Sekedar ide saja. Gimana kalau pemerintah tidak melakukan apa-apa? Dalam kata lain, ngga perlu busway, ngga perlu mono-rail, nothing.
Di economic balance, kalau jalan semakin macet, berarti biaya untuk memiliki mobil makin mahal. Tidak cuma biaya bensin, tapi juga waktu, stress, etc. Karena mahal, semakin sedikit orang yang sanggup afford punya mobil. So either mereka pindah ke chopper (for the really haves), atau pindah ke motor (atau mungkin sepeda), atau pindah kerja (atau pindah domisili), atau berangkat jauh lebih pagi (2am in the morning). Kalau mau punya mobil ya silakan, tapi dengan resiko stay di jalan selama 4-5 jam, which for most people is simply not affordable. Ini sebetulnya masalah umum, ngga hanya di Jakarta (walaupun Jakarta termasuk yang worst case). Sebagai contoh, jalur lalu lintas dari North-bay ke San Francisco sangat-sangat padat, terutama antara jam 6-9 pagi. Pemerintah sudah memperlebar jalan hingga 6 jalur. Tapi apa yang terjadi? Jumlah pemakai mobil meningkat, dan ujung- ujungnya macet lagi. Nah karena macet, maka banyak para pekerja / commuter yang mulai cari jalan, either dengan car-pool (naek mobil bareng temen, gantian...), atau naik kendaraan umum (train, boat, atau bus). Hal ini semakin bertambah setelah harga US$ turun, harga bensin naik, dan harga barang impor juga naik. Tentu orang yang banyak duit masih sanggup bayar bensin-nya, tapi jumlahnya tentu makin lama makin menurun. Siapa yang mau bayar $500 tiap bulan hanya untuk biaya bensin? Interesting? Kadang kalau orang di negara maju melihat Indonesia (atau negara berkembang lainnya), They think that there's no way people can survive with the kind of living standard. But you know what? They do. Human, by nature, can adapt. And sometimes it's just amazing to see what they can and will do. Masalah seperti ini biasanya paling cocok dimodelkan dengan simulasi, kalau pemerintah memang ingin memecahkan masalah ini. Banyak variable yang harus dimasukkan di sini, dan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memutar satu knob saja. Walaupun bukan merupakan solusi yang paling efektif, setidaknya simulasi bisa memberikan solusi yang lebih baik (better, but not best). KOkon. On Nov 8, 2007 11:35 PM, Raymond <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Yup, betul sekali seperti yang Frans bilang...pemerintah tu harusnya lebih > memperhatikan dan secepatnya beresin & tertib-in angkutan2 umum daripada > urusin kendaraan pribadi orang2...Bajaj, mikrolet, kopaja dan bus kota yang > udah pada jelek2, asepnya item yang bisa bikin bengek, belom lagi sopir2nya > yang suka pada babat sana sini, belok kanan kiri nga pake sein n spion lagi, > kadang2 juga suka ambil jalur orang kalo nga ada pembatas jalannya (kaya > gini nih salah saltu penyebab macet di Jkt :p ). Selain diliatnya nga enak, > mereka juga emang sangat membahayakan jiwa pengendara lain di jalan raya. > > Kalo menurut saya sih untuk menghilangkan kemacetan di Jkt ini, tidak perlu > dibuat busway, monorail ato trem segala...yang penting kemanan, kenyamanan > dan ketertiban angkutan umum itu terjamin 100%, beresin tukang minta2, > copet, todong, penyair2 nga jelas, angkot yang suka ngetem dimana2 n lama2, > sopir yang suka ngebut, nyodok jalur orang dll...Jadi orang2 yang punya > kendaraan pribadi pun mau untuk naik kendaraan umum...Kalau keamanan, > kenyamanan dan ketertiban di kendaraan umum sudah terjamin, orang2 pun > mungkin akan lebih pilih naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi > (khususnya yang kantornya di daerah 3 in 1), selain nga pusing soal 3 in 1, > mereka bisa dengan cepat, aman dan nyaman sampai ke tujuan. > > Thanks & regards, > > Raymond
