masalahnya, gimanapun hitungan diatas kertas...kenyataannya  kalo BBM naik
yang justru paling merasakan  dampaknya.......adalah orang miskin..
sembako naik,... transportasi naik..usaha kecil udah mulai  tutup tidak mampu 
beli bahan baku.....
orang kaya justru tidak begitu terpengaruh kalau BBM dinaikkan...mereka masih 
mampu membeli...
jadi wajar kalo tolak BBM


  ----- Original Message ----- 
  From: Rizal Muhammad 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 16, 2008 02:12
  Subject: [Bicara] Tolak Kenaikan Harga BBM 2008!


        Tolak kenaikan BBM, tapi mendukung penarikan Subsidi BBM, karena 
sekarang subsidi BBM tidak tepat sasaran lagi. Subsidi BBM lebih banyak 
dinikmati oleh kalangan mampu dari tidak mampu. 

        Kalau saja kita hitung orang berada mendapatkan subsidi BBM setiap 
tahunnya bisa mencapai 81 juta rupiah, coba bandingkan dengan bantuan 
pemerintah yang untuk masyarakat miskin setiap keluarganya tidak lebih dari 
mendapatkan 10 juta rupiah.

        Misalnya saja dalam satu keluarga yang berada memiliki 2 buah mobil, 2 
mobil ini setiap hari memerlukan 20 liter BBM maka setiap hari keluarga ini 
menikmati subsidi BBM sebesar 
        Kalau subsidi
        2 mbl x 30 liter x Rp. 4.500 = Rp. 270.000,-

        Kalau non subsidi
        2 mbl x 30 liter x Rp. 9.000 = Rp. 540.00,-

        Jadi setiap harinya orang berada ini memakan uang subsidi sebesar 
        Rp.540.000 - Rp. 270.000,- = Rp. 270.000,-

        Kalikan jika dalam satu bulan saja mereka hanya 25 hari menggunakan 
mobil itu

        Rp. 270.000 x 25 hari = Rp. 6.750.000,- 

        Gila gak tuh dalam sebulan aja mereka memakan uang subsidi BBM sebanyak 
6,75 juta.
        Coba kalau dikalikan selama 1 tahun, maka orang kaya ini memakan uang 
subsidi dari pemerintah  sebesar Rp. 81 juta rupiah.

        Wajar saja negara Indonesia tidak bisa maju-maju karena orang kaya yang 
berada di Indonesia dimanjakan untuk membeli BBM dengan murah. 
        Dengan dicabutnya Subsidi BBM maka pemerintah akan memiliki dana untuk 
kesejahteraan masyarakat miskin sebesar Rp. 200 T. Dana sebesar bisa 
dimanfaatkan untuk memberikan kridit lunak bagi orang miskin, bisa juga untuk 
membuka lapangan pekerjaan, bisa juga untuk menambah fasilitas umum, pengadaan 
kendaraan umum yang nyaman bagi masyarakat. DLL.
        Maka itu mari kita dukung Penarikan Subsidi BBM

        TOLAK KENAIKAN HARGA BBM  NO!
        TARIK SUBSIDI BBM   YES !






        Silakan Kunjungi homepage gue 
        http://rizal_muhammad.blogs.friendster.com

        --- On Wed, 5/14/08, Wawan Purnomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: Wawan Purnomo <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: [Bicara] Tolak Kenaikan Harga BBM 2008!
          To: [email protected]
          Date: Wednesday, May 14, 2008, 2:33 AM


          Kenaikan harga BBM bukan lagi sekadar wacana. Sebagaimana diungkap 
          banyak media, Pemerintah sudah pasti akan menaikkan harga BBM di 
          dalam negeri sekitar akhir Mei atau awal Juni ini. Kebijakan ini 
          jelas harus dipertanyakan. Kebijakan ini terasa tidak adil dan 
          menyengsarakan rakyat. Jika carut-marut ekonomi lebih banyak 
          ditimbulkan oleh kebijakan keliru Pemerintah, praktik korupsi serta 
          ulah para bankir dan konglomerat hitam, mengapa rakyat banyak yang 
          harus selalu menanggung akibatnya? 

          Soal besarnya subsidi yang berulang-ulang disebut oleh pejabat 
          Pemerintah sebanyak lebih dari Rp 200 triliun dan akan menjadi lebih 
          Rp 300 triliun jika BBM tidak segera dinaikkan juga patut 
          dipertanyakan. Subsidi sebesar itu baru benar jika seluruh minyak 
          mentah diimpor dari luar negeri. Faktanya, Indonesia masih 
          memproduksi 910 ribu barel minyak mentah setiap hari. Memang, 
          produksi sebanyak itu tidak mencukupi sehingga harus impor. Nah, 
          mestinya, subsidi itu dihitung dari jumlah minyak mentah yang diimpor 
          itu. Mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menyebut, jika perhitungan 
          dilakukan dengan benar, Pemerintah sesungguhnya malah mendapatkan 
          kelebihan uang tunai; yakni selisih harga jual BBM di dalam negeri 
          dengan besarnya subsidi dari minyak mentah impor. Besarnya 
          diperkirakan mencapai Rp 35 triliun. Kemana dana sebesar ini?

          Pernyataan bahwa kenaikan BBM demi orang miskin juga harus 
          dipertanyakan karena faktanya, menurut Direktur Eksekutif Lembaga 
          Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung Rakhmanto, 
          (Kompas, (7/5), kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi 
          mengakibatkan orang miskin bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar 
          15,68 juta jiwa. 

          Bantuan Tunai Langsung (BLT) plus sembako yang akan dibagikan kepada 
          19 juta rakyat miskin jelas tidak mencukupi karena selain jumlahnya 
          kurang, sifatnya hanya sementara. 

          Menanggapi rencana kenaikan harga BBM, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) 
          berpendapat, hubungan Pemerintah dengan rakyat dalam masalah BBM 
          sebagai milik publik, bukanlah hubungan antara penjual dan pembeli, 
          melainkan hubungan antara yang mengurusi urusan rakyat dan rakyatnya 
          yang berhak menikmati harta kekayaan milik mereka (BBM) itu dengan 
          harga sewajarnya (murah). Di tengah-tengah krisis ekonomi yang 
          menghimpit masyarakat saat ini, menaikkan harga BBM adalah tindakan 
          zalim. Pemerintah tidak menunjukkan dirinya sebagai pelindung rakyat. 

          Hizbut Tahrir Indonesia melihat sebenarnya ada banyak cara yang bisa 
          untuk menghindari kenaikan harga BBM, yakni: 
          Penghematan belanja negara hingga 20 persen, mulai dari kantor 
          kepresidenan, DPR, kementerian, dan lembaga negara lain. Minimal Rp 
          20 triliun bisa dihemat di sini. Nah, yang ada sekarang, sama sekali 
          tidak tampak nuansa krisis. Tengoklah suasana dan fasilitas kantor-
          kantor Pemerintah serta perilaku pejabat-pejabatnya. Tidak tampak 
          sedikitpun nada prihatin. Bahkan gaya hidup mereka pun tidak 
          mencerminkan pemimpin dari sebuah negara yang sedang menderita.
          Pembayaran angsuran utang harus dijadwalkan kembali, bahkan 
          pembayaran bunga (riba) utang yang ternyata memakan porsi yang cukup 
          besar harus tidak dilakukan. Dalam APBN tahun 2008 ini cicilan 
          pembayaran utang plus bunganya mencapai Rp 151,2 triliun 
          (Beritasore. com, 25/11/2007). Untuk membayar bunga saja sekitar Rp 
94 
          triliun (lebih dari 10 miliar dolar AS). Karena itu, penangguhan ini 
          jelas akan membantu mengurangi beban berat APBN.
          Memanfaatkan dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI yang 
          bunganya jelas menambah beban Pemerintah. Sepanjang tahun 2007 saja, 
          dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI mencapai sedikitnya 
          Rp 146 triliun (Waspada Online, 27/8/07). Lebih dari itu, sepanjang 
          tahun 2007, ternyata APBD kita rata-rata surplus cukup besar 
          (Okezone.com, 6/5/08). Ini jelas bisa dimanfaatkan secara optimal 
          untuk mengurangi beban Pemerintah dan masyarakat.
          Pajak progresif terhadap komoditas yang booming seperti minyak, gas, 
          batubara, tembaga, dan perkebunan. Tax rate-nya dinaikkan sejalan 
          dengan naiknya harga. Jika tax rate atas minyak ditetapkan 50 persen, 
          penerimaan pajak bisa naik minimal Rp 9 triliun. Jika 60 persen, 
          naiknya Rp 15 triliun (Drajat Wibowo, Republika, 7/5).
          Memangkas perantara yang ada dalam ekspor dan impor minyak. Perantara 
          ini cuma calo, berbasis di Singapura, dan mengambil margin minimal 
          0,5-1,0 dolar AS perbarel (Drajat Wibowo, Republika, 7/5).
          Lindung nilai (hedging) harga minyak dapat menghemat sedikitnya Rp 
          55,2 triliun. Jika realisasi harga minyak 115 dolar AS perbarel dan 
          hedging beli di harga 95 dolar AS, terdapat selisih 20 dolar AS. 
          Dengan mengalikan selisih 20 dolar AS terhadap konsumsi BBM 35,5 juta 
          kiloliter, ada potensi penerimaan Rp 44,59 triliun (Sunarsip, 
          Republika, 7/5).
          Menekan besaran alpha (margin distribusi BBM) pendistribusian BBM 
          bersubsidi ke Pertamina dari 9 persen menjadi 5 persen. Subsidi yang 
          bisa dihemat dari penurunan alpha Rp 9,534 triliun (Agung Pri 
          Rakhmanto, Republika, 7/5).

          Dari tujuh cara di atas bakal didapat dana lebih besar daripada dana 
          dari kenaikkan BBM 30%. Selain itu, Pemerintah juga harus sungguh-
          sungguh berusaha mengembalikan dana BLBI yang menguap entah kemana. 
          Berapa penghematan yang didapat oleh Pemerintah untuk kenaikan harga 
          BBM? Rp 35 triliun. Bandingkan dengan dana BLBI yang telah dikorup 
          para konglomerat hitam, yang menurut catatan Kompas (2/1/2003) 
          sekitar Rp 225 triliun! Kemana uang itu? Mengapa untuk uang yang 
          hanya sekitar Rp 35 triliun yang didapat dari menaikkan 30% harga BBM 
          Pemerintah tega mengorbankan 220 juta rakyatnya, sementara uang 
          negara Rp 225 triliun yang dikorup segelintir konglomerat itu 
          dibiarkan saja?

          Mengapa Pemerintah tidak segera menggelandang mereka, kalau perlu 
          menyita seluruh harta pribadinya dengan ancaman hukuman fisik? 
          Mengapa mereka malah justru mendapatkan R&D (release and discharged) 
          alias pengampunan hukum, sementara di sisi lain Pemerintah tega 
          menambah derita mayoritas rakyat dengan menaikkan harga-harga? 

          Pemerintah harus memanfaatkan seoptimal mungkin sumberdaya alam 
          (migas, emas, batubara dan lainnya) yang sangat melimpah itu, yang 
          hakikatnya adalah milik seluruh rakyat. Harus ada strategi baru dalam 
          memanfaatkan sumberdaya itu dari corporate based management 
          (pengelolaan oleh swasta) ke state based management (pengelolaan oleh 
          negera). Pemberian ladang konsesi kepada perusahaan asing untuk 
          mengelola SDA terbukti membuat hasilnya lebih banyak dinikmati oleh 
          perusahaan-perusaha an itu ketimbang yang dirasakan oleh rakyat. 
Sudah 
          saatnya, kontrak karya dengan berbagai perusahaan migas asing itu 
          ditinjau dan dibatalkan. Sebagai gantinya, Pemerintah sebagai 
          pemegang amanah rakyat mengedepankan BUMN untuk mengelola itu semua 
          secara profesional dan amanah. 

          Dana yang didapat dari pengelolaan SDA oleh BUMN secara amanah dan 
          profesional tentu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan 
          mencukupi keuangan negara. Langkah itulah yang harus dilakukan, bukan 
          justru melakukan privatisasi BUMN. Divestasi atau penjualan BUMN 
          kepada swasta (lokal maupun asing) jelas merupakan langkah bunuh 
          diri, yang akan semakin menjauhkan negara dari memelihara 
          kemaslahatan rakyat.

          Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, Hizbut Tahrir Indonesia 
          menyatakan:
          Menolak rencana kenaikan harga BBM karena akan menambah kesengsaraan 
          rakyat dan bukan cara yang sahih untuk mengatasi krisis keuangan 
          negara. Pemerintah adalah pemimpin yang mengurus kepentingan rakyat, 
          yang seharusnya mewujudkan kemaslahatan rakyat, bukan malah membuat 
          mereka menderita! Rasulullah Muhammad yang mulia bersabda,»

          &#1608;&#1614; &#1575;&# 1618;&#1604; &#1573;&# 1616;&#1616; 
&#1605;&# 1614;&#1575; &#1605;&# 1615; &#1575;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1584; 
&#1616;&# 1610;&#1618; &#1593;&#1614; &#1604;&# 1609;&#1614; &#1575;&#1604; 
&#1606;&# 1617;&#1614; &#1575;&# 1587;&#1616; &#1585;&#1614; &#1575;&# 
1593;&#1613; &#1608;&#1614; &#1607;&# 1615;&#1608; &#1614; &#1605;&#1614; 
&#1587;&# 1618;&#1572; &#1615;&# 1608;&#1618; &#1604;&# 1612; &#1593;&#1614; 
&#1606;&# 1618; &#1585;&#1614; &#1593;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;&#1578; 
&#1616;&# 1607;&#1616;«

          Imam yang memimpin manusia laksana penggembala; dia akan dimintai 
          pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya (HR Muslim).
          Menolak cara-cara kapitalistik dalam pengaturan ekonomi Indonesia. 
          Sudah saatnya sistem Kapitalisme yang selama ini mencengkeram 
          Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus 
          ditinggalkan. Campur tangan Asing (IMF, Bank Dunia dan lainnya) 
          dengan memaksakan pengurangan subsidi dan liberalisasi sektor migas 
          yang terbukti makin menyengsarakan rakyat juga harus dihindarkan. 
          Allah SWT berfirman:

          &#1608;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1606; &#1618; &#1610;&#1614; 
&#1580;&# 1618;&#1593; &#1614;&# 1604;&#1614; &#1575;&#1604; &#1604;&# 
1617;&#1614; &#1607;&# 1615; &#1604;&#1616; &#1604;&# 1618;&#1603; &#1614;&# 
1575;&#1601; &#1616;&# 1585;&#1616; &#1610;&# 1606;&#1614; &#1593;&#1614; 
&#1604;&# 1614;&#1609; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; &#1572;&# 
1618;&#1605; &#1616;&# 1606;&#1616; &#1610;&# 1606;&#1614; &#1587;&#1614; 
&#1576;&# 1616;&#1610; &#1604;

          Sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang 
          kafir untuk menguasai kaum Mukmin (QS an-Nisa' [4] : 141).
          Sebagai gantinya, di Indonesia harus diterapkan sistem ekonomi yang 
          adil, yakni sistem ekonomi Islam yang berlandaskan pada syariah dan 
          dikelola secara mandiri. Sistem seperti inilah yang dijamin akan 
          membawa kerahmatan bagi negeri ini. Jika Sosialisme telah gagal, 
          Kapitalisme pun demikian, kemana lagi kita akan menuju jika tidak 
          pada Islam? Allah SWT berfirman:

          &#1571;&#1614; &#1601;&# 1614;&#1581; &#1615;&# 1603;&#1618; 
&#1605;&# 1614; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1580;&#1614; &#1575;&# 1607;&#1616; 
&#1604;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;&#1577; &#1616; &#1610;&#1614; &#1576;&# 
1618;&#1594; &#1615;&# 1608;&#1606; &#1614; &#1608;&#1614; &#1605;&# 
1614;&#1606; &#1618; &#1571;&#1614; &#1581;&# 1618;&#1587; &#1614;&# 
1606;&#1615; &#1605;&#1616; &#1606;&# 1614; &#1575;&#1604; &#1604;&# 
1617;&#1614; &#1607;&# 1616; &#1581;&#1615; &#1603;&# 1618;&#1605; &#1611;&# 
1575; &#1604;&#1616; &#1602;&# 1614;&#1608; &#1618;&# 1605;&#1613; 
&#1610;&#1615; &#1608;&# 1602;&#1616; &#1606;&# 1615;&#1608; &#1606;&# 1614;

          Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik 
          hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah 
          [5]: 50).
          Akhirnya, Hizbut Tahrir Indonesia mengingatkan seluruh rakyat 
          Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, bahwa 
          sesungguhnya negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang 
          membelenggu kecuali jika di negeri ini diterapkan syariah Islam 
          secara kâffah. Dengan syariah itulah kita mengatur aspek ekonomi agar 
          kesejahteraan sekaligus kemuliaan rakyat bisa dicapai, keamanan bisa 
          ditegakkan, kedamaian bisa diwujudkan dan kebahagiaan bisa dirasakan 
          oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, harus ada gerakan bersama untuk 
          kembali pada syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan 
          menetapkan pemimpin yang amanah, tidak korup dan bertindak culas. 
          Sungguh, hanya melalui syariah Islam dan pemimpin yang amanah sajalah 
          kita bisa mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara 
          baik.

          &#1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1607; &#1616; 
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1593;&#1616; &#1586;&# 1617;&#1614; &#1577;&# 1615; 
&#1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1585; &#1614;&# 1587;&#1615; &#1608;&# 
1604;&#1616; &#1607;&# 1616; &#1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1604; &#1618;&# 
1605;&#1615; &#1572;&# 1618;&#1605; &#1616;&# 1606;&#1616; &#1610;&# 
1606;&#1614; &#1608;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1603; &#1616;&# 1606;&#1617; 
&#1614; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; &#1606;&# 1614;&#1575; &#1601;&# 
1616;&#1602; &#1616;&# 1610;&#1606; &#1614; &#1604;&#1575; &#1614; 
&#1610;&#1614; &#1593;&# 1618;&#1604; &#1614;&# 1605;&#1615; &#1608;&# 
1606;&#1614;

          Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul dan kaum Mukmin. 
          Namun, orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya (QS al-Munafiqun 
          [63] : 8). []

          KOMENTAR

          Penolakan Harga BBM Naik Meluas (Republika, 13/5).

          Wajar karena kebijakan itu menzalimi rakyat!


       



   

Kirim email ke