Balik ke sunnah nabi aja yuk
1/3 perut buat makan 1/3 buat minum 1/3 buat udara
"Drs.D.Budi Eman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tks,
jadi tambah pengetahuan yang dapat berguna bagi sesama juga. Dan di forward ke
rekan rekan millis yang lain dan juga media partner selama ini.
Salam,
D.Budi Eman
Wal Suparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Kalau minum 8 gelas sehari diragukan maka juga tidur 8 jam
sehari/semalam.Kalau cukup minum saja waktu haus, juga tidur hanya jika merasa
mengantuk.Keperluan tidur untuk setiap individu berlainan.Ada yang hanya perlu
3 atau 4 jam saja.Yang penting jika bangun sudah merasa FIT.Karena terlalu
banyak tidur MERUSAK OTAK(deteriorating the brain)an membuat orang dungu.
Wasalam
Wal suparmo
korandigital <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sabtu, 05 April 2008
Khasiat Delapan Gelas Air Diragukan
SEBUAH hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Society of
Nephrology meragukan manfaat minum delapan gelas air per hari. Menurut mereka,
minum ketika kita merasa haus itu sudah mencukupi. Kesimpulan itu didapat dari
hasil penelitian Dan Negoianu dan Stanley Goldfarb yang menyelidiki teori yang
menyatakan minum lebih banyak air bisa membantu ginjal membersihkan racun dalam
tubuh. "Pertanyaannya adalah apakah minum lebih banyak air akan meningkatkan
fungsi penting ginjal? Dan jawabannya adalah tidak," kata Goldfarb. Faktanya,
menurut dia, meminum lebih banyak air cenderung mengurangi kemampuan ginjal
sebagai penyaring. Air juga disebut-sebut bermanfaat bagi yang ingin menurunkan
berat badan, tetapi faktanya tidak ada studi klinis yang mengatakan seperti
itu. "Beberapa studi menyimpulkan asupan kalori akan berkurang ketika seseorang
diberikan air minum sebelum makan. Tetapi sejumlah studi lainnya mengatakan itu
tidak benar," ungkap Goldfarb.(*/AFP/X-5)
Obesitas dan Biaya Rumah Sakit
HAMPIR semua orang mengetahui berat badan berlebih (obesitas) tidak baik bagi
kesehatan, termasuk ibu yang sedang mengandung. Bahkan, obesitas juga
mengganggu 'kesehatan' kantong. Kesimpulan itu didapat dari sebuah studi yang
dilakukan para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS.
Tim mengumpulkan data dari 13.442 kehamilan yang terjadi pada 2000 hingga
2004. Selanjutnya, mereka menyelidiki hubungan antara obesitas dan penggunaan
layanan kesehatan sebelum dan selama masa kehamilan. Penelitian mengungkapkan
ibu hamil yang memiliki berat badan berlebih tinggal lebih lama di rumah sakit
bila dibandingkan dengan ibu hamil dengan berat badan normal. Semakin lama di
rumah sakit berarti pembengkakan biaya perawatan. Selain itu, ibu hamil yang
menderita obesitas juga menjalani tes prakelahiran lebih sering dan membutuhkan
obat-obatan lebih banyak. Sebagian besar disebabkan karena komplikasi seperti
tekanan darah tinggi dan operasi caesar. (*/HealthDay/X-5)
Kamis, 03 April 2008
Jenis Ikan dan Perkembangan Otak
SELAMA ini diketahui mengonsumsi ikan sangat baik untuk perkembangan otak.
Namun, Anda harus berhati-hati memilih jenis ikan. Dr Emily Oken dari Harvard
Medical School di Boston, AS, bersama timnya meneliti hubungan antara konsumsi
ikan pada ibu hamil dan perkembangan otak anak. Tim mengambil sampel darah 341
ibu hamil dan meminta informasi mereka seberapa sering mengonsumsi ikan. Ketika
anak mereka berusia tiga tahun, anak-anak tersebut diberikan tes standar untuk
mengukur perkembangan otak. Hasil penelitian menunjukkan anak yang ibunya
mengonsumsi ikan lebih dari dua porsi per minggu selama masa kehamilan umumnya
mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tes perkembangan verbal, visual, dan
motorik. Jenis ikan berminyak seperti tuna, salmon, dan sarden yang mengandung
omega-3 memang sangat baik bagi perkembangan otak anak. Tapi hati-hati,
jenis-jenis ikan tersebut ternyata rentan terkontaminasi merkuri yang dapat
meracuni sel-sel otak janin dan anak-anak. (*/Reuters/X-5)
Rabu, 02 April 2008
Suara Keras Hambat Bayi
LARANGAN bicara keras-keras di dekat bayi ternyata ada dasarnya. Suara
percakapan yang terlampau keras terbukti bisa menghambat perkembangan bayi.
Terutama pada bayi prematur atau yang sedang sakit. Menurut Dr William Engle,
ahli neonatologis dari Riley Hospital, Indianapolis, AS, suara yang keras
membuat jantung bayi berdenyut terlalu cepat atau sebaliknya, sangat lambat.
Hal itu membuat bayi tidak bisa beristirahat atau tidur nyenyak. Padahal, semua
proses perkembangan bayi, baik otak maupun fisik, terjadi justru pada saat bayi
istirahat atau tidur. Fakta itu terungkap dalam penelitiannya di unit perawatan
khusus di rumah sakit tersebut. "Bayi tumbuh di antara kondisi tersebut,
selain makan tentunya," ujar Engle. Karena itu, dia menganjurkan agar orang tua
menyediakan tempat yang tenang bagi bayi mereka. Tempat yang tenang,
menurutnya, bisa mendorong otak bayi memproses suara yang masuk serta mengenal
suara ibu mereka.
Selasa, 01 April 2008
Pengetahuan dan Perilaku Makan
KELEZATAN makanan ternyata lebih penting daripada akibat yang ditimbulkannya.
Karena itu, sebagian orang memilih tetap menyantap makanan tertentu meskipun
berisiko bagi kesehatan. Hasil penelitian Dr Carol Byrd-Bredbenner dari
Rutgers University di New Brunswick, New Jersey, dan koleganya menemukan banyak
perilaku makan mahasiswa di AS yang sangat berisiko. Mereka tetap mengonsumsi
makanan mentah berisiko dan mengandung bakteri berbahaya, seperti telur, tiram,
dan kerang-kerangan yang masih mengandung telur mentah. Penelitian terhadap
4.343 mahasiswa dari 21 universitas di seluruh AS menunjukkan perilaku
berisiko itu dilakukan 53% mahasiswa. Penelitian itu juga mengungkapkan
tingginya pengetahuan tentang keamanan makanan tidak ada hubungannya dengan
perilaku. "Hasil itu menunjukkan pendidikan keselamatan makanan tidak mampu
mengubah tingkat konsumsi mereka pada makanan berisiko," ujar para peneliti
tersebut.
Sumber : Media Indonesia
=========================================================================================
Sabtu, 05 April 2008
Serangan Jantung. Sebuah riset baru menyatakan menjaga stres pada level
terkontrol bisa secara signifikan mengurangi risiko serangan jantung atau
kematian pada pasien yang menderita penyakit arteri koroner. Meskipun hubungan
antara stres dan derita pada jantung ini sudah lama diketahui, inilah studi
pertama yang menguji efek pengobatan depresi pada faktor risiko pasien
terpapar penyakit jantung.
Yinong Young-You dari Lown Cardiovascular Research Foundation, Brookline,
menyatakan menjaga kecemasan pada level terkontrol bisa mengurangi 60 persen
peluang mengalami serangan jantung atau meninggal dibandingkan dengan yang
level kecemasannya mengalami kenaikan. HEALTHDAYNEWS
Sumber : Tempo
http://uk.messenger.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Koran Digital" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.com/group/koran-digital?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.