.
> > 
> > 7.  Adapun Pohon yang dilarang itu (Syajarah) juga merupakan
> ungkapan larangan agar Adam itu jangan pernah mau mendekati 
kehidupan
> Syirik, karena semua kesalahan akan diampuni kecuali Syirik, yaitu
> orang yang dengan sombongnya menjadi diri sendiri, makan, makan
> sendiri, minum, minum sendiri, kawin, kawin sendiri?
> > Jika anda merasa hidup di dunia ini sendiri, maka Syetan akan
> menemani anda dalam berpikir dan merasa, yang haram akan dibujuk
> menjadi halal, yang dilarang akan dibujuk menjadi yang disuruh.
> > 
> > 8. Maka ketika Adam terpeleset dengan menjadi diri sendiri, maka
> kutukan Allahpun datang, pakaian Surga atau pakaian Taqwa yang
> dipakainya menjadi terlepas sehingga Adam dan Hawa telanjang dalam
> kehidupan budayanya, mikir, mikir bedua Hawa, makan , makan bedua
> Hawa, tidur, tidur bedua Hawa, Syetan pun menjadi yang ketiga. Kata
> Nabi Muhammad jika ada dua insan berlainan jenis berkumpul di suatu
> kamar, maka datang pihak ketiga yaitu Syaithon untuk menggoda. Jadi
> godaan Syaithan itu selalu ada dimana-mana.
> > 
> > 9. Maka Adam bertobat, dimana? di Mekah tempat pertama kali
> kebudayaan manusia diciptakan Allah, Doa Adam itu sampai sekarang
> masih  diikuti oleh Ummat Islam diseluruh dunia, kecuali  yang tidak
> mau. Akhirnya di Arafah Taubat mereka diterima Allah..........
> > Maka Allah berfirman : Di Bumi ini kamu diciptakan, di Bumi ini 
kamu
> dimatikan dan di Bumi ini kamu akan dibangkitkan....
> > 
> > Nah dengan masukkan ini, saya mau mengingatkan kenapa Nabi 
Muhammad
> bersabda : Ummatku akan masuk Syurga (sejak abad ketujuh sampai 
qiamat
> nanti) tanpa disentuh oleh api neraka adalah 70.000 orang, yang lain
> masuk dulu naraka baru akan memperoleh pengampunan hi hi hi hi.
> > 
> > Ngomong-ngomong, orang Indonesia kebagian jatah berapa yaa?
> > 200.000 kaya jatah Haji ? Ngga mungkin lah yau..
> > 
> > Wassalam
> > Djamhari Maskat
> > www.biofir.com/maskat
> > 
> >    
> > 
> > agussyafii <agussyafii@> wrote:                              
> Kesulitan Sebagai bagian Sistem Hidup
> >  
> >  Syahdan ketika Adam dan Hawa masih berada di sorga, Alloh SWT
> >  mempersilahkan kepada keduanya untuk menikmati semua fasilitas 
sorga
> >  tanpa harus berjuang lebih dahulu, karena sorga memang bukan 
medan
> >  perjuangan. Dari fasilitas kenikmatan surgawi yang tak terhitung
> >  jumlahnya, seperti disebut dalam al Qur'an, hanya satu yang 
dilarang
> >  oleh Alloh SWT, yaitu tidak boleh memetik buah khuldi, wala 
taqroba
> >  hadzihis syajarota fatakuna min al khosirin, jangan kalian dekati
> >  pohon ini, kalian berdua bisa rugi nanti.
> >  
> >  Rupanya sudah menjadi scenario pembelajaran, bahwa manusia 
terkadang
> >  tidak pandai bersyukur. Sudah diperbolehkan mengambil semua 
kecuali
> >  yang satu ini, eh justeru larangan itulah yang menggodanya. 
Syetan
> >  menggoda Adam dengan menanamkan logika bahwa kunci keabadian itu 
ada
> >  dalam pohon yang terlarang itu . Semua fasilitas surgawi tak 
bermakna
> >  tanpa yang satu itu, rayu syaitan. Adam bersikukuh tak mau 
menyentuh
> >  yang dilarang. Namanya juga syaitan,gagal menggoda Adam, syaitan 
tak
> >  berputus asa, ia mendatangi Hawa isterinya. Rupanya juga sudah 
menjadi
> >  scenario, wanita lebih mudah tergoda untuk mengetahui rahasia 
dibalik
> >  larangan itu, maka Hawa lah yang merajuk merayu Adam supaya 
dipetikkan
> >  buah terlarang itu. Juga sudah menjadi scenario, laki-laki 
sering tak
> >  tahan berpegang kepada prinsip jika mendapat rayuan wanita, maka
> >  Adampun melanggar prinsip yang dianut, melanggar apa yang 
dilarang
> >  Alloh SWT, memetik buah khuldi demi menyenangkan isteri tercinta.
> >  
> >  Setelah pelanggaran itu babak baru kehidupan manusia dimulai. 
Adam dan
> >  Hawa terlempar dari surga yang segalanya serba mudah dan nikmat, 
lalu
> >  ditempatkan dimuka bumi sebagai khalifah Alloh. 
> >  
> >  Firman Alloh SWT, di bumi segalanya juga telah Kusediakan 
untukmu,
> >  tetapi tidak ada yang gratis di sana. Segala 
kesenangan,kenikmatan
> >  bisa kalian peroleh setelah kalian berhasil berjuang menaklukkan
> >  kesulitan. Lama Adam dan Hawa harus beradaptasi dengan 
sunnatulloh
> >  kehidupan dibumi. Tapi Adam dan Hawa tidak bisa lari dari system
> >  hidup, Adam pun harus menghadapi kenyataan dua anaknya, Qabil dan
> >  Habil terlibat konflik hingga berbunuhan. Benarkah hidup di 
dunia ini
> >  tidak enak karena harus menghadapi kesulitan ? Ternyata, seperti 
yang
> >  disebut al Qur.an, bersama kesulitan ada kemudahan, inna ma`a 
al`usri
> >  yusro, dan dibalik kesulitan ada kenikmatan.
> >  
> >  Salam Cinta,
> >  Agussyafii
> >  
> >  ==============================================
> >  Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
> >  achmad.mubarok@ atau http://mubarok-institute.blogspot.com
> >  ==============================================
> >  
> >  
> >      
> >                                
> > 
> > 
> > 
> >        
> > ---------------------------------
> > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
> Yahoo! Answers
> >
>


Kirim email ke