pernah dengar hadis ini....

akan ada disuatu akhir zaman nanti orang yang akan menafsirkan suatu hadis atau 
alquran dengan semaunya sendiri...

begitulah ...keadaan jaman sekarang banyak munculnya nabi palsu.,, banyak juga 
yg menerjemahkan alquran tanpa memiliki pengetahuan tentang tafsir dll..
begitu juga dengan menerjemahkan hadis dengan seenak pikirannya tanpa ilmu yg 
mendasari.. yaitu ilmu hadis.

ulama jaman dulu tidak akan mungkin menerjemahkan hadis dengan tanpa ilmu.
jadi arti dipanjangkan umurnya tetaplah mengacu pada pendapat ulama,, karena 
mereka mempunyai alasan yg bisa dipertanggungjawabkan.

jika memang umur bisa dipanjangkan karena silaturahmi dan orang sakit bisa 
sembuh karena silaturahmi..

itu memang benar namun jika ajal sudah tiba saatnya,,, tidak akan mungkin 
diundur atau dimajukaan. 

jika ada orang yg sembuh dari sakit parah karena dikunjungi teman atau saudara 
itu juga sudah menjadi ketentuan NYa..

jadi bukannya ditambhakan umurnya melainkan itu juga sudah takdir.

maaf bila ada kata yg tak berkenan,,, saling mengingatkan adalah lebih baik...
wa tawa soubil haq..watawa soubis,,ssoob..


Dadan Ramdani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             MMm saya 
setuju nih. Kan ada ayat "Kalau sudah sampai ajalnya maka tidak ada satu pun 
yang dapat menundanya" Nah kalo emang belum sampai ajalnya ya mungkin bisa aja 
dipanjangkan umurnya. Menurut hadist yang bisa memanjangkan umur selain 
sillaturrahmi juga infaq/shodaqah.

Secara dalil aqli (akal) kalo kita banyak sillaturrahmi ya jadi banyak kenalan. 
Misalnya dimana kita kena sakit parah saudara-saudara yang kita sillaturrahmi 
datang membantu,menengok, bahkan membantu mengobati. jadinya penyakit yang 
mestinya mematikan jadi sembuh. Hmmm bagaimana menurut anda??

Oktovan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                             
   Ketika janin manusia berumur 120 hari, maka ditentukan 4 hal yaitu rezeki,  
jodoh, usia, dan takdir baik dan buruknya. Pada tulisan sebelumnya kita sudah  
membahas Bagaimana rezeki diatur? . Selanjutnya kita akan membahas  bagaimana 
usia diatur.
 Sama seperti bagaimana rezeki diatur, di sini kita mengajukan 2 dugaan,  yaitu:
 1. Ketentuan tanpa kondisi, contoh:
 “Untuk fulan bin fulan usianya adalah 25th”
 2. Ketentuan dengan kondisi, contoh:
 “Untuk fulan bin fulan usianya adalah 25th, tapi apabila menjalin silaturahim  
dipanjangkan menjadi 30th”
 Untuk ketentuan usia ini saya memilih ketentuan no 2 lebih tepat, mengingat  
hadits “Barangsiapa menjalin  silaturahim, maka akan dipanjangkan umurnya”.  
Sebagian ulama berpendapat bahwa maksud dipanjangkan umurnya di sini adalah  
“dikenang sepanjang masa”. Saya tidak sependapat. Pada kenyataannya dunia tidak 
 hanya mengenang penjalin silaturahim tetapi juga mengenang perusak silaturahim 
 seperti Abu Lahab, Firaun, Namrudz dan konco-konconya. So, penafsiran  
“dipanjangkan umurnya” menjadi “dikenang sepanjang masa”, saya rasa tidak  
tepat.
 Pada ketentuan contoh di atas, fulan bin fulan  sesuai ketentuan bisa  
meninggal pada usia 25th, bisa juga pada usia 30th, tergantung bagaimana fulan  
bin fulan menjalin silaturahim. Kedua usia tesebut dalam ketentuan.
 Tentu saja hanya Allah yang mengetahui ketentuan mana yang benar. Ini hanya  
dugaan. Lagipula tidak penting berapa usia kita tapi lebih penting bagaimana  
kita mengisinya. Seperti lirik sebuah lagu “Walaupun hidup seribu tahun tidak  
sembahyang apa gunanya”.
 Wallahualam bi  showab.



 taken from: http://oktovan.wordpress.com/
 
 
 
     
              
         

---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.
     
                                       

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke