Gue setuju sama employment at will juga. Selama relationship employee dan company masih berjalan baik, atau paling tidak, menguntungkan untuk diteruskan buat kedua belah pihak, ... ya diterusin aja. Kalo dah berasa ngga bisa jalan, ya mesti move on.
Mungkin karena itu banyak company yg nge-sustain relationship ini pake awesome benefit package, stock options, janji minimum bonus, de el el, sedemikian hingga employee termotivasi untuk contribute lebih giat lagi. Gak semata gaji doang yg jadi tolok ukur. I can't believe I say this, but gak ada untungnya untuk loyal kepada perusahaan, karena kebanyakan perusahaan (kalo gak semuanya) ujung-ujungnya ya bisnis doang. Mau FG langsung gaji gede atau ngga, ... itu hoki-hokinya orang sendiri dan mungkin pinter-pinternya deal pada waktu mau accept offer-nya. Tiap individu punya goal dan level resiko sendiri. @KOKon, sampeyan enak rek, waktu udah decide untuk hengkang or whatever, green card dah siap walaupun sampeyan stayed sampe titik darah terakhir sih. Lha aku kambek Rony isih lontang-lantung H1B, mana bisa seenaknya cabut ... BTW, piye, kapan disumpah naturalizationnya? -Lego Fear of the LORD is the beginning of knowledge (Proverbs 1:7) --- On Tue, 4/6/10, Eko Prasetya <[email protected]> wrote: From: Eko Prasetya <[email protected]> Subject: Re: [BinusNet] salary discussion To: [email protected] Date: Tuesday, April 6, 2010, 10:46 AM Saya lebih setuju dengan sistem employment at will, di mana karyawan bebas untuk keluar kapan saja, dan perusahaan juga bebas untuk memecat kapan saja. Kalau karyawan bebas keluar kapan saja, tapi perusahaan harus main perang dingin dengan karyawan supaya keluar kok rasanya kurang adil ya. Saya pernah ikut perusahaan yang bagus dan yang tidak begitu bagus. Dari tiap perusahaan, selalu ada pelajaran baru yang bisa diambil. Enaknya di employment at will, kita bisa keluar kapan saja. Jadi bila perusahaan tidak memberikan gaji yang cocok, atau pekerjaan-nya membosankan, atau tidak ada prospek untuk meningkatkan kemampuan diri, ya tinggal memberi two weeks notice saja. Mungkin lebih baik kalau pekerjaan itu dianggap seperti sekolah. Jika belajarnya sudah cukup, dan tidak ada yang bisa dipelajari lebih jauh, kita bisa asumsikan bahwa kita sudah lulus, dan sudah saatnya untuk melanjutkan sekolah di tempat yang lain :D KOkon. 2010/4/6 Johan <yujo...@gmail. com> > > > Iya, tetapi pada curhat nya yg jelek2. > apa ada yang merasa berharga kerja dengan suatu persh > may be karir yg terus menanjak dll > > apa karena sudah sukses, jadi sudah tidak ada waktu posting di milis ini > dan yang ada di milis ini cuma yg complain2 so jadi nya main milis terus > hahaha, j/k. > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
