Dear Rediahmad dan teman2 lainnya,

Saya coba menjawab pertanyaan Rediahmad, saya mempunyai solusi untuk masalah 
kenaikan BBM, pertama, kami dapat menghemat BBM ( disamping membantu 
pemerintah menghemat BBM alias subsidi juga mengurangi polusi agar langit 
kembali menjadi biru. ) , kedua, terdapatkan bisnis yang sangat menjanjikan 
( financial freedom untuk mengatasi melonjaknya harga kebutuhan pokok. ) .

Bolehkah Anda sekalian kontek saya personally di [EMAIL PROTECTED] ?? Sebab 
hari ini bukan hari beriklan, baru Jumad yang akan datang saya dapat 
beriklan di milis kita yang tersayang ini.

Salam sukses,
Wiwi
[EMAIL PROTECTED]


----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, May 17, 2008 10:44 PM
Subject: Re: [Bicara] Tolak Kenaikan Harga BBM 2008!


> Bisa memberikan contoh program yg bisa menarik subsidi tapi tdk menaikkan 
> harga BBM Pak? Bagaimana caranya ya...??
>
> Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
>
> -----Original Message-----
> From: Rizal Muhammad <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Date: Thu, 15 May 2008 11:12:46
> To:[email protected]
> Subject: [Bicara] Tolak Kenaikan Harga BBM 2008!
>
>
> Tolak kenaikan BBM, tapi mendukung penarikan Subsidi BBM, karena sekarang 
> subsidi BBM tidak tepat sasaran lagi. Subsidi BBM lebih banyak dinikmati 
> oleh kalangan mampu dari tidak mampu.
>
> Kalau saja kita hitung orang berada mendapatkan subsidi BBM setiap 
> tahunnya bisa mencapai 81 juta rupiah, coba bandingkan dengan bantuan 
> pemerintah yang untuk masyarakat miskin setiap keluarganya tidak lebih 
> dari mendapatkan 10 juta rupiah.
>
> Misalnya saja dalam satu keluarga yang berada memiliki 2 buah mobil, 2 
> mobil ini setiap hari memerlukan 20 liter BBM maka setiap hari keluarga 
> ini menikmati subsidi BBM sebesar
> Kalau subsidi
> 2 mbl x 30 liter x Rp. 4.500 = Rp. 270.000,-
>
> Kalau non subsidi
> 2 mbl x 30 liter x Rp. 9.000 = Rp. 540.00,-
>
> Jadi setiap harinya orang berada ini memakan uang subsidi sebesar
> Rp.540.000 - Rp. 270.000,- = Rp. 270.000,-
>
> Kalikan jika dalam satu bulan saja mereka hanya 25 hari menggunakan mobil 
> itu
>
> Rp. 270.000 x 25 hari = Rp. 6.750.000,-
>
> Gila gak tuh dalam sebulan aja mereka memakan uang subsidi BBM sebanyak 
> 6,75 juta.
> Coba kalau dikalikan selama 1 tahun, maka orang kaya ini memakan uang 
> subsidi dari pemerintah sebesar Rp. 81 juta rupiah.
>
> Wajar saja negara Indonesia tidak bisa maju-maju karena orang kaya yang 
> berada di Indonesia dimanjakan untuk membeli BBM dengan murah.
> Dengan dicabutnya Subsidi BBM maka pemerintah akan memiliki dana untuk 
> kesejahteraan masyarakat miskin sebesar Rp. 200 T. Dana sebesar bisa 
> dimanfaatkan untuk memberikan kridit lunak bagi orang miskin, bisa juga 
> untuk membuka lapangan pekerjaan, bisa juga untuk menambah fasilitas umum, 
> pengadaan kendaraan umum yang nyaman bagi masyarakat. DLL.
> Maka itu mari kita dukung Penarikan Subsidi BBM
>
> TOLAK KENAIKAN HARGA BBM NO!
> TARIK SUBSIDI BBM YES !
>
>
>
>
>
>
> Silakan Kunjungi homepage gue
> http://rizal_muhammad.blogs.friendster.com
>
> --- On Wed, 5/14/08, Wawan Purnomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Wawan Purnomo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Bicara] Tolak Kenaikan Harga BBM 2008!
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, May 14, 2008, 2:33 AM
>
>
>
>
> Kenaikan harga BBM bukan lagi sekadar wacana. Sebagaimana diungkap
> banyak media, Pemerintah sudah pasti akan menaikkan harga BBM di
> dalam negeri sekitar akhir Mei atau awal Juni ini. Kebijakan ini
> jelas harus dipertanyakan. Kebijakan ini terasa tidak adil dan
> menyengsarakan rakyat. Jika carut-marut ekonomi lebih banyak
> ditimbulkan oleh kebijakan keliru Pemerintah, praktik korupsi serta
> ulah para bankir dan konglomerat hitam, mengapa rakyat banyak yang
> harus selalu menanggung akibatnya?
>
> Soal besarnya subsidi yang berulang-ulang disebut oleh pejabat
> Pemerintah sebanyak lebih dari Rp 200 triliun dan akan menjadi lebih
> Rp 300 triliun jika BBM tidak segera dinaikkan juga patut
> dipertanyakan. Subsidi sebesar itu baru benar jika seluruh minyak
> mentah diimpor dari luar negeri. Faktanya, Indonesia masih
> memproduksi 910 ribu barel minyak mentah setiap hari. Memang,
> produksi sebanyak itu tidak mencukupi sehingga harus impor. Nah,
> mestinya, subsidi itu dihitung dari jumlah minyak mentah yang diimpor
> itu. Mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menyebut, jika perhitungan
> dilakukan dengan benar, Pemerintah sesungguhnya malah mendapatkan
> kelebihan uang tunai; yakni selisih harga jual BBM di dalam negeri
> dengan besarnya subsidi dari minyak mentah impor. Besarnya
> diperkirakan mencapai Rp 35 triliun. Kemana dana sebesar ini?
>
> Pernyataan bahwa kenaikan BBM demi orang miskin juga harus
> dipertanyakan karena faktanya, menurut Direktur Eksekutif Lembaga
> Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung Rakhmanto,
> (Kompas, (7/5), kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi
> mengakibatkan orang miskin bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar
> 15,68 juta jiwa.
>
> Bantuan Tunai Langsung (BLT) plus sembako yang akan dibagikan kepada
> 19 juta rakyat miskin jelas tidak mencukupi karena selain jumlahnya
> kurang, sifatnya hanya sementara.
>
> Menanggapi rencana kenaikan harga BBM, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
> berpendapat, hubungan Pemerintah dengan rakyat dalam masalah BBM
> sebagai milik publik, bukanlah hubungan antara penjual dan pembeli,
> melainkan hubungan antara yang mengurusi urusan rakyat dan rakyatnya
> yang berhak menikmati harta kekayaan milik mereka (BBM) itu dengan
> harga sewajarnya (murah). Di tengah-tengah krisis ekonomi yang
> menghimpit masyarakat saat ini, menaikkan harga BBM adalah tindakan
> zalim. Pemerintah tidak menunjukkan dirinya sebagai pelindung rakyat.
>
> Hizbut Tahrir Indonesia melihat sebenarnya ada banyak cara yang bisa
> untuk menghindari kenaikan harga BBM, yakni:
> Penghematan belanja negara hingga 20 persen, mulai dari kantor
> kepresidenan, DPR, kementerian, dan lembaga negara lain. Minimal Rp
> 20 triliun bisa dihemat di sini. Nah, yang ada sekarang, sama sekali
> tidak tampak nuansa krisis. Tengoklah suasana dan fasilitas kantor-
> kantor Pemerintah serta perilaku pejabat-pejabatnya. Tidak tampak
> sedikitpun nada prihatin. Bahkan gaya hidup mereka pun tidak
> mencerminkan pemimpin dari sebuah negara yang sedang menderita.
> Pembayaran angsuran utang harus dijadwalkan kembali, bahkan
> pembayaran bunga (riba) utang yang ternyata memakan porsi yang cukup
> besar harus tidak dilakukan. Dalam APBN tahun 2008 ini cicilan
> pembayaran utang plus bunganya mencapai Rp 151,2 triliun
> (Beritasore. com, 25/11/2007). Untuk membayar bunga saja sekitar Rp 94
> triliun (lebih dari 10 miliar dolar AS). Karena itu, penangguhan ini
> jelas akan membantu mengurangi beban berat APBN.
> Memanfaatkan dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI yang
> bunganya jelas menambah beban Pemerintah. Sepanjang tahun 2007 saja,
> dana APBD yang mengendap di BI dalam bentuk SBI mencapai sedikitnya
> Rp 146 triliun (Waspada Online, 27/8/07). Lebih dari itu, sepanjang
> tahun 2007, ternyata APBD kita rata-rata surplus cukup besar
> (Okezone.com, 6/5/08). Ini jelas bisa dimanfaatkan secara optimal
> untuk mengurangi beban Pemerintah dan masyarakat.
> Pajak progresif terhadap komoditas yang booming seperti minyak, gas,
> batubara, tembaga, dan perkebunan. Tax rate-nya dinaikkan sejalan
> dengan naiknya harga. Jika tax rate atas minyak ditetapkan 50 persen,
> penerimaan pajak bisa naik minimal Rp 9 triliun. Jika 60 persen,
> naiknya Rp 15 triliun (Drajat Wibowo, Republika, 7/5).
> Memangkas perantara yang ada dalam ekspor dan impor minyak. Perantara
> ini cuma calo, berbasis di Singapura, dan mengambil margin minimal
> 0,5-1,0 dolar AS perbarel (Drajat Wibowo, Republika, 7/5).
> Lindung nilai (hedging) harga minyak dapat menghemat sedikitnya Rp
> 55,2 triliun. Jika realisasi harga minyak 115 dolar AS perbarel dan
> hedging beli di harga 95 dolar AS, terdapat selisih 20 dolar AS.
> Dengan mengalikan selisih 20 dolar AS terhadap konsumsi BBM 35,5 juta
> kiloliter, ada potensi penerimaan Rp 44,59 triliun (Sunarsip,
> Republika, 7/5).
> Menekan besaran alpha (margin distribusi BBM) pendistribusian BBM
> bersubsidi ke Pertamina dari 9 persen menjadi 5 persen. Subsidi yang
> bisa dihemat dari penurunan alpha Rp 9,534 triliun (Agung Pri
> Rakhmanto, Republika, 7/5).
>
> Dari tujuh cara di atas bakal didapat dana lebih besar daripada dana
> dari kenaikkan BBM 30%. Selain itu, Pemerintah juga harus sungguh-
> sungguh berusaha mengembalikan dana BLBI yang menguap entah kemana.
> Berapa penghematan yang didapat oleh Pemerintah untuk kenaikan harga
> BBM? Rp 35 triliun. Bandingkan dengan dana BLBI yang telah dikorup
> para konglomerat hitam, yang menurut catatan Kompas (2/1/2003)
> sekitar Rp 225 triliun! Kemana uang itu? Mengapa untuk uang yang
> hanya sekitar Rp 35 triliun yang didapat dari menaikkan 30% harga BBM
> Pemerintah tega mengorbankan 220 juta rakyatnya, sementara uang
> negara Rp 225 triliun yang dikorup segelintir konglomerat itu
> dibiarkan saja?
>
> Mengapa Pemerintah tidak segera menggelandang mereka, kalau perlu
> menyita seluruh harta pribadinya dengan ancaman hukuman fisik?
> Mengapa mereka malah justru mendapatkan R&D (release and discharged)
> alias pengampunan hukum, sementara di sisi lain Pemerintah tega
> menambah derita mayoritas rakyat dengan menaikkan harga-harga?
>
> Pemerintah harus memanfaatkan seoptimal mungkin sumberdaya alam
> (migas, emas, batubara dan lainnya) yang sangat melimpah itu, yang
> hakikatnya adalah milik seluruh rakyat. Harus ada strategi baru dalam
> memanfaatkan sumberdaya itu dari corporate based management
> (pengelolaan oleh swasta) ke state based management (pengelolaan oleh
> negera). Pemberian ladang konsesi kepada perusahaan asing untuk
> mengelola SDA terbukti membuat hasilnya lebih banyak dinikmati oleh
> perusahaan-perusaha an itu ketimbang yang dirasakan oleh rakyat. Sudah
> saatnya, kontrak karya dengan berbagai perusahaan migas asing itu
> ditinjau dan dibatalkan. Sebagai gantinya, Pemerintah sebagai
> pemegang amanah rakyat mengedepankan BUMN untuk mengelola itu semua
> secara profesional dan amanah.
>
> Dana yang didapat dari pengelolaan SDA oleh BUMN secara amanah dan
> profesional tentu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan
> mencukupi keuangan negara. Langkah itulah yang harus dilakukan, bukan
> justru melakukan privatisasi BUMN. Divestasi atau penjualan BUMN
> kepada swasta (lokal maupun asing) jelas merupakan langkah bunuh
> diri, yang akan semakin menjauhkan negara dari memelihara
> kemaslahatan rakyat.
>
> Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, Hizbut Tahrir Indonesia
> menyatakan:
> Menolak rencana kenaikan harga BBM karena akan menambah kesengsaraan
> rakyat dan bukan cara yang sahih untuk mengatasi krisis keuangan
> negara. Pemerintah adalah pemimpin yang mengurus kepentingan rakyat,
> yang seharusnya mewujudkan kemaslahatan rakyat, bukan malah membuat
> mereka menderita! Rasulullah Muhammad yang mulia bersabda,»
>
> &#1608;&#1614; &#1575;&# 1618;&#1604; &#1573;&# 1616;&#1616; &#1605;&# 
> 1614;&#1575; &#1605;&# 1615; &#1575;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1584; 
> &#1616;&# 1610;&#1618; &#1593;&#1614; &#1604;&# 1609;&#1614; 
> &#1575;&#1604; &#1606;&# 1617;&#1614; &#1575;&# 1587;&#1616; 
> &#1585;&#1614; &#1575;&# 1593;&#1613; &#1608;&#1614; &#1607;&# 
> 1615;&#1608; &#1614; &#1605;&#1614; &#1587;&# 1618;&#1572; &#1615;&# 
> 1608;&#1618; &#1604;&# 1612; &#1593;&#1614; &#1606;&# 1618; &#1585;&#1614; 
> &#1593;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;&#1578; &#1616;&# 1607;&#1616;«
>
> Imam yang memimpin manusia laksana penggembala; dia akan dimintai
> pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya (HR Muslim).
> Menolak cara-cara kapitalistik dalam pengaturan ekonomi Indonesia.
> Sudah saatnya sistem Kapitalisme yang selama ini mencengkeram
> Indonesia dan menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak harus
> ditinggalkan. Campur tangan Asing (IMF, Bank Dunia dan lainnya)
> dengan memaksakan pengurangan subsidi dan liberalisasi sektor migas
> yang terbukti makin menyengsarakan rakyat juga harus dihindarkan.
> Allah SWT berfirman:
>
> &#1608;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1606; &#1618; &#1610;&#1614; &#1580;&# 
> 1618;&#1593; &#1614;&# 1604;&#1614; &#1575;&#1604; &#1604;&# 1617;&#1614; 
> &#1607;&# 1615; &#1604;&#1616; &#1604;&# 1618;&#1603; &#1614;&# 
> 1575;&#1601; &#1616;&# 1585;&#1616; &#1610;&# 1606;&#1614; &#1593;&#1614; 
> &#1604;&# 1614;&#1609; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; &#1572;&# 
> 1618;&#1605; &#1616;&# 1606;&#1616; &#1610;&# 1606;&#1614; &#1587;&#1614; 
> &#1576;&# 1616;&#1610; &#1604;
>
> Sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang-orang
> kafir untuk menguasai kaum Mukmin (QS an-Nisa' [4] : 141).
> Sebagai gantinya, di Indonesia harus diterapkan sistem ekonomi yang
> adil, yakni sistem ekonomi Islam yang berlandaskan pada syariah dan
> dikelola secara mandiri. Sistem seperti inilah yang dijamin akan
> membawa kerahmatan bagi negeri ini. Jika Sosialisme telah gagal,
> Kapitalisme pun demikian, kemana lagi kita akan menuju jika tidak
> pada Islam? Allah SWT berfirman:
>
> &#1571;&#1614; &#1601;&# 1614;&#1581; &#1615;&# 1603;&#1618; &#1605;&# 
> 1614; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1580;&#1614; &#1575;&# 1607;&#1616; 
> &#1604;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;&#1577; &#1616; &#1610;&#1614; 
> &#1576;&# 1618;&#1594; &#1615;&# 1608;&#1606; &#1614; &#1608;&#1614; 
> &#1605;&# 1614;&#1606; &#1618; &#1571;&#1614; &#1581;&# 1618;&#1587; 
> &#1614;&# 1606;&#1615; &#1605;&#1616; &#1606;&# 1614; &#1575;&#1604; 
> &#1604;&# 1617;&#1614; &#1607;&# 1616; &#1581;&#1615; &#1603;&# 
> 1618;&#1605; &#1611;&# 1575; &#1604;&#1616; &#1602;&# 1614;&#1608; 
> &#1618;&# 1605;&#1613; &#1610;&#1615; &#1608;&# 1602;&#1616; &#1606;&# 
> 1615;&#1608; &#1606;&# 1614;
>
> Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik
> hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah
> [5]: 50).
> Akhirnya, Hizbut Tahrir Indonesia mengingatkan seluruh rakyat
> Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, bahwa
> sesungguhnya negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang
> membelenggu kecuali jika di negeri ini diterapkan syariah Islam
> secara kâffah. Dengan syariah itulah kita mengatur aspek ekonomi agar
> kesejahteraan sekaligus kemuliaan rakyat bisa dicapai, keamanan bisa
> ditegakkan, kedamaian bisa diwujudkan dan kebahagiaan bisa dirasakan
> oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, harus ada gerakan bersama untuk
> kembali pada syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan
> menetapkan pemimpin yang amanah, tidak korup dan bertindak culas.
> Sungguh, hanya melalui syariah Islam dan pemimpin yang amanah sajalah
> kita bisa mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara
> baik.
>
> &#1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1607; &#1616; 
> &#1575;&#1604; &#1618;&# 1593;&#1616; &#1586;&# 1617;&#1614; &#1577;&# 
> 1615; &#1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1585; &#1614;&# 1587;&#1615; 
> &#1608;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616; &#1608;&#1614; &#1604;&# 
> 1616;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; &#1572;&# 1618;&#1605; &#1616;&# 
> 1606;&#1616; &#1610;&# 1606;&#1614; &#1608;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1603; 
> &#1616;&# 1606;&#1617; &#1614; &#1575;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; 
> &#1606;&# 1614;&#1575; &#1601;&# 1616;&#1602; &#1616;&# 1610;&#1606; 
> &#1614; &#1604;&#1575; &#1614; &#1610;&#1614; &#1593;&# 1618;&#1604; 
> &#1614;&# 1605;&#1615; &#1608;&# 1606;&#1614;
>
> Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul dan kaum Mukmin.
> Namun, orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya (QS al-Munafiqun
> [63] : 8). []
>
> KOMENTAR
>
> Penolakan Harga BBM Naik Meluas (Republika, 13/5).
>
> Wajar karena kebijakan itu menzalimi rakyat!
>
>
>
> ------------------------------------
>
> POWER WORKSHOP E.D.A.N.
>
> "POWER COMMUNICATION & SELF CONFIDENCE WORKSHOP"
>
> Info: http://milis-bicara.blogspot.com
>
> BANDUNG, 12 April 2008, Auditorium Barat ITB, Hub: Okti, 0817-2372541, 
> [EMAIL PROTECTED]
>
> MALANG, 19 April 2008, Hotel Gajahmada Malang, Hub: Moch Slamet 
> Supriyanto, 0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]
>
> SURABAYA, 20 April 2008, Hotel Sahid Surabaya, Hub: Moch Slamet 
> Supriyanto, 0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]
>
> BATAM, 3-4 Mei 2008, Hub: Purwadi, 0811-773163, [EMAIL PROTECTED]
>
> MALANG, 10-11 Mei 2008, Universitas Brawijaya Malang, Hub: Moch Slamet 
> Supriyanto, 0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]
>
> JAKARTA, 17-18 Mei 2008, Hub: Hasan Basri, 0811-826362, 
> [EMAIL PROTECTED]
>
> YOGYAKARTA, 24-25 Mei 2008, Hub: Yetti, 0813-82608229, [EMAIL PROTECTED], 
> Lusy, 0811255971, [EMAIL PROTECTED]
>
> IKLAN: Iklan diperkenankan hanya hari Jumat, awali subject dengan "Iklan 
> Jumat:" Iklan MLM, Forex, Affiliate, Referral dan sebagainya hanya satu 
> bulan sekali pada hari Jumat MINGGU KEDUA.
>
> CATATAN PENTING: Pastikan bahwa Anda mencerna semua hal di atas dengan 
> penyesuaian kepada sistem tata nilai yang Anda anut. Beberapa hal mungkin 
> tidak sesuai dengan tata nilai Anda, beberapa lainnya akan universal 
> sifatnya. Tugas kami hanya mengingatkan Anda. Mohon dimaklumi, ada 
> file-file yang secara rutin dikirim berulang 1 bulan sekali.
>
> http://milis-bicara.blogspot.comYahoo! Groups Links
>
>
>
> 


------------------------------------

POWER WORKSHOP E.D.A.N.

"POWER COMMUNICATION & SELF CONFIDENCE WORKSHOP"

Info: http://milis-bicara.blogspot.com

BANDUNG, 12 April 2008, Auditorium Barat ITB, Hub: Okti, 0817-2372541, [EMAIL 
PROTECTED]

MALANG, 19 April 2008, Hotel Gajahmada Malang, Hub: Moch Slamet Supriyanto, 
0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

SURABAYA, 20 April 2008, Hotel Sahid Surabaya, Hub: Moch Slamet Supriyanto, 
0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

BATAM, 3-4 Mei 2008, Hub: Purwadi, 0811-773163, [EMAIL PROTECTED]

MALANG, 10-11 Mei 2008, Universitas Brawijaya Malang, Hub: Moch Slamet 
Supriyanto, 0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

JAKARTA, 17-18 Mei 2008, Hub: Hasan Basri, 0811-826362, [EMAIL PROTECTED]

YOGYAKARTA, 24-25 Mei 2008, Hub: Yetti, 0813-82608229, [EMAIL PROTECTED], Lusy, 
0811255971, [EMAIL PROTECTED]

IKLAN: Iklan diperkenankan hanya hari Jumat, awali subject dengan "Iklan 
Jumat:" Iklan MLM, Forex, Affiliate, Referral dan sebagainya hanya satu bulan 
sekali pada hari Jumat MINGGU KEDUA.

CATATAN PENTING: Pastikan bahwa Anda mencerna semua hal di atas dengan 
penyesuaian kepada sistem tata nilai yang Anda anut. Beberapa hal mungkin tidak 
sesuai dengan tata nilai Anda, beberapa lainnya akan universal sifatnya. Tugas 
kami hanya mengingatkan Anda. Mohon dimaklumi, ada file-file yang secara rutin 
dikirim berulang 1 bulan sekali.

http://milis-bicara.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bicara/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bicara/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke